Memaknai Produktivitas #2
Uncategorized May 18th, 2005(Sambungan nich ^^;v Kalo bingung, pegangan, baca dulu post sebelumnya ya, hehehe…)
—
(D)AN KITA MULAI…
Saya tidak tahu bagaimana pengalaman ber-Sekolah Dasar di zaman Bapak, tapi ketika saya SD dulu saya masih ingat pada tembok di atas meja belajar saya, di antara poster Saint Seiya dan Ksatria Baja Hitam yang memenuhi dinding kamar, terpampang selembar karton cukup besar: Jadual Mata Pelajaran. Hari: Senin. Jam 7 teng, upacara bendera; 07:30-08:20 PMP; 08.20-09:10 Bahasa Indonesia; 09:10-10:00 Matematika; Istirahat 15 menit, dilanjutkan pelajaran lain lagi, dan begitu seterusnya.
Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk terbiasa mengatur waktu. Bagaimana membagi waktu yang seimbang antara bermain dan belajar. Semakin besar, seiring kita bertambah dewasa bertambah pula tanggung jawab. Belajar dan bekerja. Satu hal baik yang saya pelajari dari pengalaman masa kecil adalah kebiasaan membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Dulu saya terbiasa memenggal waktu dalam sehari ke dalam banyak potongan kecil aktivitas rutin yang bersifat umum sebagai panduan yang harus saya lakukan. Mulai waktu subuh, bangun tidur kuterus mandi, sarapan, berangkat sekolah, lalu apa yang saya lakukan sepulang sekolah, misalnya les bahasa Inggris tiap Senin-Kamis, jam 3 sampai jam 5 sore, mengaji Rabu dan Jum’at petang, belajar dan buat Pe-eR, pukul 7 sampai 9 malam; dapat reward boleh menonton TV tapi pilih sendiri slot yang diinginkan dengan catatan jatah sehari hanya boleh ½ jam. Tentu saja Selasa jam ½ 4 KBH RX tak boleh dilewatkan.
Perencanaan yang baik bagaikan sebuah rel yang menuntun kereta meluncur langsung menuju tujuan tanpa melenceng terbias arah. Karena kereta sudah punya jalurnya sendiri, stasiun demi stasiun, kapan waktu disinggahi, jadual terencana, terorganisir dengan rapi; karena itulah ia bisa tiba di Solo Balapan lebih cepat daripada ketika kita menaiki bus malam yang harus berkelok gunung bermacet ria, mengalah pula pada kereta.
Sebagai insan produktif kita harus punya perencanaan, alokasi waktu yang efektif dan efisien berikut backup plan yang harus kita implementasikan dalam aktivitas sehari-hari dengan konsekuen. Dan karena waktu berjalan mengikuti perputaran jarum jam, maka aktivitas yang kita lakukan pun haruslah dalam pola berurutan. Sekuensial artinya setelah selesai satu aktivitas dilakukan barulah kita diperkenankan melanjutkan ke tahap aktivitas berikutnya. Tidak meloncat-loncat, tidak tumpang tindih, apalagi maju mundur sesukanya, karena waktu tak ada sejarahnya berjalan mundur. Karena itu dituntut konsentrasi terfokus, curahkan perhatian sepenuh hati juga tenaga pada usaha yang kita lakukan saat menyelesaikan suatu pekerjaan. Santapan sedap, lezat dan menggiurkan tengah hangatnya disajikan. Tunggu apalagi? Habiskaaan! Setelah itu pelayan akan menyajikan hidangan pencuci mulut dan buah-buahan. Whaahh, itu juga enak! Sikaaaat!! Eiiitts, tapi ingat! Makan pelan-pelan. Sayangi pencernaan. Tak perlu tergesa-gesa ingin lekas menyelesaikan atau segera memulai sesuatu yang baru. Apa yang tengah kita hadapi saat ini, itulah yang harus kita selesaikan kini. Jangan serakah ingin dapat memakan semuanya dengan segera. Seperti orang yang bertanya: Bagaimana cara memakan gajah? Ditelan bulat-bulat, langsung sekaligus seperti ular makan telur? Tetap dipaksakan masuk walau bibir robek melebar seperti Togog nekad memaksa melahap gunung? Tentu tidak khan? Tetap saja kita potong secuil demi secuil, sepiring, dua piring, satu hari, dua minggu, hingga akhirnya setelah tiga bulan, habis sudah semua daging, tinggal tersisa kuku dan gading.
