A Walk 2Wards…
Uncategorized April 17th, 2006Breakin’ News! =)
QT hentikan dulu pencarian Kido akan esensi perjalanan hidupnya. Kido mo share sesuatu, "temuan" lain lagi yang sedikit banyak bisa menjelaskan, alasan kenapa Kido menulis cerpenbung semi-error pada blog sebelumnya ^^; Latar belakang cerita, hingga proses "pencapaian" yang Kido alami setelah mengalami interaksi dengan kunang2 di dasar jurang, yang menghasilkan gubahan jurus Dewa Kunang2! Hohohoho ^^;v
Ada 1 buku bagus, dibeliin nyokap sepulang dari Jawa 2 bulan lalu, usai melayat paman, kakak dari ayah Kido yang meninggal, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun… Satu fase berat yang harus dihadapi ayahku, karena persis sebulan sebelumnya, kakak tertua meninggal, tak lama menyusul kakak yang kedua… Yach, QT ga tau umur manusia khan?
But, it was sad moments, true, SPCLE when I saw my Dad broke down n couldn’t help but cry outloud, I felt S stabbed deep in my heart, took hours 2 made him stop shakin’ n dried up his tears, calm down finally… I did know just how he felt then, 2 lost sum1 we really love n care about… Ini juga salah satu hal yang menyadarkan Kido, betapa umur manusia bisa jadi sangat singkat, dan kematian datang sekelebat, menjemput siapa saja, orang yang QT cintai, orang yang dekat di hati, bahkan siapa yang tahu kapan giliran diri QT sendiri, lambat atau cepat, siap tidak siap…
NEway, judulnya "Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, telaah atas pemikiran psikologi humanistik Abraham Maslow" yang ditulis Hasyim Muhammad. QT ga akan bicara soal kematian, karena di kisah blog sebelumnya, ternyata Kido masih belum boleh "mati" ^^; Malah dengan menggubah jurus Dewa Kunang2, terbetik harapan baru, untuk keluar dari jurang, untuk "hidup kembali"! Kesempatan kedua memperbaiki hidup dan kembali ke dunia nyata nun tinggi "di atas sana"…
Maka penggalan berikut yang disarikan dari buku tersebut, akan menggambarkan kira2 tentang kondisi yang kurang lebih sama dengan yang Kido rasakan, usai berhasil "mencapai" penggubahan jurus Dewa Kunang2! ^^; 1 fase yang menjelaskan, bagaimana orang2 yang telah mencapai titik "self-actualization" bisa mencapai titik puncak tertentu yang oleh Maslow disebut "Peak Experience"… What is d@? Sounds interesting?
Qp on re-Dn 2 find out yeow…
—
Masih ada yang ingat teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow? Dalam bukunya “Toward Psychology of Being” (1964) Maslow menyebutkan bahwa tingkah laku manusia dapat ditelaah melalui kecenderungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bermakna dan terpuaskan. Untuk itu, Maslow menempatkan motivasi dasar manusia sebagai sentral teorinya.
Manusia memiliki sifat dasar yang tidak akan pernah sepenuhnya merasa puas, karena kepuasan bagi manusia adalah bersifat sementara. Ketika suatu kebutuhan terpuaskan, maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi nilainya, yang menuntut untuk dipuaskan, begitu seterusnya. Untuk itu Maslow memiliki gagasan, bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetik atau naluriah. Kebutuhan dasar tersebut tersusun secara hirarkis dalam lima strata yang bersifat relatif, yaitu:
- Kebutuhan fisiologis (fa’ali)
- Kebutuhan akan keselamatan (rasa aman)
- Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki
- Kebutuhan akan harga diri
- Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) adalah kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup manusia, sehingga pemuasannya tidak dapat ditunda, contohnya makan, minum, dan seks. ^^; Iya, betul! Itu penting lho! Untuk kelangsungan eksistensi manusia di dunia, cuma yang membedakan QT dengan hewan tentu saja bahwa pelampiasan nafsu seks ini haruslah terkendali, tidak langsung main hajar!! ;p Beretika, pakai norma, berharkat terhormat, mempunyai aturan susila, melalui perkawinan yang sah menurut agama maupun undang2 pemerintahan =) Tentu saja binatang gak perlu ke KUA dulu, sembarang tempat pun, asal nafsu, jadi!! ;p Kalo QT manusia, tentu gak akan berbuat se-binatang begitu khan?
