Badai pasti berlalu…

Hujan deras berhenti…

Air bah tidak lagi bergolak dan menggelegak…

Fajar baru tiba, mentari mulai bersinar cerah…

Banjir pun berangsur2 mulai surut…

Sigh…

Kuterhempas…

Yang tersisa tinggal lelah…

Setelah Aceh diterjang Tsunami, Yogyakarta diguncang Gempa, waktu itu sempat tercetus sekelebat pikiran yang membuatku tercenung… Jika hanya ada 3 Daerah Istimewa di Indonesia — secara pelajaran Geografi dulu khan gitu? ^^; — D.I Aceh (sebelum berganti nama menjadi N.A.D, Nanggroe Aceh Darussalam), D.I Yogyakarta, dan D.K.I alias Daerah Khusus Ibukota, yaitu Jakarta…

Pertanyaan yang mencuat seketika, jangan2 jatah berikut JAKARTA? Tapi dalam bentuk apa?…

Pertanyaan tinggal pertanyaan. Sekarang yang diperlukan adalah jawaban. Solusi mengatasi permasalahan pascabanjir yang melanda ibukota tanah air sejak awal Februari. Ratusan ribu jiwa pengungsi yang kehilangan tempat tinggalnya, puluhan yang meninggal, mereka yang mengalami kelaparan, kedinginan, berhari2 terisolasi tanpa akses dan tanpa logistik, di tengah air yang mengepung dengan ketinggian rata2 mencapai 2 meter, kemana2 terlihat hanya air, dan pucuk2 atap rumah yang malang, dengan 1-2 penghuni masih bertahan di puncak gentengnya, menanti datang bantuan, perahu karet tim SAR, membawa selimut, pakaian, obat2an, terutama makanan, apa saja yang penting bisa untuk langsung dimakan…

Lalu saat akhirnya berhasil dievakuasi, masalah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Ribuan jiwa mulai mengalami sakit, panas dingin serta demam, belum lagi ancaman bahaya leptospirosis akibat kencing tikus dan hewan lain yang tercampur bersama banjir, diare, penyakit kulit, di antara berjatuhan korban Demam Berdarah Dengue (baca: Dengge) yang sempat2nya nyamuk Aedes Aegepty menggigit, mencuri kesempatan dalam kesempitan, menambah penderitaan warga Jakarta yang –- akhirnya? -– kebagian juga mengalaminya…

Bagi pemerintah kota, masalah sampah yang menggunung setelah surut banjir, perbaikan infrastruktur dan saluran pembuangan air serta pembenahan tata kota yang mendesak agar bencana tidak terulang lagi, juga relokasi warga dan rumah2nya di bantaran kali2 besar, adalah pekerjaan rumah yang berat serta sarat pengorbanan, penuh dengan perjuangan, tapi harus dilakukan! Adalah menjadi tanggung jawab semua, tugas QT bersama! Jangan saling menyalahkan atau main tuding, tunjuk, lempar beban, musibah yang terjadi adalah akibat manusia melanggar sunatullah, rambu2 yang telah ditetapkan-Nya, sehingga QT menuai buah karya tangan QT sendiri yang jahil mungkin kelewatan, bukan semata hukuman dari Tuhan! Hanya dampak dari yang QT perbuat! Saatnya berintrospeksi dan benahi mulai dari diri QT sendiri…

Sejarah selalu berulang. Siklus terus terjadi. Konon banjir besar yang menerjang Jakarta diawal Februari merupakan siklus lima tahunan, terakhir terjadi pada — bukan kebetulan — tanggal yang sama 1-2 Februari, 2002! Masalahnya, adakah QT belajar dari kesalahan masa lalu? Agaknya QT belum benar2 belajar sehingga harus mengalami kembali…

