Alumni Ramadhan #2
Uncategorized September 23rd, 2005(sambungan…)
Hikmah dan Manfaat Puasa
“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Allahu Akbar Wa lillahil hamdu.” Ibadah puasa diwajibkan Allah karena mengandung begitu banyak hikmah. Bagian kedua tulisan ini coba mengupas sekelumit kulit, sedikit, yang ringan saja. Bak kopi panas pahit disajikan pagi buta, cukup menggugah, membelalakkan mata. Kalau kurang manis yaa… Silakan sendiri tambah gula! ^^;
Ada pendapat sebagian ulama bahwa puasa pada dasarnya terdiri dari 3 tingkatan: puasa orang biasa, puasa orang istimewa, dan puasa orang teristimewa. Puasa orang biasa ialah puasa orang awam yang menjaga perut dan bawah perut dari syahwat yang tak terkendali. Puasa orang istimewa adalah puasa orang saleh, yang tak hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga berusaha mencegah seluruh inderanya dari melakukan perbuatan dosa. Adapun puasa orang teristimewa adalah juga puasa hati dari keinginan rendah pikiran duniawi, mencegah sama sekali dari memikirkan selain Allah. Yang bisa mencapai level ini adalah para Nabi dan shiddiqin. Lepas dari golongan mana kita merasa (ukur sendiri), idealnya sich puasa seorang mukmin dapat membuahkan perubahan, perbaikan dalam diri: mengunci lisan, memperbanyak dzikir, menundukkan pandangan, membuka mata hati, mengendalikan nafsu, menghidupkan nurani, kepekaan, melembutkan perasaan, melunakkan jiwa, menanamkan kesabaran, membangkitkan kesadaran, meluhurkan budi pekerti, menajamkan akal dan panca indera, mengembangkan rasa ingin tahu, mendorong kemauan keras untuk belajar, senantiasa haus akan ilmu pengetahuan, menumbuhkan kedisiplinan, menegakkan keadilan, membakar giat semangat berbuat baik, menggairahkan etos kerja, meredam amarah, menyemai suburkan kasih sayang, membuahkan kejujuran, melahirkan ikhlas, ketulusan, membuka cakrawala pikiran, menyehatkan jasmani, menenteramkan ruhani, meneguhkan keimanan, temukan kesejatian diri sebagai manusia seutuhnya dan memahami manisnya hikmah yang tersembunyi di balik perintah; tetes-tetes air di lautan yang berlimpah!
Ilmu kedokteran dewasa ini telah pula membuktikan secara medis-ilmiah manfaat puasa bagi kesehatan. Bermasalah dengan kesehatan? Semoga yang berikut ini sedikitnya menyalakan cercah harapan. Berdasarkan penelitian, saat kita puasa di dalam tubuh terjadi reaksi pembersihan racun, kotoran dan ampas, penyelarasan sistem kerja tubuh, serta relaksasi yang menenangkan pikiran, mendamaikan hati dan meredam tekanan stress. Memberi kesempatan istirahat bagi alat pencernaan, menambah jumlah sel darah putih, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh, menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, memperbaiki fungsi hormon yang diperlukan dalam berbagai proses fisiologis dan biokimia tubuh, meremajakan sel-sel tubuh, menajamkan panca indera, serta (ehm…) meningkatkan fungsi organ reproduksi. Penting. Untuk eksistensi. ^^; Selain itu puasa juga efektif membantu mengatasi berbagai penyakit di antaranya: pengerasan dan penyempitan