2 sum friends… Cm’d familiar? ;)

He3, yup! Sebenernya abis buka2 arsip file2 lama, kebetulan lagi agak senggang jadi bisa nulis di blog lagi ^^; Lose d’10-Cn 4while, relax, uda lama ga nulis ya? ;p Whew! Found my old articles! Wow! Jadi inget, uda lama nggak sempet nulis lagi di majalah! Bn Bt BZ l8ly, sorry… ^^; Tapi liat karya2 lama, jadi semangat lagi dech! Adrenalin meningkat, jantung dipacu, degup di dada berdebar2, pengen mulai nulis lagi! Hihihihi…

NEway, tadi waktu lunch ga disangka ketemu sama seorang kawan lama, yang uda lama menghilang, Mas Padri, dulu kerja di Direktorat Penyuluhan, sejak 3 tahun lalu di-mutasi ke Palembang! Wahhh senangnya! Apa dia bilang? "Wisnu?! Ini Wisnu teman Ali khan?" Yach since it’s my middle name, ngangguk aja ^^; "Koq inget Mas?" Apa lagi dia bilang? "Ya inget donk! Khan namanya suka muncul dulu di Berita Pajak!" Weks!! ^^; Jadi malu, dah lama nggak nulis… Jadi pengen nulis lagi…

So d@ was 1 of d’re-Zn… NEway sementara itu pas buka2 folder, nemu artikel lama yang walaupun uda beberapa kali re-publish tapi kayanya sich gpp dech kalo dimuat disini, toh copyright punya Kido hihihihi… Sekedar berbagi aja, mudah2an bisa jadi tambah pacu semangat! Kian produktif belajar dan bekerja! Comments welcome! ^____^;v Ini tulisan Kido hmm, 2 tahun lalu lho! Wahhh…

Happy re-Dn! (Lho??! Ada ya? ^^;)

(Seperti pernah dimuat di Majalah Berita Pajak No.1496/Tahun XXXV/1 Agustus 2003)

MEMAKNAI PRODUKTIVITAS

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra

(A)PAAAA???

Empat puluh persen (40%) PNS di Indonesia tidak produktif!” EMPAT PULUH PERSEN lho, Pak! Adalah kunjungan mendadak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Feisal Tamin ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Senin, 16 Juni 2003 yang lalu, yang kembali membuat saya teringat sesuatu, lalu mulai membuka-buka lagi arsip kliping lama dan menemukan artikel dari Business News English Edition 6791/6792/24-7-2002 yang memuat pernyataan beliau sebagaimana dapat Anda baca pada kalimat pembuka paragraf ini. Data boleh dahulu kala, namun faktanya tak terabaikan masih cukup relevan untuk dijadikan cermin hingga detik ini. Mencengangkan? Jadi kinerja PNS kita tak memuaskan? Belum optimal? Kurang bermanfaat? Maksudnya saya tidak bisa bekerja dengan baik dan benar, YA?? BEGITU?!!

Hwalah, jangan sewot dulu, Pak! Siapa pun bisa mengerti jika Anda yang selama ini telah merasa memberikan pengabdian pada negara dengan totalitas sepenuh loyalitas, ternyata jerih payah puluhan tahun bak terabai tak terhargai, terhunjam hati, perih dan miris, rasa bagai diiris-iris… Saya ucapkan “SELAMAT”!!?… Tidak, Pak! Anda tidak salah baca: Selamat; karena sepantasnyalah Anda satu dari para kru yang lurus berlayar ke arah yang benar, satu bahtera bersama rombongan awak pilihan yang produktif, keras bekerja senantiasa, tanpa mengeluh apalagi pamrih, sajikan sumbangsih karya terbaik bagi negara. Niat ikhlas dan ikhtiar sempurna, percayalah, di sisi Allah mahal dan tak akan tertukar nilainya, pun prosentase nol-koma-nol-nol-nol-nol-sekian jua.

