N Epilogue is A Prologue…
Uncategorized January 6th, 2006(This is ONLY fiction… ^^; Oh yeah???)
—
Aku berpaling sekali lagi sebelum check in. Ahh…
Tak kusangka, akhirnya aku harus meninggalkan semua… Tanah air tercinta, kampung halaman, orang-orang terkasih, orang-orang yang kusayangi, orang yang ku… Ehm… ^^;
Cinta…
Dimana dia ya? Sedang apa ya dia sekarang kira-kira?
Refleks tanganku merogoh saku depan celana jeans, sentuh hendak raih handphone…
Tapi urung kulakukan…
Tidak! Aku sudah berjanji… Aku akan pergi…
Meninggalkannya…
Tidak boleh bimbang lagi! Lelaki sudah berkata, pantang tarik ucap lagi! Ada nyeri di hati saat teringat apa yang telah terjadi. Tinggalkan semua kenangan, simpan di hati saja…
Aku tahu tidak seharusnya kulakukan, semestinya kuhapus semua! Delete, hapus bahkan yang ada di recycle bin jauh di sudut otakku, terlebih dalam lubuk hatiku… Format ulang, bintang titik bintang, bersihkan memori dari data masa lalu yang indah, manis, bahkan terlalu manis… Walau tergores sejumput rasa getir, terluka dalam dan pedih, tersayat nyeri dan perih, tapi semuanya terlalu indah tuk dilupakan… Juga terlalu pedih tuk dikenangkan (nyomot lirik lagu Koes Plus ^^;) …
"Terlalu indah…" Aih, jadi nyanyi…
"Owh! Wo-o-o… Indah kuingat dirimu…" Halah! Nyanyi aja terus! ^^;
Ctak-ctok-ctak-ctok! Di belakang 3 orang pramugari berhak tinggi semampai langsing anggun berkaki jenjang terbungkus rok panjang (tapi belahannya euyy ^^;) menggeladak koper kecil melaluiku seraya melempar senyum manis… Aku balas tersenyum sambil membenarkan letak kacamataku. Oh, ini… Bukan kacamata baca sich, emang buat gaya aja! Wakakaka… =D Salah satu pramugari tersipu. Yach, biasa itu! ^^; Hehehe…
Kembali lagi…
Soal kenangan tadi…
Dia…
Yang tak seharusnya kubawa kemana2… Meskipun tinggal kenangan… Tapi jujur saja aku tak sampai hati membunuh semua kebersamaan, dalam ada dan tiada, hari-hari dimana dia telah hadir mengisi, dalam sadar atau tidak, tiga tahun terakhir ia mewarnai pelangi di hatiku… Dan senyumnya yang membakar semangatku, yach, pramugari tadi juga manis sich ;p hehe, tapi tetap saja…
Aku rindu senyum yang mampu membuat aku luluh… Yang dalam keberluluhanku aku menemukan semangat, tenaga, energi baru yang meluap dan berapi-api untuk melakukan sesuatu yang luar biasa!! Menembus batas yang kubuat sendiri! Hal-hal yang biasanya tak mungkin mampu kulakukan… Power of love makes impossible possible! Inikah gerangan cinta? ^^;
Senyum yang begitu tulus dan ceria bagai tak mengenal arti kesedihan… Senyum yang selalu menyemangati hari-hariku (CIA YOU 2x!! ^^;v), pun meski aku tak melihatnya pada hari itu, tetapi sebentuk sunggingan di bibir tipis itu telah terukir lekat dalam hatiku, saat aku rindu, aku tinggal tekan Ctrl+F (Find YOU!!… ^^;), aku nyalakan lentera ingatanku dan kubuka kilasanku, momen ia tersenyum, dan aku pun mulai tersenyum… Hariku kembali cerah berbinar, merekah, urung sedih lagi…
Senyum yang mengundang senyum… Betapapun senyum itu pulalah yang pada akhirnya menorehkan kesedihan bagiku… Tapi aku tetap akan tersenyum padanya seperti halnya ia padaku… Karena senyumnya mewakili mentari menghangatkan hatiku… Saat ia tersenyum, mentari pun tersipu lalu menyingkir karena tak sanggup bersanding dengan kehangatan lembut pancarannya. Senyum yang susah dicari bandingannya. Akankah kutemukan lagi senyum seperti itu di belahan lain dari bumi ini? Di negeri-negeri bersalju? Kemana aku menuju?…