pembuluh darah, hipertensi, kanker hati, kanker lambung, diabetes, hepatitis, pendarahan otak, epilepsi, sukar tidur, intelegensia berkurang, segala macam radang, nyeri saraf, nyeri sendi, TBC, bronkitis kronis, asma, flu, ginjal, batu empedu, beri-beri, disentri, trigliserida, malaria, stroke, rematik, maag, sembelit, kolesterol tinggi, ambeien, radang ovarium dan saluran indung telur, tumor leher rahim, pusing, biduran, eksim, kesemutan, menghilangkan kebiasaan ngompol anak, bahkan jerawat dan flek hitam pada wajah! (Dari berbagai sumber) ^^; Eh, bener lho! Gak percaya? Coba saja konsultasi dengan Bu Dokter di klinik, nanti…
Orang yang terbiasa berpuasa juga staminanya terbukti lebih kuat, stabil, giat beraktivitas dan selalu semangat! Koq bisa? Karena sudah terlatih! Dia punya standar daya tahan yang lebih besar dari orang kebanyakan. Bak di film Kungfu Shaolin, siapa rajin berlatih memanggul dua talang penuh air bolak-balik kuil dan sungai tiap hari, otot-otot di tubuhnya tanpa disadari semakin kuat, kekar, terlatih. Lama-lama pekerjaan seberat itu bisa ia lakukan dengan langkah ringan dan hati lapang sambil bernyanyi, bukan tak mungkin ilmu ringan tubuhnya cepat meningkat pesat sekali, hehehe ;D Terlalu banyak nonton Jet Lee! ^^; Kembali lagi, secara mental juga banyak nilai positif yang diperoleh dengan berpuasa. Bisa sebutkan beberapa di antaranya? Apa ya? Puasa membentuk kepribadian, menjadikan kita lebih dewasa, lebih sabar, lapang dada, cermat, berhati-hati, obyektif, peka, perasa, lembut hati, tak mudah cemas, tak tergesa-gesa, tidak egois, fokus terarah, banyak bersyukur, tidak sombong, tidak pelit, tak suka mengeluh, tak mudah marah, mandiri, disiplin, gigih, tegar, berani, bertekad kuat, selalu tersenyum, suka menolong, rendah hati, berprestasi, ikhlas, jujur, apalagi kira-kira? Banyak khan! Koq jujur? Iya donk! Karena orang berpuasa, yang tahu benar dirinya puasa atau tidak khan hanya dia serta Tuhannya? Di depan orang bisa saja pura-pura sedang puasa, saat tak ada yang menyaksikan diam-diam cicip makan atau curi-curi minum, barang 1-2 teguk. Tapi karena ia merasa, sadar pula, bahwa Allah Maha Melihat, akhirnya jadi malu sendiri, teruskan lagi puasanya seraya berjanji tak mengulangi.
Puasa menggembleng mental. Jadi tempe berlapis baja? Oh bukan, dari tempe menjadi baja! ^^; Tidak mudah lemah, tidak gampang berputus asa. Karena kita percaya di balik kesusahan ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesusahan ada kemudahan. Di balik setiap perintah Allah ada hikmah kebaikan yang mungkin belum kita sadari saat ini, tapi coba kita renungi, mari resapi, gunakan kelebihan yang tak dianugerahkan pada makhluk lain kecuali kita untuk mengerti. Bukankah Allah senantiasa menuntun kita menggunakan akal? Maka apakah kita tidak memahami? Ini sekedar kontemplasi, tak sedikitpun terbersit niat menggurui (hwalah, memang saya ini siapalah? ^^;) seperti AA Gym menilai AA Gym, paling tahu kapasitas pribadi, karena itu rasanya jauh dan malu sekali, senantiasa berharap memperbaiki.
