Life: Journey, Cycle, Race…

Uncategorized No Comments »

Hehehehe… Lucu juga ngeliat gambar gajah dari belakang ^^; "My Future 5 Years Plan" di post sebelumnya. (Belum liat? Met baca dech ;p) Bukan gambarnya yang lucu, tapi memang, seperti yang Kido bilang, segala sesuatu di dalam hidup ini selalu berubah, Keane Z "Everybody’s Changing"; idiomnya Power Rangers, "It’s Morphin’ Time!" (versi dubbing: "Saatnya berubah!!" ^^;); seru Kamen Rider, "HENSHIN!!" saat Kotaro Minami "berubah" jadi Ksatria Baja Hitam!! (ovo) ;p "The only constant CHANGE in life is CHANGE itself!" kata orang bijak (ga inget siapa ^^;); lantun Jikustik "tak ada yang abadi"; di Al-Qur’an, "tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati"! Semua bergerak, berubah, manusia lahir, tumbuh besar, dewasa, tua, lalu mati. Semua bergerak, berubah, partikel atom pun tak pernah berhenti bergetar, saling tarik menarik dan tolak menolak pada saat yang sama, sentrifugal-sentripetal, proton-elektron saling beresonansi, gelombang merambat, getaran mempengaruhi getaran yang lain, inget dawai? Garpu tala? Riak air? Kata kuncinya "BERUBAH"!!

Setelah membaca lagi target diri, hehehe, jadi malah pengen ketawa! Gawat juga! Tahun ini harus married ya? ^^; Hahaha… Memang terkadang target dan pencapaian tak sejalan, ada saja kendalanya. Tapi target juga bukan harga mati! Ada kalanya QT yang harus tetap realistis, rasional, barangkali bukan achievement yang kurang, tapi targetnya yang memang ketinggian, atau gak paslah! Hehehe… ;p Oleh karena itu, sejalan dengan tema QT kali ini, target pun bisa “BERUBAH”!! ^^; Terakhir ketemu Handri, my best friend X-D1-Tax, dia mengingatkan tentang target di tulisan Kido, hmm, emang repot juga ya? I mean, seluruh Indonesia yang baca, gitu lhoh! ^^; (Khan dimuat dulu di Berita Pajak ;p) Tapi kenapa harus malu kalau belum tercapai? Dalam hidup ini tak ada yang pasti. Manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan. Yang penting dalam hidup QT harus tetap terukur dan punya arah tujuan. Handri juga dulu bilang, “Dhim, kayanya target loe sebagian ada yang mesti diubah dech!” Dia benar! Hehehehe… Salah satu prinsip Kido, “in principle stand like a rock, in relation go with the flow!” Hidup jangan terlalu kaku, harus bisa fleksibel. Luwes, lentur, seperti Plasticman! (Walow! ^^;) Captain Mlaar! Atau Reed Richards pemimpin Fantastic Four! ^^; (Yach! Mulai dech! Anime-freak!!) Hmm, OK! I’ll think of new, updated targets, those R more realistically 2 pursue! ^____^;v I m8 post it in near future, tnx Ndri, n pals… ;) Meanwhile…

Bicara soal perubahan, menarik, bahwa segala sesuatu di dalam hidup ini selalu berubah! Kenapa sich bumi bulat? Supaya mudah berputar. Kenapa harus berputar? Karena jika bumi berhenti berputar, keseimbangan gravitasi dalam tata surya akan goyah, menyebabkan keruntuhan, perpindahan jalur yang merusak sistem, yang akibat fatalnya seperti disimulasikan oleh para ahli QT, diambang kehancuran, menuju Big Crunch! Kiamat besar akibat planet-planet bertumbukan! Simply Z, well, akhir dari semuanya… Guess d@ X-plain! Karena itu rupanya diperlukan perputaran. Pergerakan. Perubahan. Untuk mempertahankan keseimbangan! Dan azas kesetimbangan ini berlaku pula dalam segala segi, aspek kehidupan! Perlu bukti? ;)

Siklus air, walau esensinya sama, tapi untuk mempertahankan esensi dia harus terus-menerus berubah! Dari air hujan, jatuh ke bumi dan meresap di dalam tanah, muncul jadi mata air, bermuara, mengalir ke sungai-sungai, anak sungai, cucu sungai ^^; sebagian make their way ke laut lepas. Saat matahari terik, air laut (dan air-air yang lain ^^;) sebagian terpanaskan dan partikelnya terlepas, H20 terurai menjadi udara ringan berupa hidrogen dan oksigen, membentuk titik-titik uap air, yang karena ringannya menempati lapis udara lebih tinggi, membubung tinggi ke awan, ke angkasa. Hingga titik balik dimana suhu dingin di lapis atas bersinggungan dengan batas panas yang terdingin (nach lho, apa tuch? ^^;) butir2 hidrogen yang "kedinginan" kembali cari "selimut" penghangat, mengikat oksigen untuk membentuk lagi partikel titik air, yang dalam proses pengikatan tersebut tentunya terjadi singgungan2 proton dan elektron yang berinteraksi sangat cepat sehingga kadang terjadi friksi dalam jumlah besar dan menimbulkan lecutan pijar api dan cahaya dahsyat yang QT kenal sebagai kilat atau petir (yang untungnya cuma kadang2 aja kejadian ^^;), sejumlah gesekan itu saling mengikat titik-titik air menjadi banyak terkumpul hingga terbentuk jadi awan, awan menggumpal menebal makin berat, akhirnya tak kuasa mengikat lebih banyak lagi, maka kembali dijatuhkan ke bumi, bresss!! Tercurah, bumi yang kering kerontang kembali disiram hujan! Kodok kembali bernyanyi, anak kecil berlompatan kegirangan main hujan, petani tersenyum kembali mengairi sawahnya, tanah tidak lagi retak pecah2, sungai meluap, sumur penuh, ladang subur, hasil panen pun melimpah dan rakyat hidup makmur, semua kebagian manfaat dari siklus air! =) Maka Maha Besar Allah! Sungguh tak dapat tertandingi karya ciptaan dan kecermatan-Nya, yang telah memikirkan semua itu tanpa ada yang luput dan sia-sia!… Lho, bener khan? Emang siapa yang bisa bikin hujan? ;p Badan Meteorologi dan Geofisika? Yeah rite! ^^; Coba buka lagi post on "Kisi2" ;) On question “who creates the rain?”, ada jawabnya disana!… =) Lho koq ini malah ngomongin Fisika? ^^; (Maklum dulu anak IPA, gara2 ketemu banyak anak 85 nich! ;p Hidup Friendster! Apa kabar???! ^_____^;v)

Siklus. Perputaran. Seperti halnya bumi yang terus berotasi. Tapi tak hanya rotasi, bumi juga revolusi. Pergerakan yang terus-menerus (baca: konstan) itulah yang menyebabkan planet-planet lain juga terpengaruh gaya gravitasi pada takaran tertentu. Rotasi dan revolusi, dua gerakan yang saling mengimbangi, sentrifugal, sentripetal, yang menyebabkan semua yang berada dalam sistem tata surya senantiasa bergerak sama-sama berotasi dan juga berevolusi pada saat bersamaan. Gerakan ini pulalah yang menyebabkan malam berganti siang dan siang berganti malam, hari demi hari bergulir, minggu menjadi bulan, musim silih berganti, tahun ke tahun. Sekarang sudah jelas khan bagaimana segala sesuatu di alam di sekitar kita, semua terus bergerak? Semua terus-menerus melakukan perubahan! Karenanya hendaknya QT juga terus bergerak, mengikuti perputaran, kalau dalam ritual haji diistilahkan Thawaf.

QT adalah butir-butiran air yang saling bertemu dan membaur dalam arus sungai yang deras menuju laut. Persis seperti jama’ah haji yang berasal dari berbagai penjuru bumi, tak peduli dari suku bangsa apa, hitam, putih, merah, kuning, sawo matang atau busuk, apapun warna kulitnya, semua berbaur dan melebur jadi satu dalam keseragaman pakaian putih Ihram, menyambut undangan mulia sebagai tamu Allah, menghamba dan mengakui kebesaran kuasa-Nya dan besar kasih sayang-Nya, sepakat menanggalkan keangkuhan duniawinya, meniadakan unsur ke-aku-an dan segala atribut dirinya, bersatu dengan beratas nama “kita”, sebagai jama’ah haji, tamu Allah, tanpa memandang asal-usul, jabatan, pangkat, tahta, harta, anak, semua sama saja di mata Tuhan, sama-sama makhluk hasil ciptaan-Nya! Yang membedakan hanyalah kualitas keimanan.

Kembali sekali lagi, QT harus senantiasa bergerak! Jika berhenti maka bisa jadi terinjak-injak. Jika QT, setetes air ini, tidak ikut melebur ke dalam aliran, maka QT tak akan jadi bagian yang “sukses” mencapai laut. QT mungkin hanya akan jadi tetes embun atas dedaunan pagi hari yang akan segera hilang begitu fajar menjelang! Air yang hanya diam dalam kubangan, tak bergerak, makin lama akan busuk dan berbau! Tetapi jika tetes-tetes air telah bersatu dan bergerak seirama, bergabung menjadi laut, maka kekuatan gelombangnya sanggup menggulung-gulung samudera bak tsunami, begitu pula kekuatan dari kebersamaan! Untuk tetap mempertahankan eksistensi QT harus terus ikut bergerak, senantiasa berubah! Terus meng-update dan upgrade diri QT! Dan jangan terpisah, teruslah bersatu dengan barisan jama’ah, tertib memutari Ka’bah! Ikut arus, kemana air mengalir! Alam telah mensyaratkan, Tuhan telah mengajarkan…

Sebagaimana halnya air yang mengalir dari muara ke sungai terus menuju laut, QT hidup sebenarnya tengah dalam perjalanan. Perjalanan artinya terus bergerak, berubah posisi, pindah! Dalam Islam kata pindah dipadankan pada Hijrah, yang juga menjadi momen penanda beralihnya manusia dari zaman kebodohan (jahiliyyah) ke zaman keberadaban (madaniyyah), dari kegelapan menuju cahaya, diabadikan dengan indah momentum hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, titik tonggak kebangkitan dan kemenangan bagi umat manusia, dalam penanggalan kalender Islam, Tahun Hijriyyah. Pindah. Hijrah. Menjauh dari titik awal dan mendekati titik akhir. Artinya terus berjalan. Bagi men-temen yang muslim, tentu hafal berulang2 minimal 17 kali sehari dalam 5 waktu shalat QT lafadzkan surat Al-Faatihah. "Ihdinash shiroothol mustaqiim", tunjukilah kami jalan yang lurus! Apakah jalan yang lurus? “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Faatihah: 6-7)

