1) DROWNED…
Uncategorized March 27th, 2006Akhirnya aku tiba di titik balik.
Setelah jeda hening yang relatif tapi sungguh lama untuk hitungan detik. Menanti akhir yang bagai tak berujung, sejak kuterhempas jatuh melayang ke jurang yang curam bagaikan tak berdasar…
Ngiiiiiiiiinggg…
Jatuh…
Aku jatuh…
Terus melayang dan jatuh…
Dziiiiinngg…
Jauh…
Makin jauh…
Terperosok aku dalam kehampaan…
Wuushh…
Wuushhh…
Terus meluncur…
Tebing lembah yang curam, hanya lewat sekelebatan…
Wush! Wush!! Wush! Wush!!
Seperti dinding terowongan bawah tanah yang dilalui subway…
Hanya kali ini kereta itu meluncur deras, arah vertikal ke bawah!!
Wuuuusssshhh!!!
Siiiiiiiiinnggggg…
…………
(Long silence)
(Pause)
………………
BRUUSSSHHHH!!! KROSAK!!
BRUAAAAAKKKKKKKKHHH!!!! @~* @~* @~*
……………..
Drtdrt… Drtdrt…
Mengejang sebentar…
Lalu diam…
—
Akhirnya tubuh ringkih ini berdebam dengan begitu kerasnya… Menghempas lantai bumi yang bisu lembab, begitu dingin merayap, menembus tulang yang tinggal lagi berupa serpihan2 kecil, retak dan remuk redam…
Sunyi…
Sepi…
Hampa…
Hening…
Hanya diam…
—
Entah seberapa lama aku pingsan. Saat tersadarkan diri, siuman, aku merasa sekujur sendi2 tubuhku patah hingga jadi kepingan2 kecil. Rasanya sakit sekali!
Tapi rasa pedih dalam hati ini bahkan masih jauh lebih sakit lagi…
Mungkin kau takkan pernah mengerti…
Luka lara ini…
Perihnya tak mungkin dapat terobati…
Sambil merintih, mengerang, berkelojotan mengejang, aku meraung meradang!
AAARRRRGGGHHH!!… WUAAAAAAAAAHHHH!!!!
Suaraku bergema lirih di dasar kehampaan. Segera hilang diterkam kesunyian. Bagai harimau terluka, terkoyak, aku menggeram! UURRGGHHH… UAAAAAHHHH!! HHHHHH…. GRRRRHH… Perih! Pedih! Mengernyit kening menahan sakit, bibir tergigit gigi-gigi geram bergemeretak, badan remuk redam, tulang patah, retak, sekujur kulitku penuh luka koyak, basah bermandikan darah, terbuka lebar menganga, mungkin tergesek batu dan tanaman rambat berduri semenurun tebing jurang saat meluncur jatuh dalam sekejap…
Yang masih tersisa mungkin hanya otak. Pusat2 syaraf dan kesadaranku. Itu pun rasanya sudah tak dapat dijamin lagi keutuhannya, karena setelah semua yang aku alami…
Aku rasa aku pasti sudah gila!!!
—
Lamat2 kukumpulkan kesadaranku yang sempat beterbangan bersama kunang-kunang berputar di atas kepala, berhamburan terserak, aku mengais sisa-sisa tenagaku, mencari secercah pelita harapan, mendongak ke langit malam gelap kelam, yang nun jauh menjulang di atas sana hanya berupa titik kecil di ujung bibir jurang yang mengerucut menyempit…
Aku terpuruk di sini…
Dengan susah payah aku menyeret menggeser tubuhku yang lunglai. Perlu 1-2 menit sekedar untuk beringsut. Kepayahan bersandar di dinding tebing, peluh merembesi kening, aku pejamkan mataku. Istirahat barang sejenak, kuresapi jantungku yang berdetak, dag-dug…
Dag-dug…
Dag-dug…
Lemah…
Kubuka mataku perlahan, kerjap2kan…
Aku masih hidup…
Ini bukan mimpi…
Barulah aku mengerti…
Ternyata aku telah terjerembab jatuh jauh terpuruk hingga titik nadir!
Titik terendah, terbawah, dalam hidup!
Dimana aku sudah tak bisa lebih jatuh lagi!!
Dan lihatlah ku disini…
Tubuh rasanya hancur berkeping2, patah semua tulangku, remuk redam, tapi ajaib! Mengapa aku masih tetap hidup? Seakan nasib belum puas tiada henti menertawakan, mencemooh, mencela, mempermainkanku…
Aku mendongak, berteriak, menyumpah serapah marah ke langit!!
MENGAPAAAAAA????!!!
—
Aku merasa begitu letih, lelah…
Lesu, lemah…
Kehilangan semangat, tak bergairah…
Aku hanya ingin tidur saat ini dan melupakan semua…
Tapi bahkan dalam mimpi pun perihnya terasa begitu nyata…
Aku hanya ingin berbaring dan pejamkan mataku…
Saat ini…
Hanya itu…
Tapi bahkan dalam gelapku bayangmu hadir menggentayangiku!
Mengapa kau masih juga mengusikku?!! HEHHH!!
TIDAAAAK!! PERGI KAAAAU!! PERGI SANAAAA!! MENJAUH DARIKU!!
GILAAAAA!! TIDAAAAKKK!!
Bayangmu seakan menertawakanku…
UAAAAHHHHH!! AKU JADI GILAAAAAAAA…. T___________T
—
Menit tenang kemudian…
Saat ketegangan syarafku mengendur…
Ku menggumam sendiri, bertanya2 dalam benak…
Tak adakah tempat di dunia ini,
Bahkan di kedalaman terpencil ceruk bumi tak bertuan, terlupakan ini,
Untuk sekedar sembunyi, melepas lelah,
Menanggalkan semua tentang kamu,
Dan melepaskan ragaku,
Untuk bebaskan berkelana sukmaku…
Meninggalkan jasad kosong yang terbujur letih, rapuh, lalu kaku…
Bersemayam dalam peluk keheningan,
Tengah lelap gelap malam…
Kuangkat cawan khayalan dan bersulang…
Bagi diriku dan kesendirianku!
—
Akhir dari titik nadir…
—
(Bersambung Jo!)