The 5th Level… #2
Uncategorized April 17th, 2006-) Pagi Om Kido!
+) Pagi, pules bobonya?…
-) Om rajin ya, pagi2 udah senam?
+) Iya donk! Men Sana in Corpore Sano! Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat! QT harus adil, balance, jiwa dan raga sama2 dilatih! Ayo, kalian juga ikutan gerak2 badan! =)
-) Tadi udah koq, ngelilingin pyramid! ^^; Om, lanjutin donk yang kemarin, karakteristik orang2 yang teraktualisasi diri!
+) Boleh, tapi kamu dah sarapan belom? Sarapan itu penting lho! Buat NRG optimal kerja pagi sampai siang!
-) Om cerita aja! QT sambil makan, hehehe… ;p
+) OKD, mumpung masih pagi, lanjutin dikit lagi yaa, duduk melingkar, dengarkan baik2, n jangan lupa makanannya dibagi ama temen sebelahnya =)
-) O-KIDO-Q!!… ^^;v
+) Hush! Itu bagian gw! ;p
—
Kemarin QT sudah mencoba mengidentifikasi karakteristik unik dari orang2 yang telah teraktualisasikan dirinya, antara lain adalah ia jadi mampu melihat realitas secara lebih efisien, terbuka penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, juga pada kodratnya, spontan, sederhana, alami dan wajar, serta fokus pada persoalan dan bukan membesarkan egonya. Nach, ciri khas yang lain dari orang yang self-actualized itu antaranya:
e) Memisahkan diri, butuh akan kesendirian
Masih ingat kebiasaan Nabi2 suka ber-khalwat? Menyendiri dalam gua? Pada umumnya orang yang mengaktualisasikan diri cenderung memisahkan diri, menyukai kesendirian dan kesunyian di luar rata2 orang lain. Hal ini terjadi karena mereka cenderung bertahan pada persepsinya mengenai situasi tertentu. Tidak bergantung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain, namun hanya bersikukuh pada penafsiran yang ia anggap benar. Sikapnya yang demikian bisa jadi merenggangkan hubungannya dengan lingkungan, namun ia tak akan memperdulikan. Karena ia tidak akan goyah oleh hujatan, reaksi apapun dari orang lain. Ia bahkan merasa adem ayem (tenang dan tenteram) menghadapi ketidakramahan lingkungan. Senantiasa menjaga martabatnya, meski dalam lingkungan atau situasi yang kurang terhormat. Mungkin ini berhubungan dengan sikapnya yang lebih mementingkan persoalan daripada ego. Meskipun itu menyangkut kepentingan, keinginan, serta hasrat pribadinya. Pengaruh dari kepribadian ini adalah kemampuannya untuk melupakan apa yang dihadapinya! Ia mampu untuk tetap tidur nyenyak, makan enak, tersenyum, bahkan tertawa lebar, dengan tanpa terganggu oleh terpaan persoalan yang menerpa datang menimpanya.
Sifat otonomnya juga diwujudkan dengan cara pengambilan keputusan yang mandiri, tanpa dipengaruhi oleh kecenderungan apapun, atau oleh dorongan yang datang dari luar diri. Ia menjadi pengambil kebijakan, dan bukan hanya menjalankan kebijakan orang lain. Ia juga mampu mempertanggungjawabkan kebijakan yang diputuskannya. Kebanyakan orang tidak mampu membentuk atau memformulakan gagasan2 dan pemikirannya, bahkan cenderung menyerahkannya kepada media massa, iklan, orang tua, dan segala macamnya untuk membentuk gagasannya. Orang2 yang demikian adalah merupakan budak2 yang menyerahkan diri untuk digerakkan kemanapun oleh orang lain. Sikap semacam ini sangat bertentangan dengan sikap orang yang mengaktualisasikan diri. Sifatnya mandiri, bergerak dengan kemauan sendiri, menentukan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas apapun keputusan yang diambilnya.
-) Hmm, jadi punya sikap ya?