Kenapa koq jalan lurus? Sudah bukan rahasia, kecenderungan manusia suka berbelok2 n tergoda oleh kilau gemerlap pernik dunia. Padahal semua itu hanya kenikmatan semu, bukan kenikmatan yang sesungguhnya harus dicari. Karenanya jangan terkecoh, segera kembali ke jalan lurus. Apa itu jalan lurus? Kalau dalam matematika jarak terpendek yang bisa ditempuh dari satu titik ke titik yang lain adalah, ya, garis lurus! Adakah jalan yang lebih cepat untuk mencapai ujung yang lain? Titik akhir? Ga ada khan? Karena itulah Tuhan sebenarnya mengajarkan, ini lho, Aku uda siapin jalan terdekat tuk meraih-Ku! Ikuti saja jalan-Ku, petunjuk-Ku, “ihdina” atau “tunjukilah” berakar dari kata “huda” yang artinya petunjuk, dalam terjemahan bahasa juga bisa diartikan agama. Kemarilah! Bergegas2lah dan segera kau temui Aku! Jangan tersesat, juga jangan terlambat! Jangan kelamaan bermain2 dan terlena di muka bumi, apalagi dengan sengaja malah menghindar dari curahan kasih sayang-Ku. Tapi manusia emang suka mbangkang! ^^; (Ini nich kelakuan yang bikin QT dapet predikat “yang dimurkai” Tuhan! T__T) Dah dikasih kemudahan, Tuhan bikinin jalan tol, malah ngeyel milih muter2 lewat jalan tikus, makin ruwet, salah2 salah jalan, dan tidak sampai tujuan! Padahal QT bukan sedang dalam perjalanan berleha2. Hidup bukan rekreasi. QT hidup punya misi. Hidup juga punya limit. Batas. Titik akhir yang kalau sudah sampai waktunya gak bisa di-integral atau di-differensial-kan. Ga mungkin dipercepat atau ditunda lebih lama. Ga ada istilah cincay, apalagi berani menyogok malaikat maut! Cari mati! ^^; Mau coba? :p QT hidup sebenarnya tengah mengendarai kereta waktu! Ya! QT pun terus bergerak, berpacu! Melaju sekuensial di atas rel yang terbentang sepanjang usia QT! Disadari atau tidak, kereta terus berjalan! Jika perlu ia meninggalkan kesadaran QT! Maka terlena jangan berlama2! Oi! Sadarlah! Segera melompat ke gerbong terakhir dan carilah dasar pijakan serta handle berpegangan yang kuat, lalu lanjutkan perjalanan hidupmu, melesat sepanjang waktu yang tersisa! Hingga saat kereta tiba di ujung gerbang stasiun pemberhentian akhir, yang pasti QT temui, kematian!…

Kembali ke “jalan lurus”… Kata dasar frase tersebut adalah kata “jalan”. Dan “jalan” adalah jenis kata kerja. Jalan berarti harus terus bergerak, berubah2 posisi, pergeseran koordinat Cartesius. Kata jalan menghendaki QT untuk tidak berhenti selama QT hidup. Tidak berhenti bergerak, berubah, terus memperbarui diri! Dengan kata lain, teruslah belajar dan belajar! Jangan ada kata puas! Lulus SMA, saya harus kuliah! Selesai dari S1, pecut lagi diri, harus S2 donk! Kelar S2, lecut lagi, tanggung, sampai S3! Iya kalau ada dana, kalau nggak? ^^; Ya, cari donk! Jangan patah semangat! Tetap berusaha dan bekerja sepenuh keyakinan! Kalo mentok? ^^; Wekekekek… Sebenernya tergantung mind-set aja koq! Kalo QT yakin QT bisa, QT pasti bisa!! Insya 4JJI, QT bisa! ^^;v Gak bisa sukses di pendidikan formal pun, toh belajar tetap sepanjang hayat, tak harus semata di bangku sekolah dan kuliah. Sertifikasi juga buatan orang, tapi surat tanda "lulus" dari Tuhan diperoleh justru setelah QT melalui ujian hidup. Gemblengan sebenarnya adalah dalam QT menjalani kehidupan di dunia fana. Akankah QT tertipu, atau dapatkah QT melihat hakikat cinta dibalik tirai? Oleh karenanya, janganlah takut pada ujian, QT diuji justru karena Tuhan masih sayang pada QT! Inget bahasan Kido tentang ujian? Ujian diberikan untuk justru meningkatkan kualitas QT, karena Tuhan tak ingin QT terpuruk hidup di dunia! Karenanya tetaplah berbaik sangka pada Tuhan, bersabar juga bersyukur! Kalo Bang Iwan bilang, "Hadapi saja!"

Hidup sesungguhnya lintasan balapan! Karenanya jangan QT menyetir terlalu santai! QT sedang balapan, berlombalah tuk mencatat waktu tercepat! Juga tidak boleh hilang konsentrasi! Nyawa jadi taruhannya! Lalai sedikit saja, mobil bisa tergelincir meluncur keluar lintasan dan menabrak pagar pembatas ataupun mobil lain! Membahayakan diri dan orang lain! Stay on focus! Kendalikan arah hidup QT, melesat dan mencapai tujuan! Ingat, hidup punya misi! QT akan dimintai pertanggungjawaban di akhir lintasan! Bisa gak jadi “Juara”?! Berapa lap sudah QT selesaikan? Masih seberapa jauh lagi sebelum QT akhirnya finish, Victory Lap? Setiap sekian putaran tentu kondisi mobil F1 QT butuh servis, kemampuannya menurun, masuk Pit Stop! Saatnya untuk peremajaan, penyegaran diri, reparasi, perbaikan, ganti oli, periksa roda dan mesin, cek n ricek, sebelum mulai menyongsong lomba lagi! Life is a race! We R racing! Momen QT masuk pitstop adalah saat dimana QT harus mengisi kembali bekal dalam diri, QT yang paling tahu kapan, QT yang menentukan, untuk meng-improve knowledge n skills, personal abilities, supaya dapat terus melaju dan menyelesaikan perlombaan! Sebagai manusia tak boleh berhenti belajar! Jangan pernah! Belajar sepanjang hayat, belajar pun bisa dari mana aja, dari siapa aja, dan kapan aja! Lawan QT bukan orang lain, tetapi diri QT sendiri! Bisakah QT mengalahkan rekor yang QT buat sebelumnya?! Sudahkah QT menjadi orang yang lebih baik hari ini dari kemarin? Hanya dengan terus belajar QT bisa tetap bersaing, berlomba, terus meningkatkan kualitas QT sebagai “manusia”! Pada akhirnya QT sendirilah yang menentukan, akhir yang seperti apa, kegemilangan atau keterpurukan, hasil yang QT inginkan! Apakah men-temen ga pengen untuk jadi "Juara”, B Ur own star? Ur own story?! Of Ur own life?! Dalam kehidupan sendiri, dimana QT hanya akan hidup sekali-kalinya ini?!

Only 1 chNs!… Ds 1s in life! Shall NFR fail! R U re-D?!… Wish U luck dN!! ;)

CIA YOU 2x!! Semangat donk! 3, 2, 1… Smile?! ;p DZIIIIINGGG!! Sukses! Ganbatte ne!! ^______^;v

Kido Kamen =)

Memaknai Produktivitas #2

Uncategorized No Comments »

(Sambungan nich ^^;v Kalo bingung, pegangan, baca dulu post sebelumnya ya, hehehe…)

(D)AN KITA MULAI…

            Saya tidak tahu bagaimana pengalaman ber-Sekolah Dasar di zaman Bapak, tapi ketika saya SD dulu saya masih ingat pada tembok di atas meja belajar saya, di antara poster Saint Seiya dan Ksatria Baja Hitam yang memenuhi dinding kamar, terpampang selembar karton cukup besar: Jadual Mata Pelajaran. Hari: Senin. Jam 7 teng, upacara bendera; 07:30-08:20 PMP; 08.20-09:10 Bahasa Indonesia; 09:10-10:00 Matematika; Istirahat 15 menit, dilanjutkan pelajaran lain lagi, dan begitu seterusnya.

            Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk terbiasa mengatur waktu. Bagaimana membagi waktu yang seimbang antara bermain dan belajar. Semakin besar, seiring kita bertambah dewasa bertambah pula tanggung jawab. Belajar dan bekerja. Satu hal baik yang saya pelajari dari pengalaman masa kecil adalah kebiasaan membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Dulu saya terbiasa memenggal waktu dalam sehari ke dalam banyak potongan kecil aktivitas rutin yang bersifat umum sebagai panduan yang harus saya lakukan. Mulai waktu subuh, bangun tidur kuterus mandi, sarapan, berangkat sekolah, lalu apa yang saya lakukan sepulang sekolah, misalnya les bahasa Inggris tiap Senin-Kamis, jam 3 sampai jam 5 sore, mengaji Rabu dan Jum’at petang, belajar dan buat Pe-eR, pukul 7 sampai 9 malam; dapat reward boleh menonton TV tapi pilih sendiri slot yang diinginkan dengan catatan jatah sehari hanya boleh ½ jam. Tentu saja Selasa jam ½ 4 KBH RX tak boleh dilewatkan.

            Perencanaan yang baik bagaikan sebuah rel yang menuntun kereta meluncur langsung menuju tujuan tanpa melenceng terbias arah. Karena kereta sudah punya jalurnya sendiri, stasiun demi stasiun, kapan waktu disinggahi, jadual terencana, terorganisir dengan rapi; karena itulah ia bisa tiba di Solo Balapan lebih cepat daripada ketika kita menaiki bus malam yang harus berkelok gunung bermacet ria, mengalah pula pada kereta.

