Jurus Pemuncak…
Uncategorized April 17th, 2006-) Lho, kok bekal sarapannya baru dimakan sekarang?
+) He3, keasyikan ngeblog jadi lupa makan dech! ^^;
-) Wahh, menafikan deficiency motivation, mengejar B-values untuk growth, mencapai “peak experience”, tanda2 orang yang sedang mengaktualisasikan diri nech! =D
+) Hue3 =D Dasarrrrr! ;p BLETAK!! @~* Bisa aja kamu! ^^;
-) Khan udah belajar jurus sampai tahap ke-5 lho!
Udah siang nich Om! Katanya mo ajarin Ogi (level tertinggi) perguruan Dewa Kunang2 QT? ^^;
x) Iya Om! Yang keren yaa! Kaya “Amakakeru Ryu No Hirameki”-nya Kenshin Himura di Samurai X! Hiyaaaaattt… Keren lhoh!! ^^;v JREENGG!!
+) GUBRAK!! @~* Ihik… Iyaa! (Nymm3 ;p) Ntar dulu yaa! Tunggu matahari sampai tepat di atas kepala… (Nymm4… ;p Sebenernya sich sampe gw selesai menghabiskan sarapan, glek! ^^;) OK siaaap??! Sebelumnya coba hafalkan kembali kouw-koat (teori dasar) ke-5 level hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow!
y) Saya! Saya! Level 1: Kebutuhan fisiologis!
x) Level 2: Kebutuhan akan rasa aman!
+) Bagus! Terus…
w) Level 3: Kebutuhan akan cinta serta rasa memiliki!
v) Level 4: Kebutuhan pengakuan harga diri!
-) Level 5: Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri!
+) Bagus! Kalian memang pintar semua! Nach, sekarang bersiaplah… Pasang kuda2, hmmh… Pusatkan nafas kalian di tantian (pusar), yak! Mulai, tarik nafaaaas… Huuupp… Tahannn!!… Kido akan mengajak teman2 setelah melalui pendakian ke-5 tingkat dasar tersebut, untuk menembus tabir dan memasuki tahap pemuncak, level spiritual (cieee) yang akan setiap orang alami dengan pengalaman berbeda, tergantung pencapaian dan kesejatian diri masing2! Inilah jurus gabungan Dewa Kunang2 dengan teori hirarki kebutuhan Maslow! ^^;
y,v,w) @~* @~* @~* …
(Ds is side story of Kido’s pre-Vs VcZn… Ceritanya maju 3 taon ke depan! Kido tengah berupaya mengembangkan jurus Dewa Kunang2 gubahannya untuk dipadu dengan teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow, walah! Coba dech! ^^; Kok bisa?… =O) (Ya bisa donk! Ini khan blog gw, suka2 aja! Hihihihi… ^^;)
v,w,x,y,-) @~* @~* … (muka memerah) @~* @~* @~* … (kaya kepiting rebus!)
+) Apa anaq2?! Oya lupa!! ;p HEMBUUUSSSSHHH!!! ^^;
PHEEWWWW…. FFFFFHHHH… X-(
BLETAK-BLETAK-BLETAK-BLETAK!! @~* @~* @~* @~*
—
Tengah hari, Kido dan murid2nya (bukan murid, sama2 belajar koq! ^^;) tampak serius, diam, berdiri dengan sikap tegak sempurna, hening tak bergerak, menatap langit, menanti matahari tiba di titik kulminasi, saat yang tepat untuk memulai gerakan menuju puncak, dengan kekuatan sendiri, tanpa bantuan kiriman SMS dari penggemar yaa! ^^;
Ah berdiri terus lama2 capek ya? Boleh duduk lagi dech! (GUBRAK!! @~*) Alrite2! ^^; Semua bersila… Kosongkan pikiran… Dengarkan… Renungi… Pelajari dan resapilah teori tahap puncak…
Jurus Dewa Kunang2…
QT mulai…
—
Abraham Maslow, bapak psikologi humanistik dalam bukunya “Toward A Psychology of Being” (1964) mengungkapkan karakter kepribadian (identity) dari orang2 yang tengah mengalami pengalaman puncak (peak experience) antaranya tampak sebagai berikut:
a) Seorang individu dalam pengalaman puncaknya merasakan dirinya lebih menyatu (integrated) baik dengan dirinya sendiri, lingkungan, maupun dengan alam! Ketika dilihat oleh peneliti yang mengamati kepribadiannya, ia tampak menyatu, tanpa perasaan iri hati, tak ada yang bertentangan dengan pribadinya, damai, tidak ada dendam atau dengki antara dirinya dengan yang mengamatinya, lebih terfokus pada tujuan tertentu, lebih serasi, efisien, sinergi, dan tak memiliki friksi internal…
-) Apa itu mungkin QT alami Om?
