Setelah bersama2 mendaki piramida hirarki kebutuhan Maslow, maka kini QT tiba di lantai teratas, level kelima, tingkat puncak dari hirarki kebutuhan, yakni tataran Self-Actualization, aktualisasi diri…

Kido akan membiarkan teman2 yang kelelahan beristirahat barang sejenak, boleh minum! ;p Atau memakan bekalnya. Sambil Kido membuka peta, dan menunjukkan pada teman2 untuk dipelajari bersama, langkah panduan QT selanjutnya! Menuju titik terpuncak, stupa terbesar, perlambang pencapaian hidup QT, pengalaman yang realitasnya akan dialami secara terpisah oleh masing2, pengalaman yang berbeda untuk tiap individu, R U re-D? dN B prepared 2 reach… d’PEAK!!

Seorang individu yang telah memenuhi empat strata dasar dalam kebutuhan hidupnya yang meliputi kebutuhan fisiologis, rasa aman, mencintai dan memiliki, serta punya harga diri, maka ia akan tiba pada tingkat puncak piramida, yakni aktualisasi diri. Individu yang telah mencapai aktualisasi diri akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Karakteristik yang membedakannya bersumber dari B-values yang telah melekat pada diri dan segenap perilakunya.

-) Om Kido! Tanya! Apa itu B-values?

+) Lho, masih pada ingat khan? Apa hayoo? Baca blog sebelumnya ya? ^^;

Adapun menurut Maslow, sebagaimana dikutip dalam buku yang Kido baca kemarin, “Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, bla3 dst.” ^^; hanya orang2 tertentu saja yang dapat mencapai kondisi self-actualized ini! Mungkin seperti pemuda Thio Kun Po waktu mengamati gerak hujan kapas yang berjatuhan, atau tahu yang digiling, gemulai indah, lembut melawan keras, lambat kuasai cepat, seketika terilhami dan menggubahnya menjadi gerakan luwes dari jurus Tai Chi! Saat mengerti esensi, maka ia pun tertawa membahana! Menggema di lembah jurang yang dikelilingi tiga puncak gunung (Sam Hong), sehingga di kemudian hari ia lebih dikenal sebagai Thio Sam Hong! ;) Atau Archimedes yang tengah telanjang dan berendam di bak mandi, usai penat memikirkan teori yang masih kusut di kepala, secara tak sengaja menemukan hukum tekanan ke atas pada air, saat menenggelamkan bebek karetnya, sontak… EUREKA!! ^^;v Saking gembiranya ia melonjak berlari berjingkrakan keluar rumah tanpa busana! =D Tingkah laku orang yang telah mencapai aktualisasi diri terkadang memang di luar dugaan, terkesan mirip anak kecil, polos, tak dibuat2, nanti akan QT temui lebih lanjut dalam pembahasan di bawah! ;)

Now, b4 hand, Kido ga bilang kalo Kido udah mengalami semua itu lho! ^^; Walau yach, beberapa ada yang sempat “teralami” saat Kido secara spontan “menggubah” jurus Dewa Kunang2 pada cerpenbung blog Kido sebelumnya! ^^; Tapi anggap aja ini permainan! =) Tebak2an, main cocok2an! Hayoo, dari karakteristik2 di bawah ini, kira2 ada gak yaa yang mirip dengan diri QT?! ;)

-) Waaahh, seru Ooom! ^^;v

+) Tuch, bener khaan?! ;p Emang asyik khaan?! =D Hahaha…

Sekedar untuk motivasi serta refleksi aja, kepastian jawaban untuk masing2 diri adalah kejujuran untuk mengakui, sudahkah QT mencapai taraf ini atau belum? Kalau sudah, sejatinya pencarian itu tak pernah berhenti, terus perbaiki diri! =) Kalau belum, tak perlu risau dan sedih, berlatihlah terus dan terus mencari, karena hakikatnya setiap individu paling tahu wujud aktualisasi dirinya yang sejati itu seperti apa. Harapan Kido, semoga apa yang terpapar di sini bisa menjadi ukuran dan acuan pembantu untuk mendorong QT agar menjadi insan pribadi yang lebih baik lagi pada kemudian hari! Insya 4JJI… ;)

Nach! Adapun karakteristik yang dapat dikenali pada diri orang2 yang teraktualisasikan dirinya antara lain, tanda2nya itu… Begini nich! ^^; Pelajari pelan2, cermati, lalu cocokkan dengan diri masing2!