Pantas penerimaan pajak tahun 2002 terkumpul tersendat-sendat, nyatanya hanya sebagian lebih sedikit petugas yang benar-benar bersimbah keringat mengayuh sampan agar bahtera terus melaju jauh ke depan. Bayangkan seandainya sinergi 100% pegawai produktif dapat diwujudkan, bisa jadi surplus revenue kita ruah melimpah! Namun demikian, tentunya pencapaian target itu pun sudah sepantasnya tetap sama-sama kita syukuri, dengan harapan tahun ini kita bisa jauh lebih sukses lagi. Kerja keras tak luput doa. Bukan hanya harus work harder, kita juga mesti work smarter.

Jika Anda memiliki waktu luang satu jam saja untuk membaca berita di surat kabar, tahukah Anda sesungguhnya dalam satu hari yang sama Anda juga memiliki kemampuan melahap empat buah buku sekaligus? Pilih yang mana? Saya tentu saja percaya Anda bukan tipe orang yang menghabiskan satu jam kerja di kantor untuk sekedar membolak-balik halaman koran. Bukan tidak boleh, tak ada larangan tentu saja bagi Anda membaca koran, proporsional sajalah. Kita memang perlu mengikuti perkembangan per detik arus informasi global yang demikian pesat dan senantiasa berubah, hanya saja saya rasa atasan akan lebih berkenan melihat kita membaca buku-buku yang dapat menambah wawasan dalam menyikapi tuntutan perubahan, apalagi jika itu menunjang pekerjaan. Itu pun dengan satu catatan: tidak mengganggu aktivitas kerja yang tetap harus kita utamakan.

Lho, saya baca koran tidak sampai mengganggu jam kerja! Saya sudah sampai di kantor bahkan satu jam sebelum jam kerja dimulai!” Oh, kalau begitu tentu bagus sekali. Jika demikian, saya tinggal berharap kita tak termasuk dalam kelompok pegawai yang serius menerapkan “Teori 705” dalam aktivitas kerjanya. Apa itu Teori 705? Menurut ayah saya :

Datang jam 7, pulang jam 5, tapi di tengah-tengah atau selang waktu di antaranya tidak menghasilkan output sama sekali alias produktivitasnya NOL (0) BESAR!! Lha?

Sekedar datang, isi absensi, buka sepatu, ganti sandal, keluar lagi, alasan sarapan. Tiba-tiba sudah jam sembilan. Kembali ke ruangan, tumpuk berkas di atas meja, kesan sibuk banyak pekerjaan, tapi yang diraihnya kemudian lagi-lagi koran, “belum puas tuntas”, katanya, nikmati berita perkosaan, naudzubillahi min dzalik… Jam sepuluh. Toleh kiri tengok kanan, tak ada lagi guyonan, sebar gosip, atau umbar sinopsis sinetron tadi malam. Tak enak hati karena yang lain sibuk bekerja, walau dengan bersungut-sungut akhirnya mulai juga ia tangani berkas-berkasnya. Setengah sebelas. Apa? Baru jam sebelas kurang seperempat? Jam sebelas. Ingin rasanya cepat istirahat…

Belum lagi jam dua belas kaki sudah menginjak pintu masuk rumah makan. Mereka yang bekerja di daerah mungkin akan langsung pulang ke rumah. Alasan: biar hemat, takut amarah istri kumat, atau kangen nyai punya masakan, siapa kuasa tak mengizinkan? Jam satu? Tanggung ah, sebentar lagi. Usai shalat, turn on the TV, terkantuk-kantuk, “ambilkan bantal, Mi!” HAH!! Jam dua! “Lekas bangun, Pi!” Kembali ke kantor, bekerja lagi…

Jam tiga, UAAAHHH… Saatnya ngupi! Setengah empat, waktunya shalat. Ba’da Ashar, pakai sepatu, rapikan meja, “Mau ke mana? Khan belum jam lima? Jam empat tunggu jam lima. Usir bosan cari kesibukan. Main Freecell jadi pilihan. Teng-teng-teng-teng-teng!! Jam lima. Akhirnya!… Usai lagi satu hari yang demikian biasa, seperti hari-hari lainnya yang berlalu begitu saja, hampa kosong tanpa makna. Zombie-zombie kota mati, berdatangan dan pergi lagi. Maaf Pak, boleh tanya? Sebenarnya apa sich yang Anda cari? Gaji buta? Uang pensiun? Sabetan tak resmi? Asuransi? Tapi yach, tak perlu tersinggung (kecuali merasa) karena ini hanya ilustrasi belaka. Tak benar-benar terjadi! (Oh, ada juga ya?!) Tapi bukan di sini! (Nyengir kuda…)

(B)AGAIMANA BISA?

Mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Rendahnya performance PNS di negeri ini berdasarkan hasil pengamatan Meneg PAN antara lain disebabkan oleh tidak jelasnya job description termasuk di dalamnya job operation guidelines. Beban kerja para PNS umumnya cukup sederhana dan mudah hingga berakibat munculnya kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

a.       Relatif hanya diperlukan 4 jam sehari untuk menyelesaikan satu beban kerja yang biasa sehingga mereka cenderung untuk datang ke kantor terlambat atau pulang ke rumah lebih cepat.

b.      Merasa cukup datang ke kantor 2-3 hari saja dalam hitungan satu minggu kerja.

c.       Lebih parah lagi, ada yang hanya datang pada tanggal tertentu atau saat ambil gaji saja.

d.      Banyak pula Pegawai Negeri Sipil yang memanfaatkan waktu kerjanya yang luang untuk mencari tambahan penghasilan lain di luar kantor baik secara formal maupun informal.

Rendahnya gaji memang acap kali jadi kambing hitam atas buruknya kinerja PNS. Bagaimana mau bisa hidup makmur kalau selalu pusing terbentur tak tercukupi belanja dapur? Oleh karena itu sepantasnya kita bersyukur bahwa sejak pemerintahan ‘Pak’ Gus Dur gaji PNS dinaikkan berangsur-angsur. Saya sendiri sempat merasakan lho, ketika pertama penempatan, terima gaji “cuma” satu (!) lembar uang seratus-ribuan plus pecahan nominal yang kalau dijumlah mungkin hampir mendekati seratus ribu, jadi berapa tuch?! Jangankan ditabung, untuk makan satu minggu saja (di McD) rasanya tak mungkin cukup. Seratus demi seratus, kepingan logam bergemerincing dalam botol Aqua. Sedan berkelas impor dan baru harganya ratusan juta, kira-kira perlu berapa banyak botol Aqua ya? Ah, buktinya “orang pajak” banyak yang bisa koq! Macam mana hebatnya cara menabung si Polan itu ya?!

Sekarang ini tak terasa gaji saya sudah naik hampir lima kali lipat lho besarnya! Memang tak terasa, buktinya: Masih tak cukup juga!! Gaji PNS naik, harga sembako ikut naik, bahan bakar naik, listrik naik, telepon naik, angkutan naik, bayar sekolah anak naik, tensi dan pitam pun ikut naik. Memang, sudah watak manusia tak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang telah dimiliki. Ketika sesuatu yang dicita-citakan tak kunjung jadi kenyataan, yang terwujud lebih dulu bisa jadi hilang kesabaran. Mulailah hukum dan aturan tak diindahkan, ajaran luhur agama tak lagi didengarkan. Sikut kiri, tohok kanan, jorokkan teman, injak bawahan, jilat atasan, segala cara difatwa-halalkan asal teraih apa yang diinginkan. Kehilangan pegangan, bisa-bisa hilang pula ke-….-an (Hush!!… Malu ach!) Emangnya apaan?

Belum cukup bersyukur? Padahal pemerintah sudah cukup besar lho memberikan perhatian. Buktinya, anggaran untuk gaji PNS dinaikkan 10 triliun (lho, itu buaaanyak, Mas! 10.000.000.000.000, ada berapa gelinding angka nol?) dari Rp41 triliun pada APBN 2002 menjadi Rp51 triliun untuk tahun ini, sudah terima rapelnya khan? Jadi? Masih ada alasan untuk tidak meningkatkan produktivitas?