Bolehlah sekarang kita ambil secarik kertas putih kosong. Sekalian pensilnya. Kita mau apa? Menggambar gajah! Hahaha…
Betul koq! Kita pinjam konsepnya saja. Buatlah satu lingkaran besar! … Eh, koq diem aja? Hayuh! Bayangkan tubuh gajah yang berat, gemuk dan montok kemerahan, dilihat dari belakang. Sreeeet… Gajah ini adalah visualisasi dari keseluruhan target kita. Hmm… Gajah muda, beratnya sekitar 2 ton. Kira-kira baru bisa habis dimakan setelah berapa lama ya, Mas? Nach, itulah global goal kita! Tetapkan target, misalnya: Rencana Saya Lima Tahun Ke Depan. Jika saya sekarang adalah PNS golongan II/b, lulusan Prodip I, lanjutkan kuliah, 6 semester sudah, 23 tahun dan belum menikah (lha koq promosi?), maka 5 tahun ke depan usia 28 saya seharusnya sudah II/c 1 tahun; S1 ditargetkan selesai tahun depan, tapi baru bisa ikut UPKP setelah II/c 2 tahun, huhuhu… ^^; (Koq lama sekali sich, Pak? Bisa S1 dua kali nich!!), incar beasiswa LN, target menikah pada usia… Huwaaaaa, banyak sekali khan? Biar mudah, ambillah pisau besar, eh… Pensil, lalu tarik garis-garis diagonal membagi lingkaran gajah menjadi beberapa bagian sebanyak target yang kita inginkan, seperti potong kue aja! Lalu tulis pada masing-masing potongan pan… maaf, punggung gajah tersebut, target-target yang ingin kita raih, berikut deadline-nya. Nach, coba perlihatkan! Gajah Anda sudah mirip dengan gajah saya? Tak perlu bagus-bagus ditambah ekor pakai belalai, kurang lebih, yach, begini sajalah…
Sekarang kita sudah dapat gambaran mau jadi apa lima tahun ke depan. Maka mulailah letakkan di atas piring, potongan terdekat yakni rencana kita tahun 2003, 1/8 dari 2 ton = 250kg daging gajah, jatah untuk kita santap, tentu masih terlalu besar bukan? Karena itu perlu kita potong-potong lagi jadi tahapan demi tahapan rencana yang lebih kecil (jangka pendek), untuk jatah bulanan, mingguan, dan harian. Target saya tahun ini adalah bisa menabung. Langkah-langkah yang bisa saya lakukan untuk bulanan misalnya: pengetatan dengan kontrol catatan pengeluaran, serta mencari tambahan penghasilan dari menulis artikel atau lainnya. Mingguan: dalam rangka pengetatan, saya bisa menyisihkan selisih kelebihan dari pos-pos gaji yang telah dialokasikan, misalnya: jatah makan siang per hari Rp.10.000,- dan naik ojek sepulang kuliah Rp.6000,-. Minggu ini, alhamdulillah, dua kali ditraktir makan siang kawan dan satu kali kuliah malam tidak ada dosen, bisa pulang lebih cepat, belum jam 10 tidak perlu naik ojek karena masih ada angkutan, bayar cukup Rp.1000,-. Maka akhir minggu logikanya saya bisa menyisihkan Rp.25.000,-. Sebulan bisa Rp.100.000,-. Lumayan khan? (Jadi kapan makan siang lagi?)
