Jum’at pagi, 30 September 2K5…

1 day b4… Ga ada tanda2 apa2 selain dari perasaan sambil lalu, kenapa hari2 ini rasanya tenang tapi mencekam ya? Angin bagai berhenti tak berhembus walau sekedar bisik lirih. Ah, mungkin cuma feeling Kido aja ya? ^^; Tapi konon kabarnya sebelum ada peristiwa2 menggemparkan biasanya ada “tanda2” tertentu di alam, nature can feel, well ga tau juga! Mungkin ya cuma feeling Kido sich! ^^;

NEway, pagi ini jadwalnya anter Papa ketemu Rektor UnRam sementara Kido, Mama n AD foto2 seru depan kampus =D Biasa dech! ^^;v Alhamdulillah urusan Papa ga sampai 1 jam dah selesai, jadi officially his task is over! ^______^;v Kami ga sabar ingin segera kembali ke Bali! Lho koq buru2 amat? Iya! Abis waktu cuti udah habis ^^; Senin uda harus masuk! Jadi ga ada waktu lagi, hiks! Sayang sebenernya, tapi toh yang dituju udah ketemu, katanya ke Lombok harus ke Senggigi! Well, udah tuch! ^^;v Hehehehe… Alhamdulillah! Gitu donk! ;)

Cuma Mama pikir, ya biasa dech pikiran ibu2 gitu ^^; denger dari temen2, mereka bilang Lombok terkenal dengan mutiara! Bener juga! @ least kalo bisa bawa oleh2 1 butir, wat kenang2an sendiri aja, waaahh! Kido ga gitu ngerti dech, urusan CW itu mah! Hahahaha =D Menurut petugas hotel, tempat untuk membeli mutiara yang asli tuww di Sekarbela! Cuma kalo mo liat peternakannya, cara nelayan setempat mendapatkan mutiara sampai diasah n siap tuk dijual, harus pergi ke Sekotong! Waduh, ga ada waktu euyy! May be next time? ;) Sementara masih ada sisa waktu sedikit, kami putuskan ke Sekarbela aja dech! Dengan diantara Mas Doyo, petugas Hotel Pusaka, kami pun meluncurlah ke Sekarbela! Oya, baca Sekarbele! Le e pepet! ^^; Sama seperti Kuta dibaca Kute, suksma suksme… O gitu ye? ^^;

Sampai Sekarbele udah jam 11, Mama n AD Kido liat2 di sepanjang jalan terhampar toko2 mutiara, Kido, Papa n Mas Doyo mencari masjid terdekat! Lho ngapain? Shalat Jum’at, Maaan!! ;p Oiya! Ni khan Jum’at! ^^; Untung inget! Jam 1 selesai shalat, ada yang unik! Ternyata di sana perempuan juga pada ngikut shalat lho! Kalo di Jakarta khan cowok aja yang shalat Jum’at! Uda gitu sebagian besar toko2 mutiara tutup waktu shalat! Oya, memang Mataram itu mayoritas muslim, n agamanya cukup kuat! Alhamdulillah! Jadi ga serasa di tempat asing. Pulang shalat Jum’at, Mama n AD masih sibuk liat2 (heran dech! CW koq pada betah sich? QT yang baru dateng aja dah bosen lagi! ;p) singkatnya akhirnya beli barang 1-2 butir, yach yang murah2 aja, sekedar kenang2an ^^; Kido beli imitasi mutiara berwarna merah delima, lho wat apa? Pinjem lem besi, ditempel di belakang, di logo Jazz! Wat ganti titik di huruf J yang hilang! Wakakaka =D Oya! Ini hasil pengamatan aja, tapi survey membuktikan, mobil Jazz keluaran baru, 2K5, yang plat rata2 valid sampe 08.10 (Agustus 2010), 6 dari 7 mobil, dalam 3 hari hasil pengamatan, pasti dah hilang titik di huruf J-nya! Wakaka =D (Detective mode on!!) Tapi tidak untuk yang keluar 2004! Wahh produk gagal donk?! Input aja, kali ada yang kerja di Honda! ;p Gimana tuww? Ini khan namanya kelemahan sistem? Wong massal koq, bukan 1-2 aja! ;) Detektif kumat gini dech! ^^;