Kido melihatnya seperti peringatan dari Tuhan. Aceh "terpilih" untuk diberi peringatan keras yang pertama, katakanlah SP1! Karena bangsa ini masih saja gemar berkecimpung ke dalam perpecahan, sengit adu mulut sampai adu jotos, bak-buk dan gontok2an, baku hantam yang tak menyelesaikan masalah malah tambah memperkeruh masalah, mengatasnamakan agama untuk tujuan lain dan kepentingan berbeda, bahkan dalam agama yang sama pun terjadi bantah2an yang mengedepankan taqlid, fanatisme buta, pada mazhab, golongan masing2, yang memperlarut memperpanjang masalah hingga tidak kunjung tuntas, boleh jadi Tuhan geram, dan Aceh — maaf untuk teman2ku dari Aceh — hanyalah 1 tempat yang dipilih-Nya sebagai contoh — bisa dimana saja sesuka Tuhan — agar QT menghentikan sejenak perselisihan, pertengkaran, dan segala hiruk pikuk keributan yang terjadi, dan berpaling!! Walau harus dengan paksa! Dalam sekejap, di Minggu pagi itu, Dunia dibuat terhenyak! Milyaran pasang mata terbelalak, saat air bah tsunami pada 26 Desember 2004 bergulung tinggi dan bergerak dengan cepat setelah sejenak surut dan menarik air laut hingga jauh, lalu datang bergelombang dan menghempas dengan ganas! Menerjang dan menyapu habis mencerabut semua yang dilewatinya tanpa ada ampun! Banyak orang tak sempat lagi menyelamatkan diri! Yang bertanya2 ada apa ini bahkan belum sempat menemukan jawaban, lari pun tak keburu lagi, tinggallah QT yang menyaksikan bagai tak percaya, sisa2 ribuan mayat kaku bergelimpangan, rumah2 hancur tinggal puing2, rata dengan tanah, bersama tumpukan potongan kayu2 dan sampah yang menggunung berkubang di lumpur, jasad2 yang hanyut tak tertemukan, wajah yang tak bisa dikenali lagi, badan hitam yang teronggok dan berserak tanpa nama, hingga ribuan jumlahnya, ah sudahlah! Terlalu pedih diingatkan, tetapi tak pula pantas mereka dilupakan! Mereka semua adalah jiwa2 yang terlalu berharga karena bagaimanapun mereka adalah orang2 terkasih bagi mereka yang mengasihi dan dikasihi… Hanya do’a semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan di dalam keyakinan bahwa yang meninggalkan mereka Insya 4JJI akan mendapat tempat yang lebih baik di Akhirat kelak, sesuai dengan amal perbuatannya masing2 kala hidup di dunia! Dan semoga kejadian akbar ini bisa menjadi pelajaran bagi QT2 yang terpilih menjadi saksi, menyaksikan besarnya kuasa Tuhan! Catatan: Jumlah korban tewas akibat tsunami di Aceh mencapai 170.000 jiwa. Sebanyak itukah harga yang harus ditebus agar QT menghentikan sejenak segala kesibukan duniawi, dan tergedor — saat hati tak lagi mempan diketuk dengan lembut — pintu kalbu QT dan terbuka mata batin QT, ada apakah gerangan? Mengapa Tuhan menimpakan bencana sedahsyat tsunami tersebut di Aceh?! Adakah lisan tergerak untuk menyebut nama-Nya, menghunjam di dalam hati? Bukankah saat ditimpakan musibah, QT umat Islam dianjurkan untuk mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun” yang artinya QT semua dari-Nya dan QT semua pasti akan kembali pada-Nya?! Sebagai wujud kepasrahan total kepada Allah? Apakah dengan diperlihatkan tanda2 kekuasaan-Nya Yang Maha Perkasa, QT masih belum tergerak untuk mendengarkan nurani dan menghidupkan kembali kepekaan jiwa sosial kemanusiaan QT untuk segera bertindak mengulurkan bantuan bagi saudara2 QT yang membutuhkan, sebagaimana perlakuan seorang "manusia" semestinya?!

Ataukah semua itu hanya sekedar berita, tayangan di televisi, atau bacaan di koran dan internet, wacana menghangat, hiburan sesaat, lalu QT telah penat lagi disibukkan oleh berbagai macam urusan mengejar dunia yang terus saja berlari meninggalkan QT yang memburunya terengah2 jauh lelah di belakang? Barangkali sebagian dari QT sempat terlintas begini: Ahhh, Aceh khan jauh! Toh gak ngefek langsung ama QT! Prihatin sich ya kasihan, but life goes on, show must go on… Kira2 begitulah! Dan QT kembali larut dalam kesibukan yang menyeret QT hingga kembali melalaikan kewajiban QT kepada Tuhan…

