Bismillahirrahmaanirrahiim…

Alhamdulillah, puasa di hari pertama Ramadhan telah sama2 QT lalui, Insya Allah, dengan sukses n memuaskan. Mari jadikan Ramadhan tahun ini tidak sekedar berlalu tanpa makna, bukan sekedar ritual tahunan belaka n ikut2an, apalagi sampai merasa terpaksa, ikhlas saja! Karena jika QT memahami esensi diwajibkannya puasa yang adalah demi kepentingan n kebahagiaan QT sendiri, tentulah QT justru akan jadi makin terpacu untuk mengisi hari2 Ramadhan yang singkat jadi bernilai dengan mengoptimalkan amal n ibadah sebagai bekal QT menggapai ridho kecintaan-Nya! Hari ini Insya Allah QT akan bersama coba mengupas hakikat diwajibkannya berpuasa yang diserukan kepada orang2 yang beriman, dilandaskan pada bahasan kemarin setelah QT memahami sifat Rahmaan n Rahiim-Nya, betapa Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Allah, Tuhan QT semua… =)

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Gaya bahasa Al-Qur’an memang unik. Dan sesungguhnya jika QT tergerak menelaah n mengupas lebih dalam, QT akan temukan betapa setiap pilihan kalimat, pilihan kata, bahkan huruf, semua telah diatur, punya arti, punya makna, yang spesifik, berbeda, jelas mempunyai tujuan tertentu. Satu contoh, sering QT jumpai kalimat seruan yang khas, “Yaa AyyuhanNaas” atau Wahai Manusia, “Yaa Ayyuhal Muslimuun” Wahai orang2 Muslim atau “Yaa AyyuhanNabiyyu” Wahai Nabi, n sebagainya. Seruan itu ada yang bersifat umum, ada pula yang khusus yang berjenjang lagi bertingkat. Maka menarik disimak, mengapa untuk perintah diwajibkannya PUASA, Allah memilih menggunakan seruan khusus “Yaa Ayyuhalladzinaa Aamanu!” yang mana artinya “Wahai orang-orang yang beriman”? Mengapa yang disapa hanya orang2 beriman? Yang tidak beriman nggak “Hai”?… ^^; Tentu ada alasannya!

Mari QT coba kupas kulit bawang selembar demi selembar… =)

Dalam Al-Qur’an seringkali digunakan kata ganti kelompok yang spesifik merujuk pada sifat2 dalam kelompok itu. An-Naas adalah golongan manusia. Artinya semua manusia, apapun agamanya, tergolong ke dalam kelompok ini. Adapun istilah Insaan lebih tertuju pada manusia sebagai seorang pribadi. Kualitas tiap pribadi berbeda2, dan Allah tidak melihat seseorang dari rupanya, atau derajat pangkat n jabatannya semasa hidup di dunia, atau kekayaannya, atau pendidikannya, atau dari suku bangsa mana dirinya berasal, bagi Allah semua itu bukan ukuran penting n bernilai! Penilaian di sisi Allah lebih mengukur kedalaman hati manusia, yakni seberapa takwanya ia kepada Allah SWT. Jadi Al-Insaan lebih spesifik daripada An-Naas. Kualitas pribadi seorang manusia sebagai individulah yang lebih menentukan mengangkat derajatnya dibanding sesama manusia lain, n ukuran kualitas pribadi itu dalam penilaian Allah adalah tingkat KETAKWAAN QT! Bukankah Allah berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujuraat: 13)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Q.S. Al Maa’idah: 48)

Demikianlah Allah telah menjelaskan tujuan diciptakan manusia yang sesungguhnya adalah umat yang satu, namun dengan hikmahnya dari satu orang tua laki-laki yakni Nabi Adam Alaihissalam n istrinya seorang perempuan yaitu Hawa, Allah memperbanyak keturunan manusia berkembang n terus bertambah menyebar di muka bumi, sehingga menjadi berbangsa2 n bersuku2 yang berlainan rupanya. Untuk apa? Supaya QT saling kenal-mengenal! Lalu memahami adanya perbedaan, n semoga dapat menuntun untuk merenungkan mengapa Allah menetapkan sunnah-Nya demikian. Dijelaskan pada ayat di bawahnya, bahwa tujuan dijadikan QT berbeda2 ialah untuk menguji manusia terhadap pemberian Allah, adakah QT ingat berterima kasih n menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur kepada-Nya, atau QT malah kafir, mengingkari atas segala nikmat yang telah dilimpahkan Allah pada QT! Inilah yang dimaksudkan dengan ujian ketakwaan, yang mana menjadi satu-satunya dasar penilaian Allah kepada manusia untuk menentukan tingkat kemuliaan kelak di sisi-Nya. Adapun tingkatan2 ini disifati Allah dalam sejumlah golongan manusia, yaitu: Muslimin (orang2 yang berserah diri kepada Allah, dengan masuk ke agama yang diridhoi Allah yaitu Islam), setingkat di atasnya ada Mukminin (orang2 yang beriman, yang meyakini bahwa tiada tuhan yang lain selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, juga meyakini bahwa Al-Qur’an sebagaimana kitab2 terdahulu adalah wahyu dari-Nya, yang dibawa n disampaikan oleh Nabi2 n Rasul2 pilihan-Nya, juga yang mengimani hal2 ghaib yang diberitahukan-Nya kepada QT seperti adanya malaikat, pembalasan surga serta neraka, adanya takdir n ketetapan Allah, serta meyakini Hari Akhir yang terkemudian, kemana QT menuju!) Nach, ternyata di atas Mukminin masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi, itulah mereka yang didekatkan dengan kasih-Nya, orang2 yang terpilih, yang telah lulus ujian yang berat menjalaninya dengan ikhlas lagi mengharap ridho-Nya, merekalah yang mendapat derajat Muttaqiin, yakni orang2 yang bertakwa!