+) Mungkin saja! We’ll NFR know until we XPriNs, rite?
Sudah adakah dari kalian yang mencapai kondisi (state) ini? Belum pun tidak mengapa… NEway, lanjut lagi ya! Tanda2 berikutnya…
b) Dengan karakter keluguan yang ada pada dirinya, ia menjadi lebih dapat melebur dengan dunia, dengan segala sesuatu yang secara formal bukan merupakan pribadi. Sebagai contoh, seseorang yang mencinta lebih merasa sebagai satu kesatuan daripada sebagai 2 orang pribadi yang berbeda. Seorang pencipta (creator) lebih merasa menyatu dengan apapun yang diciptakannya, musisi lebih menyatu dengan musiknya, seorang ibu lebih merasa menyatu dengan anak2nya, seorang astronom lebih menyatu dengan bintang2 yang diamatinya. Semua itu merupakan pencapaian terbesar dari “identity” (Identitas dalam mencapai Peak-Experience)
x) Berarti QT sudah sampai tahap tertinggi ya Om?!
+) Masih belum!
Selama masih ada identitas, berarti masih ada sifat ke-AKU-an! Itu berarti dirinya masih belum bisa lepas dari tendensi serta hasrat pribadi! Coba hilangkan ini, dan meleburlah menyelaras dengan alam, jadilah bagian dari alam, mengalir bersama air, berhembus dengan angin, tegar berdiri bagai batu karang! Lalu jatuh dan melayang dengan ringan bagai daun2 rontok berguguran… Fleksibel, namun alami… Membaca suara alam… Mendengarkan dengan hati…
y) Itu kayanya ga ada di teori Maslow ya Om?
+) Ini bagian dari filosofi jurus Dewa Kunang2 sich… ^^;
c) Seseorang yang ada pada puncak pengalaman biasanya merasakan dirinya ada di puncak kekuatannya, dengan menggunakan seluruh kapasitas yang dimiliki secara penuh! Merasakan dirinya berfungsi secara penuh (fully functioning), ia jadi merasa lebih cerdas, lebih peka, lucu, kuat, dan mulia dibanding waktu yang lain! Ia merasa ada di puncak kepribadiannya! Yang hal ini, sekali lagi, tidak hanya dirasakannya secara pribadi, namun juga dapat diamati oleh orang yang menelitinya!
d) Tidak mengalami kesukaran atau penurunan fungsi, sehingga tidak ada usaha yang terlalu keras, pemaksaan diri atau perjuangan, sebagaimana yang terjadi pada waktu yang lain. Pencapaian kekuatan dan kondisi terbaik yang ada pada dirinya seakan datang mengalir dan bergelombang hebat bergulung dengan sendirinya. Hal ini ditunjukkan dengan keadaannya yang tampak sangat tenang, seakan2 ia sepenuhnya sadar dan mengetahui secara tepat apa yang dilakukan, serta melakukannya dengan sepenuh hati tanpa ada kesukaran, keraguan, kebohongan…
y) Hebaaat!! Koq bisa gitu ya?
x) Iya! Kaya Thio Sam Hong! Berarti dia udah sampai tahap puncak ini ya?
+) Ya! =) Kalau ditelaah dari kisahnya, sepertinya Thio Kuncu sudah menguasai tahap sempurna dari pemahaman diri, mencapai pengalaman puncak atau peak experience, maka jika benar telah ada yang pernah membuktikan dengan mengalaminya, berarti teori ini bukan cuma omong-kosong!
-) Kalau gitu jangan2 Kakek Maslow pun bisa Jurus Pemuncak?
+) Kurang lebih bisa dibilang begitu! ^^; Tapi bukan berarti bisa silat lho! Karena tiap pencapaian puncak akan mengambil wujud yang khas, yang lain dari yang lain, yang berlainan bentuk dengan yang lain, tergantung pada kesejatian diri dan identitas yang unik pencapainya. Jika benar demikian, berarti Maslow pun termasuk 1 dari sedikit orang yang mengalami sendiri.