Padahal selain gaji, pemerintah juga sibuk dipusingkan oleh tuntutan untuk segera menyiapkan program rekrutmen PNS yang terjamin lebih transparan, sistem promosi dan mutasi pegawai yang lebih appropriate, serta appraisal (taksiran) kebutuhan personil yang independen; berbagai upaya terpadu yang diharapkan dapat mengembalikan motivasi kerja ke “titik aman”, tingkatkan gairah berkarya agar dapat kian produktif lagi.

Ketika Departemen Keuangan membuka penerimaan PNS dari tingkat sarjana belum lama ini saja tercatat sekitar 70.000 pendaftar yang antusias kepingin jadi PNS dan hanya 18.000 yang terpanggil untuk mengikuti tes sebelum disaring dan disaring lagi hingga akhirnya hanya kurang dari sepersepuluhnya saja yang benar-benar diterima. Padahal gaji PNS khan tidak begitu besar? Jika kita cermati, bisa jadi hal ini terjadi karena menjadi PNS masih merupakan impian sebagian besar anak bangsa di negeri ini. Mereka tidak dididik untuk memiliki jiwa seorang enterpreneur yang bisa mandiri dan penuh percaya diri menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Di tengah himpitan ekonomi yang kian kejam tak terperi, tambahan lagi terwarisi sikap mental yang mendewakan birokrasi, jenderal, hakim pengacara ataupun lain profesi yang masih menjanjikan menghasilkan banyak uang, bekerja pun orientasinya bisa jadi murni materi. Padahal apa sich sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini?

Ada orang yang masih berpikir hidup hanya untuk saat ini. Padahal kita percaya hidup setelah mati adalah yang abadi. Manusia hidup sebenarnya sedang tidur, yang akan benar-benar terbangun dan terbuka matanya pada kehidupan yang kekal sesudah mati: akhirat nanti. Adapun tujuan kita diberikan kesempatan hingga limit periode tertentu hidup di alam dunia ini ialah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya guna dikonsumsi kelak kala mengarungi lautan hidup yang sejati. Manusia cerdas adalah manusia yang pandai memanfaatkan waktunya dengan efisien dan efektif, mengisinya dengan kegiatan yang positif, bermakna dan produktif. Betapapun jenius seorang mahasiswa, jika ia tidak segera memindahkan semua jawaban dari isi otaknya ke atas kertas pada saat ujian yang waktunya terbatas, ia tetap akan mendapat ponten merah! Dalam kembang kempisnya sisa nafas yang kita miliki sebelum akhirnya benar-benar akan terhenti, berapa banyak jejak tapak kaki yang bisa kita tinggalkan di muka bumi membekas penuh arti?

(C)ERITANYA…

            Ali dan Imron adalah dua sahabat pegawai pajak di suatu Kantor Wilayah pada bidang IAP yang pekerjaan rutin sehari-harinya adalah “mengetel” SSP lembar ke-2 yang dikirim dari KPP. Dalam kondisi normal, Ali mampu “mengetel” hingga 250 lembar per hari, sementara Imron hanya sanggup menyelesaikan 200 lembar. Bisa dikatakan Ali lebih produktif daripada Imron. Namun akhir-akhir ini Ali tampak bagai kehilangan konsentrasi, sering melamun (patah hati?), menurun produktivitasnya sehingga hanya mendapatkan 150-200 lembar saja dalam sehari. Sementara Imron termotivasi oleh keinginan melanjutkan kuliah yang izinnya baru saja ia kantongi menjadi terpacu semangatnya dan bisa mengejar ketinggalan hingga dapat merekam 270-300 lembar SSP tiap harinya. Tentu saja dengan harapan bisa menabung lebih banyak untuk persiapan kuliah.

            Ilustrasi di atas menggambarkan hubungan yang erat antara produktivitas dengan motivasi. Semakin kuat motivasi yang menggerakkannya, seseorang akan terdorong dan makin terpacu untuk meningkatkan produktivitas kerjanya, demikian pula sebaliknya. Demikian pentingnya motivasi ini, ia adalah ignition key, fungsi starter pada motor, penggerak niat, penggeliat semangat, penggiat kinerja yang memacu adrenalin dalam tiap ruas tubuh kita untuk memompa darah dan oksigen, mengalirkan energi yang membuat kita terdorong untuk melakukan satu atau serangkaian aksi nyata yang terarah sistematis demi mencapai tujuan yang telah diproyeksikan sejak awal dengan jelas.