+) Iya! Dengan kata lain, harus punya “identitas”, kepribadian unik yang membedakan, tapi bukan sekedar tampil “beda” lho!
Tapi beda dengan prinsip! =) Lanjut lagi…
f) Otonom, kemandirian terhadap kebudayaan dan lingkungan
Orang yang mengaktualisasikan diri tidak menggantungkan dirinya pada lingkungan, namun menyandarkan seluruh motivasi atau pemenuhan kebutuhannya pada diri sendiri. Ia dapat melakukan apa saja dimana saja tanpa dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Ia mempercayakan segala kebutuhan dan kehendaknya pada potensi yang dimiliki dirinya. Mereka bisa belajar dimana saja dan bekerja dimana saja tanpa dibatasi oleh situasi dan kondisi yang mengelilingi. Kemandirian ini juga berarti ketahanannya terhadap segala persoalan yang mengguncangnya, tanpa perasaan frustasi apalagi sampai bunuh diri (nggak banget dech! ;p) meskipun hal ini mungkin dapat dilakukan oleh orang yang menjumpai situasi pelik sepertinya pada umumnya!
Meski demikian, sebagai individu yang punya kekurangan, dalam hal tertentu yang tidak mungkin dia dapatkan dari dirinya sendiri, ia akan tetap membutuhkan yang lain, seperti rasa kasih sayang, keamanan, dan pemenuhan kebutuhan pokok lainnya, yang hanya bisa didapatkannya dari orang lain. Seperti pohon yang memerlukan siraman air dan terpa sinar matahari. Hanya saja kebutuhan ini bukan berarti ketergantungan! Karena meski prestise, kehormatan, kasih sayang, dan keamanan diperolehnya dari orang lain, namun kepuasan dari semua itu masih amat tergantung pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, maka kehormatan, status, prestise dan keamanan menjadi kurang penting dibandingkan dengan pertumbuhan serta perkembangan dirinya…
-) Kok kaya Om Kido aja?
+) Hah? Masa sich? ^^; Dimananya?
-) Walau ramah, banyak teman, tapi suka menyendiri, mojok aja, paling2 nulis di blog, ga ambil pusing n peduli omongan orang luar, yang penting menjadi dirinya sendiri. Om Kido juga pernah bilang belajar itu bisa dari mana aja, dari siapa aja, dimana aja, begitu khan? =D
+) Errr… Iya sich! ^^;
-) Wahh! Om Kido hebat! Udah teraktualisasikan!
+) Apanya? ^^; Belum laah! Terus belajar koq! Pssst, mo lanjutin lagi ga? =)
-) Iya iya…
g) Kesegaran dan apresiasi yang berkelanjutan
Ciri lain dari orang yang mengaktualisasikan diri adalah sifatnya yang apresiatif terhadap segala apa yang dihadapi atau ditemukan, meskipun sesuatu tersebut sudah merupakan hal biasa. Ia tidak pernah merasa bosan terhadap apa saja yang dijumpainya, meskipun itu sudah berulang2. Ia diselimuti oleh perasaan gembira, kagum, heran, dan segala sikap apresiatif yang lainnya. (Waaah cantiknyaa! ^^;) (BLETAK!! @~*) Orang semacam ini akan dapat merasakan keindahan bunga yang sekian juta kali telah ia temui, sama seperti indahnya ketika menyaksikan pertama kali! Terhadap pekerjaan yang rutin dilakukannya setiap hari ia juga merasakan gairah yang sama sebagaimana ia mengawali pekerjaannya itu. Demikian pula yang dirasakan oleh seorang suami terhadap istri, istri terhadap suami. Ia akan dapat melihat suami atau istrinya persis seperti ketika ia melihatnya pertama kali (he3, masih inget koq, depan kelas lab PDT, Ruang 607 Kampus Anggrek Binus, Kamis sore itu… ;p Ha4 =D Kidding! Take care… ^^;v) meskipun sudah berlangsung puluhan tahun lamanya… Lebih dari itu, ketika ia melakukan hubungan seksual (EHM!! Ada anak kecil di sini Om!) (Kecil juga ntar gede ;p) BLETAK!! @~* (Konteksnya belajar woiii! Jangan mikir yang aneh2, emang gitu koq, kata bukunya ^^;) kenikmatan yang ia rasakan tidak hanya ketika mencapai orgasme (orgasme apa sich?) (GUBRAK dech!! ^^;) tetapi kenikmatan dan kesenangan itu ia rasakan dalam kurun waktu yang lama, sebagaimana ia menikmati alam serta alunan musik. Mungkin hal ini adalah bagian dari berkah rasa nikmat dan kesyukurannya terhadap apa yang didapatkan, dimiliki, serta dirasakannya.