NEway, singkat cerita, jam 2, setelah kembali ke hotel, pamitan dengan Mas Doyo n Mbak Ida sang resepsionis hotel, foto bareng n tuker alamat (lagi! ^^;v Love 2 make friends!!! =D) akhirnya kami meninggalkan Mataram, berjalan perlahan detik demi detik yang terasa berjalan begitu lambat bagaikan dalam slow motion, entah karena kami enggan dan telah jatuh cinta dengan kota kecil ini, atau karena kami tak tahu kejutan apa yang menyambut kami begitu kembali menginjakkan kaki di Bali…

Jum’at sore, 30 September 2K5…

Wat yang udah mulai ngantuk, di sini cerita mulai naik klimaks lho, jadi boleh cuci muka lagi dech! =D Hehehehe… Sorry! But gotta tell it all! ;) 4 U’ll know Y! =)

Jam 3 kurang, Alhamdulillah kami sampai di Lembar, setelah membeli tiket Ferry wat nyebrang ke Bali, gak menunggu lama ferry datang dan kami diangkut bersama puluhan orang lain yang sama2 gak menentu arah dan takdir apa yang akan menghampiri di Bali. Semoga Allah melindungi kami di perjalanan. Alhamdulillah, awalnya baik2 saja. Karena di lantai 2 penuh, kami naik ke deck atas! Wahh sepi euyy! Luas banget! Tapi karena panas terik saat mentari bergulir ke barat, ga banyak yang mau “dipanggang” di atas! ^^; Untung di belakang ruang nahkoda ada beberapa bangku yang terhalang dinding ruang jadi ga silau, kami mengambil tempat duduk di situ. Berkenalan dengan seorang pemuda tinggi besar, tampangnya lumayan sangar hiiyyy, tapi lirik, bacaannya Malcolm X? Wahh muslim niyy, n @ least terpelajar, gaya mahasiswa gitu lhoh! ;p So QT kenalan! Awalnya biasa dech, Mama yang SKSD! ^^; (Mungkin Kido nurun Mama ya begitu? ;p) Akhirnya kami kenalan, namanya Mas Toni, mahasiswa (tuch khan?) Udayana jurusan Teknik Elektro, udah lulus taon 2003, sekarang kerja buka servis HP di Mataram, tapi keluarga di Bali. Ga lama seorang Bapak yang tadi hanya tiduran di sebelah Mas Toni pun bangun dan ikut ngobrol bercanda sama QT2, namanya Pak Sofyan, lirik (detective mode ^^;) wat bantalnya tas laptop? Bukan orang sembarangan nich! ;) Ternyata benar, dia adalah panitera di Pengadilan Tinggi Agama di Denpasar. Asyik ngobrol, tak lupa menawarkan snack yang kami bawa ke kapal, cerita panjang lebar, jadi berteman. Sementara Kido n AD sesekali jepret sana n sini (narcist? Teteeuph!! ^^;) Jam ½ 5, Mas Toni pamit shalat Ashar, tak lama Kido, AD n Mama menyusul. Mas Toni selesai shalat kembali bergabung dengan Papa n Pak Sofyan yang asyik bicarakan banyak hal. Kido ga khawatir, hanya koq waktu shalat HP terus bergetar n berbunyi. Tapi karena lagi shalat, walo jadi ga konsen, ya ga bisa Kido angkat. Ga lama mati, ganti ke HP Mama. Ada apa nich? Begitu selesai shalat dilihat, lho, koq Papa? Ada apa? Belum ada firasat apa2 waktu itu, dengan santainya kami meninggalkan musholla naik ke lantai 3. Saat itu, DEGGH! Walo belum kepikir apa2, tapi Papa koq tiduran tertelungkup? Setengah berlari Kido menghampiri, ternyata Papa udah meringis mengerang menahan sakit, keliatan sekali teramat kesakitan! Ya Allah! Papa kenapa? AD pun langsung memeriksa kondisi Papa, katanya tadi masih biasa tidak ada apa2, tapi tiba2 saja seperti disambar angin dingin n punggung ditusuk, lalu ototnya tertarik! Kejang otot! Kido kerja cepat, lari bolak-balik ke mobil di lantai dasar, lompat tangga, naik lagi, ambil teh celup, ke kabin, pinjam gelas juga minta air panas, seduh teh, kembali lagi, sementara Papa dipapah Mas Toni dan Pak Sofyan ke Musholla. Sempat jadi perhatian banyak orang, tapi mereka hanya menatap penuh tanda tanya. Yang pasti Mama udah nangis melulu! Tapi Kido n AD bertahan coba tetap tenang, karena kalo kami juga panik, maka Mama pasti akan bertambah kalut! Dengan ketenangan yang luar biasa, AD Kido (bisa juga ternyata yach? ^^;) memeriksa seksama penyakit Papa, dengan teliti mendiagnosa, awalnya kami kira ginjalnya, tapi saat dites kaki ditekuk ditekankan ke dada, koq nggak sakit? Biasanya kalo ginjal pasti sakit! Jadi mungkin bukan, kami sedikit bernafas lega! Repot juga kalo ginjal pecah sementara kami terjebak di atas laut, masih 4 jam lagi dari daratan! Ya Allah, kenapa ini?!

