Pagi baru… =)

Hari ini aku memandang dunia dengan cara pandang yang berbeda dari sebelumnya. Ekstasi kegembiraan yang meluap karena berhasil menggubah jurus Dewa Kunang2 kemarin masih terasa mengalir bersama hawa prana menyelimuti tubuh hangat, senyum lebar terkembang menyambut sapa matahari. Harapan menyingsing bersama sang fajar.

Aku tahu…

Waktunya sebentar lagi. Agaknya aku memang tak ditakdirkan berakhir di sini. Dengan ilmu meringankan tubuh yang kukembangkan bersama jurus kunang2, ada kemungkinan aku bisa melompat dan menanjak keluar dari tebing yang tingginya bagaikan menyentuh kaki langit itu, walau tentu dengan tenaga yang tak mungkin sedikit. Tetapi harapan itu tetap ada, seiring cemas jika itu semua hanya mimpi. Tapi harap2 cemas berarti harapku lebih besar dari kecemasan, karenanya aku menguatkan tekad dan semangat. Aku pasti bisa keluar naik ke atas sana!

Namun ada perasaan sedih, ketika harus meninggalkan tempat ini, dasar jurang yang bagai surga kecil ini, setelah hampir satu bulan lamanya terperosok di dalamnya, hampir putus harapan untuk bisa memanjat tebing curam tinggi… Ahh, setelah aku pikir2 lagi, ada berat yang menggayut, bisikan lirih yang merajuk aku agar tetap tinggal di sini. Tak perlu lagi kembali ke dunia fana yang melelahkan dan menyedihkan. Cukup bermandi telaga, bercengkerama dengan kupu2 di siang hari, dan kunang2 di keremangan malam.

Cukup lama silih berganti gambaran2 itu berkelebat di dalam kepalaku. Aku tahu. Aku gembira di sini. Tapi walau di luar mungkin pedih telah menanti, ada dorongan kuat untuk kembali. Tak peduli betapapun akan aku tersakiti, aku merasa aku yang sekarang sudah berbeda dari aku sebelumnya. Aku sekarang sudah jauh lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijak, lebih bisa menahan diri berbesar hati. Sejak aku banyak merenung di sini, aku menyadari dalam banyak hal, ada kalanya aku yang benar, sering pula kesalahan2 bodoh aku lakukan. Aku sadar semua itu proses, untuk mendewasakan diri. Dan aku bersyukur aku diberi kesempatan untuk merenungi semua. Dan semoga dapat memperbaikinya.

Mengingat hal itu, aku menjadi semakin mantap. Aku bagai tengah terlahir kembali. Dan aku mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan cara baruku yang lebih baik lagi. Akankah aku sia2kan kesempatan ini? Tugasku belum selesai. Begitu banyak kesalahan yang harus dibetulkan. Salah paham diluruskan. Kekecewaan yang harus diobati, tidak diulangi lagi. Maaf yang belum sempat aku ucapkan. Senyum yang ingin aku kembangkan lagi. Ikhlas di hati, menerima keadaan dengan apa adanya, dan terus melanjutkan langkah dengan senyum lebar dan hati lapang…

Aku belajar esensi dari jurus kunang2…

Di siang hari aku lelah mengejar kupu2, menyelam dalam telaga, berjemur di atas batu. Saat aku rebah dan malam menurunkan tirainya, seketika pandanganku berangsur lamur memudar, sejauh mata memandang hanya gelap yang kutatap lamat2. Aku memejamkan mata. Diam. Lama. Sunyi. Sepi. Kupikir semuanya telah pergi meninggalkanku. Matahari ternyata hanya bertahan sampai senja. Kupu2? Entah dimana kau kini. Di saat seperti ini, teman sejati hanya sebuah atribut nama yang kutempelkan pada sayap kupu2, namun ia telah berkepak menjauh turut membawanya pergi. Kucoba gantungkan pada matahari, tapi matahari menariknya serta, turun sembunyi hilang di balik tebing curam tinggi, menanggalkan harapanku, meninggalkanku senyap bersama mimpi, dan tidak kembali lagi. Teman sejati hanya harapan kosong, ilusi, bualan mimpi, adanya hampa belaka. Sejatinya aku selalu sendiri…