Seorang yang tidak dapat mengapresiasi segala apa yang didapatkan, atau dimiliki, akan menjadi manusia yang serakah! Dan mampu menjual harga diri dan kehormatan serta hak asasi manusia dengan sesuatu yang tak berarti. Waspadalah!!
Kalau dalam Islam sich ada kuncinya, yakni zuhud serta wara’, tidak merasa butuh pada dunia dan selalu merasa berkecukupan, enteng aja, nothin’ 2 lose, we can’t lose what we NFR h@ khan? NEway, umumnya manusia cenderung mengasihi dan mencintai serta menghargai orang tua, istri, suami, anak, kerabat, sahabat, orang lain, hanya setelah semua tiada!… (Telah pergi atau meninggal dunia, meninggalkan QT untuk selamanya!) Benar jika dikatakan, we NFR know what F we got, till we lose it… (U NFR lose a “friend” in me, though! So don’t hesitate 2 give a call if U miss me, will ya?
He4… ;p) Makanya, supaya jangan merasa demikian, hendaknya QT sadar bahwa hidup QT akan menjadi sangat jauh berarti, jika QT mampu menyadari berkah yang QT terima, selalu mensyukuri yang ada, dan tak usah dipusingkan dengan hal yang belum ada atau belum tentu pasti untuk QT, santai aja, sikap seperti ini adalah sikap yang dimiliki oleh orang yang mengaktualisasikan diri…
-) Koq bisa ya?
+) Practice makes perfect! Sikap bisa dibentuk, asalkan terus dilatih, lama2 akan terbentuk kebiasaan baru! Ga percaya? Mamet mencoba untuk membuktikannya!
-) Lanjut lagi donk Om Kido! =)
+) OK, nach! Yang 1 ini adalah yang paling khusus dari kesemuanya, ini juga puncak pembahasan QT nanti, jadi buka mata dan telinga, juga hati, perhatikan baik2… =)
—
h) Pengalaman Puncak
Umumnya orang yang telah self-actualized, memiliki atau mengalami pengalaman puncak (peak experience) atau semacam pengalaman mistik. Pengalaman puncak merupakan puncak kesadaran seseorang dalam mana ia merasa telah menyatu dengan alam. Atau dapat juga dikatakan, pengalaman puncak adalah kesadaran akan kesatuan antara alam mikrokosmos, makrokosmos serta metakosmos! Pengalaman ini dapat diperoleh dari wujud kreativitas, pemahaman, penemuan atau perasaan telah menyatu dengan alam…
-) Wahh! Bersatu dengan alam! Kaya waktu menggubah jurus Dewa Kunang2 ya? =D
+) Hmm, ga tau juga dech ^^; Tapi coba QT baca lebih jauh ya? =)
Dikatakan oleh Maslow, bahwa pengalaman puncak tidak harus berupa pengalaman keagamaan atau spiritual, meskipun hal itu juga mungkin. Karena pengalaman ini bisa berangkat dari buku, musik, atau kegiatan2 yang bersifat intelektual. Di kala seseorang tidak lagi merasa ada batas antara dirinya dengan alam raya sekitarnya. Hal ini bisa dipengaruhi oleh segenap gagasan dan perilakunya yang bebas dan tidak lagi dibatasi atau dipengaruhi oleh lingkungan atau bahkan oleh dirinya sendiri, yang berupa kepentingan2 atau tendensi2 tertentu yang dapat menghalangi kebebasan dalam berekspresi. Sikap yang demikian inilah yang akan dapat menghantarkannya pada pengalaman puncak! Tentang pengalaman puncak ini akan QT bahas lebih spesifik pada blog berikutnya! Insya 4JJI… Sekarang lanjut dulu ya, karakteristik umum lainnya dari orang yang telah teraktualisasikan dirinya…