Ramadhan adalah satu kesempatan yang sangat baik untuk kita memahami, mengenali, mengembangkan potensi diri. Setiap kita sungguh unik, begitu berharga. Temukan mutiaranya. Asah sampai tajam. Tingkatkan terus kualitas. Tampilkan kilau dalam bentuk perbuatan. Pancarkan indah melalui akhlak yang mulia. Sebarkan cahayanya seperti sang surya membagi sinarnya, merata menghangatkan semua di bumi. Laksana lebah yang diwahyukan Tuhan untuk membuat sarang di bukit-bukit, pohon-pohon kayu, dan tempat-tempat yang dibuat manusia, menempuh jalan Tuhannya, memberi manfaat dengan menghasilkan madu sebagai obat yang menyembuhkan bagi manusia. Ya, ma-nu-si-a! Lebah membuat madu tidak untuk dinikmati sendiri, “jalan Tuhannya” menghendaki lebah memberi manfaat untuk kita. Dan lebah tak pernah sekalipun mempertanyakan apalagi menolak perintah Tuhannya! Maka jikalau boleh bertanya, adakah manfaat yang sudah kita, manusia, berikan kepada penghuni bumi seisinya yang kepadanya kita dipercayakan Tuhan untuk mengelola? (Kalau tidak terpaksa mengatakan, berapa banyak lagi kerusakan di muka bumi yang masih akan kita perluas demi ambisi, nafsu, keserakahan?) Sudahkah kita cukup bermanfaat bagi lingkungan sekitar saja? Bagi orang lain? Sesama spesies manusia?
Puasa mendidik manusia. Bukan sekedar mengekang hawa nafsu, mengatur pola makan, minum dan “itu”, puasa juga melatih kepekaan pribadi dan sosial. Bahkan sebenarnya semua ibadah yang diperintahkan Allah berdimensi ritual dan sosial yang seimbang, seperti perintah mendirikan shalat yang biasanya selalu disandingkan dengan menunaikan zakat. Hablumminallah diimplementasikan secara riil dalam hablumminannaas. Buat apa bergelar Haji kalau tega menyumpal telinga pura-pura tak mendengar tangis lapar anak tetangga sayup-sayup di malam buta? Sama saja dengan ungkapan: buat apa tekun shalat kalau masih rajin maksiat?
Di bulan Ramadhan, aspek sosial puasa diaplikasikan secara langsung oleh umat Islam, berbondong penuhi kewajiban menyucikan harta dan jiwa mereka yakni dengan membayar zakat (fitrah), pungutan sosial yang — mengutip bebas untaian kaya hikmah Bapak M. Quraish Shihab dalam buku “Lentera Hati” — dikeluarkan dengan sikap istiqamah sehingga tidak terjadi kecurangan baik dalam perhitungan, pemilihan dan pembagiannya; bergegas pengeluarannya (tidak menunda hingga berlalu batas waktu, yakni sebelum shalat Idul Fitri); yang akan dibagikan dengan cara mempermudah jalan penerimaannya, diberikan kepada yang benar-benar berhak untuk menerima, yakni (Q.S. At-Taubah: 60): orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, mu’allaf (orang yang baru masuk Islam) yang dibujuk (dirangkul) hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fii sabiilillah) serta orang-orang yang sedang dalam perjalanan (ibnussabiil). Pemberian zakat hendaknya jangan sampai menghilangkan air muka (menyebabkan malu) penerimanya, begitu pula sebaliknya, tak menyebabkan terjadi barisan pamer kemiskinan lantaran zakat yang terkumpul ditahan-tahan tak lekas dibagikan. Dengan zakat dibayarkan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin jadi terjembatani, menghilangkan dengki, menumbuhkan kasih sayang, menghapus keresahan, melahirkan kesucian jiwa serta ketenangan batin bagi si penerima maupun pemberi zakatnya. Demikian mulia ajaran Islam, adakah kita pernah sejenak sekedar merenunginya? Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang telah sama pula kita yakini kebenarannya, Nabi Muhammad saw. pun terlebih dahulu menempuh perjalanan horizontal, transit, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, maknawi perbaiki dulu hubungan dengan sesama manusia. Barulah setelahnya Allah berkenan “memperjalankan” beliau naik ke langit, vertikal, ke Sidratul Muntaha untuk menemui Tuhannya. Jadi bagaimana puasa kita? Apakah sudah berdampak pada sekelilingnya? Bolehlah kita berkaca lagi, rapikan lipatan dan kerah baju, berdiri dan bersihkan pangkuan dari sisa-sisa remah roti, lalu mulailah ambil sapu dan pengki, bersihkan lingkungan diawali diri sendiri.