Adapun orang yang lapar, tentu tak akan terpengaruh dengan motivasi lain sebelum kebutuhan perut telah terpuaskan. Dorongan yang kuat untuk makan dapat membuat seseorang melakukan tindakan apapun, bahkan yang tak wajar seperti membunuh, mencuri, memakan sesuatu yang tidak biasanya dimakan, pada situasi kelaparan orang dapat cenderung berbuat kejahatan, nilai2 moral manusia yang dipegang bisa jadi sirna, karena kebutuhan perut mendesak! Inilah bahaya jika kebutuhan dasar tidak terpuaskan.
NEway, jika kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi, maka manusia akan mencari pemuasan kebutuhan tingkat berikutnya, dalam wujud the need for self-security (kebutuhan rasa aman), wujudnya bisa berupa keamanan, kemantapan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas2 jelas, kekuatan pada diri pelindung, dll. Pemahaman akan kebutuhan keselamatan dapat secara jelas terlihat pada perilaku anak2. Karena anak2 akan memberikan respon secara total terhadap kebutuhan keamanannya. Mereka tak akan menutupi reaksinya, tidak seperti orang dewasa yang terbiasa dan cenderung menutupi menahan diri sehingga sulit diketahui dari luar oleh orang lain. Apabila anak2 tiba2 diganggu, dilepas, melihat kilatan sinar, mendengar suara nyaring, rangsangan syaraf yang tak biasa dirasakan, mereka akan langsung bereaksi secara spontan seakan2 keselamatan mereka terancam. Seorang anak membutuhkan suasana ketertiban, keserasian, irama teratur. Keadaan tidak adil, tidak wajar atau tidak konsisten pada diri orang tua akan secara cepat mendapatkan reaksi dari sang anak. Ia akan merasa cemas, tidak aman, tak nyaman. Oleh karenanya, kehidupan keluarga yang harmonis dan normal adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditawar2 bagi seorang anak. Percekcokan, perceraian, ungkapan amarah, tekanan fisik dan kematian adalah hal yang sangat menakutkan bagi anak2. Dari pengamatan terhadap perilaku anak disimpulkan bahwa secara umum masyarakat QT lebih membutuhkan suasana tertib, teratur, taat hukum, dapat diramalkan, serasi, daripada suasana bebas, tak dapat diatur, tak disangka2, dan segala seuatu yang tak terjadi secara normal. Inilah makna dari kebutuhan akan rasa aman tersebut.
Level berikutnya, setelah kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, seseorang merasakan dorongan untuk menjalin hubungan relasional secara efektif atau hubungan emosional dengan individu lain, baik yang berada di dalam lingkungan keluarga maupun yang dari luar. Dorongan ini terutama adalah untuk memiliki tempat di tengah2 kelompok, yang akan menekan sedemikian rupa sehingga ia akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan perasaan saling mencintai serta rasa saling memiliki (need for love and belongingness). Seorang individu akan ditimpa perasaan keterasingan dan kesepian yang luar biasa ketika ia jauh terpisah dari keluarga, teman, kelompok, atau pasangan hidup. Misalnya orang yang sedang berada di perantauan. Dalam keterasingannya, ia akan terdorong untuk secepatnya mendapat relasi2 baru, atau masuk dalam 1 kelompok di perantauan, hingga ia mendapatkan perasaan saling cinta dan memiliki di antara mereka. Kebutuhan akan rasa cinta sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan kemampuan seseorang, yang jika tidak terpenuhi atau terhambat maka akan dapat menimbulkan salah penyesuaian. Gejala haus cinta sama seperti orang yang kekurangan vitamin atau kurang gizi, tergolong defisiensi. Perasaan saling percaya dengan hubungan sehat penuh kasih adalah bagian perasaan cinta sesungguhnya. Tanpa adanya perasaan saling percaya, hubungan cinta seseorang akan menjadi rapuh, rusak. Kebutuhan cinta yang mendalam adalah meliputi cinta yang memberi serta cinta yang menerima. Sebagian besar dari QT, rasanya pasti pernah mengalami indahnya jatuh cinta, atau betapa pedihnya patah hati ^^; Tidak perlu malu, itu adalah hal wajar dan sangat alami, karena QT semua ingin dapat dicintai, sebagai kebutuhan mendasar dalam hidup ini. Karenanya perlu diperhatikan agar QT tidak salah penyesuaian, pahami dulu hakikat arti cinta. Maslow sepakat dengan Karl Roger yang mendefinisikan cinta sebagai “keadaan dimengerti secara mendalam dan menerima dengan sepenuh hati”. Sekali lagi, ditinjau dari konsep motivasi dan hirarki kebutuhan, keadaan itulah yang ingin QT dapatkan dalam hubungan QT saling mencintai. Sudahkah QT dimengerti mendalam dan menerima apapun keadaannya dengan sepenuh hati?