Maka jangan heran kalau SP2 dikeluarkan akibat kelalaian manusia! "Surat Peringatan" yang ke-2, didatangkan kini lebih dekat! Khususnya buat QT2 yang ada di Jakarta! Karena kayanya biang masalahnya emang ada di sini nich! ^^; Heran, sampe perlu ditegur keras ke-2 kali! Kali ini lebih keras! Bukan cuma ditampar, tapi sampe mengguncang dan membuat seluruh tubuh terhuyung2 terhempas pukulan dahsyat oleh gempa! Ya, gempa bumi pada Sabtu, 27 Mei 2006 lalu dengan kekuatan 5.9 skala Richter pada pukul 05:53 pagi, belum lagi jam 6, dan hanya butuh kurang dari 1 menit! Tapi lihatlah yang diakibatkannya! Tercatat 3.098 orang tewas, umumnya tertimpa reruntuhan rumah2 yang rubuh ambruk seketika atau pada waktu yang hampir bersamaan, 2.971 orang dari total itu atau sebagian besar berasal dari daerah Bantul, gempa juga tercatat merusak 3.824 bangunan, infrastruktur, dan memutus jaringan telekomunikasi di Yogyakarta dan sekitarnya! Korban gempa juga berasal dari daerah Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, hingga ke Jawa Tengah yakni Klaten dan Boyolali! Dengan permohonan maaf pada teman2 dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya, bukan ingin mengungkit kenangan pahit, tapi sekedar menjadikan cerminan, berefleksi, untuk memetik pelajaran yang amat berharga, dan kunci pembuka ilmu tentu adalah dengan tanya, karenanya marilah QT tanyakan kembali ke dalam batin, apakah lagi yang salah dari QT kali ini?! Ya, tidak salah jika QT menanyakan apa yang mungkin salah, karena Tuhan tak mungkin salah, di dalam firman-Nya di Al-Qur’an disebutkan:

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah."

(Q.S. Asy-Syuura: 30-31)

Sudah tergaris demikian. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan memakai ukuran dan dengan keseimbangan. Segala yang harmonis di alam ini adalah jika berada dalam kondisi seimbang. Planet2 mengelilingi matahari dalam garis edarnya, pada saat bersamaan berotasi di porosnya sehingga terjadilah siang dan malam, pergerakan ini konstan di dalam keseimbangan, tak pernah melenceng karena jika nekad mencoba melanggar lintasan planet2 lain, tentu akan bertabrakan dan memicu kehancuran di seluruh tata surya akibat kolaps dan tak seimbang lagi jarak dan besarnya gaya gravitasi yang saling mempengaruhi!

Sunatullah menghendaki QT hidup nikmat dan nyaman dalam keseimbangan dengan alam sekitarnya. Manusia diutus-Nya untuk menjadi khalifah, pengelola dan pemakmur bumi, untuk memelihara keseimbangan alam, untuk digunakan sebagian kenikmatan yang melimpah itu dimanfaatkan olehnya dengan bijak, dan sebagian lainnya ditujukan untuk kepentingan umum dengan niat tulus sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan. Semestinya demikian. Hanya seringkali manusia dengan kekuatannya yang tidak seberapa, namun dengan keserakahan yang tidak kenal batas, mulai lupa daratan, lalai dan mulai berbuat kerusakan, mengejar keuntungan sebesar mungkin, tak mempedulikan konsekuensi perbuatannya, mengganggu tatanan keseimbangan di alam raya, dengan mengeruki isi perut bumi, berbuat semena2, semaunya, menimbulkan kekacauan, keributan, kekisruhan, kerusuhan, perpecahan, kehancuran, chaos, yang mengganggu sunatullah, keseimbangan yang dijadikan-Nya ukuran. Maka akibat perbuatan kesewenang2an QT itu, jangan salahkan jika alam membalas dengan caranya sendiri, tentu setelah mendapat izin Tuhan…

Maka ketika barangkali manusia bukan saja mulai lalai dari mengingat Allah, tapi malah mulai berani berpaling kepada selain-Nya, dengan menyekutukan-Nya, menjadikan kekuatan lain yang lemah tak sebanding dengan kekuatan-Nya sebagai penyanding Dia Yang Maha Kuat sebagai sesembahan! Adakah itu pantas QT lakukan? Setelah segala nikmat karunia berlimpah yang diberikan oleh Tuhan? QT malah menyembah yang selain-Nya? Segala ritual, sesajen, larung, bid’ah, khurafat yang mengundang kemusyrikan, perbuatan sesat dan yang menyesatkan, percaya kepada bisik sesat Syaithan yang dengan tipu dayanya memperdaya QT hingga meyakini yang bathil sebagai haq, haq jadi bathil, dan jadi berbuat syirik, Hai Manusia! QT sudah terlalu jauh tersesat, segera sadar! Kembalilah pada Tuhan!! Dengarkan seruan kebenaran yang dibenarkan oleh nuranimu yang lirih namun jernih, pikiran bersih, jiwa yang tenang…

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja."