Maka jika QT cermati ayat 183 dari Surat Al-Baqarah di atas, pahamlah QT mengapa Allah tidak menyeru ”Wahai Manusia”, atau ”Wahai Umat Islam” saja? Lebih spesifik, Allah menyeru hanya bagi ”orang2 yang beriman” untuk menjalankan kewajiban ibadah puasa yang adalah ujian-Nya, untuk apa? Karena Allah berkenan mengangkat derajat QT! Setelah diangkat dari manusia kebanyakan (An-Naas) dengan diberi hidayah Islam (Al-Muslimun) yang beriman kepada-Nya, meyakini n percaya kepada Allah dengan sepenuh hati, lalu mengikuti petunjuk-Nya dengan mengerjakan segala perintah-Nya n menjauhi larangan-Nya (Al-Mukminun), kini pada jamuan yang istimewa di bulan Ramadhan ini, Allah berkenan mengundang QT lagi untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat yang lebih tinggi agar lebih mendekat kepada Allah Tuhan Yang Maha Tinggi, dengan menerapkan keislaman QT pada tiap2 sendi n pondasi, bukan hanya taat beribadah sebagai ritual, tapi yang terpenting mengaplikasikan ajaran-Nya ke dalam kehidupan sehari2, menebar salam kedamaian, menanamkan kepedulian kepada sesama, bukan sekedar simpati namun juga berempati n langsung terjun menolong, menjadi contoh teladan n panutan, tidak menjadi ancaman bagi orang lain, menjadikan aman n nyaman siapa saja yang berada di dekatnya, yang akhirnya mewujudkan citra Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh semesta, dimanapun QT berada, rahmatan lil ’aalamin… Insya Allah! =)

Mereka inilah yang kelak pantas menyandang predikat orang2 BERTAKWA! Yang diridhoi lagi dicintai-Nya! Dan ujian ketakwaan yang disediakan oleh Allah di bulan Ramadhan bagi orang2 yang beriman adalah dengan PUASA! Bagaimana QT diajarkan untuk bukan sekedar iba atau kasihan kepada fakir miskin, pengemis, anak yatim, yang berhari2 menahan lapar karena tak mampu beli makanan, yang menahan haus, yang tak punya sanak famili, yang terlupakan, yang tidak terperhatikan. Dengan QT berpuasa, QT jadi turut langsung merasakan apa yang mereka rasakan, kelaparan, kehausan, letih lelah, sehingga timbullah empati QT untuk meringankan penderitaan saudara QT, berbagi rezeki yang sejatinya memang Allah titipkan sebagian pada QT untuk dinafkahkan di jalan-Nya, diberikan kepada mereka yang membutuhkannya! Berbagi, saling memberi, memberikan pertolongan, meringankan beban, saling mencintai, peduli pada sesama, adalah segayung dari sebegitu luas lautan hikmah dari puasa yang sungguh besar manfaat bagi umat manusia. Maka Allah Yang Maha Pemurah jauh lebih Pemurah daripada orang2 yang bermurah hati di bulan ini! Kebaikan Allah melebihi keikhlasan orang yang berbuat baik beriring senyuman. Itulah Allah, Tuhan Yang Paling Baik. Sebagai balasan bagi orang2 yang beriman n patuh kepada perintah wajib untuk puasa, Allah memberi pahala yang besar berlipat ganda! Betapa nilai perbuatan kebaikan yang dilakukan pada bulan ini diberi pahala hingga 10 kali lipatnya dari bulan2 lain. Amalan yang sunnah jadi senilai dengan yang fardhu! Ibadah yang fardhu setara dengan 70 kali nilai biasanya di bulan lain! Subhanallah! Dan bukan hanya itu saja! Yang utama Allah menjanjikan rahmat-Nya berupa janji Surga, serta ampunan-Nya atas dosa2 QT betapapun banyaknya asal QT bertaubat pada-Nya, Insya Allah QT akan terhindar n diselamatkan dari siksa Neraka! Subhanallah! Walhamdulillah! Wa Laa ilaaha illallah! Wallahu Akbar! Bukankah Allah Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba2-Nya?

