“ALUMNI” RAMADHAN: SEKEDAR RENUNGAN

Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra

Hikmah di Balik Perintah

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Laa ilaaha ilallahu Allahu Akbar. Allahu Akbar Wa lillahil hamdu”. Gema takbir membahana begitu syahdu menyentuh kalbu. Membekaskan kesan penuh makna yang, tak terkatakan, jauh lebih mendalam dibandingkan, katakanlah, nuansa kebanggaan dalam gaung “Godeamus Igitur” yang cukup menggetarkan dan sempat bikin mbrebes (menitikkan air mata). Detik-detik menjelang wisuda, getir dan manis roman perjuangan semasa bergumul di universitas kembali terlintas. Kini semua jerih usai tuntas terbayar lunas. Alhamdulillah! Lulus wuooiiii!!!… :D Lantunan pujian hari kemenangan di hari yang fitri ini pun sekali lagi tulus mengagungkan kebesaran asma Allah sebagai ungkapan rasa syukur kita setelah selama 1 bulan penuh berhasil melampaui berbagai gemblengan, uji ketabahan dan kesabaran dengan berpuasa, latihan khusus yang dipersiapkan Allah untuk manusia-manusia pilihan dan istimewa yang “terpanggil” untuk mengikuti “diklat” Ramadhan.

Hai orang-orang yang beriman…” Yang nggak beriman nggakHai”! Lhoo? Jangan tersinggung, ini bukan canda, karena memang seruan Allah hanya bagi yang “merasa”. Bukankah tidak diserukan: “Hai orang Islam” atau “Hai manusia”? Walaupun Anda Islam, tentupun manusia, kalau memang merasa beriman pantasnya nggak perlu pake nggerundel, ikhlas saja sukacita menjalankan ibadah puasa sebagai 1 kewajiban yang kita yakini sepenuhnya bahwa tujuan diwajibkannya adalah untuk kebaikan kita juga. Anda percaya? Puasa bukan ajang penyiksaan, tak pula hendak memberatkan. Bukankah Allah tidak menyebutkan: “Aku wajibkan kamu berpuasa”? Tapi telah dengan teliti memilih redaksi yang bernada pasif: “diwajibkan”, tanpa subyek? Artinya apa? Allah tak menghendaki kita mengerjakan perintah-Nya atas dasar keterpaksaan atau merasa terbebani. Mengapa tak menyebut subyek? Implisit tersirat makna, di samping Allah memerintah hamba-Nya, bisa jadi kita sendiri yang nantinya dengan sadar “mewajibkan” masing-masing diri untuk gemar berpuasa, setelah tahu betapa besar manfaatnya bagi lahir dan batin kita. Benar! Masih belum percaya?

Ramadhan oh Ramadhan, 11 bulan dirindukan, kembalimu dinantikan. Hadirmu disambut penuh harapan, damaimu menenteramkan, dalam hati bersemayam. Sejurus jenak kangen baru terobati, sepeminuman teh rasanya belum habis dinikmati, begitu cepatkah kini Engkau harus beranjak lagi? ;( Ramadhan datang, Ramadhan pergi. Bak ksatria pengembara, melanglang buana kemana suka, langkahkan kaki tebarkan rahmat cinta, kebaikan, berkah karunia, kedamaian bagi semesta. Beruntung mereka yang sempat bertemu hangat sapanya, serta merugilah yang menyia-nyiakan singkat dan langka pertemuan dengannya tanpa beroleh hikmah sesuatu apa selain dari lapar dahaga. Kini tiba saatnya wisuda. Semoga kita tak hanya lulus dengan IP sekedarnya, tapi sukses summa cum laude sabet predikat sarjana “muttaqiin”. Insya Allah, Amiin

Puasa, dari kata shiyam, artinya “menahan diri”. Manusia, kita tahu, sulit sekali bisa lepas dari kebiasaan. Sebelas bulan kita terbuai dilenakan, bergelimang kemaksiatan berbungkus indah pelangi kemasan sehingga timbul keraguan bahkan kecenderungan mencampuradukkan yang halal dengan yang haram. Seperti garam lebur dalam masakan, budaya konsumtif materialistik begitu mudah larut. Deras menerus mengaliri pembuluh darah kita, menembus dan membius sistem imun di dalam tubuh sehingga semakin lama kian sulit dibedakan yang mana racun dan mana nutrisi. Menyatu jadi bagian hidup, santapan sehari-hari… Dengan kita tekun mengikuti latihan pengendalian diri yang intensif dan kontinyu, berpuasa sebulan lamanya, berusaha mengekang hawa nafsu, menahan diri dari mengikuti kebiasaan buruk yang dengan atau tanpa kita sadari telah mengkristal jadi hobi; kita bulatkan azam (tekad) dengan penuh kesadaran, berusaha mendekonstruksi gaya hidup dan budaya lama yang menyajikan kenikmatan semu sesaat tapi mengorbankan investasi jangka panjang. Setelah pilar-pilar keropos diruntuhkan, dimulailah fase pembentukan ulang, rekonstruksi kebiasaan baru yang lebih kokoh dan bernafas Islami, terarah, terkendali, bermaslahat dan diberkahi.