(Q.S. At-Taghaabun: 11-13)

Renungkanlah…

Tuhan begitu sayangnya pada QT, sungguh mengasihi QT, tidak 1-2 kali ini saja QT diperingatkan-Nya, tentu saja QT tidak bisa mengesampingkan dari hitungan musibah luar biasa, gempa yang mengguncang Nias tahun 2005 dan memakan korban 1000-an jiwa, juga musibah di luar nalar yang menimpa Sidoarjo dan daerah lain sekitarnya, semburan yang hingga hari ini masih tak juga kunjung berhenti, deras memancar lumpur panas dengan volume ribuan meter kubik tiap hari masih terus sampai hari ini, seakan perut bumi ingin menguras habis keluar isinya, telah menenggelamkan banyak desa di sekitarnya, lebih parah daripada banjir besar yang melanda Jakarta minggu yang lalu, yang kini mulai berangsur surut, dan kehidupan kembali normal. Tapi tidak bagi warga Sidoarjo, Porong, Tanggul Angin, dan desa2 di sekitarnya. QT mungkin hanya kehilangan perabotan hanyut atau basah, rumah terendam, barang elektronik rusak tenggelam dalam air, tapi toh rumah masih tegak berdiri, hanya satu dua di sana-sini yang rusak parah, masih bisa ditempati dan kembali menjadi tempat bernaung, walau dalam beberapa hari ke depan kehidupan mungkin akan jadi sedikit sulit, tetapi QT masih bisa bertahan! Our life goes on!

Bagaimana dengan korban lumpur panas yang diakibatkan kegagalan eksplorasi PT Lapindo Brantas?! Selagi kasusnya masih simpang siur tanpa ada langkah penyelesaian yang jelas pasti, para petinggi masih saling tuding cari kambing hitam melempar kesalahan, para korban tak bisa menunggu lebih lama lagi! Seluruh desa2 habis terbenam dalam lumpur dengan ketinggian melebihi banjir bandang merendam Jakarta! Tak ada lagi yang tersisa, tak pula kelihatan pucuk atap rumah terlihat di sana, semuanya tenggelam dilumat buas lumpur panas, tak ada lagi yang tersisa bisa diselamatkan! Hidup hanya bergantung pada belas kasih sesama, tinggal di tempat2 penampungan yang seadanya, tak bisa bekerja atau bersekolah, untuk makan saja susah, sejumlah keluarga bahkan terpaksa harus pasrah mungkin untuk selamanya tak lagi bisa ziarah ke makam anggota keluarganya karena bukan hanya area pemakaman tapi seluruh desa2 mereka terbenam oleh tinggi lumpur hingga melebihi 5 meter! Masya Allah! Demikian jika Allah menghendaki…

Tidakkah QT jadi merasa iba? Tidakkah di sisi lain QT masih merasa lebih beruntung? Bukan berarti QT berhak tertawa di atas penderitaan orang lain, tapi kepedulian pada sesama dari QT adalah yang dibutuhkan mereka hari2 ini ke depan. QT diajarkan Tuhan belajar bertenggang rasa, tak berhenti hanya bersimpati tapi juga turun tangan langsung, berempati, turut merasakan penderitaan saudara QT, dan bertindak aktif untuk meringankan beban yang mereka tanggung sebagai beban berat QT bersama! Yang paling urgent sekarang bukan mencari siapa yang salah, tapi melakukan yang semestinya benar! Disinilah jiwa2 yang belum mati dan mengeras hatinya jadi merasa terpanggil! Ada sesuatu yang seharusnya QT perbuat! Apapun bantuan yang bisa QT beri, segera berikanlah! Yang bisa QT lakukan, lakukanlah! Bersyukurlah bukan QT yang harus jadi mereka! Karenanya ulurkan pertolongan ikhlas, tak mesti menunggu di sorot kamera atau mencari nama, makin baik jika tak ada yang tahu, hingga ketulusan QT terjaga, kemurnian niat dari hati yang bersih, ikhlas menolong sesama, semata hanya mengharapkan ridho-Nya! Percayalah, bahkan jika tak seorangpun manusia yang tahu, Allah tetap Tuhan Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Tahu segala sesuatu bahkan hingga lintasan bersitan hati! Setidaknya berharap jika suatu hari QT harus mengalami hal ini, akan ada pertolongan Allah melalui tangan bantuan orang lain untuk QT! Ini antara lain adalah hikmah dari anjuran saling tolong-menolong! Insya 4JJI! Kebaikan akan kembali kepada pembuatnya! Karenanya, percaya sajalah, dan lakukan saja dengan ringan! Cukup Allah Yang kelak akan membalas! =)