Waktu rasanya berjalan sangat lambat, bahkan seakan berhenti. Detik demi detik bagai selamanya! Dhuh, kapan sampai di darat? Kido sampe bolak-balik ke kabin nahkoda tanya apa ada dokter di kapal? Ga ada! Berapa jam lagi sampe? Tenang aja, mungkin cuma mabok laut! Sambil setengah mencibir, huh! Kido ga ambil pusing, walo sempet gondok juga, jelas bukan mabok laut! There must be something with my Dad, but I could not explain just what… AD Kido pun terlihat sedikit mengernyit, agaknya dia juga udah merasa ada yang ga wajar, tapi sebagai dokter, tindakannya tetap berdasarkan rasionalitas dan fakta medis, dan secara medis Papa masih normal! Bahkan tidak kelihatan seperti orang yang sakit, padahal Papa itu paling ga tahan rasa sakit, nyeri sedikit saja bibirnya bisa langsung ungu, tapi kemarin tetap terlihat segar, walau saat kulitnya dipegang terasa dingin, n sakit ketika disentuh! Pak Sofyan dan Mas Toni hanya saling bertukar pandang. Tak lama seorang anak buah kapal, masih muda seumuran Kido mungkin, masuk dan memberi obat, katanya untuk obat maag nyeri lambung. Kami berterima kasih, tapi Pak Sofyan memberi isyarat dengan matanya. Bukannya tidak menghargai niat baik n pertolongan orang, tapi tetap kami harus waspada, katanya, memang benar juga! Kalo narkoba gimana? Wuahh! Ibu makin ketakutan. Untung Pak Sofyan yang kebapakan sangat tenang, setelah membasahi tangan dengan air dan membungkus obat dengan tissue, Pak Sofyan berlagak ke jendela melihat laut, lalu tangannya menjuntai keluar dan diam2 melepas obat yang ga jelas itu ke laut. Yach kalo memang narkoba, paling yang tripping ikan2 di laut! ^^; Kami hanya memberi terapi medis seadanya, tapi ABK itu kembali lagi, kali ini bawa koyo! ^^; Aduh, dasar orang baik! Ga lama ada juga pemuda yang kasihan pada Papa lalu memijati. Tampak serius sekali komat-kamit, wahh, punya “sesuatu” nich? Soalnya keliatan sekali, Papa yang tadinya meringis2 merintih perlahan mulai diam berangsur tenang, bahkan hampir bisa tidur, kelak Papa cerita bahwa tangan pemuda itu terasa dingin sekali saat mengusap pinggang n perut Papa, karena itu Papa tak lagi merasakan nyeri, Wallahu a’lam! Dunia ini luas, kejadian bermacam2 bisa saja terjadi khan? Selain itu juga ada Bapak cukup tua, usai shalat Maghrib, oya! Waktu itu sudah masuk waktu Maghrib, tiba2 saja langsung duduk di hadapan Papa, mengangkat tangan, tepekur khidmat berdo’a wat Papa! Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih, walau tak saling kenal, tapi ternyata banyak orang baik di jalan yang berniat baik tuk menolong dengan cara masing-masing! Memang QT manusia ga bisa hidup sendiri, QT saling membutuhkan, n QT diajarkan untuk saling tolong-menolong. Sungguh indah! Petang itu sisa perjalanan dilewati dengan menghitung detik demi detik yang bagai jam demi jam, hingga akhirnya sinar lampu kelap-kelip tampak di kejauhan, Alhamdulillah daratan sudah terlihat, kurang dari 1 jam kami akan mendarat di pelabuhan. Pak Sofyan dan Mas Toni menenangkan Mama yang masih sesekali sesunggukan (sempat 2 jam tiduran karena merasa mual mabuk laut) Kido dan AD tak henti berdo’a sambil terus memijati Mama dan Papa bergantian. Ya, kami harus kuat! Karena kalau kami lemah, siapa lagi yang menolong mereka? Alhamdulillah, Allah memberi kami kekuatan!