Ramadhan, dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”, hadir sebagai tanda seru, peringatan: bagi yang lalai dan tengah lupa jangan terlena berlama-lama, yang tersesat supaya cepat mencari jalan untuk selamat, yang kebingungan agar tak hanya diam terpaku di persimpangan, dan yang terperosok agar segera merangkak keluar dari kubangan. Kembali temukan titian, jalan lurus yang terbentang lagi diridhoi Tuhan. Ramadhan pula kabar gembira: bagi yang bersabar menanti datangnya, senantiasa berharap diberi kesempatan untuk menjumpai lagi wajah lembut penuh kasihnya, membakar dosa-dosa, mengasah ketajaman spiritual, mematangkan stabilitas mental, menempa ketahanan fisik, membasuh bening jiwa, meluruhkan segala noda, sucikan diri dan bersihkan hati dengan taubat dan munajat, mohon anugerah dan jaminan keselamatan di sisi-Nya, dimasukkan dalam golongan “orang-orang yang bertakwa”, harapan kita semua? Insya Allah, Amiin...

Seperti telur dan anak ayam. Penggemblengan puasa tak ubahnya kehidupan di dalam telur. Proses pembentukan janin, persiapan fisik hingga penguatan mental, supaya si anak ayam memperoleh bekal kekuatan yang cukup untuk menggedor, meretakkan hingga meruntuhkan dinding-dinding kulit telur yang menghalangi dirinya dengan dunia luar, yang tak lagi merupakan lautan cairan putih dan kuning telur melainkan udara bebas yang bisa puas dihirupnya. Tidak terkaget-kaget dengan perubahan cara bernafas (baca: hidup), tegar bertahan dari terpaan angin jahat dengan bulu-bulu hangat yang cukup lebat (yang tumbuh menebal seiring proses selama “puasa” di dalam telur), merentangkan sayap gagah berani serta penuh percaya diri seolah menyatakan kesiapannya menjalani fase kehidupan, kali ini “yang sesungguhnya”. Demikianlah kiasan puasa — meminjam perspektif “seekor” ayam: mempersiapkan manusia jadi “manusia”.

Lebih konkrit lagi, seperti ulat dalam kepompong. Saat ulat diilhamkan Tuhan memasuki kepompongnya, ia harus mengorbankan segala indah dan nikmat cita gemerlap dunia, meninggalkan kehidupan suka ria alam bebas, memasuki sempitnya lorong, kegelapan sempurna dalam kepompong, diwajibkan puasa pula! Kesian dech loe! Tapi tanpa membantah (tak seperti segolongan “makhluk berakal” yang memandang diri begitu mulia, meski diciptakan dari nuthfah yang hina tapi sungguh amat nyata pembangkangannya) ulat tunduk dan tanpa keraguan mematuhi titah Penciptanya. Meski kian lemah keadaannya, berangsur kehilangan daya di dalam pekat, kesunyian dan kesendirian yang bagai tanpa akhir, ia hanya pasrah dan tawakkal pada kehendak Tuhannya, senantiasa berbaik sangka bahwa Dia tidak mungkin menyia-nyiakan pengorbanan kepatuhannya. Lalu apa balasannya? Look! Up above!… ^^; Tuhan Maha Pengasih kepada para hamba-Nya yang sungguh-sungguh menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ulat yang berasal dari tanah kotor berlumpur, karena ikhlas berpuasa (benar-benar puasa lho! Coba buka lagi catatan IPA-nya! ;P) diangkat derajatnya oleh Allah yang ridho padanya, dijadikan makhluk cantik bersayap indah, terbang lincah kesana kemari, menghiasi dan “menghuni langit”, bersyukur girang tak henti menari, sebagai kupu-kupu!

Bagaimana manusia? Apakah kita lazim mempertanyakan alasan di balik tiap perintah-Nya? Seolah kita tak jua percaya bahwa apapun yang diperintahkan Tuhan sesungguhnya adalah demi kebaikan dan kelak pada kita kembali berpulang? Ragu manfaatnya? Beranggapan Tuhan kejam? Otoriter? Diktator? Tirani? Memaksakan kehendak? Ketika pertama kali dilahirkan ke dunia apakah kita mempertanyakan mengapa dilahirkan oleh ibu A bukan B? Mengapa dari etnis C bukan J? Berjenis kelamin P bukan L? Apakah kita lantas memrotes Tuhan yang seolah tak memberi hak untuk memilih? Jadi NT KG terime?

Anak ayam berbisik pada kupu-kupu: “Memang manusia itu makhluk yang teramat sedikit bersyukur, ya Pu? Bukankah Tuhan telah menjadikan bumi sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, menundukkan untuk kepentingan manusia semua yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk mereka nikmat-Nya lahir dan batin? Dialah Yang menciptakan, menyempurnakan kejadian, menjadikan susunan tubuh manusia seimbang, membentuk dan membaguskan rupa mereka sebagai makhluk yang telah diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya. Maka jika mereka menghitung-hitung nikmat Tuhannya niscaya mereka tak akan sanggup menghitungnya. Sungguh Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia bahkan, dengan segala besar hikmah-Nya, memilih makhluk yang gemar merusak dan menumpahkan darah ini (yang menjadi alasan malaikat sampai memberanikan diri mohon interupsi) sebagai “khalifah” yang akan mengelola dan memakmurkan bumi! Bahkan gunung pun bergetar hebat saking takutnya, rasa tak kuasa menanggung berat beban amanat. Manusia memang kuat! Wow! Hebat!!”