Don’t ask me! Silakan dijawab sendiri… ;p
Kebutuhan lebih tinggi berikutnya, menurut Maslow adalah kebutuhan akan harga diri, the need for self-esteem. Kebutuhan ini berasal dari dua hal: Pertama, keinginan akan kekuatan, prestasi, kecukupan, keunggulan, kemampuan, dan percaya diri; Kedua, nama baik, gengsi, prestise, status, ketenaran dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian, arti penting, martabat, atau apresiasi. Kategori pertama berasal dari diri sendiri, dan yang kedua dari orang lain. Seseorang yang memiliki harga diri memadai akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, lebih produktif. Sementara orang yang kurang memiliki harga diri akan diliputi rasa rendah diri dan rasa tak berdaya, yang berakibat pada keputusasaan dan ditampakkan dalam perilaku neurotik. Bagi Maslow, harga diri yang stabil dan paling sehat tumbuh dari penghargaan yang wajar dari orang lain, bukan karena nama harum, kemasyhuran, dan sanjungan kosong.
Nach, QT sekarang sudah selangkah lebih dekat ke topik utama dalam blog kali ini! ^^; Masih pengen terus baca tah?
Emangnya dah pada lunch? Kido belum sich, tapi gpp, sedikit lagi dech, NEway, tnQ 4 re-Dn… =)
—
Meskipun seorang individu telah dapat memenuhi kebutuhan2 baik fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, serta rasa harga diri, nyatanya ia masih akan diliputi oleh perasaan gelisah serta tidak puas! Ketidakpuasan ini berasal dari dorongan dirinya yang terdalam, karena merasa ada kualitas atau potensi yang ada pada dirinya belum teraktualisasikan! Seorang yang memiliki potensi sebagai penyair akan diliputi perasaan tidak puas tatkala belum menuliskan atau mengumandangkan bait2 syairnya. Seorang musisi belum akan merasa tenteram sebelum mengalunkan nada2nya. Begitu pula seorang rohaniwan belum akan merasa tenang jika belum menyebarkan dakwahnya, begitulah seterusnya.
Pada intinya seorang individu pada akhirnya akan dituntut untuk jujur terhadap segala potensi dan sifat yang melekat di dalam dirinya. Ia termotivasi untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa pengaruh maupun tendensi apapun dari luar diri. Ia hanya ingin menjadi dirinya. Kecenderungan ini dapat diwujudkan dengan kehendak untuk menjadi semakin istimewa, menjadi apa saja sesuai kemampuannya. Untuk itu aktualisasi diri pada bentuknya berbeda antara satu orang dengan lainnya.
Ya benar, kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow adalah dorongan untuk mengaktualisasikan dirinya! Dorongan untuk aktualisasi diri tidak sama dengan dorongan untuk menonjolkan diri, atau keinginan untuk mendapatkan prestise atau gengsi, karena jika demikian, sebenarnya dia belum mencapai tingkat aktualisasi diri! Ia masih dipengaruhi oleh sesuatu dari luar atau tendensi tertentu! Aktualisasi diri dilakukan tanpa tendensi apapun. Ia hanya ingin menjadi dirinya, bukan yang lain! Meskipun hal ini bisa diawali atau didasari dari pemenuhan kebutuhan pada tingkat di bawahnya.
Diakui oleh Maslow bahwa untuk mencapai tingkat aktualisasi diri, seseorang akan dihadapkan pada banyak hambatan, internal maupun eksternal. Hambatan internal, yakni yang berasal dari diri sendiri, antara lain berupa ketidaktahuan akan potensi diri sendiri, keraguan, dan juga perasaan takut untuk mengungkapkan potensi yang dimiliki, sehingga potensi tersebut seterusnya terpendam dan tidak tercuatkan. Hambatan eksternal dapat berasal dari budaya masyarakat yang kurang mendukung terhadap upaya aktualisasi terhadap potensi yang dimiliki seseorang karena perbedaan karakter di masyarakat.