Ketika akhirnya bel kapal bergaung pertanda siap berlabuh, kami tak putus memuji syukur ke hadlirat Allah SWT! Pak Sofyan dan Mas Toni sepakat akan mengantar kami menuju ke rumah sakit, tadinya kami minta ke RS terdekat saja, tapi mereka khawatir penanganan tak memadai, jadi mereka akan menuntun Kido yang menyetir hingga tiba di Denpasar! Berhubung mereka penduduk Denpasar, mereka tahu jalan pintas lewat By Pass sehingga makan waktu lebih singkat! Alhamdulillah, ini juga salah satu pertolongan Allah lewat hamba-Nya.

Anjungan kapal terbuka. Pak Sofyan dan Kido memapah Papa sampai ke mobil, Mas Toni mengambil motor, janji ketemu di luar. Saat itu Kido melihat suami istri bersama anaknya, wajahnya familiar, ah!! Mbak Hasnah! AD Kido setengah berteriak memanggil, mereka menengok, juga terkejut! Oya lom sempet cerita! Saat berangkat dari Padangbai ke Lembar, kami sempat berkenalan dengan suami istri yang beranak laki2 tapi (maaf) punya cacat, tangannya kecil sebelah. Kasihan sekali. Tapi cara mereka mendidik anak dengan kasih sayang sungguh tabah, anak itu diperlakukan tak ubahnya anak normal yang lain, tangannya yang mungil sebelah pun tetap difungsikan, untuk menerima apel yang Mama sodorkan, berterima kasih. Sungguh mengharukan. Saat berangkat kami sempat tukar alamat, suami mbak Hasnah asli orang Lombok tapi keluarga mereka menetap di Denpasar. Gak disangka, kami kembali bertemu, pada kapal, bahkan waktu yang sama saat kembali! Mereka pun mendoakan kesembuhan Papa Kido n keselamatan pergi sampai pulang. Saat akan meluncur terlebih dulu, mbak Hasnah setengah teriak berjanji akan telpon ke Jakarta setelah tiba di rumah! Alhamdulillah, sahabat baru lagi! ^^;v Kami sering sekali bertemu orang seperjalanan yang menjadi sahabat, bahkan seperti saudara. Tak terkecuali mereka ini. Kembali lagi, Pak Sofyan bersama kami sampai ke tempat parkir di pelabuhan, dimana dia meninggalkan mobil dinas L-300-nya setiap kali akan menyebrang ke Lombok. Keluarganya di Lombok, tapi ia sendiri asli orang Bali n bertugas di Bali. Begitulah, 2 jam terasa singkat saat Pak Sofyan n Mas Toni beriring mengawal kami menyusuri jalan malam yang sepi. Sesekali Pak Sofyan menelepon memantau, kami jawab masih di belakang. Ia pun melaju lagi. Kalau kami sudah tak terlihat karena terhalang truk-truk yang berjalan lambat, Mas Toni memperlambat laju motornya menunggui, setelah kami menyalip, ia pun mengejar lagi. Begitulah seterusnya. Alhamdulillah sepanjang jalan kami tak henti bersyukur, entah bagaimana membalasnya. Biar Allah yang membalas! Akhirnya jam 10 malam kami memasuki Kota Denpasar, langsung menuju Rumah Sakit Sanglah, masuk UGD! Yup! RS Sanglah yang tempat merawat ratusan korban Bom Bali 3 tahun lalu… Persis semalam sebelum kami tahu tempat itu akan kembali dibanjiri korban Bom Bali episode 2 tepat keesokan malam…

Image39

.