Menabung pun dalam arti luas tak sesempit batasan materi, karena hakikatnya materi itu hanya sarana yang memudahkan untuk kita selama hidup mengumpulkan bekal amal yang sesungguhnya. Terkadang manusia terlalu kemaruk, menimbun harta sampai menggunung, padahal mati tidak dibawa. Tabungan kita untuk “hari depan” kita tahu hanya tiga macam: harta yang kita nafkahkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan (amal jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya. Lucu bukan? Harta yang telah dengan susah payah dikumpulkan siang dan malam, rumah gedung, mobil mewah, kapal pesiar, lahan tanah, dijaga ketat tak bisa tidur karena takut diambil orang; di sisi Allah tak ada harganya! Meski ditebus dengan gunung emas sekalipun! Justru rezeki halal yang kita dapatkan setelah lelah memeras keringat, hak milik sah kita dan keluarga, tapi kemudian dengan ikhlas setulus senyuman sebagiannya malah kita relakan, sisihkan minimal (!) 2,5% setiap bulan, berikan pada fakir miskin, anak yatim yang terlantar, musafir yang kebingungan kehabisan ongkos, siapapun yang butuh pertolongan; yang kita sisihkan itulah yang malah “dibeli” oleh Allah dengan harga berlipat ganda! Menjadi simpanan yang akan memberatkan pahala kebaikan kita saat ditimbang. Jika Anda memborong sembako, cukup untuk mengenyangkan keluarga selama ½ tahun, apakah Anda akan tumpuk terus di lemari es hingga membusuk, atau lebih baik Anda jual sebagian, atau Anda bagikan saja pada tetangga, sebelum akhirnya tak seorangpun bisa memakan sisanya tanpa menjadi sakit perut?
Target saya 2004, lulus kuliah, jadi sarjana. Berember-ember ilmu yang telah saya timba, harus saya kemanakan semua? Tentu saja diamalkan! Puaskan dahaga mereka yang haus akan ilmu. Hati-hati wahai penuntut ilmu! Ilmu itu amanah. Harus diteruskan kepada yang berhak menerimanya. Berpuluh tahun kita belajar dari bangku sekolah, kuliah, sampai ada yang menjadi Doktor. Samudera ilmu yang kita peroleh, sayang sekali jika hanya mengendap, lalu surut dan mengering di satu kepala! Bagikan! Amalkan! Ajarkan! Tak perlu menunggu sampai dapat gelar, ilmu apapun yang kita miliki saat ini, ilmu berdagang, ilmu membuat layangan, ilmu menghitung pajak penghasilan, hanya akan bermanfaat jika telah kita aplikasikan. Sampaikan! Walau hanya lewat tulisan. Karena itulah investasi kita yang kelak layak untuk ditimbang. Insya Allah…
Menikah?… Hmm… Siapa sich yang nggak mau? Berkeluarga, punya keturunan, putera puteri shalih shalihah, dambaan kita semua. Anak pun amanah, harus sebaik-baiknya kita rawat, kita pelihara, kita didik, kita arahkan, agar menjadi manusia berguna tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain, mulai dari keluarga dan lingkungan sekitarnya, hingga bagi agama, nusa dan bangsa. Jika anak kita didik dengan baik, dalam nuansa kekeluargaan yang akrab penuh kasih sayang, ia pun akan belajar menyayangi dirinya sendiri dan tahu menghargai orang lain. Tahu bersyukur dan berterima kasih, pada Tuhannya dengan menjadi hamba yang taat beribadah, pada orang tua dengan berbakti dan mendo’akan kebaikan dunia akhirat bagi keduanya. Alangkah indahnya! Jika semasih kita hidup saja anak tanpa kita minta senantiasa mendo’akan kita dalam tiap usai shalatnya, dan terus tak terputus bahkan ketika kita tidak lagi bersama mereka di alam yang sama; alangkah beruntungnya! Kala kita tak lagi bisa beramal untuk menambah bekal, kita masih rutin menerima kiriman, wesel do’a, deposito halal non riba yang berbunga terus membesar dan berlipat ganda, bebas potongan pajak lagi direstui-Nya. Alhamdulillah…
Sebagai orang yang produktif, motto “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” harus benar-benar dicamkan dan dilaksanakan. Sesungguhnya kita tengah berpacu. Jangan buang waktu percuma hanya berendam di danau mimpi, segeralah melompat terjun untuk renangi derasnya arus di sungai yang berliku menggiring kita menuju laut. Detik demi detik amat berharga. Agar tak tergelincir hingga menabrak dinding curam atau batu karang, berenanglah dengan aman, pada tali pembatas berpegangan. Rencana harian (daily planner) baik sekali kita miliki sebagai pegangan merenangi hidup, agar kita senantiasa terarah dan tetap fokus menuju samudera harapan yang seluas cita-cita. Setiap hari pun kita harus punya target, yang senantiasa dievaluasi (muhasabah) pencapaiannya di penghujung malam. Hari ini target saya antara lain membaca minimal 1 bab buku dengan topik menarik, memetik sedikitnya 3 hikmah yang dipelajari; browse internet dan kliping artikel, Pajak up-to-date, jangan ketinggalan; baca Al-Qur’an minimal 1 ‘ain, selami makna, kupas tafsirnya; menambah dan menghafal vocabulary baru, 10 kata masing-masing, bahasa Inggris-Jepang-Mandarin; buat ringkasan materi kuliah yang dipelajari sore kemarin; SMS kawan tanyakan kabar, beri selamat yang ulang tahun, silaturahmi tetap terjalin; tulis artikel, dan lain-lain. Jangan lupa saat bercermin, tanyakan jujur di dalam batin, selain “Sudahkah saya terlihat OKE?”, pastikan Anda tanyakan juga: “M I A B@’RMAN 2DAY?”
