As was sent through e-mail 2: (Was) "SUM1 IN IT-Op" …@lycos.com
Fri, 27 Jun 2003 00:49:58 -0400

Ai, ni hao ma? =) Remember Ds? Ur Lycos mail! ;p Sorry I brought it up ‘er, rememberin’ d’past, check’d old l@rs, found it, thought it was good! Don’t mind 2 share? ;) Tapi uda di edit koq! Wekekeke… ;D So don’t worry! =) Napa? Bikin jealous orang ya? Hihi, biarin aja!! ^^; Gimana nich produksi aplikasinya? R U O K? Sukses yach! Take care n nice days!… ^______^;v

Nyontek

(Pix note: Gurlz! Don’t do Ds in class!! ^^;v)

UJIAN… OH, UJIAN… ;)

Hiks… Kenapa sich harus ada ujian? ^^; Dari kecil, baru mo masuk TK aja kita dah di tes dulu, bisa baca tulis dan berhitung sederhana blom? Semasih kita di SD, kalo mau naik kelas harus lewati ujian, THB. Di SMP juga gitu, mo lulus SMP mesti tembus ujian, EBTA/EBTANAS. Eh, SMA ketemu lagi! Entah ulangan harian, ujian semester, sampai apa yang sekarang namanya UAN. Abis ruah tumpahkan luapan kegembiraan, coret2 seragam tanda kemenangan, puas akhirnya tamat SMA, ternyata mau masuk kuliah lagi-lagi harus diuji lagi! T__T Kudu lulus UMPTN kalo emang pengen keterima di universitas negeri. Pilih yang swasta pun harus lalui tes saringan masuk…

Shortly said… Wow keren! :D Sekarang kita dah jadi mahasiswa nich! Tapi toh masih juga ketemu ama yang namanya ujian. Quiz, proyek, TM, praktikum, just name it… UTS n UAS… O ya, gimana UAS kemarin? Oh, belum selesai ya? Hehehe… Sama! ;p Usai UAS, fiuuhh… Sejenak bisa bernafas lega… Libur semester lumayan panjang, ikut SP? Hmmm… Take a deep breath, girl! It’s a loooooooooong journey! And when the roller coaster starts the ride again, kita pun pasti masih akan ketemu lagi sama yang namanya ujian, huwaaaaaaaa… Skripsi!! :O Dah ada bayangan mau bikin apa? ;)

Kenapa sich harus ada ujian?! Sebel! Puschyink! Nyusahin! Bikin BT! Muakin! Lha, jelek2 semua ya? ^^; “BEEEEPPP!!” <– Sebut nama! (Censored!!! ^^;) sendiri, apa yang kebayang waktu denger kata “ujian”? Jadi kenapa dong harus ada ujian? Hmm… Ok! Ujian untuk menguji kemampuan kita, bisa diterima… Yang lain? ;) Ujian untuk mengukur sejauh mana batas pengetahuan yang telah kita peroleh, boleh juga… Yeow!! Yang lagi baca imel! Menurut kamu? ;p

Ujian adalah parameter, ukuran, ketetapan, penilaian, kepastian, batas, limit, standar, acuan, patokan, evaluasi, penentuan, apalagi? Oh, saya Bu? Menurut saya, nggg, apa ya? ;p Ujian adalah… Suatu cara untuk mengetahui apakah sesuatu atau seseorang yang tengah diuji itu telah dapat dianggap layak atau kompeten untuk diuji… Atau masih perlu diuji lagi? Hueeeee… Aschyal!! ;D Ujian memang bisa jadi adalah sebuah sarana, media, teknik, alat atau cara, untuk kita mengetahui, mengukur, memastikan, menaksir lalu menentukan, bahwa sesuatu atau seseorang yang tengah kita lakukan pengujian atasnya itu telah benar-benar pantas untuk standar, ukuran, batas minimum dari pengetahuan, keterampilan, keahlian maupun kemampuan yang hingga tahap, state, titik acuan/ batas patokan itu memang telah seharusnya dapat ia kuasai, peroleh, miliki, serta mampu pula kelak ia pertanggungjawabkan penguasaan keilmuan yang dicapainya itu. Susah amat sich bahasanya… ^^; Pokoqe yaaa, begitulah…