.

.

.

.

.

(Makin seru!! Tapi bersambung dulu ya? ^^; Tararengkyu!!)

(Newly Added: February 22, 2K7)

WEKKKSSS!! @~* Setelah lebih setahun, ternyata sambungan cerita ini belum ada ya? ^^; Huehuehue ma’aaapphhh!! =D

Yo wis! Karena ini Special Edition, menyongsong Ulang Tahun Blog "Kido’s Morphin’ Time!! ^^;v" yang ke-2!! =D Dibikin epilognya dech! =D Tapi di comment aja gpp ya? Biar ga bingung yang bacanya, masih nyambung, tnx 4 re-Dn, so NEway, here it is dN…

THE EPILOGUE!!

TAKDIR & MELAWAN TAKDIR (Another Story: BOM BALI!!!) #5

Sabtu pagi, 1 Oktober 2K5…

Dini hari… Kira2 jam 1 malam, dokter memutuskan Papa gpp, sudah lebih kuat dan hanya diberikan vitamin, lalu kami boleh pulang. Maka, lagi2 berkat bantuan Mas Toni dan Pak Sofyan, kami dicarikan hotel terdekat yang tak terlalu mahal, dan ternyata masih milik salah seorang teman dari Pak Sofyan, Alhamdulillah! Jam 2 kami tiba di hotel, lalu setelah berbincang sebentar dan sempat berfoto bersama dengan Mas Toni dan Pak Sofyan, mereka lalu pamitan dan kami beristirahat… Malam terasa panjang bagi kami yang kelelahan, padahal fajar baru hampir tiba saat akhirnya kami bisa tidur pulas…

Siang itu kami bangun kesiangan semuanya! ^^; Buru2 shalat Subuh, lalu mandi, Papa udah sedikit lebih segar walau masih terlihat pucat. Kami hanya berjalan beberapa gang dari hotel untuk mencari sarapan, nasi pincuk tradisional, enak juga! ;p Lalu kembali ke hotel, Mas Toni sudah menanti…

Rencana awalnya Mas Toni mau menjadi guide bagi kami hari itu keliling Bali, tapi karena kondisi Papa lemas, tapi juga karena itu hari2 terakhir di Bali, sayang juga sudah sampai Bali kalau tidak sempat kemana2, maka dengan terpaksa diputuskan, hanya Mama, AD n Kido yang di-guide-i Mas Toni, sementara Papa beristirahat memulihkan kondisi kembali ke hotel…

Singkat cerita, pagi itu pun kami menyusuri Bali dan naik ke Utara, melewati Pasar Seni Sukawati, mampir sebentar di Tabanan beli bedcover buat sepupu dan buat dipakai sendiri ^^; Melihat kerajinan perak, lalu lanjut menanjak ke Bedugul! Melewati beberapa prosesi bakar babi warga setempat ^^; Terus nanjak, hingga akhirnya tepat tengah hari lebih sedikit, saat matahari mulai tergelincir ke Barat, kami tiba di Danau Beratan, Bedugul! Itu lho, yang ada di duit 50ribuan! ^^; Di Masjid di puncak danau, kami shalat dan istirahat sejenak, menikmati pemandangan indah yang Subhanallah! =) Foto2, jelas itu! ^^; Mengagumi karya elok sekaligus kebesaran pencipta-Nya! =)

Akhirnya, sore hari setelah makan di Restoran yang menyajikan masakan khas NTB, Ayam Taliwang, dan bertemu dengan sepasang turis asing dari Rusia, Boris & Sabine, foto lagi! ^^; kami pun turun gunung dan kembali ke hotel, sekitar jam 3 Papa telepon, laporan, udah mandi! =D Wekss!! Dan mengajak kami segera pulang untuk kemudian bersama2 menghabiskan waktu melihat sunset dan makan malam di… Pantai KUTA!!! =)

Tak ada yang mengira detik2 menjelang petang akan menjadi detik2 yang menggetarkan dan mengguncang batin, barangkali pada saat yang sama, di suatu tempat tak jauh dari kami, sekelompok orang tengah mempersiapkan diri untuk menjalankan aksinya yang akan kembali menggemparkan dunia menjelang malam nanti…