Karena senyum itulah, maafkan jika aku tak mampu memenuhi permintaan tuk melupakanmu. Satu-satunya alasan. Kini ketika aku tak lagi bisa bersamamu, tegakah kau merampas semuanya bahkan kenangan, ketika hanya itulah satu-satunya yang tersisa kumiliki darimu?…
Walau kini ia mungkin tak mungkin lagi tersenyum kepadaku… Setidaknya tidak untuk waktu yang lama ke depan… Mungkin tidak di depanku…
Karena aku harus meninggalkannya! Merajut masa depanku, menyongsong fajar baruku, membuka lembaran baru… Demi kebaikan dirinya, juga kebaikanku… Saatnya telah tiba untuk menata ulang langkah, meski tertatih aku harus berdiri, kembali di atas kaki, mengokohkan pahaku, kukuhkan tekad, bulatkan niat, tegar, mantapkan hati, kepalkan tangan, teguhkan langkah dan lanjut berjalan! Telusuri setapak yang kian sepi dan terasing, menjauh dari dirinya, dalam desir angin gurun kering yang kejam mencerabut akar-akar kenangan hingga mimpi, menerpa hati yang hampa, kosong, rapuh, lemah, tak tentu tujuan, tak berarah, letih, lelah, dihajar terus-terusan pontang-panting dalam badai panjang tak berkesudahan…
—
Malam itu aku terjaga… Aku masih disini?! Dalam keheningan, kegelapan, kepekatan, kehilangan yang perih kurasa… Di hempasan dingin angin malam yang menusuk tulang, sungguh aneh… Kutemukan ketenangan. Kedamaian yang selama ini kucari tak kunjung kutemukan. Waktu seakan berhenti. Udara menahan nafas. Angin tak berhembus. Mati. Kulihat sekeliling, yang ada hanya sunyi. Sepi…
Agaknya gelap ini tak selamanya…
Tatkala secercah cahaya pelita muncul dari kejauhan menerobos kepekatan sanubari, sebentuk kekuatan lembut tetapi hangat seakan menembus relung-relung di hatiku, menyinari tiap sudut, menerangi pelosok-pelosok tersembunyi pekat, membuka mata batinku, merengkuh nyaman jiwaku, menyelimuti hangat ringkih tubuhku, memapahku bangkit lagi, mendorongku tuk berdiri, dan melangkah, melindungiku dan terus menempaku semakin tegar bertahan, tak kalah meregang nyawa, perlahan terus melawan, mengatasi keadaan, setapak terus berjalan, untuk mulai terbiasa, mengalahkan debar kegelisahanku, meninggalkan desir kesendirianku…
Seorang lelaki harus terus melangkah, teguh terus berjalan, tegar walau harus mengarungi takdirnya sendiri…
Kini kusadari aku harus pergi…
Aku harus pergi tanpa bersamanya…
—
"Sekali lagi panggilan kepada penumpang…"
Panggilan terakhir membuyarkan lamunanku. Seperti hembus angin yang menampar wajahku! Oh Gosh! She’s RITE!… She is ABSOLUTELY rite!
I MUST MOVE ON!!!
Don’t worry! I F told U Ds! I Kn take it…
I’m ma2re nuff 2 take, gentle nuff 2 l@ go…
I l@ U go…
—
Sudah saatnya… Waktunya telah tiba…
Aku memang harus pergi.
YOOSHH! Ds is it…
Kuangkat ransel pundakku, genggam erat kopor dengan tangan kiri sembari memegang tiket, kukepal tangan kanan di depan dada, bersiul ringan, fiuuhh! Tarik nafassss… Tahaaan… ;p Hela nafas panjang…
HUUUFFFFH!!!
"Bismillah"…
Aku melangkah!!… B-)
Selamat tinggal, Cinta…
U take care… Tha!
AKU PERGI…
—
.
.
.
.
(This is ONLY the BEGINNING…)