Ketika seorang pegawai pajak mengerjakan aktivitas rutin hariannya dengan nothing to lose, tanpa pretensi apapun, tidak membidik target, menetapkan tujuan maupun mengharap sesuatu, benar-benar karena baginya tugas tersebut adalah suatu hal lumrah yang “biasa” dan biasanya ia lakukan; dalam situasi santai dan tanpa tekanan ia dapat bekerja dengan baik, tetapi sesungguhnya ia belum produktif. Ia belum mengeluarkan potensi terbaik yang dimilikinya, belum mengoptimalkan apalagi memaksimalkan segala kemampuan, keahlian, keterampilan dan pengetahuan yang ia kuasai untuk dicurahkan sepenuh hati dan segigih jerih-payah dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Tentu saja akan berbeda perlakuan serta output-nya andaikata suatu target yang dibatasi deadline kemudian ditetapkan atasnya, tugas-tugas untuk diselesaikan, pencapaian untuk diraih. Berbeda pula ketika motivasi lebih berupa wujud respon akibat terdesak oleh kebutuhan. Dalam dua kemungkinan situasi terakhir, seorang karyawan akan berusaha lebih dari kadar ukuran standar sebagaimana ia biasanya bekerja. Bahkan jika harus melampaui batas kemampuannya besar kemungkinan akan tetap ia upayakan, “demi negara, Pak!”, setulus pengabdian? “Namanya juga tugas…” Begitulah! Namun tentunya kita tidak dapat secara naif memukul rata semua pegawai memiliki mental sedemikian mulia. Maka bersyukurlah jika kita punya bawahan atau rekan kerja yang secara sukarela mau bekerja keras dan mencintai pekerjaannya. Tak jarang kita jumpai satu-dua karyawan yang meski tetap mau melaksanakan perintah namun wajah berkerut tak ramah, bibir silent-mode serapah menyumpah, merasa terpaksa padahal ogah. Disinilah kearifan manajerial seorang pemimpin/ atasan diperlukan. Fungsi insentif mulai memainkan peran. Beri stimulus, gelitik dengan rangsangan. Tidak mesti selalu materi, pujian dan support pun jika tulus terungkap dari hati kita niscaya akan sampai pula terasa terenyuh menyentuh di hatinya.

            Maka setelah motor di-starter, perlahan injak kopling dan masukkan persneling ke gigi satu. Bagaimana caranya? Yup! Dengan perencanaan (planning) yang matang. Buatlah alur rencana mulai dari tahapan input, selama proses, hingga akhirnya terwujud output. Setelah termotivasi yang ditandai dengan set up goals, mulailah bangun step by step batu loncatan sampai tercipta satu jembatan, jalan terbentang yang memudahkan kita meluruskan visi, temukan arah dan letak garis Finish untuk sesegera mungkin melakukan action, sprint secepat-cepatnya hingga terebut trophy di tangan!

Masih ingat rumus dasar Fisika waktu SMP?

a = v / t

acceleration (percepatan) = velocity (kecepatan) / time (waktu)