i) Kesadaran sosial
Kesadaran sosial ini oleh Alfred Adler diistilahkan dengan gemeinschaftsgefuhl (rasa bermasyarakat), istilah yang paling dapat mewakili perasaan orang yang mengaktualisasi diri. Sebagai manusia, ia merasakan identifikasi diri, simpati, dan kasih sayang yang mendalam, meskipun kadang2 merasa tergaanggu dengan kebiasaan, adat istiadat atau pemahaman masyarakat yang bertentangan dengan prinsip2 yang diyakininya. Seperti yang telah dibahas terdahulu, seseorang yang mengaktualisasikan diri kadang dihantui perasaan jijik, marah, kesal terhadap perilaku atau pemahaman lingkungannya. Meskipun demikian, seorang yang mengaktualisasikan diri tetap diliputi oleh perasaan iba, kasih sayang, dan selalu terdorong ingin membantu saudara2nya meskipun mereka bodoh, menyebalkan, atau bahkan jahat terhadapnya. Disini kelebihannya! Karena dengan penuh keikhlasan ia dapat dengan lapang dada memaafkan segala perilaku masyarakat yang menyakitkan atau melukainya (Yeah, I 4give U!
Doncha worry! Rn’t we friends? ^^;v) Dorongan untuk mengasihi dan membantu tidak akan luntur dengan kebencian yang ditujukan orang lain kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat memahami perasaan semacam ini, namun itulah yang terjadi pada orang yang mengaktualisasikan diri. Kalau dalam Islam, pribadi yang mulia itu yang walaupun ia berhak marah, atau pantas untuk membalas perbuatan buruk dari orang lain terhadapnya, tapi hebatnya ia justru malah memaafkannya! Kebesaran jiwa semacam inilah yang terpuji, kelak beroleh pahala yang besar untuk dirinya! Begitu pula sifat orang yang telah teraktualisasikan.
j) Hubungan interpersonal
Kecenderungan untuk melakukan hubungan yang erat dengan orang lain, adalah ciri lain dari orang yang telah mengaktualisasikan diri…
-) Wahh! Ini Om Kido banget!
+) Ah, maca ciiyy? ^^;
Meskipun karena karakter dan sikapnya yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan dengan kebanyakan orang, ia mungkin sulit atau hanya dapat melakukan hubungan akrab dengan orang2 yang memiliki karakter yang sama atau yang mirip dengannya (nyeleneh, aneh, nyentrik, eksentrik, dkk dech! ^^;), namun kesadaran kesetiakawanannya jauh melampaui orang2 biasa pada umumnya! Jarangnya ditemui orang yang dapat melakukan hubungan dengan banyak sahabat dan teman dekat bukan berarti tak ada sama sekali. Contoh konkritnya ada pada diri orang yang telah teraktualisasikan. Pada orang yang memiliki tingkat kesabaran luar biasa, ia dapat melakukan hubungan yang baik dengan banyak orang, bahkan dapat dikatakan hampir ke semua orang, memiliki banyak sahabat yang ia kasihi sepenuh hati, bahkan juga terhadap anak2 ia akrabi dengan penuh rasa cinta kasih dan kepekaan jiwa yang tinggi.