Kita sering denger istilah “long-life education”. Pendidikan semestinya berlangsung terus-menerus selama kita hidup; sampai kapan? Ya gampangnya sampai kita nggak lagi bisa belajar, alias… ;p “Tuntutlah ilmu mulai dari dalam buaian hingga masuk ke liang Kubur”, pesan Nabi Muhammad untuk umatnya, umat manusia, kita semua. Tiap pelajaran, pengetahuan, ilmu baru yang kita peroleh tentu tidak mentah-mentah kita terima begitu saja. Sebagai makhluk yang dibekali kekuatan akal untuk berpikir logis, analitis, menalari, tentunya pengetahuan yang kita peroleh itu perlu kita uji terlebih dahulu kebenaran atau keshahihannya. Orang bilang api itu panas, masa sich? Maka silakan pegang badan ketel yang lagi mendidih, lalu tunjukkan buktinya pada saya ;p Jika tangan jadi melepuh atau bahkan sampai berasap (haaahh??) setidaknya dapat kita simpulkan dua premis yang terbukti bernilai benar: bahwa api itu memang panas, dan besi adalah penghantar panas yang baik. Bisa juga tambahkan kesimpulan ketiga: Bahwa hanya orang super bebal dan keras kepala yang masih juga belum percaya dan ingin bukti yang lebih meyakinkan… Nich! Pernah bungee jumping dari mulut kawah gunung berapi? ;p

Jika belajar adalah long-life education, apakah yang lebih long daripada education? Tetewww!! ;D Tentunya life itu sendiri khan? Karena setiap fase pembelajaran perlu pengujian, maka wajar saja jika hidup yang adalah sarana ruang dan waktu untuk kita menimba ilmu sarat pula dengan beragam ujian kehidupan. Semakin meningkat ilmu kita, semakin tinggi dan berat pula level ujian yang harus dihadapi kelak. Semua itu untuk apa? Tentunya untuk semakin meningkatkan kualitas kita sebagai “manusia” selama hidup di dunia, sehingga pada saat “ujian akhir” menghadapi kematian nanti diharapkan kita bisa diluluskan dengan predikat “manusia paripurna”, yach, minimal “Cum Laude” laaah ;p Ketika kita tamat dengan sukses jadi manusia, dapat tambahan titel “Almarhum” yang artinya “dirahmati” di belakang nama, maka kita akan dilepas dari “dunia” kampus yang lingkupnya terbatas, untuk menebarkan hasil ilmu dan amal yang kita kumpulkan sebagai bekal selama “belajar” di “kampus”, ke “dunia luar yang sesungguhnya”, terjun ke masyarakat, yang tentu cakupannya lebih luas. Ya, sesungguhnya setelah kita tidak lagi hidup di dunia fana yang rapuh, sementara dan serba terbatas ini, kita masih akan menjalani hidup: di alam lain yang jauh lebih besar, luas, kekal abadi, tanpa akhir, untuk selamanya… Itulah alam akhirat…

Tetapi seperti halnya dunia kerja di luar kampus, kita harus siap bahwa “dunia yang baru” ini tentulah akan lebih kejam dan tidak pandang bulu. Hanya yang benar-benar well-prepared aja yang akan bisa survive dalam persaingan. “Mahasiswa” yang gagal dan yang berhasil tentu saja dibedakan perlakuannya. Ada, tempat kerja yang mau terima pelamar dengan bekal sertifikat “DO” dari kampus? Lulusan diploma aja susah, S1 aja sekarang udah standar minimal, artinya? Jalan nan terjal dan berliku-liku tajam masih luas terbentang di depan, perjuangan kita belum usai, masih teramat panjang jika kita tetap terpacu untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidup kita, ya materil ya spirituil, setiap kita tentunya mendambakan terjamin kehidupan di hari depan khan? Di kala kita “tak lagi bisa bekerja”… Karena itu harus dibiasakan, mulai “menabung” dari sekarang, timbalah ilmu dan amalkan dengan perbuatan, sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan kita di “hari tua kelak”, mulai dari kebutuhan yang paling mendasar seperti sandang, pangan, papan, trus keamanan, kenyamanan, percaya diri, sosialisasi sampai kepada “kebutuhan paling puncak” manusia sebagaimana diungkap Abraham Maslow dalam teorinya, apa hayo? ;p Masih ingat gak? Self-actualization… ;) Bagaimana kita mengaktualisasikan keberadaan kita selama hidup di dunia sebagai seorang manusia yang seutuhnya…

Gimana?… Boleh istirahat sejenak koq, mau dibeliin minum? ;) O ya, intermezzo aja nich, tau gak? Hehe… ;D Kadang2 saya punya pikiran gini lho! Kamu kalo ngajar khan lumayan padat jadwalnya ya? Saya perhatiin, selesai dari satu kelas langsung ke kelas lain, ga pake istirahat. At least minum dulu keq, biar gak dehidrasi… Saya jadi kelintas, oh, mau gak ya "BEEP BEEP(!!)", kalo suatu kali saya beliin, yach, sekedar aqua gelas ato lemper mungkin, trus saya bawain ke kelas tempat kamu ngajar? Lumayan, paling gak, bisa buat ganjel perut khan? ;p Hahaha… Aneh ya?! ^^; Abis… Gak tega sich… Jadi?… Mau yach? ;p Hahaha… :D (BEEP! BEEEPPP!! BEEEEPPPPHHH!!!!… OIII OIIIIIII!!! Kemana nich Badan Sensor-nya??! ^^;v Wakakak!!! =D PARAAAH! PARAAHHHH!! ;p Jkekekek… Jadi malu… ^^;) Kalo masih punya waktu n blom bosen bacanya, boleh terusin lagi khan diskusinya? ;) (Uhuk2… ;p Apaan siyy? ^^;)