-) Jadi, Tee-cu (murid) pun suatu hari mungkin bisa menciptakan jurus2 pamungkas Tee-cu sendiri?
+) Segalanya mungkin dalam hidup ini! Karenanya jangan putus asa, teruslah berlatih dan belajar! =)
v,w,y,x,-) SIAP MASTEEERRRR!!
+) Nyusun thesis aja belum… ^^;
—
e) Seorang individu dalam pengalaman puncaknya merasakan lebih dapat menjadi diri sendiri, bertanggung jawab, aktif dan kreatif dalam aktivitas serta pengamatannya. Ia merasa menjadi penentu utama dirinya sendiri. Bukan orang yang ditentukan oleh orang lain atau lingkungan, tidak berdaya, bergantung, pasif, lemah, dan mengabdi pada orang. Ia merasa menjadi tuan bagi dirinya sendiri, penuh tanggung jawab, penuh kemauan dengan kebebasan. Hal demikian juga tampak oleh orang lain yang mengamatinya, tampak lebih tegas, lebih kuat, lebih tulus, lebih menerima terhadap penghinaan, perbedaan, serta teguh pendirian. Ia seperti tidak meragukan nilai dan kemampuannya dalam melakukan apapun! Bagi orang lain ia tampak terpercaya serta tahan uji.
f) Dia terbebas dari sekat2, baik suku, etnis, bahasa, budaya, agama, atau keilmuan tertentu, rintangan2, perhatian, ketakutan, keraguan, control, keberatan, maupun kritik pribadi. Keadaan semacam ini juga mengandung nilai subyektif serta obyektif, positif juga negative. Atau setidaknya dapat dijelaskan dalam perspektif obyektif dan subyektif, yang pada intinya keduanya merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan satu sama lain…
-) Seperti Yin dan Yang ya? =)
+) Keseimbangan, adalah kata kuncinya…
g) Seorang yang mengalami pengalaman puncak, memiliki karakter yang bebas! Sehingga perilakunya menjadi lebih spontan, ekspresif, tanpa pikir panjang, terbuka, sederhana, tidak dibuat2, jujur, ikhlas, bersahaja, polos, santai, alami (tanpa ragu2, tulus hati, primitif dalam hal tertentu, lebih tidak terkontrol dan menjadi apa adanya). Karakter2 ini merupakan identitas yang autentik dari pribadi yang sedang berada pada pengalaman puncak, sehingga tentu saja sangat sulit dijelaskan secara obyektif dan rasional!
v) Aduh, Suhu! Aku ga tahan, mulai keringatan…
+) Tenang, jangan dipaksakan! Atur nafas, relaks, pencapaian tiap individu memang tak ada yang sama! Tapi sekali lagi ukuran pencapaian antara yang satu dengan yang lain pun tak sama tinggi. Ketinggiannya relatif, sejauh ia jujur dan menjadi diri sendiri, maka ia dapat dikatakan telah mencapai tahapan puncak…
w) Ini pasti filosofi Suhu Kido sendiri…
+) Gw bukan Suhu ^^; Benar, itu mah bisa2nya gw aja! Hehehehe ;p Tapi ada benernya koq!
h) Sebagai akibat langsung dari wataknya yang demikian, ia menjadi lebih kreatif dalam hal2 tertentu. Kreativitas ini tidak diukur dengan kuantitas produk, atau banyaknya sesuatu yang dapat dihasilkan, namun juga bisa sedikit yang dihasilkan namun dalam segala keterbatasan potensi yang dimiliki. Banyaknya hal yang dihasilkan dengan modal terbatas itu menunjukkan seseorang memiliki daya kreativitas yang tinggi!
i) Segala sesuatu yang menjadi karakter seseorang yang mengalami pengalaman puncak menunjukkan kesatuan dan individualitas dari pribadinya. Jika masing2 orang memiliki ciri khasnya tersendiri, berbeda antara satu sama lain, maka seseorang yang ada dalam pengalaman puncak juga memiliki ciri khas yang berbeda yang lebih dibandingkan yang lain.
j) Ketika seseorang ada pada pengalaman puncak, ia benar2 ada pada dirinya yang sekarang, di saat ini, terbebas dari masa lalu, juga masa mendatang! Ia dapat melakukan konsentrasi dengan tanpa gangguan dari apapun, karena kondisi kejiwaannya yang terbebas dari bayangan2 di masa lalu dan juga dari harapan2 di masa depan…
-) Benar juga! Secara individu ia sendiri adalah pribadi yang unik, tapi dengan alami ia tak terpisahkan menjadi satu kesatuan dengan alam!
x) Kemudian perlahan ia mulai melepaskan diri dari ikatan2 yang membelenggunya, bahkan dari identitasnya sendiri!?