Tu-wa-ga-pat-ma-nam-juh-pan-lan-luh! Hayoo! Udah belooom? ;p

a) Mampu melihat realitas secara lebih efisien

Salah satu kapasitas yang dimiliki oleh orang yang telah mengaktualisasikan diri adalah kemampuannya melihat realitas secara apa adanya, cermat dan tepat, dengan tanpa tendensi apapun! Dengan kemampuannya ini, seseorang yang telah mengaktualisasikan diri akan dengan mudah dapat mengenali kebohongan, kecurangan, serta kepalsuan yang dilakukan orang lain. Ia juga akan mampu melakukan analisis secara kritis terhadap segala persoalan kehidupan umat manusia, seperti seni, musik, ilmu pengetahuan, politik, filsafat, dan lain sebagainya. Bahkan lebih dari itu, juga mampu meramalkan kejadian2 yang akan datang dengan tepat. Ini kata Maslow sich! ^^;

Pada umumnya mereka mampu melihat kehidupan secara apa adanya, bukan menurut keinginan atau kecenderungan mereka. Tidak emosional namun obyektif terhadap hasil penelitiannya. Mereka hanya mau mendengarkan apa yang seharusnya mereka dengar, dan bukan apa yang diinginkan, dicemaskan atau ditakuti, oleh teori dan keyakinan kelompok mereka. Tidak seperti kebanyakan orang yang cenderung takut terhadap hal2 yang asing atau belum dikenal, mereka justru lebih akrab dengannya daripada terhadap apa yang telah mereka kenal sebelumnya. Mereka adalah para ilmuwan yang mampu menghasilkan dan menemukan hal2 baru dengan tanpa keraguan. Bukan ilmuwan canggung yang cenderung mengulang2 apa yang mereka telah ketahui sebelumnya. Mereka tidak akan membiarkan pengamatan mereka dipengaruhi oleh hasrat dan kecenderungan yang bersifat pribadi. Ketajaman pengamatan mereka terhadap realitas yang akan terjadi, dihasilkan dari pola pikir mereka yang menerawang jauh ke depan dengan tanpa dipengaruhi oleh kepentingan ataupun keuntungan sesaat.

-) Wahh, gw sich belum jadi penemu dech!

x) Pssst! Diem! Lanjutin donk Om!…

b) Penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan kodrat

Ciri lain orang yang teraktualisasi diri adalah sifatnya yang menerima segala apa yang ada pada dirinya dan juga pada diri orang lain apa adanya! Ia melihat orang lain seperti melihat pada dirinya sendiri dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya. Sikap semacam ini membuatnya memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap orang lain. Di samping itu ia juga memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa dalam menerima orang lain serta dirinya sendiri. Ia membuka diri untuk menerima masukan atau pengajaran dari orang lain, karena dia merasa tidak mengetahui segalanya dan memiliki kemampuan segalanya. Menerimanya terhadap orang lain seperti penerimaannya terhadap sifat2 dari alam. Seperti sifat air yang basah, batu yang keras, rumput yang hijau, yang adanya tidak akan dikeluhkan orang lain.

Lebih dari itu ia juga terbebas dari perasaan berdosa yang berlebihan serta perasaan malu yang tidak beralasan. (Wahh, Kido dulu masih punya ini nich, V-l guilty over… U! ^^; Maafin yaa!) Seperti anak kecil yang memandang dunia dengan mata terbuka, tanpa kritik, tanpa tuntutan, dan tanpa perasaan berdosa. Orang yang mengaktualisasikan diri melihat sifat2 manusiawi seperti kebaikan dan kejahatan sebagaimana adanya, bukan seperti apa yang diharapkan. Mereka dapat menikmati makanan jenis apapun yang biasa dimakan orang pada umumnya, tanpa perasaan enggan ataupun muak. Ia juga menikmati seks dengan tanpa beban fisiologis serta psikologis yang berarti, glek… ^^;