k) Struktur watak demokratis
Sifatnya yang demokratis ditunjukkan dengan penerimaannya terhadap semua golongan, partai, kelompok, ras, etnis, budaya, agama, status sosial. Ia tidak membedakan kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-jelek, tinggi-pendek, gemuk-langsing, semua tampak wajar dan sejajar di hadapannya (mo Chinese kek, Jawa kek, Japanese girl juga boleh! ^^; Kalo bisa yang long hair, chubby, oriental! Wakakaka =D BLETAK!! @~* Guess now I understN Y I could F fallen 4 R… ^^;) Ia tidak akan merasa risih atau canggung untuk berhubungan dengan orang yang berbeda status sosial maupun golongan. Bahkan ia cenderung merendahkan diri dan berusaha untuk menciduk pelajaran sebanyak2nya dari orang lain, juga berupaya memberikan pelajaran kepada orang lain. Segala potensi dan kemampuan yang dimiliki, baginya tidak berarti dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh banyak orang lain di sekitarnya. (Fry1 S dR own story 2 tell, ain’t they?
Try 2 listen more w/ mouth shut =) U’ll B surprised by how much U gained afterwards!)
Orang yang mengaktualisasikan diri senantiasa menaruh hormat kepada semua orang tanpa kecuali. Penghormatan yang dilakukan semata2 karena keluhuran manusiawi yang dimiliki oleh semua orang. Ia tidak memiliki kecenderungan untuk merendahkan orang lain, meskipun terhadap seorang penjahat. Namun ia tetap memiliki kepekaan yang tinggi untuk dapat membedakan antara benar dan salah, baik ataupun buruk. Ia tetap konsisten, tidak ambivalen atau bingung menghadapi keragaman watak dan karakter seseorang yang tengah dihadapinya.
-) Wahh, pemaaf ya?
x) Ya! Juga rendah hati!
y) Tapi punya prinsip! Hebaaat!! Seperti jagoan aja! =D
+) Kalian juga bisa jadi seperti jagoan yang kalian idam2kan lho!
Asalkan tetap rendah hati, tidak sombong, dan terus-menerus membuka diri dan belajar, menimba pengetahuan baru, jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi apa yang dikatakannya. Belajar itu bisa…
-,x,y) “Dari mana saja, dari siapa saja, serta kapan saja!” ^^;v
+) Yaa… Gitu dech! ^^; He3 ;p QT lanjut dikit lagi yaa? =)
—
l) Membedakan antara cara dan tujuan
Seorang individu yang mengaktualisasikan diri dapat membedakan secara tegas antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, dengan tanpa keraguan setitikpun kebimbangan! (Ya benar, ini sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap pendekar! ^^;v) Ia senantiasa konsisten dan dapat menghadapi setiap problem dengan konsistensi tinggi penuh keyakinan. Ia secara tegas dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah, meskipun pendapatnya cenderung berbeda dengan pendapat konvensional, namun ia tetap memiliki standar etis yang jelas.
m) Rasa humor yang filosofis dan tak menimbulkan permusuhan
Rasa humor orang yang mengaktualisasikan diri tidak seperti kebanyakan orang, bahkan ia sering tidak menganggap lucu sesuatu yang orang lain menganggapnya lucu. Ia tak akan tertawa mendengarkan humor yang dapat menyakitkan hati orang lain serta menimbulkan permusuhan, merendahkan atau menertawakan kekurangan orang lain. Humor mereka lebih bersifat filosofis dan berbicara tentang realitas dengan apa adanya. Humor semacam ini seringkali tertuju pada permainan terhadap orang yang berbuat bodoh, atau lupa pada tempatnya di alam semesta, mereka yang merasa besar padahal sebenarnya kecil. Pada intinya humor ini tidak sekedar menimbulkan tawa, namun mengandung nilai atau fungsi2 tertentu. Seringkali humor orang yang teraktualisasikan dirinya mengandung nilai pendidikan yang lebih menyenangkan. Tidak mengherankan jika humor semacam ini bersifat spontan daripada direncanakan. Segala aktivitas, kesibukan, keseriusan, kebanggaan, ketergesaan, usaha, perencanaan, dan sebagainya dapat diolah menjadi humor segar yang mengasyikkan. Disamping itu ekspresi dari humor itu sendiri tidak harus berwujud kata2 yang diungkapkan, namun bisa berwujud seni, musik, lukisan, dll., yang semuanya menggambarkan hiruk-pikuknya aktivitas yang manusiawi.