”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

(Q.S. Al Baqarah: 261)

Maka tujuan akhir dari diwajibkan puasa sebagai sarana penggemblengan n pelatihan QT selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan, untuk mengaplikasikannya pada 11 bulan berikutnya, adalah mengangkat derajat orang2 beriman, supaya mendapatkan ridho n kecintaan Allah, sehingga dapat beroleh predikat sebagai orang yang BERTAKWA! =)

Manusia adalah makhluk pilihan. Allah mengabadikan kata yang berarti manusia sebagai nama salah satu surat di Al-Qur’an, yakni surat terakhir dalam susunan, ke-114, Surat An-Naas! Sebuah surat pendek yang mengajarkan cara manusia berlindung dari godaan syaithan yang terkutuk, yang berasal dari jin n manusia, yakni dengan bersandar kepada Allah SWT! Jadi yang disebut Syaithan sebenarnya bukan mengacu spesifik kepada satu golongan makhluk tertentu yang sering digambarkan berwujud seram n menakutkan, tapi Syaithan sebenarnya adalah predikat yang disematkan kepada jin maupun manusia, yang menyesatkan sesamanya dari mengikuti petunjuk Tuhan.

Kata An-Naas adalah istilah yang mensifati golongan manusia secara umum sebagai bangsa atau umat. Maka Surat An-Naas di dalam Al-Qur’an bisa QT interpretasikan bahwa, siapapun dia, manusia, apapun suku bangsa maupun agamanya, jika ingin selamat hidup di dunia hingga akhirat kelak, bila ingin terhindar dari godaan syaithan dengan banyak macam tipu dayanya, Allah memberitahukan kepada manusia, yakni dengan cara berlindung kepada-Nya! Dialah Allah, Tuhannya manusia, raja serta sembahan manusia yang paling pantas untuk disembah, tempat bergantung serta memohonkan pertolongan! Karena memang tidak ada daya n upaya melainkan dengan pertolongan dari-Nya…

”Katakanlah: ’Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

Raja manusia.

Sembahan manusia.

Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi,

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

dari (golongan) jin dan manusia.’”

(Q.S. An-Naas: 1-6)

Sungguh manusia makhluk istimewa yang diistimewakan-Nya. Bahkan ternyata Allah tak cukup memuliakan manusia hanya dengan 1 surat pendek saja! Kembali dengan istilah yang lain yang juga berarti manusia, Al-Insaan, manusia diangkat derajatnya lagi dalam Al-Qur’an diabadikan sebagai nama surat ke-76, yakni surat Al-Insaan dengan 31 ayat, yang isinya mencakup hal: penciptaan manusia, petunjuk2 untuk mencapai kehidupan sempurna yakni antaranya dengan menempuh jalan yang lurus, memenuhi nazar, memberi makan orang miskin n anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah, takut kepada hari kiamat, mengerjakan shalat, juga shalat tahajjud, n bersabar dalam menjalankan hukum2 Allah. Juga di dalamnya diterangkan ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk n ancaman terhadap orang yang mengingkarinya. Demikianlah Allah memberi petunjuk kepada manusia! =)

Sampai di sini bolehlah QT GR, jika QT mengartikan Allah begitu memuliakan makhluk berspesies manusia. Bukankah faktanya sampai 2 kali dimuliakan dengan 2 kata yang berarti manusia, dijadikan nama surat di Al-Qur’an?! Baik manusia sebagai pribadi (Al-Insaan) maupun umum (An-Naas) sebagai kelompok bangsa2 atau umat. Bahkan QT sampai dibanggakan-Nya di hadapan para malaikat tatkala hendak menciptakan Nabi Adam Alaihissalam, yakni manusia pertama n bapak moyang QT semua! Subhanallah!!