Sedikit terkejut waktu Papa bilang udah mandi, tampaknya Papa pun antusias ingin menghabiskan hari terakhir kami di Bali di tempat yang selama di Bali kali ini belum sempat didatangi, dan memang sepantasnya yang terbaik datang terakhir…

Pantai Kuta…

Sampai di hotel menjelang Maghrib, tidak cukup waktu untuk mengejar lihat sunset ke Kuta, walau jarak ke Kuta hanya sekitar 2 km, tapi kami belum shalat Ashar…

Ba’da Shalat, semua bersiap2, saat itu terbersit pikiran, ahhh… Ke Kuta bisa agak malam, toh saat kami pertama kali datang ke Bali, Oktober 2002, sebulan setelah Bom Bali pertama, kami pun sudah sempat melihat sunset, maka saat itu kami sepakat untuk lebih mementingkan bersilaturahmi ke tempat keluarga Mas Toni serta Pak Sofyan! Karena kami belum sempat bertemu langsung dan berterima kasih atas pertolongan dari mereka! Tentunya tak pantas jika setelah seharian Mas Toni mengantarkan kami, kami tidak menyempatkan untuk sowan dan bertandang ke rumah orang tuanya, maka rencana sedikit diubah…

Menjelang Maghrib kami tiba di tempat Pak Haji Thoyyib (bukan Bang Thoyyib yang entuuu!! ^^;) ayah dari Mas Toni yang ternyata adalah ulama setempat yang disegani, salah seorang pengurus PP Muhammadiyah di Denpasar! =)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Kami pun disambut dengan peluk hangat oleh keluarganya, sebentar saja kami sudah jadi akrab. Ibu dari Mas Toni adalah asli Denpasar yang dulu beragama Hindu, sementara ayahnya merantau dari Lombok, NTB, dan setelah menikah ibunya menjadi Muslim, Alhamdulillah! Kakak Mas Toni namanya Mbak Ida, dan adiknya yang bungsu dipanggil Binti. Kami bercakap banyak dalam suasana yang akrab penuh kekeluargaan. Saat adzan Maghrib berkumandang, Pak Thoyyib mengundang kami bersama shalat Maghrib berjama’ah di Masjid tak jauh dari rumahnya…

Singkatnya, ba’da Maghrib, setelah dijamu makan malam, kami pun berpamitan karena berencana mengunjungi rumah Pak Sofyan sekalian. Mas Toni mengantar kami. Rumahnya tak jauh, hanya berjarak sekitar 1 km. Pak Sofyan yang bekerja di Pengadilan Agama Denpasar menyambut kami di rumah dinasnya yang sederhana tapi cukup luas. Kami berbincang sejenak, saat tiba2 jalan raya tak jauh di depan rumah Pak Sofyan menjadi ramai oleh sirine ambulans yang lalu lalang hingga kami jadi tersadar, pasti ada yang tak beres…!!

Tiba2 bude Min dari Tangerang menelepon HP Mama, suaranya terdengar begitu cemas, katanya BOM kembali mengguncang BALI!! ASTAGHFIRULLAHAL ‘ADZIMM!! Terkesiap kami semua terpaku! Pak Sofyan segera menghubungi temannya, Wakapolda Denpasar…

Hening… Saat Pak Sofyan hanya mengangguk2 sementara suara di ujung telepon memberitahu… Akhirnya keheningan pecah, dengan Pak Sofyan, lamat2, berbicara perlahan dan lirih tapi tegas…

"Ternyata memang benar… Bali… Kembali diguncang Bom!…"

Saat itu sirine semakin kencang mengaung. Kami gemetar dan bergidik. Kami bergegas pamit pada Pak Sofyan yang mengiring kepergian kami sekeluarga dengan do’a, dan Mas Toni mengantar kembali ke hotel. Sampai hotel buru2 kami menyalakan TV, Mas Toni pulang ke rumah. Saat itulah di semua channel tersiar tayangan langsung headline news yang tak putus2, berita demi berita perkembangan per detik menyiarkan tragedi bom yang mengguncang, kali ini, sasarannya adalah Cafe di Jimbaran! Cafe Menega, Raja, serta Kuta Square!