n) Kreativitas
Kreativitas merupakan ciri paling umum dari orang yang mengaktualisasikan dirinya. Setiap orang yang mengaktualisasikan diri menunjukkan sikap kreatif yang polos, sebagaimana yang terjadi pada anak kecil. Sehingga makna kreatif disini tidak harus menggubah lagu, menulis buku, atau membuat sesuatu yang besar, namun diwujudkan dengan kemampuannya membuat inovasi2 sederhana. Ia melakukan kreativitasnya dengan tanpa tendensi apapun atau pengaruh dari manapun, namun semuanya dilakukan dengan penuh keluguan dan apa adanya. Pada umumnya kreativitas manusia telah dibatasi atau dibentuk oleh lingkungannya, sehingga kreativitasnya yang asli terbelenggu serta tidak dapat muncul! Namun pada diri orang yang telah teraktualisasi, kreativitas ini kelihatan ditampilkan dalam segenap perilaku dan tindakannya yang relatif spontan serta wajar. Spontanitas inilah yang telah dihambat pada diri orang lain sejak masa kanak2nya sehingga tidak dapat muncul, yang muncul justru tindakan yang telah dipengaruhi dan dibentuk oleh sesuatu di luar dirinya. Hal ini tidak berlaku bagi orang2 yang telah teraktualisasi.
Terakhir dech! ^^; Lho? Makanannya sambil dimakan donk, ayo tetangganya dikasih! =)
o) Daya tahan terhadap pengaruh kebudayaan
Karakter dasar yang dimiliki oleh orang yang mengaktualisasikan diri adalah independensinya yang luar biasa! Ia mampu bertahan pada pendirian dan keputusan2nya dengan tanpa peduli pada lingkungannya. Ia adalah pengambil keputusan yang tegas dan tak mudah goyah oleh berbagai kepentingan yang mempengaruhi. Ia juga tak terpengaruh secara ekstrim oleh kebudayaan masyarakat. Namun hal ini bukan berarti bahwa ia tidak dapat bergaul dengan lingkungan masyarakat sekitarnya, ia tetap tampil sebagaimana masyarakat pada umumnya. Hanya saja ia tetap memiliki identitas yang jelas, berbeda dengan anggota masyarakat pada umumnya…
-,x,y) “In relation go with the flow, in principle stand like a rock!”
+) He3, kalian memang pintar dan sudah belajar! =)
—
Nach, itu tadi beberapa di antara tanda2 yang dapat dikenali pada orang yang telah mencapai taraf aktualisasi diri! Sudahkah QT menjadi beberapa di antaranya? Atau sudah semua?! Wahh hebat! ^^;v Tapi bagaimanapun, the 5th level (tingkat kelima) atau terakhir dalam hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow, berbeda dengan 4 strata di bawahnya. Perlakuan di level ini memang tidak melulu harus memenuhi kebutuhan pre-level dahulu yang dipengaruhi oleh deficiency motivation, tapi lebih oleh growth motivation! Jadi bisa acak aja, mana duluan yang butuh! =) Dan kebutuhan akan B-Values, demikian Maslow menyebut untuk nilai2 yang menggerakkan seseorang mengaktualisasi diri, tentu saja berbeda2 dan unik sifatnya antara orang yang satu dengan yang lain. Pada akhirnya orang yang telah melalui proses aktualisasi diri dimungkinkan mengalami kondisi puncak atau “peak experience” yang langka, yang tidak sembarang orang bisa mencapainya, kondisi yang seperti apa itu? Nach, stay tune, nanti setelah istirahat QT akan memasuki bahasan pemuncak ini… Siapkan tenaga dalam! Latihan lwee-kang, pernafasan teratur! Tariiik… Hembuuss… Tariiik… Baguuuss!! ^^;
Meanwhile take care n F nice days! Tnx 4 re-Dn, met kerja n belajar wat semuanya! Ai! Pa kabar? Dah sarapan?!
Kido Kamen =)
—
PS: Bersambung lagi chooyy!! ^^;v