Jadi Pak, kini tak perlu lagi Anda konsumsi itu Paramex setiap hari, mikirin kapan tersangkut mutasi, ke tempat basah saat promosi, posisi bergengsi Kepala Seksi. Kalau sudah tiba waktunya, dan ternyata memang jatahnya, maka itulah anugerah sekaligus amanah dari Allah untuk Anda. Banyaklah bersyukur serta bersabar, semoga Anda dikuatkan, sebab jabatan bukan hadiah, dan amanah harus dipertanggungjawabkan. Kita di DJP masih punya banyak gajah, tugas berat yang menunggu di depan, menanti untuk diselesaikan. Sepantasnya kita kembali bersatu, mantapkan niat, gugah semangat, mulai lagi bekerja giat, masing-masing memecut diri agar produktivitas terus meningkat. Seperti mengasah batu berlian, makin terasah produktivitas, makin tajam pula perbedaan kualitas. Jika kualitas berlian di dalam diri berkadar tinggi, percayalah, meski tersembunyi dalam endapan pasir nun jauh di dasar laut, kilau cahayanya tak akan salah, menyorot jauh dengan tajam, silau memantul ke permukaan. Prestasi kerja memukau cemerlang, walau tak hendak ditonjolkan, tak mungkin tidak, dilirik atasan. Kursi itu tak akan lari, kitalah yang harus menghampiri, dengan cara introspeksi, perbaiki kinerja dan potensi, kian produktif dan berprestasi. Ukur sendiri kepantasan diri. Jika kemampuan belum mencukupi, mesti sabar dan tahu diri, gembleng, tempa, belajar lagi. Kapasitas teruji pantas, barulah boleh memberanikan diri untuk duduk di atas kursi, itupun harus dengan etika, baru duduk setelah ditawari.
Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati?… Pasti mati! Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok pagi, tak pula dibisiki alur kisah lusa hari; jangankan nasib seperti apa sepuluh tahun lagi, tak terintip rahasia langit gerangan apa menanti kita sepulang kantor sore ini. Berharap sebelum pensiun sempat menjabat eselon III, apatah daya, belum dipensiunkan oleh negara, pensiun dini jadi manusia. Manusia berencana, Tuhan Yang menentukan. Kita semata hanya berusaha, terus bekerja menggapai asa, tak luput do’a senantiasa, jangan pernah putus mengharap rahmat-Nya. Bidik sasaran, peluru tembakkan. Susun rencana, implementasikan. Bagaimanapun hasilnya nanti, pada-Nya jua kita pasrahkan. Usaha dulu baru tawakal. Jangan terbalik, pasrah duluan. Yang terpenting adalah bahwa kita sudah mencoba! Oh, sudah habis ya Pak, waktu istirahatnya? Akhirnya kembali ke gajah lagi: Berapa piring Anda targetkan siap dilahap hari ini? Sukses selalu untuk Anda! Mari kita kembali bekerja…
Penulis adalah pegawai Bagian Kepegawaian KP DJP diperbantukan pada JICA (Japan International Cooperation Agency) Expert Office