Sigh… Aku menghela nafas…

Manusia lahir, hidup, lalu mati. Walau selama hidup berinteraksi dengan manusia, alam, makhluk lain, pada hakikatnya manusia tetaplah sendiri. Baik, buruk, sebab, akibat, karma, petaka, bahagia, semua adalah buah dari perbuatan manusia hidup di dunia. Tidak ada yang menanggungnya melainkan diri kita sendiri. Bagian dari perjalanan hidup, sarat cobaan, ujian, tempa tangguh kekuatan, ingatlah bahwa esensi perjalanan adalah terus berjalan! Maka teruslah melangkah! Dalam perjalanan panjang, teman datang dan pergi silih berganti. Semua, seperti kita, punya misi, jalan hidup yang harus mereka dan kita lalui. Dan jalan yang ditempuh tiap orang tak mesti sama. Karenanya sejak senyuman pertama, jabat tangan perkenalan berlanjut persahabatan, hingga lambai sampai jumpa, atau ketika harus mengucapkan selamat jalan, sampai selamat tinggal dan berpisahan, seharusnya disikapi dengan wajar, dan diresapi bahwa suatu saat akhirnya pasti terjadi. Biarkanlah mengalir apa adanya. Mungkin sakit tak terperi, tapi jika kita sadar bahwa esensi persahabatan kekal dan abadi, maka keyakinan itu akan memberi kekuatan dan dorongan untuk kita melanjutkan langkah, berjalan lagi, menyongsong kisah baru dengan senyum lebar terkembang, melepaskan kisah lama, simpan di dalam kenangan, dan terus merangsek maju dengan tekad bulat serta hati lapang… Hingga tiba di tujuan. Akhir dari perjalanan. Akhir dari hidup. Saat kematian menjelang. Saat berpulang. Pada akhirnya kitapun meninggalkan semuanya. Dunia, harta, tahta, wanita, cinta… Tak ada yang kita bawa. Hanya pundi2 amal kebaikan dan timbunan dosa2 kejahatan yang kita pikul, turut mengubur jasad kita yang terbujur kaku dalam tanah. Kembali sendiri lagi. Dalam sesak tak bernafas, di pekat gulita sunyi. Angin kering hembus lirih dalam sepi. Hakikatnya kita selalu sendiri…

Dulu mungkin aku tak akan bertahan, tapi kini aku tidak lagi begitu peduli. Pengalaman “hampir mati” telah mendekatkanku pada kesadaran akan mengerikannya kematian, dan betapa pantas kita menghargai tiap detik2 hembus nafas debar dada detak jantung alir darah dalam tiap sendi kehidupan! Bersyukurlah… Selagi masih bernyawa, bahwa kita masih punya kesempatan! Jalanilah kebaikan, perbanyaklah kebajikan! Tebarkan salam kedamaian di sepanjang perjalanan yang lama dan jauh namun ternyata hanya sependek tarikan sisa nafas terhembus, melangkah di muka bumi! Waktu kita sangat singkat, tugas kita masih banyak! Jangan sedih dan kalah oleh penderitaan kecil, pedih duka lara hati, anggap biasa, sudahlah, tak mengapa! Maafkanlah dan ikhlaskan! Lapang dan berbesar jiwa! Lepaskanlah! Biarkan dia menjemput kebahagiaannya, berbahagialah untuknya! Iringi kepergiannya, kenanglah kebaikannya! Dan jangan engkau khawatir, karena masih banyak kebahagiaan untukmu terserak dalam bentuk lain, berlimpah reguk telaga menanti untuk diciduk sepuasnya untuk menghapus dahaga, kebahagiaan sesungguhnya banyak bertebaran, ada di sekitar kita! Cara termudah meraih bahagia adalah dengan membagi kebahagiaan dengan orang lain! Karenanya berbagilah! Jangan pelit dengan senyum! Buat mereka bahagia! Tersenyumlah! Tertawalah! Lepas saja! Bergembira! Wakakaka =D Biarkan senyum mereka terkembang membalasmu lalu sapalah dengan ramah! Bisa jadi itulah awal kisah baru penghapus duka luka kisah lama! Cerialah! Gembiralah! Menari bersuka ria! Wahahaha =D Bertepuk tangan menyanyi dan tertawa terbahak2 bersama! Wakakaka =D

Kunang2 muncul satu2 dalam kegelapan. Tergoda oleh tawa, turut bersuka membagi redup nyalanya! Kelip demi kelip kecil, tetapi semakin lama makin banyak! Gelap jadi benderang, walaupun samar, tapi kehangatannya terasakan begitu tulus! Mereka semua datang menyambutmu! Mereka ingin berteman dan bermain bersamamu! Kunang2 berputar2 menari! Suaranya kecil nyaris tak terdengar, tapi dengung nyanyian kawanan kunang2 bergema di dasar jurang ini, nyanyian kebersamaan, saling berpegangan tangan, mereka berbahagia. Kau lihatlah! =) Ternyata kau tak benar2 sendiri! Kunang2 bagai sahabat sejati. Saat siang, kau cenderung mengabaikan, bahkan tidak menyadari hadirnya sama sekali. Karena terpesona keanggunan indah elok gemulai tari kupu2, engkau sibuk mengejarnya, lari kesana kemari. Sementara kunang2 terdiam bersembunyi di balik daun. Tapi kunang2 tetap menemani. Walau bisu tanpa kata, tubuhnya ada disini. Saat malam menghampiri, kala larut telah sepi, dan kau merasa ditinggalkan sendiri, kupu2, bahkan bulan, bersembunyi, kunang2 hadir menawarkan ketulusan hangat pertemanan! Dalam bayangmu kunang2 menjelma, jadi sosok manusia! Sahabat yang bagai lama tidak jumpa. Seolah terasa dekat, sangat akrab, walau baru saja engkau mengenalnya! Sekumpulan kunang2 di tengah malam menjelma bagai Pinokio jadi manusia! Cinderella jadi puteri hingga datangnya pagi! Tunggu apalagi kawan?! =D Nyalakanlah api unggun! Bersama gemeretak ranting kering kayu terbakar, ditingkahi gemericik deras air terjun di atas bebatuan tenggelam di telaga, menari bersama2! Wiiiiiiyyy…. HAHH!! ^^;v Berjingkrak berputar2, melolong bersahut2an, bagai sekumpulan serigala yang lapar, auuuuuuwww… Wahahahah! =D Menikmati malam panjang selagi bersama kawan2 bersuka ria berpesta pora! Malam pun enggan bergulir menikmati indahnya kebersamaan. Hingga kau merasa kaki tak sanggup lagi berdiri, dan kantuk menggelayuti, jelang pagi, keajaiban hampir habis bersama butir kuarsa tersisa di jam pasir, kebahagiaan menjelang berakhir, tapi engkau tak peduli! Karena kau sudah puas! Kalian semua lelah, terjatuh, berjatuhan, lalu ambruk, tepar, terkapar! Dan tak bersuara lagi! Hahahaha =D Desau angin dingin tertawa ngeri dalam nuansa menggidikkan, meninggalkan kesunyian, melengking di kejauhan, semakin lama menjauh hilang dalam kegelapan…