Abraham Maslow mendasarkan teorinya tentang aktualisasi diri pada sebuah asumsi dasar, bahwa manusia pada hakikatnya memiliki nilai intrinsik berupa kebaikan. Dari sinilah manusia memiliki peluang untuk dapat mengembangkan dirinya. Perkembangan yang baik sangat ditentukan oleh kemampuan manusia untuk mencapai tingkat aktualisasi diri. Berbeda dengan kebutuhan2 sebelumnya yang didorong oleh kebutuhan dasar (basic needs), aktualisasi diri dimotivasi oleh kebutuhan yang bernilai tinggi, yang diistilahkan Metamotivation atau B-Values (Being Values). Menurut Maslow, kebutuhan manusia didorong oleh 2 bentuk motivasi, yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motif pertumbuhan (growth motivation). Motif kekurangan ditujukan untuk mengatasi ketegangan2 organismik yang disebabkan oleh “kekurangan” seperti lapar (kurang makan), haus (kurang minum), takut (kurang rasa aman), dsb. Nach, Metamotivation yang antara lain berupa nilai2 kebenaran, kebaikan, keindahan, sifat hidup, individualitas, kesempurnaan, sifat penting, kepenuhan, keadilan, ketertiban, kesederhanaan, sifat kaya, sifat penuh permainan, sifat mencukupi diri, sifat tanpa usaha, sifat penuh makna, serta banyak jenis yang lainnya, semua inilah yang tergolong motif perkembangan; yang walau berbeda dengan basic needs, tapi jika tidak terpenuhi atau terhambat akan mengakibatkan suatu kondisi yang diberi istilah Metapathology, yang wujudnya bisa berupa disintegrasi, keputusasaan, tak bisa bekerja atau melakukan apa2, kehilangan motivasi, tenaga, selera, semangat, emosi, berhenti berjuang, kelelahan, ketidaklengkapan, kemarahan, sinisme, ketidakpercayaan, pelanggaran hukum, sama sekali mementingkan diri sendiri, egoisme tinggi, menjadi robot, depresi, kegelisahan, ketegangan, kejanggalan, kecanggungan, kekakuan, terlalu kompleks, kekacauan, kebingungan, kehilangan orientasi, kekasaran, rasa suram, kebencian, penolakan, kejijikan, kepercayaan hanya pada diri dan untuk diri sendiri, perasaan diri yang berubah2 atau cenderung anonim, kacau balau tak menentu, skeptisme, tanggung jawab dibebankan ke orang lain, dan masih banyak lagi sifat lainnya yang tentunya amat sangat menyedihkan dan berbahaya jika sampai harus QT alami dan miliki.
Beberapa metapathology di atas sejujurnya pernah Kido alami, sebagai respon negatif akibat kehilangan seseorang yang, yach, memang cukup berarti… Dalam arti orang yang Kido cintai ^^; dan bukan berupa cinta pada bagian keluarga atau sanak kerabat, tapi pada orang lain di luar lingkungan keluarga QT, cinta antara dua hati dan jiwa yang berbeda, terlalu jauh berbeda sebenarnya! ^^; Tapi tulus dan mendalam, begitulah yang setidaknya dari Kido rasakan, satu bentuk cinta yang kata Thio Bu Ki “telah tercetak di jantung dan terukir di tulang…” ^^; Cinta sejati? He3 ga tau dech, udah ga bisa berkata2 lagi, won’t change a thing, so I guess same with U, ehmm, no comment dech!! ;p
Lho? Sik3! Tapi bukannya kebutuhan akan cinta dan memiliki itu hirarki yang nomor 3? Bukankah setelah QT memasuki hirarki ke-5 yang tertinggi dalam teori Maslow, berarti kebutuhan akan cinta selayaknya telah terpuaskan, terpenuhi?!
Nach, disinilah uniknya memasuki fase tertinggi yakni pemenuhan metamotivasi untuk mengaktualisasikan diri =) Dalam metamotivasi tidak lagi dikenal ada hirarki, setiap nilai yang ingin dicapai amat bergantung pada kebutuhan personal yang tentu berbeda dalam diri tiap orang. Karena itulah, wujud aktualisasi diri tiap orang pun tidak ada yang sama!
Dalam proses pertumbuhannya, manusia dihadapkan pada dua pilihan bebas (free choices) yakni pilihan untuk maju (progressive choice) atau mundur (regressive choice), yang akan mengarahkan manusia menuju kemajuan atau kemunduran. Pilihan2 maju dan mundur yang dibuat manusia adalah ukuran yang menentukan arah perjalanan hidupnya, semakin banyak manusia menentukan pilihan untuk maju, akan semakin mendekatkannya pada aktualisasi diri. Sebaliknya, pilihan mundur hanya akan membuatnya semakin jauh dari fase pemenuhan kebutuhannya yang paling tinggi. Dengan demikian dapat dijelaskan mengapa walaupun kebutuhan dasar masih belum terpenuhi, dalam keadaan mendesak, memaksa, seseorang bisa pula tergerak untuk memenuhi lebih dulu metamotivasinya! Bahkan seorang yang teramat butuh mengaktualisasi diri bisa sampai lupa makan lupa minum, berhari2 tak tidur, karena ingin segera dapat menghasilkan suatu karya bernilai tinggi yang dapat memuaskan kebutuhannya akan pencurahan ekspresi potensi dalam diri yang terpendam!