            Sebagai insan produktif kita harus punya perencanaan, alokasi waktu yang efektif dan efisien berikut backup plan yang harus kita implementasikan dalam aktivitas sehari-hari dengan konsekuen. Dan karena waktu berjalan mengikuti perputaran jarum jam, maka aktivitas yang kita lakukan pun haruslah dalam pola berurutan. Sekuensial artinya setelah selesai satu aktivitas dilakukan barulah kita diperkenankan melanjutkan ke tahap aktivitas berikutnya. Tidak meloncat-loncat, tidak tumpang tindih, apalagi maju mundur sesukanya, karena waktu tak ada sejarahnya berjalan mundur. Karena itu dituntut konsentrasi terfokus, curahkan perhatian sepenuh hati juga tenaga pada usaha yang kita lakukan saat menyelesaikan suatu pekerjaan. Santapan sedap, lezat dan menggiurkan tengah hangatnya disajikan. Tunggu apalagi? Habiskaaan! Setelah itu pelayan akan menyajikan hidangan pencuci mulut dan buah-buahan. Whaahh, itu juga enak! Sikaaaat!! Eiiitts, tapi ingat! Makan pelan-pelan. Sayangi pencernaan. Tak perlu tergesa-gesa ingin lekas menyelesaikan atau segera memulai sesuatu yang baru. Apa yang tengah kita hadapi saat ini, itulah yang harus kita selesaikan kini. Jangan serakah ingin dapat memakan semuanya dengan segera. Seperti orang yang bertanya: Bagaimana cara memakan gajah? Ditelan bulat-bulat, langsung sekaligus seperti ular makan telur? Tetap dipaksakan masuk walau bibir robek melebar seperti Togog nekad memaksa melahap gunung? Tentu tidak khan? Tetap saja kita potong secuil demi secuil, sepiring, dua piring, satu hari, dua minggu, hingga akhirnya setelah tiga bulan, habis sudah semua daging, tinggal tersisa kuku dan gading.

            Bolehlah sekarang kita ambil secarik kertas putih kosong. Sekalian pensilnya. Kita mau apa? Menggambar gajah! Hahaha… :D Betul koq! Kita pinjam konsepnya saja. Buatlah satu lingkaran besar! … Eh, koq diem aja? Hayuh! Bayangkan tubuh gajah yang berat, gemuk dan montok kemerahan, dilihat dari belakang. Sreeeet… Gajah ini adalah visualisasi dari keseluruhan target kita. Hmm… Gajah muda, beratnya sekitar 2 ton. Kira-kira baru bisa habis dimakan setelah berapa lama ya, Mas? Nach, itulah global goal kita! Tetapkan target, misalnya: Rencana Saya Lima Tahun Ke Depan. Jika saya sekarang adalah PNS golongan II/b, lulusan Prodip I, lanjutkan kuliah, 6 semester sudah, 23 tahun dan belum menikah (lha koq promosi?), maka 5 tahun ke depan usia 28 saya seharusnya sudah II/c 1 tahun; S1 ditargetkan selesai tahun depan, tapi baru bisa ikut UPKP setelah II/c 2 tahun, huhuhu… ^^; (Koq lama sekali sich, Pak? Bisa S1 dua kali nich!!), incar beasiswa LN, target menikah pada usia… Huwaaaaa, banyak sekali khan? Biar mudah, ambillah pisau besar, eh… Pensil, lalu tarik garis-garis diagonal membagi lingkaran gajah menjadi beberapa bagian sebanyak target yang kita inginkan, seperti potong kue aja! Lalu tulis pada masing-masing potongan pan… maaf, punggung gajah tersebut, target-target yang ingin kita raih, berikut deadline-nya. Nach, coba perlihatkan! Gajah Anda sudah mirip dengan gajah saya? Tak perlu bagus-bagus ditambah ekor pakai belalai, kurang lebih, yach, begini sajalah…

Gajah_3

Sekarang kita sudah dapat gambaran mau jadi apa lima tahun ke depan. Maka mulailah letakkan di atas piring, potongan terdekat yakni rencana kita tahun 2003, 1/8 dari 2 ton = 250kg daging gajah, jatah untuk kita santap, tentu masih terlalu besar bukan? Karena itu perlu kita potong-potong lagi jadi tahapan demi tahapan rencana yang lebih kecil (jangka pendek), untuk jatah bulanan, mingguan, dan harian. Target saya tahun ini adalah bisa menabung. Langkah-langkah yang bisa saya lakukan untuk bulanan misalnya: pengetatan dengan kontrol catatan pengeluaran, serta mencari tambahan penghasilan dari menulis artikel atau lainnya. Mingguan: dalam rangka pengetatan, saya bisa menyisihkan selisih kelebihan dari pos-pos gaji yang telah dialokasikan, misalnya: jatah makan siang per hari Rp.10.000,- dan naik ojek sepulang kuliah Rp.6000,-. Minggu ini, alhamdulillah, dua kali ditraktir makan siang kawan dan satu kali kuliah malam tidak ada dosen, bisa pulang lebih cepat, belum jam 10 tidak perlu naik ojek karena masih ada angkutan, bayar cukup Rp.1000,-. Maka akhir minggu logikanya saya bisa menyisihkan Rp.25.000,-. Sebulan bisa Rp.100.000,-. Lumayan khan? (Jadi kapan makan siang lagi?)

            Menabung pun dalam arti luas tak sesempit batasan materi, karena hakikatnya materi itu hanya sarana yang memudahkan untuk kita selama hidup mengumpulkan bekal amal yang sesungguhnya. Terkadang manusia terlalu kemaruk, menimbun harta sampai menggunung, padahal mati tidak dibawa. Tabungan kita untuk “hari depan” kita tahu hanya tiga macam: harta yang kita nafkahkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan (amal jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya. Lucu bukan? Harta yang telah dengan susah payah dikumpulkan siang dan malam, rumah gedung, mobil mewah, kapal pesiar, lahan tanah, dijaga ketat tak bisa tidur karena takut diambil orang; di sisi Allah tak ada harganya! Meski ditebus dengan gunung emas sekalipun! Justru rezeki halal yang kita dapatkan setelah lelah memeras keringat, hak milik sah kita dan keluarga, tapi kemudian dengan ikhlas setulus senyuman sebagiannya malah kita relakan, sisihkan minimal (!) 2,5% setiap bulan, berikan pada fakir miskin, anak yatim yang terlantar, musafir yang kebingungan kehabisan ongkos, siapapun yang butuh pertolongan; yang kita sisihkan itulah yang malah “dibeli” oleh Allah dengan harga berlipat ganda! Menjadi simpanan yang akan memberatkan pahala kebaikan kita saat ditimbang. Jika Anda memborong sembako, cukup untuk mengenyangkan keluarga selama ½ tahun, apakah Anda akan tumpuk terus di lemari es hingga membusuk, atau lebih baik Anda jual sebagian, atau Anda bagikan saja pada tetangga, sebelum akhirnya tak seorangpun bisa memakan sisanya tanpa menjadi sakit perut?

            Target saya 2004, lulus kuliah, jadi sarjana. Berember-ember ilmu yang telah saya timba, harus saya kemanakan semua? Tentu saja diamalkan! Puaskan dahaga mereka yang haus akan ilmu. Hati-hati wahai penuntut ilmu! Ilmu itu amanah. Harus diteruskan kepada yang berhak menerimanya. Berpuluh tahun kita belajar dari bangku sekolah, kuliah, sampai ada yang menjadi Doktor. Samudera ilmu yang kita peroleh, sayang sekali jika hanya mengendap, lalu surut dan mengering di satu kepala! Bagikan! Amalkan! Ajarkan! Tak perlu menunggu sampai dapat gelar, ilmu apapun yang kita miliki saat ini, ilmu berdagang, ilmu membuat layangan, ilmu menghitung pajak penghasilan, hanya akan bermanfaat jika telah kita aplikasikan. Sampaikan! Walau hanya lewat tulisan. Karena itulah investasi kita yang kelak layak untuk ditimbang. Insya Allah

            Menikah?… Hmm… Siapa sich yang nggak mau? Berkeluarga, punya keturunan, putera puteri shalih shalihah, dambaan kita semua. Anak pun amanah, harus sebaik-baiknya kita rawat, kita pelihara, kita didik, kita arahkan, agar menjadi manusia berguna tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain, mulai dari keluarga dan lingkungan sekitarnya, hingga bagi agama, nusa dan bangsa. Jika anak kita didik dengan baik, dalam nuansa kekeluargaan yang akrab penuh kasih sayang, ia pun akan belajar menyayangi dirinya sendiri dan tahu menghargai orang lain. Tahu bersyukur dan berterima kasih, pada Tuhannya dengan menjadi hamba yang taat beribadah, pada orang tua dengan berbakti dan mendo’akan kebaikan dunia akhirat bagi keduanya. Alangkah indahnya! Jika semasih kita hidup saja anak tanpa kita minta senantiasa mendo’akan kita dalam tiap usai shalatnya, dan terus tak terputus bahkan ketika kita tidak lagi bersama mereka di alam yang sama; alangkah beruntungnya! Kala kita tak lagi bisa beramal untuk menambah bekal, kita masih rutin menerima kiriman, wesel do’a, deposito halal non riba yang berbunga terus membesar dan berlipat ganda, bebas potongan pajak lagi direstui-Nya. Alhamdulillah

            Sebagai orang yang produktif, motto “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” harus benar-benar dicamkan dan dilaksanakan. Sesungguhnya kita tengah berpacu. Jangan buang waktu percuma hanya berendam di danau mimpi, segeralah melompat terjun untuk renangi derasnya arus di sungai yang berliku menggiring kita menuju laut. Detik demi detik amat berharga. Agar tak tergelincir hingga menabrak dinding curam atau batu karang, berenanglah dengan aman, pada tali pembatas berpegangan. Rencana harian (daily planner) baik sekali kita miliki sebagai pegangan merenangi hidup, agar kita senantiasa terarah dan tetap fokus menuju samudera harapan yang seluas cita-cita. Setiap hari pun kita harus punya target, yang senantiasa dievaluasi (muhasabah) pencapaiannya di penghujung malam. Hari ini target saya antara lain membaca minimal 1 bab buku dengan topik menarik, memetik sedikitnya 3  hikmah yang dipelajari; browse internet dan kliping artikel, Pajak up-to-date, jangan ketinggalan; baca Al-Qur’an minimal 1 ‘ain, selami makna, kupas tafsirnya; menambah dan menghafal vocabulary baru, 10 kata masing-masing, bahasa Inggris-Jepang-Mandarin; buat ringkasan materi kuliah yang dipelajari sore kemarin; SMS kawan tanyakan kabar, beri selamat yang ulang tahun, silaturahmi tetap terjalin; tulis artikel, dan lain-lain. Jangan lupa saat bercermin, tanyakan jujur di dalam batin, selain “Sudahkah saya terlihat OKE?”, pastikan Anda tanyakan juga: “M I A B@’RMAN 2DAY?