Spontan kami bersujud syukur dalam kondisi takut serta cemas, bersyukur karena kami batal makan malam di Kuta, jika jadi siapa yang tahu barangkali kami benar2 berada di tempat kejadian saat bom meledak, bahkan amat sangat mungkin turut serta menjadi korban, na’udzubillahi min dzalik! Semoga kami terhindar dari kematian dengan cara buruk! T__T Alhamdulillah tak putus2nya kami ucapkan dalam saling berpelukan di kamar hotel itu di depan TV! Berkat mengutamakan silaturahmi dan do’a dari teman2 semua kami masih selamat terhindar dari marabahaya serta malapetaka mengerikan…

Saat itu Kido belum tahu kalau sahabat Kido yang lain, Bom2 Febri, teman di SMU 65 dulu, justru benar2 tengah berada di tempat bom biadab itu diledakkan!! T__T (Baca kisahnya di blog setelah ini: Tragedi Bom Bali II! 1st Person View!!) Turut berduka cita, rombongannya harus kehilangan banyak teman yang tewas di tempat atau saat ditemukan di RS Sanglah… Bom2 selamat, hanya terluka luar, tapi luka di dalam hatinya tentu menyisakan pedih yang tak terlupakan…

Teroris memang Keji! Kejam! Biadab!! Kido mengutuk perlakuan dzalim yang sewenang2 tak menghargai nyawa ratusan orang yang menjadi korban suatu keyakinan yang salah kaprah dan parahnya mengatasnamakan agama yang justru mengajarkan kedamaian pada sesama, yang semestinya mencontohkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin, rahmat bagi seisi alam semesta…

Ada kekhawatiran juga saat itu, buru2 mengunci pintu kamar, takut2, jangan2 pelakunya melarikan diri dan bersembunyi hingga ke hotel di tempat kami menginap? ^^; Tak putus2nya berdo’a, saat itu HP sudah tidak bisa berfungsi, kemana2 tak bisa dihubungi, keluar ataupun masuk! Aku teringat sahabatku Mas Agus di Denpasar, kukirim SMS, pesannya tertahan, begitu juga Mbak Ayu, semua teman2 yang pernah sama2 bekerja di KPGWN KP DJP dan saat itu pindah ke Denpasar… Selain itu aku juga mengabari sahabat2ku, ZEI WAITTO, ZEI BURAKKU, juga tentu saja… Sum1 in IT-Op… ^^:

Setelah situasi mencekam yang cukup lama, selama mata kami terus memelototi layar TV yang menyiarkan langsung dari tempat kejadian, dan baris berjalan di bawah yang terus menyiarkan kabar baru, akhirnya sekitar jam 2 malam, HP mulai bisa berfungsi, 1 demi 1 pesan pun terkirim, dan beberapa sudah mulai menjawab…

Dalam kekalutan dan ketegangan kami melepas penat pada malam itu setelah segera bersiap mengepak pakaian dan bawaan untuk keesokan paginya, pagi2 sekali, harus langsung kembali dan meninggalkan Pulau Dewata yang tengah diamuk sang Angkara Murka…

Demikianlah, keesokan paginya, jam 6 kami sudah check out, pamit pada Mas Toni dan Pak Sofyan lewat telepon, kami langsung melintasi jalan kota yang lengang, tanpa melihat belakang, terus melaju kencang ke arah Barat, meninggalkan Denpasar, terus ke Barat, hingga tiba di Negara jam 11, untuk langsung menyeberang, Gilimanuk ke Ketapang…

Alhamdulillah…

Demikianlah singkat rangkuman kisah perjalanan kami ke Lombok dan Bali yang meninggalkan bekas kesan mendalam, tidak saja karena indah pesona alamnya, tapi juga karena begitu dekatnya kami dengan kematian, jika Tuhan berkehendak, tidak ada yang tak mungkin…

Kami hanya bersyukur, dan meresapi, makna hadits yang menyatakan bahwa kekuatan do’a sanggup mengubah takdir, dan silaturahmi memperpanjang umur, mungkin dari sudut pandang ini bisa jadi benar! =) Alhamdulillah! Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin…

With deepest condolence n heartfelt sympathy 2 all d’victims of 2nd Bali Bomb Blast!! May Rest In Peace… T___T

Kido Kamen =)