+) Hmm… Menarik! Mari QT coba terus mengikuti…
k) Ia lebih dibatasi oleh “hukum2” pribadinya daripada hukum2 yang ada dan berlaku pada luar dirinya. Segala aktivitas dan perilakunya lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan oleh sesuatu yang lain dari luar dirinya. Hal ini bukan berarti ia akan berhadapan dengan hukum atau norma sosial yang mengaturnya, akan tetapi, selama norma tersebut berwujud kebaikan, maka tidak akan berhadapan dengan kebaikan yang ada dalam dirinya! Sehingga segala sesuatu aturan baik yang berangkat dari dirinya sendiri maupun dari yang lain akan dapat dinikmati sebagai sesuatu yang serupa. Kondisi semacam ini bisa digambarkan dengan perasaan cinta yang dialami dua sejoli, yang dapat dinikmati sebagai satu kesatuan yang saling mengisi satu sama lain…
Satu… Sama lain…
-) Kenapa Suhu? Teringat sama gadis itu lagi? ^^;
x) Udah, lupain aja dech! =D Lepaskan ikatan batin, simpul2 relung hati, ledakkan cinta menjebol kungkungan ego, emosi, cinta sejati hanya ingin memberi, kasih sayang tulus tanpa hasrat ingin memiliki, bebaskan segala rasa, kondisi kosong dan lupa segalanya, mencapai tahap sempurna!
w) Jurus Dewa Kunang-kunaaaangggg!!! ^________^;v
+) Lho? Lho? Lho?! Koq kalian malah udah memahami esensi jurusnya duluan? ;p Pada buka contekan ya?! @~*
y) Kami sekarang mengerti, esensi dari melebur dan menyatu dengan alam…
v) Menemukan jati diri yang sejati…
+) Bagus2! Kalian semua mampu memahami esensi dan mengalami pengalaman puncak dengan mengalaminya sendiri! Terkadang QT harus mengalami sesuatu untuk mengerti! Yang terlihat seringkali tak seperti yang terlihat! Yang tidak terlihat jika mata terpejam kadang malah jadi jelas terlihat! Gunakanlah mata hati! Kunang2 seperti rembulan dalam gelap malam! Keberadaannya menjadi nyata, kehadirannya pun menjadi penuh arti, kelipnya berjasa menjadi penerang, saat dunia diredupkan, surya diselubungi, selimut malam digelar menaungi langit kelam!
-) Seperti humor 2 orang gila ya? ^^;
+) He2, benar! =) Orang gila pertama bertanya pada yang kedua, mana yang lebih penting, matahari atau rembulan? Orang gila kedua menjawab, bulan lebih penting! Karena siang hari sudah terang, jadi ga ada matahari ga masyalah! ^^; Tapi malam hari tanpa bulan tentu gelap gulita! Oh, alangkah sedihnya! Untung ada kunang2! =) Walau redup tak cemerlang, tapi ketulusannya berbagi cahaya menolong sekitarnya, tak lagi meraba dalam kegelapan! Walau telah berjasa, tapi tak pernah sombong atau tinggi hati, di siang hari ia tidur sembunyi, malam hari kembali muncul menari. Segalanya berjalan begitu alami dan mengalir bagi si kunang2. Walau hidupnya tak panjang, tapi ia sanggup menikmati hari2nya yang senantiasa diliputi gembira! Menari, riang, tertawa! Sesukanya! Tanpa beban, hanya menjadi dirinya! Dan lebih mulia lagi, dalam hidupnya yang singkat, ia tak enggan membagi cahayanya, tidak pelit atau pura2 lupa, wajar saja, berjasa tanpa pamrih pada sesama, meninggalkan arti hidupnya kala harus meninggalkan dunia…
—