Jujur saja, seberapa concern-kah selama ini kita memperhatikan masyarakat, dalam skala kecil, mereka yang terlibat di lingkungan kerja kita? Cleaning service yang setia. Datang sebelum kita datang, bekerja melebihi lama kita kerja, baru pulang setelah kita pulang, terkadang malah kita minta tunggu lembur sampai larut malam. Padahal anak-istri berharap sang ayah-suami bisa pulang cepat buka bersama setiap senja, ternyata atasan yang tidak peka bahkan “mewajibkan” ia tetap puasa hingga malam tiba! Entah lupa atau pura-pura lupa, jumlah bento Hoka Hoka dibanding dengan mulut yang ada saat dihitung selisih jumlah, tebak siapa akhirnya mengalah? Yang dimintai tolong pergi beli makan! Begitu pula petugas satpam yang berjaga 24 jam. Terbayang? Penyusup masuk meletakkan bom yang di-set meledak tepat saat kita masuk kantor esok pagi? Apa jadinya jika tak ada mereka yang mengamankan? Oh, mudah sekali jika Allah menghendaki! Maka pernahkah terucap sekali saja ungkapan terima kasih, minimal senyum tulus yang lahir dari lubuk hati? Saat menyeberangi jembatan, jangankan niat bersedekah pada pengemis pucat kelaparan, melirik saja rasanya menjijikkan, palingkan muka dan busungkan dada. Padahal kalau si miskin mulai berdo’a, awas, hati-hati saja! Merasa terhina, teraniaya, tangisnya berubah jadi supata! Tak ada hijab antara ia dengan Tuhannya, Allah kabulkan, balaskan sakit hatinya!
Manusia-manusia yang terbiasa makan enak sampai kenyang, atau meski enak tapi dibuang (gak diabisin? Sayang2 ^^;), either steak or hamburger, di McD atau di Sizzler, sekedar ngopi sambil ngeceng, puluhan ribu melayang enteng. (Maklum dech: Starbucks, Neng! ^^;) Dengan berpuasa mereka jadi diingatkan, bahkan langsung merasakan (!), betapa di luar sana masih banyak saudaranya yang kesusahan berpanas hujan, mengais sampah mencari makan, kumpulkan keping logam ratusan, perut melilit, mulut meringis, menahan perih, kelaparan. Tidak enak khan? Karena itu beruntunglah kita yang berada dalam posisi yang memberi makan, bukan yang diberi makan. Puasa mendidik kita makan dan minum jangan berlebihan, juga melatih kita jadi pribadi yang lebih toleran, memiliki kebersamaan di masyarakat dengan ikut memperhatikan kebutuhan pihak lain yang juga perlu pemenuhan. Puasa menyadarkan kita: ternyata lapar memang perih, haus itu sungguh membuat letih, tapi siksa Tuhan jauh lebih pedih! Karena itu mari kita segera bertaubat, meminta maaf, mohon ampunan. Dan tak ada saat yang lebih tepat, kini ketika momentumnya bersama kita, selain di bulan penuh berkah, kaya rahmat, berlimpah ampunan. Ramadhan sisa berapa malam?