Seperti Cheung Kwan Bo di Tai Chi Master (yang diperankan Alex Man pada serial TV-nya, dulu banget diputer di RCTI ^^;) alias Thio Kun Po, atau namanya yang terkenal, Thio Sam Hong, pencipta Thay-Kek Kun (Tai Chi Cuan), dalam sejarah! Dat Mo yang mencipta Kungfu, Buddha Gautama dengan pencerahan Boddhidharma, atau Beethoven dengan komposisinya, Shakespeare dengan karyanya, Leonardo Da Vinci dengan lukisan Monalisa, Thomas Alva Edison dengan ribuan penemuan, Galileo dengan Heliosentris yang kontroversial dan ditentang gereja, atau Albert Einstein dengan Relativitas-nya, dan tentu saja bagi umat Islam, Nabi Muhammad, dengan kebersahajaannya dan akhlak terpuji serta mulia, mampu mengubah sejarah wajah kelam peradaban manusia dengan menebarkan salam perdamaian! Semua orang besar pada zamannya yang meninggalkan buah2 karya yang monumental, karya cipta sedemikian biasanya hanya dapat diciptakan oleh orang yang mengenali potensi dirinya, melakukan perenungan mendalam, pencarian sejati dalam relung diri, seperti Buddha yang bermeditasi di bawah pohon Boddhi, atau Nabi2 dalam Islam yang memang gemar ber-khalwat, menyendiri dalam gua, ditempa dengan kesabaran, hai! Mungkin karena itu ya, semua Nabi2 pada masa mudanya selalu jadi gembala?! Karena mereka dipersiapkan untuk membimbing umat manusia kembali pada-Nya, untuk mengenali Tuhan yang telah menciptakan QT semua, melalui langkah2 perenungan hasil karya masterpiece-Nya, segala keindahan yang serasi dan seimbang tanpa cela tiada tara di dunia, Tuhan yang hanya 1-1nya yang pantas disembah, namun sebagian besar dari QT mungkin lalai atau lupa! Atau malah belum tahu? Haree genee?!! T_T Hanya manusia yang mampu mengenali dirinya, mampu mengenal Tuhannya! Hai, manusia… Lamat2, dah mulai inget belum?!
—
NEway, pencarian jati diri itu sebegitu rumitnya, namun bagi orang yang telah mampu mengaktualisasi diri, mengenali potensinya, memahami kelebihan serta kekurangan dan segala keterbatasannya, kesadarannya menuntunnya untuk terus mencari hingga tiba pada titik tertentu dan menemukan “sesuatu”! Temuan yang berciri unik dan khas bercita rasa personal, citra simbolis, wujud sejati dirinya! Mencapai tingkatan yang sulit untuk orang biasa, tak jarang teramat baik, begitu tinggi serta luhur berbudi, hingga dapat dikatakan telah mencapai fase puncak pencapaian atau telah mengalami apa yang oleh Maslow diistilahkan dengan “Peak Experience”…
Luar biasa!! Namun memang, begitulah adanya… =)
Nach, tema tentang “Peak Experience” inilah sebenarnya yang ingin Kido angkat, untuk menjelaskan tentang kondisi kejiwaan yang Kido alami (cieee ^^;) setelah melalui tahap2 perenungan, pengapresiasian, hingga peleburan, bersatu diri menyelaras dengan alam, menciptakan kondisi ideal bagi jiwa raga hingga dapat (ceritanya ;p) menggubah jurus yang dahsyat, gubahan Kido sendiri, yang sesuai dengan kondisi dan cita rasa Kido saat ini, itu tadi…
Jurus Dewa Kunang2! ^^; Berikut filosofinya…
Stay stick with me, l@’s g@ it Oooonn!! ^^;v
Kido Kamen =)
—
Euh, krucuk… Udah jam 3 lewat nich, break dulu gpp ya? Lom makan chyaank… ^^; Tar lanjutin lagi, oche?
Tararengkyu, n semoga bermanfaat… =)