            Jadi Pak, kini tak perlu lagi Anda konsumsi itu Paramex setiap hari, mikirin kapan tersangkut mutasi, ke tempat basah saat promosi, posisi bergengsi Kepala Seksi. Kalau sudah tiba waktunya, dan ternyata memang jatahnya, maka itulah anugerah sekaligus amanah dari Allah untuk Anda. Banyaklah bersyukur serta bersabar, semoga Anda dikuatkan, sebab jabatan bukan hadiah, dan amanah harus dipertanggungjawabkan. Kita di DJP masih punya banyak gajah, tugas berat yang menunggu di depan, menanti untuk diselesaikan. Sepantasnya kita kembali bersatu, mantapkan niat, gugah semangat, mulai lagi bekerja giat, masing-masing memecut diri agar produktivitas terus meningkat. Seperti mengasah batu berlian, makin terasah produktivitas, makin tajam pula perbedaan kualitas. Jika kualitas berlian di dalam diri berkadar tinggi, percayalah, meski tersembunyi dalam endapan pasir nun jauh di dasar laut, kilau cahayanya tak akan salah, menyorot jauh dengan tajam, silau memantul ke permukaan. Prestasi kerja memukau cemerlang, walau tak hendak ditonjolkan, tak mungkin tidak, dilirik atasan. Kursi itu tak akan lari, kitalah yang harus menghampiri, dengan cara introspeksi, perbaiki kinerja dan potensi, kian produktif dan berprestasi. Ukur sendiri kepantasan diri. Jika kemampuan belum mencukupi, mesti sabar dan tahu diri, gembleng, tempa, belajar lagi. Kapasitas teruji pantas, barulah boleh memberanikan diri untuk duduk di atas kursi, itupun harus dengan etika, baru duduk setelah ditawari.

            Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati?… Pasti mati! Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok pagi, tak pula dibisiki alur kisah lusa hari; jangankan nasib seperti apa sepuluh tahun lagi, tak terintip rahasia langit gerangan apa menanti kita sepulang kantor sore ini. Berharap sebelum pensiun sempat menjabat eselon III, apatah daya, belum dipensiunkan oleh negara, pensiun dini jadi manusia. Manusia berencana, Tuhan Yang menentukan. Kita semata hanya berusaha, terus bekerja menggapai asa, tak luput do’a senantiasa, jangan pernah putus mengharap rahmat-Nya. Bidik sasaran, peluru tembakkan. Susun rencana, implementasikan. Bagaimanapun hasilnya nanti, pada-Nya jua kita pasrahkan. Usaha dulu baru tawakal. Jangan terbalik, pasrah duluan. Yang terpenting adalah bahwa kita sudah mencoba! Oh, sudah habis ya Pak, waktu istirahatnya? Akhirnya kembali ke gajah lagi: Berapa piring Anda targetkan siap dilahap hari ini? Sukses selalu untuk Anda! Mari kita kembali bekerja…

Penulis adalah pegawai Bagian Kepegawaian KP DJP diperbantukan pada JICA (Japan International Cooperation Agency) Expert Office

Memaknai Produktivitas #1

Uncategorized No Comments »

2 sum friends… Cm’d familiar? ;)

He3, yup! Sebenernya abis buka2 arsip file2 lama, kebetulan lagi agak senggang jadi bisa nulis di blog lagi ^^; Lose d’10-Cn 4while, relax, uda lama ga nulis ya? ;p Whew! Found my old articles! Wow! Jadi inget, uda lama nggak sempet nulis lagi di majalah! Bn Bt BZ l8ly, sorry… ^^; Tapi liat karya2 lama, jadi semangat lagi dech! Adrenalin meningkat, jantung dipacu, degup di dada berdebar2, pengen mulai nulis lagi! Hihihihi…

NEway, tadi waktu lunch ga disangka ketemu sama seorang kawan lama, yang uda lama menghilang, Mas Padri, dulu kerja di Direktorat Penyuluhan, sejak 3 tahun lalu di-mutasi ke Palembang! Wahhh senangnya! Apa dia bilang? "Wisnu?! Ini Wisnu teman Ali khan?" Yach since it’s my middle name, ngangguk aja ^^; "Koq inget Mas?" Apa lagi dia bilang? "Ya inget donk! Khan namanya suka muncul dulu di Berita Pajak!" Weks!! ^^; Jadi malu, dah lama nggak nulis… Jadi pengen nulis lagi…

So d@ was 1 of d’re-Zn… NEway sementara itu pas buka2 folder, nemu artikel lama yang walaupun uda beberapa kali re-publish tapi kayanya sich gpp dech kalo dimuat disini, toh copyright punya Kido hihihihi… Sekedar berbagi aja, mudah2an bisa jadi tambah pacu semangat! Kian produktif belajar dan bekerja! Comments welcome! ^____^;v Ini tulisan Kido hmm, 2 tahun lalu lho! Wahhh…

Happy re-Dn! (Lho??! Ada ya? ^^;)

(Seperti pernah dimuat di Majalah Berita Pajak No.1496/Tahun XXXV/1 Agustus 2003)

MEMAKNAI PRODUKTIVITAS

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra

(A)PAAAA???

Empat puluh persen (40%) PNS di Indonesia tidak produktif!” EMPAT PULUH PERSEN lho, Pak! Adalah kunjungan mendadak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Feisal Tamin ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Senin, 16 Juni 2003 yang lalu, yang kembali membuat saya teringat sesuatu, lalu mulai membuka-buka lagi arsip kliping lama dan menemukan artikel dari Business News English Edition 6791/6792/24-7-2002 yang memuat pernyataan beliau sebagaimana dapat Anda baca pada kalimat pembuka paragraf ini. Data boleh dahulu kala, namun faktanya tak terabaikan masih cukup relevan untuk dijadikan cermin hingga detik ini. Mencengangkan? Jadi kinerja PNS kita tak memuaskan? Belum optimal? Kurang bermanfaat? Maksudnya saya tidak bisa bekerja dengan baik dan benar, YA?? BEGITU?!!

Hwalah, jangan sewot dulu, Pak! Siapa pun bisa mengerti jika Anda yang selama ini telah merasa memberikan pengabdian pada negara dengan totalitas sepenuh loyalitas, ternyata jerih payah puluhan tahun bak terabai tak terhargai, terhunjam hati, perih dan miris, rasa bagai diiris-iris… Saya ucapkan “SELAMAT”!!?… Tidak, Pak! Anda tidak salah baca: Selamat; karena sepantasnyalah Anda satu dari para kru yang lurus berlayar ke arah yang benar, satu bahtera bersama rombongan awak pilihan yang produktif, keras bekerja senantiasa, tanpa mengeluh apalagi pamrih, sajikan sumbangsih karya terbaik bagi negara. Niat ikhlas dan ikhtiar sempurna, percayalah, di sisi Allah mahal dan tak akan tertukar nilainya, pun prosentase nol-koma-nol-nol-nol-nol-sekian jua.

Pantas penerimaan pajak tahun 2002 terkumpul tersendat-sendat, nyatanya hanya sebagian lebih sedikit petugas yang benar-benar bersimbah keringat mengayuh sampan agar bahtera terus melaju jauh ke depan. Bayangkan seandainya sinergi 100% pegawai produktif dapat diwujudkan, bisa jadi surplus revenue kita ruah melimpah! Namun demikian, tentunya pencapaian target itu pun sudah sepantasnya tetap sama-sama kita syukuri, dengan harapan tahun ini kita bisa jauh lebih sukses lagi. Kerja keras tak luput doa. Bukan hanya harus work harder, kita juga mesti work smarter.

Jika Anda memiliki waktu luang satu jam saja untuk membaca berita di surat kabar, tahukah Anda sesungguhnya dalam satu hari yang sama Anda juga memiliki kemampuan melahap empat buah buku sekaligus? Pilih yang mana? Saya tentu saja percaya Anda bukan tipe orang yang menghabiskan satu jam kerja di kantor untuk sekedar membolak-balik halaman koran. Bukan tidak boleh, tak ada larangan tentu saja bagi Anda membaca koran, proporsional sajalah. Kita memang perlu mengikuti perkembangan per detik arus informasi global yang demikian pesat dan senantiasa berubah, hanya saja saya rasa atasan akan lebih berkenan melihat kita membaca buku-buku yang dapat menambah wawasan dalam menyikapi tuntutan perubahan, apalagi jika itu menunjang pekerjaan. Itu pun dengan satu catatan: tidak mengganggu aktivitas kerja yang tetap harus kita utamakan.

Lho, saya baca koran tidak sampai mengganggu jam kerja! Saya sudah sampai di kantor bahkan satu jam sebelum jam kerja dimulai!” Oh, kalau begitu tentu bagus sekali. Jika demikian, saya tinggal berharap kita tak termasuk dalam kelompok pegawai yang serius menerapkan “Teori 705” dalam aktivitas kerjanya. Apa itu Teori 705? Menurut ayah saya :

Datang jam 7, pulang jam 5, tapi di tengah-tengah atau selang waktu di antaranya tidak menghasilkan output sama sekali alias produktivitasnya NOL (0) BESAR!! Lha?

Sekedar datang, isi absensi, buka sepatu, ganti sandal, keluar lagi, alasan sarapan. Tiba-tiba sudah jam sembilan. Kembali ke ruangan, tumpuk berkas di atas meja, kesan sibuk banyak pekerjaan, tapi yang diraihnya kemudian lagi-lagi koran, “belum puas tuntas”, katanya, nikmati berita perkosaan, naudzubillahi min dzalik… Jam sepuluh. Toleh kiri tengok kanan, tak ada lagi guyonan, sebar gosip, atau umbar sinopsis sinetron tadi malam. Tak enak hati karena yang lain sibuk bekerja, walau dengan bersungut-sungut akhirnya mulai juga ia tangani berkas-berkasnya. Setengah sebelas. Apa? Baru jam sebelas kurang seperempat? Jam sebelas. Ingin rasanya cepat istirahat…

Belum lagi jam dua belas kaki sudah menginjak pintu masuk rumah makan. Mereka yang bekerja di daerah mungkin akan langsung pulang ke rumah. Alasan: biar hemat, takut amarah istri kumat, atau kangen nyai punya masakan, siapa kuasa tak mengizinkan? Jam satu? Tanggung ah, sebentar lagi. Usai shalat, turn on the TV, terkantuk-kantuk, “ambilkan bantal, Mi!” HAH!! Jam dua! “Lekas bangun, Pi!” Kembali ke kantor, bekerja lagi…

Jam tiga, UAAAHHH… Saatnya ngupi! Setengah empat, waktunya shalat. Ba’da Ashar, pakai sepatu, rapikan meja, “Mau ke mana? Khan belum jam lima? Jam empat tunggu jam lima. Usir bosan cari kesibukan. Main Freecell jadi pilihan. Teng-teng-teng-teng-teng!! Jam lima. Akhirnya!… Usai lagi satu hari yang demikian biasa, seperti hari-hari lainnya yang berlalu begitu saja, hampa kosong tanpa makna. Zombie-zombie kota mati, berdatangan dan pergi lagi. Maaf Pak, boleh tanya? Sebenarnya apa sich yang Anda cari? Gaji buta? Uang pensiun? Sabetan tak resmi? Asuransi? Tapi yach, tak perlu tersinggung (kecuali merasa) karena ini hanya ilustrasi belaka. Tak benar-benar terjadi! (Oh, ada juga ya?!) Tapi bukan di sini! (Nyengir kuda…)

(B)AGAIMANA BISA?

Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Rendahnya performance PNS di negeri ini berdasarkan hasil pengamatan Meneg PAN antara lain disebabkan oleh tidak jelasnya job description termasuk di dalamnya job operation guidelines. Beban kerja para PNS umumnya cukup sederhana dan mudah hingga berakibat munculnya kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

a.       Relatif hanya diperlukan 4 jam sehari untuk menyelesaikan satu beban kerja yang biasa sehingga mereka cenderung untuk datang ke kantor terlambat atau pulang ke rumah lebih cepat.

b.      Merasa cukup datang ke kantor 2-3 hari saja dalam hitungan satu minggu kerja.

c.       Lebih parah lagi, ada yang hanya datang pada tanggal tertentu atau saat ambil gaji saja.

d.      Banyak pula Pegawai Negeri Sipil yang memanfaatkan waktu kerjanya yang luang untuk mencari tambahan penghasilan lain di luar kantor baik secara formal maupun informal.

Rendahnya gaji memang acap kali jadi kambing hitam atas buruknya kinerja PNS. Bagaimana mau bisa hidup makmur kalau selalu pusing terbentur tak tercukupi belanja dapur? Oleh karena itu sepantasnya kita bersyukur bahwa sejak pemerintahan ‘Pak’ Gus Dur gaji PNS dinaikkan berangsur-angsur. Saya sendiri sempat merasakan lho, ketika pertama penempatan, terima gaji “cuma” satu (!) lembar uang seratus-ribuan plus pecahan nominal yang kalau dijumlah mungkin hampir mendekati seratus ribu, jadi berapa tuch?! Jangankan ditabung, untuk makan satu minggu saja (di McD) rasanya tak mungkin cukup. Seratus demi seratus, kepingan logam bergemerincing dalam botol Aqua. Sedan berkelas impor dan baru harganya ratusan juta, kira-kira perlu berapa banyak botol Aqua ya? Ah, buktinya “orang pajak” banyak yang bisa koq! Macam mana hebatnya cara menabung si Polan itu ya?!

Sekarang ini tak terasa gaji saya sudah naik hampir lima kali lipat lho besarnya! Memang tak terasa, buktinya: Masih tak cukup juga!! Gaji PNS naik, harga sembako ikut naik, bahan bakar naik, listrik naik, telepon naik, angkutan naik, bayar sekolah anak naik, tensi dan pitam pun ikut naik. Memang, sudah watak manusia tak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang telah dimiliki. Ketika sesuatu yang dicita-citakan tak kunjung jadi kenyataan, yang terwujud lebih dulu bisa jadi hilang kesabaran. Mulailah hukum dan aturan tak diindahkan, ajaran luhur agama tak lagi didengarkan. Sikut kiri, tohok kanan, jorokkan teman, injak bawahan, jilat atasan, segala cara difatwa-halalkan asal teraih apa yang diinginkan. Kehilangan pegangan, bisa-bisa hilang pula ke-….-an (Hush!!… Malu ach!) Emangnya apaan?

Belum cukup bersyukur? Padahal pemerintah sudah cukup besar lho memberikan perhatian. Buktinya, anggaran untuk gaji PNS dinaikkan 10 triliun (lho, itu buaaanyak, Mas! 10.000.000.000.000, ada berapa gelinding angka nol?) dari Rp41 triliun pada APBN 2002 menjadi Rp51 triliun untuk tahun ini, sudah terima rapelnya khan? Jadi? Masih ada alasan untuk tidak meningkatkan produktivitas?

Padahal selain gaji, pemerintah juga sibuk dipusingkan oleh tuntutan untuk segera menyiapkan program rekrutmen PNS yang terjamin lebih transparan, sistem promosi dan mutasi pegawai yang lebih appropriate, serta appraisal (taksiran) kebutuhan personil yang independen; berbagai upaya terpadu yang diharapkan dapat mengembalikan motivasi kerja ke “titik aman”, tingkatkan gairah berkarya agar dapat kian produktif lagi.

Ketika Departemen Keuangan membuka penerimaan PNS dari tingkat sarjana belum lama ini saja tercatat sekitar 70.000 pendaftar yang antusias kepingin jadi PNS dan hanya 18.000 yang terpanggil untuk mengikuti tes sebelum disaring dan disaring lagi hingga akhirnya hanya kurang dari sepersepuluhnya saja yang benar-benar diterima. Padahal gaji PNS khan tidak begitu besar? Jika kita cermati, bisa jadi hal ini terjadi karena menjadi PNS masih merupakan impian sebagian besar anak bangsa di negeri ini. Mereka tidak dididik untuk memiliki jiwa seorang enterpreneur yang bisa mandiri dan penuh percaya diri menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Di tengah himpitan ekonomi yang kian kejam tak terperi, tambahan lagi terwarisi sikap mental yang mendewakan birokrasi, jenderal, hakim pengacara ataupun lain profesi yang masih menjanjikan menghasilkan banyak uang, bekerja pun orientasinya bisa jadi murni materi. Padahal apa sich sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini?

Ada orang yang masih berpikir hidup hanya untuk saat ini. Padahal kita percaya hidup setelah mati adalah yang abadi. Manusia hidup sebenarnya sedang tidur, yang akan benar-benar terbangun dan terbuka matanya pada kehidupan yang kekal sesudah mati: akhirat nanti. Adapun tujuan kita diberikan kesempatan hingga limit periode tertentu hidup di alam dunia ini ialah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya guna dikonsumsi kelak kala mengarungi lautan hidup yang sejati. Manusia cerdas adalah manusia yang pandai memanfaatkan waktunya dengan efisien dan efektif, mengisinya dengan kegiatan yang positif, bermakna dan produktif. Betapapun jenius seorang mahasiswa, jika ia tidak segera memindahkan semua jawaban dari isi otaknya ke atas kertas pada saat ujian yang waktunya terbatas, ia tetap akan mendapat ponten merah! Dalam kembang kempisnya sisa nafas yang kita miliki sebelum akhirnya benar-benar akan terhenti, berapa banyak jejak tapak kaki yang bisa kita tinggalkan di muka bumi membekas penuh arti?

(C)ERITANYA…

            Ali dan Imron adalah dua sahabat pegawai pajak di suatu Kantor Wilayah pada bidang IAP yang pekerjaan rutin sehari-harinya adalah “mengetel” SSP lembar ke-2 yang dikirim dari KPP. Dalam kondisi normal, Ali mampu “mengetel” hingga 250 lembar per hari, sementara Imron hanya sanggup menyelesaikan 200 lembar. Bisa dikatakan Ali lebih produktif daripada Imron. Namun akhir-akhir ini Ali tampak bagai kehilangan konsentrasi, sering melamun (patah hati?), menurun produktivitasnya sehingga hanya mendapatkan 150-200 lembar saja dalam sehari. Sementara Imron termotivasi oleh keinginan melanjutkan kuliah yang izinnya baru saja ia kantongi menjadi terpacu semangatnya dan bisa mengejar ketinggalan hingga dapat merekam 270-300 lembar SSP tiap harinya. Tentu saja dengan harapan bisa menabung lebih banyak untuk persiapan kuliah.

            Ilustrasi di atas menggambarkan hubungan yang erat antara produktivitas dengan motivasi. Semakin kuat motivasi yang menggerakkannya, seseorang akan terdorong dan makin terpacu untuk meningkatkan produktivitas kerjanya, demikian pula sebaliknya. Demikian pentingnya motivasi ini, ia adalah ignition key, fungsi starter pada motor, penggerak niat, penggeliat semangat, penggiat kinerja yang memacu adrenalin dalam tiap ruas tubuh kita untuk memompa darah dan oksigen, mengalirkan energi yang membuat kita terdorong untuk melakukan satu atau serangkaian aksi nyata yang terarah sistematis demi mencapai tujuan yang telah diproyeksikan sejak awal dengan jelas.

Ketika seorang pegawai pajak mengerjakan aktivitas rutin hariannya dengan nothing to lose, tanpa pretensi apapun, tidak membidik target, menetapkan tujuan maupun mengharap sesuatu, benar-benar karena baginya tugas tersebut adalah suatu hal lumrah yang “biasa” dan biasanya ia lakukan; dalam situasi santai dan tanpa tekanan ia dapat bekerja dengan baik, tetapi sesungguhnya ia belum produktif. Ia belum mengeluarkan potensi terbaik yang dimilikinya, belum mengoptimalkan apalagi memaksimalkan segala kemampuan, keahlian, keterampilan dan pengetahuan yang ia kuasai untuk dicurahkan sepenuh hati dan segigih jerih-payah dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Tentu saja akan berbeda perlakuan serta output-nya andaikata suatu target yang dibatasi deadline kemudian ditetapkan atasnya, tugas-tugas untuk diselesaikan, pencapaian untuk diraih. Berbeda pula ketika motivasi lebih berupa wujud respon akibat terdesak oleh kebutuhan. Dalam dua kemungkinan situasi terakhir, seorang karyawan akan berusaha lebih dari kadar ukuran standar sebagaimana ia biasanya bekerja. Bahkan jika harus melampaui batas kemampuannya besar kemungkinan akan tetap ia upayakan, “demi negara, Pak!”, setulus pengabdian? “Namanya juga tugas…” Begitulah! Namun tentunya kita tidak dapat secara naif memukul rata semua pegawai memiliki mental sedemikian mulia. Maka bersyukurlah jika kita punya bawahan atau rekan kerja yang secara sukarela mau bekerja keras dan mencintai pekerjaannya. Tak jarang kita jumpai satu-dua karyawan yang meski tetap mau melaksanakan perintah namun wajah berkerut tak ramah, bibir silent-mode serapah menyumpah, merasa terpaksa padahal ogah. Disinilah kearifan manajerial seorang pemimpin/ atasan diperlukan. Fungsi insentif mulai memainkan peran. Beri stimulus, gelitik dengan rangsangan. Tidak mesti selalu materi, pujian dan support pun jika tulus terungkap dari hati kita niscaya akan sampai pula terasa terenyuh menyentuh di hatinya.