Laksana sarjana baru diwisuda, tidak berarti perannya berakhir saat tak lagi jadi mahasiswa. Justru peran yang jauh lebih besar menanti mereka di dunia kerja. Begitu pula manusia yang berpuasa. Lepas Ramadhan tak lantas boleh kendur semangat, melemah motivasi, memudar bahkan hilang gairah kerja, pertahankan! Segigih mahasiswa yang mempertahankan disertasi saat bergelut di sidang skripsi! Buktikan kita sebagai “alumni” pesantren Ramadhan memang qualified, layak untuk diluluskan setelah melalui liku perjuangan yang tak ringan! Terus melangkah! Jangan ada kata menyerah! Sesekali mungkin kita terperosok, tapi seorang Abraham Lincoln cukup berkata, “Saya hanya tergelincir, bukan jatuh”, untuk bangkit kembali dan mengejar ketinggalan. Target penerimaan idealnya memang tercapai, effort by effort maksimal sudah dikerahkan, namun bila pencapaian kurang sempurna, atau bahkan tak tercapai pada akhirnya, hendaknya kita realistis dan jangan kecewa. Kita semata terus berusaha, dan setiap usaha sekecil apapun tetap saja ada nilainya! Karena itu sebenarnya tidak ada istilah rugi, selalu bersyukur, tersenyumlah, tetap optimis! Daripada sia-sia buang waktu merenungi kegagalan lebih baik mengupayakan langkah lain yang kita bisa untuk mencari dan menemukan jalan alternatif menuju kesuksesan!
Barangkali ada baiknya jika kita, siapapun orangnya, kapanpun, dimanapun dan dalam peran (baca: jabatan) apapun saat ini dipercayakan, hendaknya selalu berpegang pada perintah Allah yang satu ini: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyirah: 7-8) Dengan kata lain: bekerja harus produktif, efektif dan efisien. Tak ada jalan pintas untuk mencapai tujuan. Semua melingkari gunung, menanjaki jalan berkelok, setapak demi setapak. Mewujudkan impian harus bangun tidur! Berhentilah mengejar kupu-kupu! Mulailah menggali emas! Putuskan untuk melangkah, saat ini juga! Perjalanan sejauh ribuan mil tetap saja harus dimulai dengan 1 langkah awal. Permulaan yang baik sudah bagus, tapi menyelesaikan apa yang kita mulai adalah jauh lebih penting. Dengan teguh berprinsip “every stone is a stepping stone”, setiap batu yang kita pijak jadikan itu batu loncatan, jangan dianggap batu sandungan, semoga kita dapat terus termotivasi, tetap gigih mencoba, berusaha. Bang Iwan bilang: “Hadapi saja!”
Besar harapan yang ditumpukan, selama kita tak henti upaya dan tak putus berdo’a, percaya? Insya Allah, kita bisa! Hidup ini tempatnya keletihan, kepayahan. Kalau mau enak, ke surga saja! Tapi mau ke surga juga harus bekerja keras, kumpul bekal amal kebaikan sebanyak-banyaknya saat hidup di dunia, supaya saat ditimbang di neraca Hari Pengadilan beratnya bisa melebihi timbunan gunung dosa. Kurangi tumpukan dosa, bagaimana caranya? Salah satunya, ya benar, adalah dengan berpuasa. Bukankah kita hafal atau at least pernah dengar Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”? Karena itu tak usah gelisah, harusnya susah sudah biasa. Seorang bayi yang baru lahir pun sudah tahu bakal hidup susah, barangkali karena itu ya ia berpikir: lebih baik menangis dulu, baru tertawa kemudian?!! ^^; Seperti Bon Jovi yang tetap energik dan optimis meski usia tak lagi muda, masih ingat lagunya? “Hey, Man! I’m alive, I’m takin’ each day and nite @ a time, I’m V-lin’ like a Monday but someday I’ll B Saturday nite!” Prinsipnya, bekerja saja dulu, kalau sudah saatnya pasti akan menuai hasilnya. Kalau sudah terbiasa kita akan menikmati asyiknya bekerja, seperti penemu terkenal Thomas Alva Edison yang memegang hak paten lebih dari 2000 penemuan, ketika ia berkata, “Saya tidak pernah bekerja seharipun dalam hidup saya. Semuanya adalah keasyikan.” Jadi mari kita hadapi dan nikmati, lalu selesaikan 1 demi 1 (1 @ a time) tanggung jawab yang diamanatkan. Berikan sentuhan pada tiap upaya terbaik yang bisa kita persembahkan! Satu lagi indikasi bahwa puasa kita sudah berhasil, punya arti, bernilai manfaat dan bermakna penuh kesan! Tak perlu risau apalagi gusar dengan penilaian orang lain, yang penting kita sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan! Penilaian itu hanya dari Allah, tidak butuh dari makhluk-Nya! Inilah yang disebut ikhlas, niat lillahi Ta’ala. Sebelum kita mulai bekerja atau melakukan apapun juga, ingatlah selalu Rasul anjurkan, hendaknya awali dengan basmalah: Bismillaahirrahmaanirrahiim… Dengan menyebut nama Allah, bukan agungkan nama Dirjen! Tak memuji Kepala Kanwil, atau merayu calon mertua, apalagi sembah berhala! Bukan supaya dilihat atasan, agar disegani rekan sekerja, atau dikagumi oleh bawahan. Tak sedang mengamankan DP3, apalagi terpaksa, daripada kena SP-3?