Jadi? Apakah banjir besar yang menenggelamkan hingga 70% wilayah DKI Jakarta pantas dijadikan Surat Peringatan yang ke-3?! Atau malah sudah jadi yang ke-5?! Tergantung siapa dan bagaimana QT melihat, tapi intinya adalah, segala peringatan itu diturunkan oleh-Nya, semestinya QT tak kendur waspada! Dan bersegera mohon ampun bertaubat pada-Nya, sebelum datang konsekuensi final yang semoga tak mesti harus terjadi! Kantor saja bisa punya peraturan baku yang harus ditegakkan, dipatuhi, dan tak bisa dilanggar melainkan diberi konsekuensi peringatan dan hukuman! Jika demikian, secara logika bagaimana mungkin Tuhan yang menyelenggarakan seluruh kehidupan di semesta alam tidak punya peraturan?!… Tidakkah QT renungkan?!…

Barangkali selama ini QT menjalani hidup semaunya saja, sebebas kehendak QT, apa yang QT anggap dan yakini pantas dan benar! Tapi pernahkah QT tanya pada diri sendiri, sudahkah perbuatan QT tersebut sesuai, pantas dan benar, dalam penilaian Tuhan?… Tidak melanggar norma2, rambu2 dan peraturan yang telah ditetapkan oleh-Nya untuk kebaikan QT? Tuhan sebagai pemilik ”organisasi” alam semesta raya, yang mengikat QT dengan kontrak hidup di dunia untuk ”bekerja” dan mengabdi pada-Nya? Sudahkah QT melaksanakan tanggung jawab QT pada Tuhan? Tanggung jawab yang diperintahkan oleh-Nya untuk mengelola bumi dan seisinya demi kemakmuran penghuninya. Itulah tugas yang diamanatkan Tuhan kepada manusia, setelah diberi jabatan Khalifah! Sebagai KQ-Tangan Tuhan di bumi!

Laju organisasi tentu amat ditentukan oleh SDM anggotanya! Jika SDM-nya baik, maka kinerja pun Insya 4JJI baik! Dengan segala fungsi berjalan baik, maka kesuksesan organisasi pun tinggal soal waktu saja. Imbal baliknya, kesuksesan organisasi tentu berdampak pada kemakmuran anggotanya. Yang menikmati keuntungannya QT2 juga! Jadi jika segala sesuatu telah berjalan sistematis pada relnya, yang disebut Sunatullah, sebagaimana mestinya, sudah tentu segalanya akan lancar, juga indah! Tapi jika ada orang2, oknum2 di organisasi, yang ternyata berbuat kerusakan serta bertindak semaunya, tidak patuh pada peraturan di organisasi, sehingga merugikan organisasi secara keseluruhan, apakah menurut NT Tuhan akan tinggal diam?!… Jika ada pegawai yang malas2an bekerja, lalai dan melupakan tanggung jawabnya, apakah tidak pantas jika lantas Tuhan menurunkan teguran?… Jika ada pegawai yang setelah mengikat kontrak kerja di perusahaan milik Tuhan, tapi ternyata ”mendua” pada saat bersamaan asyik bekerja di tempat kerja lain, bahkan lebih mementingkan organisasi tandingan, apakah tidak wajar jika Tuhan lantas bereaksi keras dan menghukum dengan pantas, amat bisa jadi QT dipecat dari organisasi pimpinan-Nya! Na’udzubillahi min dzalik! Karenanya segera sadarilah posisi QT dan benahi tingkah perbuatan QT! Selagi yang keluar barulah surat peringatan, belum surat pemecatan! T____T

Seperti peraturan organisasi, untuk menindak kesalahan pun ada tahapannya. Pertama teguran lisan, kalo masih tidak mempan, dikeluarkan peringatan tertulis yang pertama, masih bandel juga, SP yang ke-2, masih juga keras kepala dan tak bisa diatur, terpaksa di SP-3, kalo udah kelewatan dan gak mau diperintah lagi, apa boleh buat, diberhentikanlah dengan tidak hormat! Silakan menilai QT saat ini sudah sampai tahap mana…

Semoga dengan QT menyadari kesalahan yang diperbuat, lalu segera taubat, mohon ampun pada Allah dan berjanji tak akan mengulanginya lagi di masa mendatang, serta berusaha dan bertekad kuat untuk perbaiki diri agar jadi lebih baik, bekerja dan mengabdi hanya pada-Nya, Insya 4JJI, Tuhan akan urung mengeluarkan surat PHK, keputusan final yang tak bisa diganggu gugat, jatuhnya azab kemurkaan Tuhan pada negeri tercinta ini! Semoga tidak perlu sampai terjadi! Makanya, sadar woiiiii! Sadaaaarrrrrrr!!! T_____T

Selamat berintrospeksi…

Kido Kamen =)