            Maka setelah motor di-starter, perlahan injak kopling dan masukkan persneling ke gigi satu. Bagaimana caranya? Yup! Dengan perencanaan (planning) yang matang. Buatlah alur rencana mulai dari tahapan input, selama proses, hingga akhirnya terwujud output. Setelah termotivasi yang ditandai dengan set up goals, mulailah bangun step by step batu loncatan sampai tercipta satu jembatan, jalan terbentang yang memudahkan kita meluruskan visi, temukan arah dan letak garis Finish untuk sesegera mungkin melakukan action, sprint secepat-cepatnya hingga terebut trophy di tangan!

Masih ingat rumus dasar Fisika waktu SMP?

a = v / t

acceleration (percepatan) = velocity (kecepatan) / time (waktu)

Produktivitas itu pun sebenarnya ekuivalen dengan percepatan. Akselerasi adalah kuncinya! Contoh soal: Dalam perlombaan balap sepeda, diketahui 1 putaran roda menempuh lintasan sepanjang 0.5m. SonGoku mampu memedal 100 putaran dalam waktu 1 menit (60 detik) sementara Bezita hanya sanggup menggenjot 80 kali dalam menit yang sama, bisa ditebak, yang sanggup mengayuh pedal memutar roda lebih banyak dari rivalnya dalam satu satuan waktu tertentu tentu saja lebih berpeluang menjadi juara. Soalnya terlalu mudah ya? Hmm… Memang terkadang kita justru melewatkan soal yang mudah karena keburu dipusingkan oleh masalah rumit sarat detil yang ruwetnya njelimet sampai bikin mumet. Pusing lantaran si gendhuk sudah waktunya daftar kuliah sementara perguruan tinggi Be-Ha-eM-eN biayanya meroket, jalur khusus? Wow! Selangit!! Padahal silsilah ndak ada keturunan keluarga Tao Ming (wah, nonton Meteor Garden juga ya, Pak?); utang koperasi belum terbayar, cicilan rumah tak kunjung kelar, angsuran mobil bikin terkapar, uang saku dan belanja pasar, kebutuhan membengkak terus membesar, jenggot terbakar, jebol sabar, konsentrasi buyar, idealisme pudar, terobos pagar, sabet sana-sini, besut kanan-kiri, kepergok korupsi, nama tercemar, aib tersebar, jantung berdebar, atasan gusar, mutasi terlempar… Keluarga terpencar, eeeh!! Makin kurang ajar! Peluang melebar, selingkuh gencar, kepergok ngamar, pipi memar, istri menampar, ancam balik kanan bubar, stress, otak gegar, ditinggal pacar, stroke menghajar, hilang sadar, sekarat mooo… ??

Dhuaaarrr!!! Mangkenye Pak, QT idup cuman sekali, nyang lempeng-lempeng AJD! KG usye belengkak-belengkok! Matiiiiiii, pasti mati!! (KT AA Gym)… Selagi kita masih punya waktu, selagi masih diberi kesempatan, mari kita rapatkan barisan, luruskan shaf, murnikan niat, tajamkan ingat, untuk siapa kita berjuang, bekerja dan berusaha… Ingatlah wajah-wajah orang terkasih, betapa mereka akan sangat sedih jika kebanggaan dan kepercayaan atas seorang suami dan ayah yang baik harus pupus pudar terhapus karena kita sedikit saja tergoda, melenceng dari niat semula, lalu mencoba-coba, lama-lama terbiasa, ketagihan? “Enak gilaaa!!” Masih pula kita tega berkata bahwa kita melakukannya demi mereka??? Percaya dech, setiap rezeki ada alamatnya. Rezeki untuk kita sudah ada jatahnya. Piring rezeki untuk kepala keluarga teladan yang bekerja sungguh-sungguh siang-malam banting tulang mencari makan meski melelahkan tapi ikhlas demi anak istri tercinta, tak akan tertukar dengan piring rezeki yang dihidangkan untuk seorang pemalas tanpa usaha. Setiap piring sudah ada nama pemiliknya, hanya saja harus dijemput dengan sedikit effort, ikhtiar benar dengan jalan benar serta untuk tujuan yang benar pula. Porsinya bisa bertambah atau berkurang, tergantung kegigihan usaha. Wallahu ‘alam. Dan yang terpenting, ingatlah selalu untuk tetap berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Pemurah, Pengatur dan Pemberi Rezeki yang tak pernah luput memberi rezeki bahkan kepada cacing tanah, ular sawah, kawanan lebah, nyamuk, menerbangkan serbuk, mengawinkan tanaman, meneteskan embun, menanamkan harapan pada anak burung kecil yang baru ditinggal mati induknya, tertatih gemetar, menggigil kedinginan, lemah kelaparan, diilhamkan untuk berusaha keluar sarang dan mengembangkan sayapnya, belajar terbang! Subhanallah! Masa sich Pak, kita kalah?

Kembali bicara produktivitas. Kalau Anda masih bersama saya membaca sampai sejauh ini berarti Anda sedang tidak begitu sibuk, begitukah? Bolehlah kita sama-sama mengenyampingkan dulu persoalan hidup yang susah-susah, bagaimana kalau kita susun ulang kerangka teoritis (kaya mau ujian aja!) jembatan yang akan kita bangun sebelum kita jejali dengan kerikil dan kita lumuri dengan semen hingga akhirnya kokoh mengeras siap kita pakai untuk berlari di atasnya mengejar apa yang kita cita-citakan…

(Bersambung dech… ^^;)

Kisi-Kisi… ^^;

Uncategorized No Comments »

PS: With all do respects 2 non-muslim friends =)

Namanya juga kisi2 ^^; Sekedar petunjuk, mau diikutin atau nggak, silakan aja ;p Mahasiswa bermacam2, ada yang mau ujian mengandalkan kisi2, ada yang percaya pada intuisi, ada pula yang memang percaya kemampuan diri. Sah sah aja… Sekali lagi, namanya juga kisi2 ^^; Seperti penunjuk jalan, ga peduli siapa orang yang lewat (atau yang nggak lewat sama sekali), ga liat siang or malam, rame sepi, ga peduli orang peduli or cuek, diikutin atau nggak, he just stands there 4 a re-Zn! Fungsinya hanya menunjukkan jalan koq! =) Yang hanya akan tetap setia “berdiri” di tempat yang mudah dilihat orang, ga peduli hari panas atau hujan, kepanasan, kehujanan, kecipratan mobil lewat, ga masyalah, stand still silently on d’spot, dalam diam jalankan tugas mulia, menjadi penunjuk jalan, supaya orang gak kesasar n jadi salah jalan… =)

Just like other kisi2 ^^; Entah keluar or nggak di ujian, cuma dosen n tim penyusun soal aja yang tau ;p Tapi ga ada salahnya dibaca khan? Paling nggak ada gambaran model soal ujian. Just like other kisi2 ^^; Lain dosen bisa lain kisi2, subyektifnya kacamata yang dipakai adalah yang umum dikenakan dosen, from 1 corner of point of view, tapi secara obyektif, ga menutup kemungkinan ada pandangan yang lain, mahasiswa punya opini, bicara, sah sah aja… Meski begitu tentunya yang keluar ujian, hmm, lain juga urusannya! Jkekekek ;p Just like other kisi2 ^^; Kebetulan “kacamata” yang dikenakan sekarang (maklum familiarnya pake yang model begini sich… B-p) adalah “kacamata” perspektif muslim… Tapi bukan berarti ini khusus buat muslim lho! =) Seperti penunjuk jalan yang diam di sudut jalan, ga peduli agamanya, apapun suku bangsanya, diikutin atau nggak, dia “ada” tuk dibaca… Siapapun boleh baca! ;)

Just like other kisi2 ^^; Semua berpulang pada keyakinan masing2, mau dipakai silakan, ga dipakai resiko tanggung sendiri, wakakakak… ;p Nggak juga, ya silakan! =) NEway “kisi2″ berikut ini sekedar menjawab pertanyaan paragraf terakhir last post entitled “Ujian”… =) U may always skip Ds post when U V-l 1 2, but dN again, ga da salahnya dibaca… ^^;

Ambil nafas, huuuppp… Tahaaannnn!!! Mmmppffhhh…. @!&^*~… %$#!!!… Hembuuusssshh!!!… Aaaaahhhh… ;p He2, atur posisi, duduk relaks, kosongkan pikiran, tenaaang… Santai aja… Uda siap?!… Scroll down the mouse, jangan nyontek, n selamat mengerjakan! ^^;v (Lhoo? Apa sich?? ;p)

Bismillaahirrahmaanirahiim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
(kebaikan) dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr:1-3)

Katakanlah : “Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang
telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Q.S. Al-Kahfi
: 103-104)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut : 64)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya
dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapakah kamu
tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jaatsiyah : 23)

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tiada lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan
kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan
tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S.
Al-Jaatsiyah : 24)

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air
(hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan
suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang
dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi ini telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan
pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba
datanglah kepadanya azab (siksaan yang pedih dari) Kami di waktu
malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana
tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh
kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami)
kepada orang-orang yang berpikir. (Q.S. Yunus : 24)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan
senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ? (Q.S.
Al-An’aam : 32)

Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan
langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan
diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Maaidah : 40)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu
lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan
matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang
ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu)
dengan Tuhanmu. (Q.S. Ar-Ra’d : 2)

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada
waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian
masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang
telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan). (Q.S. Al-Baqarah : 281)

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang
bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan)
pekerjaan mereka.
(Q.S. Az-Zalzalah : 6)

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat
dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan
Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput
dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi
ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang
lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh). (Q.S. Yunus : 61)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom) pun,
niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
pula. (Q.S. Az-Zalzalah : 7-8)

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang
apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Munaafiquun : 11)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 35)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan
dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah
beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan. (Q.S. Ali ‘Imran : 185)

Dan orang-orang yang kafir (mengingkari Allah) amal-amal mereka
adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air
oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia
tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah
di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal
dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.
(Q.S. An-Nuur : 39)

Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia Kami hidupkan
dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu
dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan
orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang
kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.
(Q.S. Al-An’aam : 122)

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya
diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada
mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab
Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidak menambah kepada
mereka kecuali kebinasaan belaka.
(Q.S. Huud : 101)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat
membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat
orang. (Q.S. An-Nahl : 20)

(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu
tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.
(Q.S. An-Nahl : 21)

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat
menghidupkan (orang-orang mati)? (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 21)

Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka
dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka
sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?
(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 43)

Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka
Allah, Dialah Pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan
orang-orang yang mati dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S. Asy-Syuura : 9)

Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku
sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” (Q.S.
Maryam : 66)

Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah
menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami
benar-benar akan dibangkitkan?”
(Q.S. Al-Mu’minuun : 82)

Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang
belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan)
untuk diberi pembalasan?
(Q.S. Ash-Shaaffaat : 53)

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah,
kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang
tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan
dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian
(dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di
antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang
dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini
kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah
bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah. (Q.S. Al-Hajj : 5)

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan
awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami
hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah
kebangkitan itu. (Q.S. Faathir : 9)

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan)
lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah
kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Q.S. Az-Zukhruf : 11)

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang
ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar
ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
(Q.S. Ar-Ruum : 8)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. Ali ‘Imran : 14)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang
Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa
yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorangpun yang
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Luqman : 34)

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut : 5)

Telah dekat kepada manusia hari menghisab (memperhitungkan) segala
amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling
(daripadanya).
(Q.S. Al-Anbiyaa’ : 1)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya
pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat. (Q.S. Al-Baqarah : 214)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S.
Al-Baqarah : 186)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa.
(Q.S. Ali ‘Imran : 133)

(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari
pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan
kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus
kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah keberuntungan yang besar.
(Q.S. At-Taghaabun : 9)

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang
mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah walaupun dia tidak melihatNya. Maka berilah mereka kabar
gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. Yaasiin : 11)

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak
oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
(Q.S. Al-Mulk : 12)

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (Q.S. Al-Insyiqaq :
6)

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan
masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr : 27-30)

PS lagi: Ini cuma kisi2 ^^;v Do U think it will B useful? ;) It’s up 2 U! N namanya kisi2, tentu Kido ga segitunya hafal semua itu lah! Not a walkin’ textbook dech! ;p Kido juga boleh dapet kisi2 ^^; Pake buka buku juga ;) QT semua belajar… D’thing is NFR stop learnin’! So, well, selamat belajar! Persiapkan diri sebaik2nya, ambil bekal secukupnya, B well prepared, n goodluck menghadapi ujian dalam kehidupan! =)

What Ls Kn I say? GBU!!! Always take care n F nice days! ^_____^;v Tnx 4 Re-Dn…

Kido Kamen =)

UJIAN… =)

Uncategorized No Comments »

As was sent through e-mail 2: (Was) "SUM1 IN IT-Op" …@lycos.com
Fri, 27 Jun 2003 00:49:58 -0400

Ai, ni hao ma? =) Remember Ds? Ur Lycos mail! ;p Sorry I brought it up ‘er, rememberin’ d’past, check’d old l@rs, found it, thought it was good! Don’t mind 2 share? ;) Tapi uda di edit koq! Wekekeke… ;D So don’t worry! =) Napa? Bikin jealous orang ya? Hihi, biarin aja!! ^^; Gimana nich produksi aplikasinya? R U O K? Sukses yach! Take care n nice days!… ^______^;v

Nyontek

(Pix note: Gurlz! Don’t do Ds in class!! ^^;v)

UJIAN… OH, UJIAN… ;)

Hiks… Kenapa sich harus ada ujian? ^^; Dari kecil, baru mo masuk TK aja kita dah di tes dulu, bisa baca tulis dan berhitung sederhana blom? Semasih kita di SD, kalo mau naik kelas harus lewati ujian, THB. Di SMP juga gitu, mo lulus SMP mesti tembus ujian, EBTA/EBTANAS. Eh, SMA ketemu lagi! Entah ulangan harian, ujian semester, sampai apa yang sekarang namanya UAN. Abis ruah tumpahkan luapan kegembiraan, coret2 seragam tanda kemenangan, puas akhirnya tamat SMA, ternyata mau masuk kuliah lagi-lagi harus diuji lagi! T__T Kudu lulus UMPTN kalo emang pengen keterima di universitas negeri. Pilih yang swasta pun harus lalui tes saringan masuk…

Shortly said… Wow keren! :D Sekarang kita dah jadi mahasiswa nich! Tapi toh masih juga ketemu ama yang namanya ujian. Quiz, proyek, TM, praktikum, just name it… UTS n UAS… O ya, gimana UAS kemarin? Oh, belum selesai ya? Hehehe… Sama! ;p Usai UAS, fiuuhh… Sejenak bisa bernafas lega… Libur semester lumayan panjang, ikut SP? Hmmm… Take a deep breath, girl! It’s a loooooooooong journey! And when the roller coaster starts the ride again, kita pun pasti masih akan ketemu lagi sama yang namanya ujian, huwaaaaaaaa… Skripsi!! :O Dah ada bayangan mau bikin apa? ;)

Kenapa sich harus ada ujian?! Sebel! Puschyink! Nyusahin! Bikin BT! Muakin! Lha, jelek2 semua ya? ^^; “BEEEEPPP!!” <– Sebut nama! (Censored!!! ^^;) sendiri, apa yang kebayang waktu denger kata “ujian”? Jadi kenapa dong harus ada ujian? Hmm… Ok! Ujian untuk menguji kemampuan kita, bisa diterima… Yang lain? ;) Ujian untuk mengukur sejauh mana batas pengetahuan yang telah kita peroleh, boleh juga… Yeow!! Yang lagi baca imel! Menurut kamu? ;p

Ujian adalah parameter, ukuran, ketetapan, penilaian, kepastian, batas, limit, standar, acuan, patokan, evaluasi, penentuan, apalagi? Oh, saya Bu? Menurut saya, nggg, apa ya? ;p Ujian adalah… Suatu cara untuk mengetahui apakah sesuatu atau seseorang yang tengah diuji itu telah dapat dianggap layak atau kompeten untuk diuji… Atau masih perlu diuji lagi? Hueeeee… Aschyal!! ;D Ujian memang bisa jadi adalah sebuah sarana, media, teknik, alat atau cara, untuk kita mengetahui, mengukur, memastikan, menaksir lalu menentukan, bahwa sesuatu atau seseorang yang tengah kita lakukan pengujian atasnya itu telah benar-benar pantas untuk standar, ukuran, batas minimum dari pengetahuan, keterampilan, keahlian maupun kemampuan yang hingga tahap, state, titik acuan/ batas patokan itu memang telah seharusnya dapat ia kuasai, peroleh, miliki, serta mampu pula kelak ia pertanggungjawabkan penguasaan keilmuan yang dicapainya itu. Susah amat sich bahasanya… ^^; Pokoqe yaaa, begitulah…

Kita sering denger istilah “long-life education”. Pendidikan semestinya berlangsung terus-menerus selama kita hidup; sampai kapan? Ya gampangnya sampai kita nggak lagi bisa belajar, alias… ;p “Tuntutlah ilmu mulai dari dalam buaian hingga masuk ke liang Kubur”, pesan Nabi Muhammad untuk umatnya, umat manusia, kita semua. Tiap pelajaran, pengetahuan, ilmu baru yang kita peroleh tentu tidak mentah-mentah kita terima begitu saja. Sebagai makhluk yang dibekali kekuatan akal untuk berpikir logis, analitis, menalari, tentunya pengetahuan yang kita peroleh itu perlu kita uji terlebih dahulu kebenaran atau keshahihannya. Orang bilang api itu panas, masa sich? Maka silakan pegang badan ketel yang lagi mendidih, lalu tunjukkan buktinya pada saya ;p Jika tangan jadi melepuh atau bahkan sampai berasap (haaahh??) setidaknya dapat kita simpulkan dua premis yang terbukti bernilai benar: bahwa api itu memang panas, dan besi adalah penghantar panas yang baik. Bisa juga tambahkan kesimpulan ketiga: Bahwa hanya orang super bebal dan keras kepala yang masih juga belum percaya dan ingin bukti yang lebih meyakinkan… Nich! Pernah bungee jumping dari mulut kawah gunung berapi? ;p

Jika belajar adalah long-life education, apakah yang lebih long daripada education? Tetewww!! ;D Tentunya life itu sendiri khan? Karena setiap fase pembelajaran perlu pengujian, maka wajar saja jika hidup yang adalah sarana ruang dan waktu untuk kita menimba ilmu sarat pula dengan beragam ujian kehidupan. Semakin meningkat ilmu kita, semakin tinggi dan berat pula level ujian yang harus dihadapi kelak. Semua itu untuk apa? Tentunya untuk semakin meningkatkan kualitas kita sebagai “manusia” selama hidup di dunia, sehingga pada saat “ujian akhir” menghadapi kematian nanti diharapkan kita bisa diluluskan dengan predikat “manusia paripurna”, yach, minimal “Cum Laude” laaah ;p Ketika kita tamat dengan sukses jadi manusia, dapat tambahan titel “Almarhum” yang artinya “dirahmati” di belakang nama, maka kita akan dilepas dari “dunia” kampus yang lingkupnya terbatas, untuk menebarkan hasil ilmu dan amal yang kita kumpulkan sebagai bekal selama “belajar” di “kampus”, ke “dunia luar yang sesungguhnya”, terjun ke masyarakat, yang tentu cakupannya lebih luas. Ya, sesungguhnya setelah kita tidak lagi hidup di dunia fana yang rapuh, sementara dan serba terbatas ini, kita masih akan menjalani hidup: di alam lain yang jauh lebih besar, luas, kekal abadi, tanpa akhir, untuk selamanya… Itulah alam akhirat…

Tetapi seperti halnya dunia kerja di luar kampus, kita harus siap bahwa “dunia yang baru” ini tentulah akan lebih kejam dan tidak pandang bulu. Hanya yang benar-benar well-prepared aja yang akan bisa survive dalam persaingan. “Mahasiswa” yang gagal dan yang berhasil tentu saja dibedakan perlakuannya. Ada, tempat kerja yang mau terima pelamar dengan bekal sertifikat “DO” dari kampus? Lulusan diploma aja susah, S1 aja sekarang udah standar minimal, artinya? Jalan nan terjal dan berliku-liku tajam masih luas terbentang di depan, perjuangan kita belum usai, masih teramat panjang jika kita tetap terpacu untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidup kita, ya materil ya spirituil, setiap kita tentunya mendambakan terjamin kehidupan di hari depan khan? Di kala kita “tak lagi bisa bekerja”… Karena itu harus dibiasakan, mulai “menabung” dari sekarang, timbalah ilmu dan amalkan dengan perbuatan, sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan kita di “hari tua kelak”, mulai dari kebutuhan yang paling mendasar seperti sandang, pangan, papan, trus keamanan, kenyamanan, percaya diri, sosialisasi sampai kepada “kebutuhan paling puncak” manusia sebagaimana diungkap Abraham Maslow dalam teorinya, apa hayo? ;p Masih ingat gak? Self-actualization… ;) Bagaimana kita mengaktualisasikan keberadaan kita selama hidup di dunia sebagai seorang manusia yang seutuhnya…