Semoga Ramadhan meninggalkan kesan yang mendalam, terukir di sanubari, terpatri dalam jiwa, membekas tak lekas pudar, secemerlang kening yang enggan melepas sujud. Semoga tetap rajin bangun malam yang tak sekedar melepas hajat ke kamar kecil lalu kembali tidur lagi. Oh Tahajjud, Witir, Fajar; duhai Dhuha, Rawatib-ku; tadarrus dan tadabbur Qur’an moga jadi kebiasaan; rajin shaum Senin-Kamis biar jadi kecintaan; dzikir lisan diikuti kalbu seiring desah hembusan nafas; dzikir akal serta amal selama hayat di kandung badan; tiada hari tanpa sedekah, tebar salam dan senyuman; jalin ukhuwah, persahabatan, silaturrahim jangan tinggalkan. Niat tulus ikhlas, bekerja sungguh-sungguh, berdo’a sepenuh hati, dan tawakkal berkeyakinan. Semoga Allah memelihara…
“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu.” Menurut Rasulullah saw. ada 2 kegembiraan bagi orang yang berpuasa, 1 pada saat ia berbuka, dan 1 lagi pada saat nanti ia bertemu dengan Tuhannya. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Q.S. Al-Insyiqaq: 6) Ini sekali-kali bukan khutbah Idul Fitri, juga sama sekali bukan kurang ajar mengajari, apalagi hwalah, numpang tenar dan cari sensasi? ^^; Ya Allah, to-long! Faghfirlii… Semoga ibadah puasa kita diterima disisi-Nya dan kita semua termasuk yang Allah janjikan beroleh rahmat dan ampunan-Nya serta dijauhkan dari siksa api neraka. Insya Allah, Amiin… Yang benar datangnya dari Allah, segala kesalahan bermuara pada diri yang ringkih ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal ‘Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin…
Penulis adalah pegawai Bagian Kepegawaian KPDJP diperbantukan pada JICA (Japan International Cooperation Agency) Expert Office
—
Catatan Kido:
Tulisan ini pernah dimuat di majalah Berita Pajak edisi Lebaran dech pokoknya, taon lalu kalo ga salah ^^; Wuaaa ga sempet dicari lagi! ;p Ini aja buru2 copy paste lagi koq! Besok cuti wakaka! =D F nice long holidayyyyy!! ^________^;v Huehuehue, oh pada masuk ya? ;p Xiaaannnnnn ^^; Wakakaka =D C U again! Sekedar wat bacaan while I’m not around!
Sekalian menyambut bulan puasa…
Kalo Kido banyak salah, tulus Kido mohon maaf ya! ^^;v Kido juga uda maafin men-temen koq! SEMUANYA!! Tnx yaa! Sampe ketemu Ramadhan… Insya 4JJI… =)
KIDO KAMEN =)