Dalam skala kecil, bolehlah kita ambil contoh “kehidupan” kuliah kita di kampus. Cukuplah satu semester aja buat sampelnya. Samakan starting point, jadi sekarang ceritanya, hak “hidup” kita hanyalah selama enam bulan atawa satu semester ini aja. Kita dikasih kebebasan buat belajar, melakukan, bahkan tidak berbuat apa pun sama sekali, yang kita ingini dan bisa kita kerjakan selama setengah tahun ini. Mahasiswa yang malas mungkin akan bersantai-santai dan tak begitu ambil peduli, ah, enam bulan, masih lama ini… Nanti aja dekat ujian baru saya geber, kebut belajar, kejar semalam, yang penting lulus…

Mahasiswa yang rajin dan berpikiran positif bisa jadi akan memandang batasan ini sebagai tantangan. Tantangan untuk dalam batas waktu tertentu dapat belajar sebanyak mungkin serta mampu membuktikan hasil belajarnya. Tantangan untuk dapat pula bertahan, yaaah, seapes-apesnya masih bisa dapat C lah! Mahasiswa yang berpandangan lebih jauh ke depan/ visioner sangat mungkin akan melihat ini sebagai peluang untuk tak sekedar dapat membuktikan sejauh mana level kemampuannya, tetapi juga senantiasa meningkatkan kualitas pengetahuan yang telah berhasil diserapnya, sesingkat apapun kesempatan belajar yang dimilikinya, waktu yang ada dimanfaatkan seoptimal mungkin, terpacu untuk selalu dapat meraih sesuatu yang bernilai “lebih” dari biasanya. Pada akhirnya, jenis manapun spesies mahasiswa tersebut, mereka semuanya akan dikumpulkan pada suatu hari untuk bersama-sama menghadapi satu momen besar yang sama: Ujian Akhir Semester!

Saat itulah ditentukan keberhasilan atau kegagalan seorang mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi belajarnya, usaha maksimal maupun optimal yang telah dilakukannya, segala upaya jerih payah pada hari itu akan langsung menuai buahnya. Yang belajar dengan sungguh-sungguh bisa berbahagia karena besar kemungkinan ia dapat lulus. Yang belajar penuh kualitas bisa tersenyum bangga karena tak hanya sekedar lulus, nilai-nilainya pun sangatlah memuaskan. Sementara yang kurang persiapan, kurang perhatian, kurang hafalan, kurang latihan, jarang ikut praktikum atau kuliah di kelas, sering titip absen atau titip salam buat dosen, saat UAS dibayang-bayangi kecemasan, takut gagal, khawatir dapat nilai D, lebih parah lagi kalau sampai E, apalagi ketahuan mencontek! Semua mahasiswa akan ditunjukkan nilai akhirnya. Orang tua pun akan menerima tembusan LHSS via pos, turut mencicipi manis/ pahitnya rasa buah belajar yang kita tanam. Bukan tak mungkin seisi kampus pun menjadi tahu jerih payah kita yang hangus sia-sia ketika muncul dan terukir nama kita terpampang besar di papan pengumuman sebagai juara mencontek semester ini. Aduhai malunya!! ^^;

Hidup kita pun sebenarnya sama seperti itu. Ada ujian demi ujian yang harus kita lalui, semuanya menuntut pembuktian pencapaian kita sebagai manusia, seberapa besar persiapan kita, seberapa dalam kita menggali: belajar dari pengalaman, kisah-kisah, membaca buku, petuah guru, tukar pendapat dengan sahabat, dengar nasihat dari kerabat, bahkan saat kita berjalan sambil melamun (mikirin siapa? ;p) lalu tersandung hingga jatuh terjerembab, itu pun pelajaran yang berharga, tergantung bagaimana kita menyikapinya; berapa banyak amal baik sebagai bekal yang kita kumpulkan, berapa banyak modal waktu terbuang percuma untuk hal yang sia-sia? Meningkatkah grafik produktivitas amal serta kualitas keilmuan kita ketika dibandingkan terbalik dengan semakin berkurangnya sisa waktu (umur) yang kita miliki sebelum akhirnya menipis, habis, lalu mati? Sebelum akhirnya kita benar-benar akan dikumpulkan dan bersama-sama dihadapkan pada satu hari yang tak satu pun makhluk dapat lari daripadanya: Hari Pembalasan?! Saatnya segala amal perbuatan kita dihitung dan ditimbang, baik dan buruk; penentuan nasib berdasarkan apa yang telah kita lakukan, usahakan dan kumpulkan selama kita hidup di dunia; apakah akhirnya kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang dirahmati, diampuni, serta diberi ganjaran kenikmatan hidup abadi dalam indahnya taman surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai? Ataukah tergolong orang-orang yang dimurkai dan orang-orang sesat yang disiksa oleh azab yang pedih serta dilemparkan ke dalam jurang dan terbakar dalam panasnya api abadi di kerak neraka yang sungguh adalah seburuk-buruknya tempat kembali? Kemanapun akhirnya kita, percayalah! Kekal abadi adanya…