-) Napa Om? Mau coba ya? =D

BLETAK!! @~*

+) Sanchai! Sanchai! Halah!! @~* Jadi inget dia lagi! ;p Wakakaka…

Tidak seperti kebanyakan orang, orang yang mengaktualisasikan diri tidak memiliki perasaan jijik terhadap bau badan, kotoran, segala produk dari badan. Sikap2 apologetik seperti kemunafikan, tipu muslihat, persaingan tidak sehat, lain sebagainya, tidak terdapat pada orang yang mengaktualisasikan diri. Dengan kata lain sifat yang dianggap salah oleh orang yang sehat jiwa dan teraktualisasi adalah sifat yang sulit diperbaiki seperti kemalasan, kesembronoan, kemarahan, dan perbuatan yang menyakiti hati orang lain. Keadaan psikologis yang tidak sehat misalnya prasangka, cemburu, iri hati, tidak ada dalam kamus orang yang teraktualisasi. Seorang individu yang telah teraktualisasi akan mempersepsikan sesuatu secara kontemplatif (being-cognition) serta penuh keyakinan.

c) Spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran

Orang yang mengaktualisasikan diri, ditandai dengan segala tindakan, perilaku, dan gagasannya yang dilakukan secara spontan, wajar, tidak dibuat2. Mereka tidak akan menyembunyikan perasaan dan pikiran. Sehingga apa saja yang dilakukan tampak tidak dibuat2 ataupun pura2. Jika ia menyadari sikapnya yang spontan, tidak konvensional, dan wajar, tidak dikehendaki oleh lingkungannya, atau bertentangan dengan apa yang secara konvensional berlaku pada masyarakat, maka ia akan cenderung menutupi dan menahan dirinya, hingga sikap tersebut terbatas hanya pada impuls. Ia akan cenderung menerima apa yang menjadi kebiasaan masyarakat dengan lapang dada, meskipun di dalam hati ia menertawakannya, hehehehe…

-) Orang aneh, ketawa sendiri! ;p

BLETAK!! @~*

+) Hihi… Maaf Dhe, spontan sich! ^^; Jkekekek…

Namun dalam kondisi dimana apa yang terjadi di lingkungan masyarakat sudah bertentangan dengan prinsip yang dianggapnya teramat penting, ia tidak segan2 menentangnya! Nach!! =) Karena kondisi dimana lingkungan atau adat istiadat dipenuhi oleh kemunafikan, kebohongan, dan kehidupan sosial yang sudah tidak konsisten, semua itu membuatnya seakan hidup bagaikan orang asing di negeri sendiri. Jiwanya terpanggil dan berontak untuk meluruskan.

-) Jadi luwes, tapi tetap punya prinsip?

+) Betul! In relation, go with the flow, in principle, stand like a rock! Sounds cool? ;)

d) Terpusat pada persoalan

Pada umumnya orang yang mengaktualisasikan diri disibukkan oleh persoalan di luar dari dirinya! Segala perilaku, pemikiran dan gagasannya terfokus pada persoalan2 yang ia anggap penting dan seharusnya memang ia lakukan. Sehingga yang meliputi seluruh perilaku, pikiran dan gagasannya bukan lagi ego tetapi persoalan yang tengah ia hadapi. Umumnya persoalan ini tidak terkait dengan dirinya atau persoalan dari diri sendiri, namun berkaitan dengan misi yang diemban atau yang jadi tanggung jawabnya. Orang yang mengaktualisasikan diri tidak lagi berpikir pada apa yang terbaik bagi dirinya, namun apa yang dibutuhkan oleh manusia pada umumnya atau bangsa khususnya. Mereka bekerja untuk suatu nilai yang luas, bukan sempit, universal, bukan partikuler, dan dalam kurun waktu panjang, bukan sesaat. Orang semacam ini memiliki cakrawala pandang yang teramat luas, hidup dalam kerangka acuan yang seluas2nya, sub specie aeternitatis…

-) Wah, keren Om! Tapi apa artinya? ^^;

+) “Dari sudut pandang keabadian”, JREEENG!! ^^;v

-) Kok tau sich?…

+) Khan tinggal nyalin! ^^;

-) GUBRAK dech!! @~*

+) Nach, sebelum QT lanjut ke ciri2 yang lain, gimana kalo break dulu, sementara Om Kido mo shalat Maghrib? ;) Tar dilanjutin lagi yaa? Oya, main kejar2an jangan di pinggir piramid, nanti jatuh ke bawah! ^^; Saling jaga ya?

-) Iya Ooomm! Hahahaha… =D

Bersambung yech… ;)