l) Mereka yang ada dalam pengalaman puncak, tidak memiliki motivasi atau keinginan2, kebutuhan, atau harapan, utamanya yang mengarah pada hal2 yang tidak baik. Sehingga dia hanyalah dia yang asli, apa adanya, tidak ngoyo dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan2 atau keinginan2 semu yang sesaat. Sehingga tidak ada tindakan yang menyebabkan dirinya kurang atau mundur. Maslow menggambarkan orang semacam ini menyerupai Dewa! Karena sifatnya yang tidak membutuhkan dan tidak menginginkan sesuatu, tidak memiliki kekurangan, dan merasa puas dengan segala keadaan yang ada pada dirinya! Dia melakukan segala sesuatu dengan penuh kreativitas namun tanpa keinginan atau kebutuhan yang tertentu. Dia melakukan karena sesuatu itu seharusnya dia lakukan, sebagaimana yang ada pada teori2 membahas tentang Nirwana…
-) Wahh, kalo ini kayanya impossible dech! Maslow pasti ngayal tuch! ;p
+) Ga tau juga! ^^; Kido sendiri masih jauhlah, belum mencapai tahap ini… Tapi secara kejiwaan, kondisinya yang tenang, tentunya ini udah sampai pada tahap pemuncak! Atau yang semacam itu… ^^; Tapi mungkin maksud Maslow adalah menggambarkan keadaan ideal yang bisa dicapai manusia, walau mungkin setelah mencapai tahap ini ia tidak lagi bisa dikatakan manusia, setidaknya bukan manusia biasalah… ^^; Kayanya Maslow kebanyakan baca Impeccable Twins, wakakaka =D Ehm! Uhuk… ^^;
m) Dalam komunikasi, mereka lebih puitis, mistis, dan penuh perasaan. Seakan2 hal tersebut merupakan bentuk bahasanya yang alamiah. Implikasinya berdasarkan kenyataan yang ada mereka lebih seperti seorang ahli puisi, artis, musisi, sastrawan, atau bahkan Nabi2! Yach, zaman sekarang ga ada Nabi-lah! Nabi dan Rasul penutup itu khan Nabi Muhammad SAW =) Tapi yach, Maslow… Gw paham maksud loe! ^^;
n) Orang yang ada pada pengalaman puncak merasa ada pada puncak kenikmatan, pembebas dan diliputi perasaan haru, kesempurnaan, atau perwujudan. Perasaan2 sukar untuk dilukiskan. Dunia menjadi tampak sempurna, adil, indah, antara satu bagian dengan bagian lain menjadi tampak berkaitan saling melengkapi, sinergis.
o) Melihat segala sesuatu menjadi tampak jenaka pada matanya. Memiliki kualitas humor yang baik, dan kegembiraan luar biasa! Perasaan2 semacam ini membuat sesorang yang mengalami pengalaman puncak menjadi sangat menikmati kehidupan! Merasa tidak ada problem yang sukar dipecahkan, segala sesuatu dihadapi dengan penuh perasaan riang gembira! Segala sesuatu bagi dia menjadi satu kesatuan antara keindahan, cinta, kecerdasan kreatif. Semuanya dijadikan sebagai alat untuk memadukan terjadinya dikotomi serta memecahkan persoalan yang sulit.
p) Seseorang yang sedang atau telah selesai mengalami pengalaman puncak, akan merasakan keberuntungan yang tak terduga! Karena pengalaman puncak terjadi dengan sendirinya tanpa ada perencanaan, reaksi yang timbul juga datang begitu saja tanpa diharapkan. Sebagai konsekuensinya ia akan merasakan nikmat berkelimpahan dan rasa syukur mendalam pada Tuhan (bagi orang beragama), pada orang tua, pada alam, pada manusia lain, pada dunia dan seisinya, pada segala sesuatu yang menyebabkannya mengalami dan mendapatkan keberuntungan tersebut!
—
Begitulah…
Bukalah mata kalian…
Apa yang kalian rasakan?
Apa yang didapatkan?…
Sekarang kerjap2lah…
Tataplah di sekitarmu…
Pengalaman puncak telah kau alami…
Saatnya kembali dari dasar lagi…
Karena segala sesuatu dalam hidup ini…
Berputar seperti siklus…
Yang bawah naik ke atas…
Yang di atas jatuh lagi…
Tapi kau yang sekarang bagaikan terlahir kembali…
Untuk menghadapi hidup dengan bekal lebih baik…
Modalmu melaju lebih mantap dengan langkah pasti…
Yakni Sejatinya Diri…
Karenanya tersenyumlah…
Gembiralah…
Dan sambutlah…
Kuucapkan selamat Nak!
Selamat datang kembali ke alam dunia nyata…
—
“Tahap Pemuncak Jurus Dewa Kunang2”
Gubahan:
Kido Kamen =)