HUAAHAHAHAHAHAHAAA… =D

Tesss…

Tetes embun dingin sejuk menyapaku dengan lembut. Ah, selamat pagi, Kawan! =)

Kukerjap2 mataku, masih ngantuk, oaahhhmm… Merem lagi aahh… ^^; Nymm-nymm-nymm…

Tesss…

Embun kembali perlahan menggugahku. Ya ya ya, udah bangun kok… ;p Tetes embun pagi hari… Pagi ini… Aku duduk, mengucek2 mataku. Ini nyata. Bukan mimpi… Hatiku terasa damai. Sesejuk dan lembut tenang embun pagi. Tanpa sadar senyum menghias bibirku. Ischyenk, kusentil perlahan ujung daun, tesss… Setetes jatuh di telapak tangan. Hmm… Coba kau rasakanlah… Nikmatilah… Resapi tiap tetesnya… Hayati dinginnya, dan coba maknai hakikatnya. Walau aku sadar pagi ini kusendiri lagi, tapi kebersamaan sejenak yang aku alami, bersama sahabat2ku kunang2 kecil yang tidak berumur panjang, hanya sepenggalan malam, namun indahnya persahabatan sesaat itu berkesan panjang, kekal selalu kukenang, lebih panjang dari umur kunang2 yang memang tak pernah panjang… Dalam hidupnya yang singkat, kunang2 ternyata tak lupa untuk hidup dengan bahagia! Dalam kelemahan dan segala keterbatasannya, ia tahu caranya menjalani dan menikmati hidupnya yang singkat dengan bahagia! Dan lebih mulia lagi, dengan senang hati kunang2 membagi pula kebahagiaan dan cahaya hangat bersama kita!

Aku belajar dari kunang2, terima kasih Sahabatku…

Aku yang sekarang telah mulai bisa menyelami. Biar apa adanya aku jalani. Yang terjadi memang harusnya terjadi. Yang sudah biarlah. Esensinya yang aku resapi. Hikmah yang aku senyumi. Jika masih tersisa nafasku untuk hari ini, akan kuhembus lega, sambut gembira. Sisa hari kujalani dengan langkah mantap pasti. Apapun yang kan terjadi, tetap akan kunikmati. Menjadi sendiri itu tidak jelek. Kadang aku merasakan kebebasan tanpa ada yang mengekang, bebas untuk menjadi siapapun yang aku mau, tapi yang terbebas memang hanya dengan menjadi diri sendiri. Tak apa kok! Aku sudah amat puas! Bebas! Lepas!!… Berkelana bersama angin, loncat dari satu daun menotol ke daun yang lain, terbang kemana suka dan bergembira. Tidak jelek2 amat. Sahabat datang dan pergi. Jika sahabat datang, akan kusambut ia dengan tangan terbuka, lapang dan senang hati. Jika ada saatnya ku berjalan seorang diri, kenyang berbekal kenangan, manis walau tanpa gula, akan tetap kujalani dengan hati yang berseri, tak ada teman pun jadi…

Aku terus melangkah dan berkelana…

Tapi mungkin itu nanti! Karena saat kesadaran kembali, ternyata aku masih lelap di sini. Terperangkap dalam jurang dalam sepi. Ahh! =D Memang tak mungkin juga selamanya ku disini. Aku harus berusaha keluar, memang ditakdirkan untuk menjadi ksatria lelana. Karenanya tunggu saja semuanya! Saatnya Kido kembali!! =D Dan saat tawaku datang menggema di kejauhan, semua telinga terjaga, mata akan terbuka, bersiaplah menerima…

Jurus Dewa Kunang2 akan menggemparkan Kang-Ouw!! ^__________^;v

WAHAHAHA =D WUAAAHAHAHAHAAA… =D

Kido Kamen =)

(Mas, bangun Mas! ^^; Filmnya habis, bersambung episode berikutnya!)

Oh iya ya?! ;p~