Gimana?… Boleh istirahat sejenak koq, mau dibeliin minum? ;) O ya, intermezzo aja nich, tau gak? Hehe… ;D Kadang2 saya punya pikiran gini lho! Kamu kalo ngajar khan lumayan padat jadwalnya ya? Saya perhatiin, selesai dari satu kelas langsung ke kelas lain, ga pake istirahat. At least minum dulu keq, biar gak dehidrasi… Saya jadi kelintas, oh, mau gak ya "BEEP BEEP(!!)", kalo suatu kali saya beliin, yach, sekedar aqua gelas ato lemper mungkin, trus saya bawain ke kelas tempat kamu ngajar? Lumayan, paling gak, bisa buat ganjel perut khan? ;p Hahaha… Aneh ya?! ^^; Abis… Gak tega sich… Jadi?… Mau yach? ;p Hahaha… :D (BEEP! BEEEPPP!! BEEEEPPPPHHH!!!!… OIII OIIIIIII!!! Kemana nich Badan Sensor-nya??! ^^;v Wakakak!!! =D PARAAAH! PARAAHHHH!! ;p Jkekekek… Jadi malu… ^^;) Kalo masih punya waktu n blom bosen bacanya, boleh terusin lagi khan diskusinya? ;) (Uhuk2… ;p Apaan siyy? ^^;)

Dalam skala kecil, bolehlah kita ambil contoh “kehidupan” kuliah kita di kampus. Cukuplah satu semester aja buat sampelnya. Samakan starting point, jadi sekarang ceritanya, hak “hidup” kita hanyalah selama enam bulan atawa satu semester ini aja. Kita dikasih kebebasan buat belajar, melakukan, bahkan tidak berbuat apa pun sama sekali, yang kita ingini dan bisa kita kerjakan selama setengah tahun ini. Mahasiswa yang malas mungkin akan bersantai-santai dan tak begitu ambil peduli, ah, enam bulan, masih lama ini… Nanti aja dekat ujian baru saya geber, kebut belajar, kejar semalam, yang penting lulus…

Mahasiswa yang rajin dan berpikiran positif bisa jadi akan memandang batasan ini sebagai tantangan. Tantangan untuk dalam batas waktu tertentu dapat belajar sebanyak mungkin serta mampu membuktikan hasil belajarnya. Tantangan untuk dapat pula bertahan, yaaah, seapes-apesnya masih bisa dapat C lah! Mahasiswa yang berpandangan lebih jauh ke depan/ visioner sangat mungkin akan melihat ini sebagai peluang untuk tak sekedar dapat membuktikan sejauh mana level kemampuannya, tetapi juga senantiasa meningkatkan kualitas pengetahuan yang telah berhasil diserapnya, sesingkat apapun kesempatan belajar yang dimilikinya, waktu yang ada dimanfaatkan seoptimal mungkin, terpacu untuk selalu dapat meraih sesuatu yang bernilai “lebih” dari biasanya. Pada akhirnya, jenis manapun spesies mahasiswa tersebut, mereka semuanya akan dikumpulkan pada suatu hari untuk bersama-sama menghadapi satu momen besar yang sama: Ujian Akhir Semester!

Saat itulah ditentukan keberhasilan atau kegagalan seorang mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi belajarnya, usaha maksimal maupun optimal yang telah dilakukannya, segala upaya jerih payah pada hari itu akan langsung menuai buahnya. Yang belajar dengan sungguh-sungguh bisa berbahagia karena besar kemungkinan ia dapat lulus. Yang belajar penuh kualitas bisa tersenyum bangga karena tak hanya sekedar lulus, nilai-nilainya pun sangatlah memuaskan. Sementara yang kurang persiapan, kurang perhatian, kurang hafalan, kurang latihan, jarang ikut praktikum atau kuliah di kelas, sering titip absen atau titip salam buat dosen, saat UAS dibayang-bayangi kecemasan, takut gagal, khawatir dapat nilai D, lebih parah lagi kalau sampai E, apalagi ketahuan mencontek! Semua mahasiswa akan ditunjukkan nilai akhirnya. Orang tua pun akan menerima tembusan LHSS via pos, turut mencicipi manis/ pahitnya rasa buah belajar yang kita tanam. Bukan tak mungkin seisi kampus pun menjadi tahu jerih payah kita yang hangus sia-sia ketika muncul dan terukir nama kita terpampang besar di papan pengumuman sebagai juara mencontek semester ini. Aduhai malunya!! ^^;

Hidup kita pun sebenarnya sama seperti itu. Ada ujian demi ujian yang harus kita lalui, semuanya menuntut pembuktian pencapaian kita sebagai manusia, seberapa besar persiapan kita, seberapa dalam kita menggali: belajar dari pengalaman, kisah-kisah, membaca buku, petuah guru, tukar pendapat dengan sahabat, dengar nasihat dari kerabat, bahkan saat kita berjalan sambil melamun (mikirin siapa? ;p) lalu tersandung hingga jatuh terjerembab, itu pun pelajaran yang berharga, tergantung bagaimana kita menyikapinya; berapa banyak amal baik sebagai bekal yang kita kumpulkan, berapa banyak modal waktu terbuang percuma untuk hal yang sia-sia? Meningkatkah grafik produktivitas amal serta kualitas keilmuan kita ketika dibandingkan terbalik dengan semakin berkurangnya sisa waktu (umur) yang kita miliki sebelum akhirnya menipis, habis, lalu mati? Sebelum akhirnya kita benar-benar akan dikumpulkan dan bersama-sama dihadapkan pada satu hari yang tak satu pun makhluk dapat lari daripadanya: Hari Pembalasan?! Saatnya segala amal perbuatan kita dihitung dan ditimbang, baik dan buruk; penentuan nasib berdasarkan apa yang telah kita lakukan, usahakan dan kumpulkan selama kita hidup di dunia; apakah akhirnya kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang dirahmati, diampuni, serta diberi ganjaran kenikmatan hidup abadi dalam indahnya taman surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai? Ataukah tergolong orang-orang yang dimurkai dan orang-orang sesat yang disiksa oleh azab yang pedih serta dilemparkan ke dalam jurang dan terbakar dalam panasnya api abadi di kerak neraka yang sungguh adalah seburuk-buruknya tempat kembali? Kemanapun akhirnya kita, percayalah! Kekal abadi adanya…

Ini sekali-kali bukan ancaman, hanyalah peringatan ;) Tiap ancaman bertujuan buruk, sedang peringatan bermaksud baik, meluruskan… Ingatlah betapa kita diberi nikmat sepanjang hidup di dunia: curahan kasih sayang kedua orang tua kita, yang merawat, menyusui, menggantikan popok, bekerja demi mencarikan kita beberapa suap makan, banting tulang demi dapatkan sekaleng susu di kala mereka sendiri harus irit, puasa makan keju, cukup makan tempe tahu, kerap terbangun tengah malam sekedar untuk menenangkan kita yang menangis agar bisa pulas tertidur kembali, tetap ikhlas dan tersenyum walau tubuh demikian letih, menghujani kita dengan peluk cium, mencintai tanpa pamrih, awas menjaga dan melindungi kita dari bahaya, tak rela lelap kita jadi terganggu, bahkan oleh nyamuk kecil, ketika kita saat itu hanyalah makhluk mungil tak berdosa, sungguh lemah tanpa daya; kini setelah kita (merasa) dewasa, karena (merasa) punya hak, punya uang, punya jabatan, lantas berani membentak, berlaku kasar, mengumpat dan memaki, bahkan menganiaya, melukai hati mereka yang kini telah renta? Ini adalah satu ujian! Ujian kesabaran. Ujian keikhlasan. Lupakah kita pada ketulusan mereka? Di kala kini mereka mengetuk pintu rumah kita, mengharap perlindungan dan tempat bernaung di kala tubuh mereka mulai rentan dimakan usia, membutuhkan sekedar afeksi dan perhatian yang mencuri secuil saja dari padatnya waktu kita yang teramat sangat sibuknya, mengais sisa-sisa kasih sayang walau hanya berupa kecupan di kening atau sekedar cium tangan sebelum pamit kerja? Sudahkah bakti, pengabdian dan balas jasa yang setimpal dengan hati lapang seluas cinta kita limpahkan pada mereka?

Sadarilah pula betapa besar dan berharga limpahan rahmat dan karunia-Nya. Udara bebas bersih untuk bernafas, gak pernah dikenakan retribusi, gak pernah distop lewat di depan hidung kita walau hanya setengah menit saja; padahal berapa banyak pasien di rumah sakit yang harus membayar mahal untuk sehirup dua-hirup tabung oksigen? Merogoh kocek hingga jutaan sekedar agar bisa buang gas? Yang untuk makan saja tak kuasa menggerakkan mulutnya hingga harus disuntikkan gizi, infus nutrisi? Yang sekian hari sekali harus cuci darah sekedar untuk menyambung nyawa? Bersyukurkah kita? Air hujan yang diturunkan dari langit tanpa pernah kita minta, kita malah kesal memaki lantaran becek bikin belepotan kaki; lihatlah saudara kita di Gunung Kidul! Tanahnya retak-retak! Setiap hari beli air untuk minum, mandi dan cuci, itu pun harus rela antri, dengan catatan orang PAM masih mau datang lagi, bersusah naik dan turun gunung, bawa-bawa drum naik truk tangki ;p Atau pernahkah tercekik kehausan yang amat sangat, saat tenggorokan kering terbakar meski tubuh bersimbah keringat, badan lemes, kurang cairan, kepala berkunang-kunang hampir pingsan, disengat kejam terik mentari yang sorotnya saja seolah mampu membakar kulit tembus ke hati? Sepanas apa padang pasir di gurun Sahara itu ya? Bagaimana pula panasnya nanti saat disiksa dalam neraka? Adakah kita pernah bersyukur? Pernahkah, sedikit saja, terlintas rasa terima kasih? Pada siapa? Siapa yang meniupkan angin? Siapa yang menggerakkan awan? Siapa yang menurunkan hujan? Siapa yang menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri orang tua kita, dalam diri kita sendiri, dalam diri sesama manusia?

Ini adalah salah satu soal ujian! ;p Selamat mengerjakan, selamat mencari jawabnya, semoga lulus dengan nilai memuaskan ;)

Always take care,

Dhimas ;)


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in