Produktivitas itu pun sebenarnya ekuivalen dengan percepatan. Akselerasi adalah kuncinya! Contoh soal: Dalam perlombaan balap sepeda, diketahui 1 putaran roda menempuh lintasan sepanjang 0.5m. SonGoku mampu memedal 100 putaran dalam waktu 1 menit (60 detik) sementara Bezita hanya sanggup menggenjot 80 kali dalam menit yang sama, bisa ditebak, yang sanggup mengayuh pedal memutar roda lebih banyak dari rivalnya dalam satu satuan waktu tertentu tentu saja lebih berpeluang menjadi juara. Soalnya terlalu mudah ya? Hmm… Memang terkadang kita justru melewatkan soal yang mudah karena keburu dipusingkan oleh masalah rumit sarat detil yang ruwetnya njelimet sampai bikin mumet. Pusing lantaran si gendhuk sudah waktunya daftar kuliah sementara perguruan tinggi Be-Ha-eM-eN biayanya meroket, jalur khusus? Wow! Selangit!! Padahal silsilah ndak ada keturunan keluarga Tao Ming (wah, nonton Meteor Garden juga ya, Pak?); utang koperasi belum terbayar, cicilan rumah tak kunjung kelar, angsuran mobil bikin terkapar, uang saku dan belanja pasar, kebutuhan membengkak terus membesar, jenggot terbakar, jebol sabar, konsentrasi buyar, idealisme pudar, terobos pagar, sabet sana-sini, besut kanan-kiri, kepergok korupsi, nama tercemar, aib tersebar, jantung berdebar, atasan gusar, mutasi terlempar… Keluarga terpencar, eeeh!! Makin kurang ajar! Peluang melebar, selingkuh gencar, kepergok ngamar, pipi memar, istri menampar, ancam balik kanan bubar, stress, otak gegar, ditinggal pacar, stroke menghajar, hilang sadar, sekarat mooo… ??

Dhuaaarrr!!! Mangkenye Pak, QT idup cuman sekali, nyang lempeng-lempeng AJD! KG usye belengkak-belengkok! Matiiiiiii, pasti mati!! (KT AA Gym)… Selagi kita masih punya waktu, selagi masih diberi kesempatan, mari kita rapatkan barisan, luruskan shaf, murnikan niat, tajamkan ingat, untuk siapa kita berjuang, bekerja dan berusaha… Ingatlah wajah-wajah orang terkasih, betapa mereka akan sangat sedih jika kebanggaan dan kepercayaan atas seorang suami dan ayah yang baik harus pupus pudar terhapus karena kita sedikit saja tergoda, melenceng dari niat semula, lalu mencoba-coba, lama-lama terbiasa, ketagihan? “Enak gilaaa!!” Masih pula kita tega berkata bahwa kita melakukannya demi mereka??? Percaya dech, setiap rezeki ada alamatnya. Rezeki untuk kita sudah ada jatahnya. Piring rezeki untuk kepala keluarga teladan yang bekerja sungguh-sungguh siang-malam banting tulang mencari makan meski melelahkan tapi ikhlas demi anak istri tercinta, tak akan tertukar dengan piring rezeki yang dihidangkan untuk seorang pemalas tanpa usaha. Setiap piring sudah ada nama pemiliknya, hanya saja harus dijemput dengan sedikit effort, ikhtiar benar dengan jalan benar serta untuk tujuan yang benar pula. Porsinya bisa bertambah atau berkurang, tergantung kegigihan usaha. Wallahu ‘alam. Dan yang terpenting, ingatlah selalu untuk tetap berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Pemurah, Pengatur dan Pemberi Rezeki yang tak pernah luput memberi rezeki bahkan kepada cacing tanah, ular sawah, kawanan lebah, nyamuk, menerbangkan serbuk, mengawinkan tanaman, meneteskan embun, menanamkan harapan pada anak burung kecil yang baru ditinggal mati induknya, tertatih gemetar, menggigil kedinginan, lemah kelaparan, diilhamkan untuk berusaha keluar sarang dan mengembangkan sayapnya, belajar terbang! Subhanallah! Masa sich Pak, kita kalah?

Kembali bicara produktivitas. Kalau Anda masih bersama saya membaca sampai sejauh ini berarti Anda sedang tidak begitu sibuk, begitukah? Bolehlah kita sama-sama mengenyampingkan dulu persoalan hidup yang susah-susah, bagaimana kalau kita susun ulang kerangka teoritis (kaya mau ujian aja!) jembatan yang akan kita bangun sebelum kita jejali dengan kerikil dan kita lumuri dengan semen hingga akhirnya kokoh mengeras siap kita pakai untuk berlari di atasnya mengejar apa yang kita cita-citakan…

(Bersambung dech… ^^;)