Kupu-kupu menggeleng perlahan, “Tapi, Yam? Kenapa saya jadi bertanya-tanya yaa? Sebenarnya mana yang lebih bodoh? Hewan seperti kita yang tak diberi akal pikiran, atau mereka yang dengan segala kebijaksanaan yang tak kita miliki masih berani mendebat perintah Tuhannya yang sungguhpun adalah demi kebaikan mereka? Bukankah ketika seorang ayah manusia melarang buah hatinya yang masih balita dari merengek-rengek minta dibelikan es, larangan sang ayah itu lantaran ia sayang pada anaknya? Karena tahu es hanya membuat pilek, tidak ingin  anaknya sakit. Tapi si anak yang tak mau mengerti justru menangis kian menjadi, tak sadar bahwa larangan ayahnya adalah demi kebaikannya. Begitu pula ketika ibunya memerintahkan untuk belajar. Bersungut-sungut, si anak tetap enggan beringsut, emoh tinggalkan layar TV-nya. Padahal ingin sang ibu belahan jiwanya bisa jadi pijar di pucuk kebanggaan, sarat dengan prestasi, yang terbaik di kelasnya. Mengapa manusia belum juga meresapi makna takwa yang mereka sendiri beri definisi ‘mematuhi segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya’? Lidah manusia sungguh lihai bersilat kata.” Ayam terdiam. Ia tak pernah berpikir sedemikian jauh. Sebenarnya ia memang tak pernah berpikir. Ia, seperti kupu-kupu, hanya mengikuti naluri alamiahnya sebagai hewan yang tak punya akal. Lain halnya dengan manusia… Alow? Manusia???

            Lebaran mudik? Naik kereta api? Rebutan tiket, berjubel dan berhimpit, tak dapat tempat duduk, sengsara nich yee? :P C’est la vie! That’s life, Maan! Sesungguhnya kita pun tengah melakukan perjalanan, di dalam gerbong kehidupan dunia yang fana dan penuh kesengsaraan, melaju cepat berpacu kilat atas rel waktu, menuju stasiun pemberhentian terakhir yakni kematian, gerbang mencapai tempat tujuan yakni keabadian, kehidupan hakiki, akhirat nanti. Idul Fitri bersama keluarga, merayakan di kampung halaman, sungguh menyentuh jadi idaman. Kita semua ingin pulang. Kita semua akan “pulang”. Tapi pulang seperti apa yang kita harapkan?

Dalam gerbong kehidupan dunia berjubel manusia berebut kursi, mengincar tempat duduk ruangan eksekutif, jika perlu menduduki posisi strategis, kursi masinis, bermanis-manis sampai mengemis. Lucu? Padahal jabatan hanya seragam, seperti yang dikenakan kondektur dan masinis, suatu saat pasti dilepas jua. Memang enak pakai seragam? Demi lancarnya perjalanan, untuk kebaikan bersama, penumpang yang lain memang mesti setuju dan mematuhi, tunjukkan karcis saat diminta, pasrah ikuti kemana masinis membawa KA. Tapi jika masinis seenaknya arahkan kereta bukan ke tujuan semula, penumpang semua pasti marah padanya. Seharusnya berlebaran di Purwokerto, malah terdampar di Purwakarta! Atau masinis ugal-ugalan, bak angkutan kejar setoran, membahayakan keselamatan, baik kambing yang lagi nyebrang maupun penumpang yang kompak jantungan, lagi-lagi diserapahi! Jadi? Memang enak pakai seragam?

Ibarat sebuah panggung sandiwara. Setiap insan punya 1 peranan. Agar pementasan mendulang sukses tiap pemain harus menghayati lakon masing-masing. Yang kebagian jadi badut tak usah iri pada pangeran, dikutuk jadi nenek sihir jangan baca naskah puteri raja. Konsentrasi! Nikmati peran yang kita punya! Dan yang paling penting: perankan sebaik-baiknya! Penonton tersihir bukan oleh kostumnya, tapi terpesona kuat karakter kesungguhan pemainnya! Masyarakat dan Wajib Pajak tak peduli siapapun Kepala Kantornya, yang penting pajak yang telah mereka bayarkan tidak raib sia-sia, bisa berguna membantu negara menyejahterakan semua rakyatnya. Jajaran DJP pun saya percaya tak masalah petugas yang mana, yang jadi concern adalah semua sama bekerja keras mengejar deadline, mencapai target penerimaan, mewujudkan visi dan misi kita, yakni apaaa?! :D Waddhuhh, kereta sudah jauh berkelana, kalau arah tujuan pun sampeyan masih belum jelas, lebih baik turun saja! Ini mau ke Yogya, Mas! Kalau ke Bogor naik Pakuan, sana! ^^;

Bersambung…