Ini sekali-kali bukan ancaman, hanyalah peringatan ;) Tiap ancaman bertujuan buruk, sedang peringatan bermaksud baik, meluruskan… Ingatlah betapa kita diberi nikmat sepanjang hidup di dunia: curahan kasih sayang kedua orang tua kita, yang merawat, menyusui, menggantikan popok, bekerja demi mencarikan kita beberapa suap makan, banting tulang demi dapatkan sekaleng susu di kala mereka sendiri harus irit, puasa makan keju, cukup makan tempe tahu, kerap terbangun tengah malam sekedar untuk menenangkan kita yang menangis agar bisa pulas tertidur kembali, tetap ikhlas dan tersenyum walau tubuh demikian letih, menghujani kita dengan peluk cium, mencintai tanpa pamrih, awas menjaga dan melindungi kita dari bahaya, tak rela lelap kita jadi terganggu, bahkan oleh nyamuk kecil, ketika kita saat itu hanyalah makhluk mungil tak berdosa, sungguh lemah tanpa daya; kini setelah kita (merasa) dewasa, karena (merasa) punya hak, punya uang, punya jabatan, lantas berani membentak, berlaku kasar, mengumpat dan memaki, bahkan menganiaya, melukai hati mereka yang kini telah renta? Ini adalah satu ujian! Ujian kesabaran. Ujian keikhlasan. Lupakah kita pada ketulusan mereka? Di kala kini mereka mengetuk pintu rumah kita, mengharap perlindungan dan tempat bernaung di kala tubuh mereka mulai rentan dimakan usia, membutuhkan sekedar afeksi dan perhatian yang mencuri secuil saja dari padatnya waktu kita yang teramat sangat sibuknya, mengais sisa-sisa kasih sayang walau hanya berupa kecupan di kening atau sekedar cium tangan sebelum pamit kerja? Sudahkah bakti, pengabdian dan balas jasa yang setimpal dengan hati lapang seluas cinta kita limpahkan pada mereka?

Sadarilah pula betapa besar dan berharga limpahan rahmat dan karunia-Nya. Udara bebas bersih untuk bernafas, gak pernah dikenakan retribusi, gak pernah distop lewat di depan hidung kita walau hanya setengah menit saja; padahal berapa banyak pasien di rumah sakit yang harus membayar mahal untuk sehirup dua-hirup tabung oksigen? Merogoh kocek hingga jutaan sekedar agar bisa buang gas? Yang untuk makan saja tak kuasa menggerakkan mulutnya hingga harus disuntikkan gizi, infus nutrisi? Yang sekian hari sekali harus cuci darah sekedar untuk menyambung nyawa? Bersyukurkah kita? Air hujan yang diturunkan dari langit tanpa pernah kita minta, kita malah kesal memaki lantaran becek bikin belepotan kaki; lihatlah saudara kita di Gunung Kidul! Tanahnya retak-retak! Setiap hari beli air untuk minum, mandi dan cuci, itu pun harus rela antri, dengan catatan orang PAM masih mau datang lagi, bersusah naik dan turun gunung, bawa-bawa drum naik truk tangki ;p Atau pernahkah tercekik kehausan yang amat sangat, saat tenggorokan kering terbakar meski tubuh bersimbah keringat, badan lemes, kurang cairan, kepala berkunang-kunang hampir pingsan, disengat kejam terik mentari yang sorotnya saja seolah mampu membakar kulit tembus ke hati? Sepanas apa padang pasir di gurun Sahara itu ya? Bagaimana pula panasnya nanti saat disiksa dalam neraka? Adakah kita pernah bersyukur? Pernahkah, sedikit saja, terlintas rasa terima kasih? Pada siapa? Siapa yang meniupkan angin? Siapa yang menggerakkan awan? Siapa yang menurunkan hujan? Siapa yang menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri orang tua kita, dalam diri kita sendiri, dalam diri sesama manusia?

Ini adalah salah satu soal ujian! ;p Selamat mengerjakan, selamat mencari jawabnya, semoga lulus dengan nilai memuaskan ;)

Always take care,

Dhimas ;)