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Bandingkan dengan makhluk lain yang juga diciptakan-Nya hidup bersama manusia di bumi, yaitu golongan Jin! Ya, jin dan manusia sesungguhnya hidup berdampingan di atas bumi yang sama, hanya berbeda alam. Mereka jauh lebih dulu ada dari manusia, tercipta dari nyala api, sementara manusia diciptakan dari saripati tanah. Itulah mengapa jasad manusia sifatnya material, secara fisik QT bisa disentuh, namun bangsa jin tidak dapat terlihat, walau sesungguhnya mereka berkeliaran di sekitar QT. Adapun Iblis yang dari golongan Jin merasa dirinya lebih mulia atas dasar penciptaannya dari Adam, karenanya ia menolak sujud memberi hormat kepada Adam yang dipilih oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah adalah pemimpin, yang dipercaya n diberi amanat mengelola n memakmurkan bumi-Nya. Adapun amat boleh jadi yang dimaksud pada ayat di atas oleh malaikat dengan orang yang gemar berbuat kerusakan serta menumpahkan darah di bumi sebelum ada manusia, adalah dari golongan Jin yang memang telah ribuan tahun lebih dulu ada di bumi! Perhatikan ayat2 di bawah ini:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 34)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Kahfi: 50)

Malaikat khawatir bahwa manusia yakni makhluk yang baru ini tidak akan jauh berbeda dari bangsa Jin yang berbuat kerusakan n amat gemar berperang di dunia. Karena itu mereka mengajukan keberatan, atau lebih tepatnya mempertanyakan, padahal malaikat selalu bertasbih memuji n mensucikan Allah setiap saat, senantiasa patuh apapun yang diperintahkan Allah kepada mereka, mengapa sampai harus menciptakan makhluk baru yang lain lagi, barangkali begitulah pertimbangan malaikat waktu itu, karena memang malaikat yang diciptakan dari Nur (Cahaya) tidak diberi hawa nafsu oleh Allah, walaupun diberi akal. Mereka diciptakan untuk selalu patuh n mengerjakan apapun yang diperintahkan. Ini berbeda dengan golongan jin n manusia, yang diberi akal, juga hawa nafsu! Sedangkan hewan hanya diberi hawa nafsu, tapi tidak dikaruniai akal, walaupun secara fisik mempunyai otak! Nach, tidakkah ini saja menjadi pikiran bagi orang2 yang berakal? Inilah Insya Allah yang dimaksud-Nya ketika Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Allah mempunyai rahasia n hikmah besar di balik penciptaan manusia!

Dengan potensi yang QT miliki yakni akal n hawa nafsu, Allah hendak menguji apakah QT manusia pantas jadi makhluk yang dibanggakan-Nya, dapat mencapai kualitas derajat ketaqwaan malaikat lantaran kepatuhannya, ataukah menjadi pembangkang seperti Iblis dari golongan Jin, atau malah hanya memperturutkan hawa nafsunya seperti binatang? Bahkan jauh lebih rendah lagi? Na’udzubillahi min dzalik!

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raaf: 179)

Perhatikan! Bacalah berulang2! Renungkanlah isi ayat di atas n resapilah…

Malaikat diabadikan dalam Al-Qur’an pada 1 surat yang spesifik menceritakan tentang mereka n tugas2nya, yakni Al-Mursalaat, yang artinya Malaikat2 yang diutus. Jin juga diabadikan oleh Allah, mendapat 1 tempat dalam Al-Qur’an, yakni pada surat Al-Jin. Adapun Manusia diabadikan Al-Qur’an di 2 tempat: Surat Al-Insaan n Surat An-Naas… Ini saja semestinya menjadi renungan, betapa Allah amat memuliakan manusia, baik secara pribadi, maupun sebagai umat! Dua kali dilebihkan dari makhluk-Nya yang lain, baik dari golongan jin, malaikat, bahkan hewan! Ya! Hewan khususnya binatang ternak yang dijadikan lambang sesat oleh Allah di ayat di atas, ternyata juga, ajaibnya lagi, diberi penghargaan oleh Allah! Dijadikan nama 1 surat di dalam Al-Qur’an! Antara lain lantaran manfaat binatang ternak yang amat banyak bagi kehidupan manusia di muka bumi. Daging n lemaknya sebagai makanan, susu sebagai minuman menyehatkan, kulit n bulu dijadikan pakaian, binatang ternak juga bisa dijadikan hewan peliharaan, digembala dimanfaatkan untuk membajak sawah, bisa juga ditunggangi dijadikan kendaraan untuk menempuh perjalanan jauh supaya manusia tidak sampai mati kelelahan! Bayangkan jika QT harus pergi dari 1 kota ke kota lain dengan melintas padang pasir, membawa barang2 dagangan yang semua QT pikul sendiri di pundak? Oh, alangkah repotnya! Hampir bisa dipastikan tak seorangpun sanggup melakukannya tanpa memakai bantuan. Maka Maha Penyantun lagi Maha Bijaksana Allah yang telah menjadikan binatang ternak sebagai hikmah pelajaran bagi manusia. Karenanya mereka juga mendapat tempat, diabadikan tersendiri di dalam Al-Qur’an yakni di dalam surat Al-An’aam, artinya Binatang Ternak! Subhanallah!

“Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 21-22)

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (Q.S. An-Nahl: 80)

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (Q.S . An-Nahl: 66)

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Q.S. Al Hajj: 28)

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.

(Q.S. Al Hajj: 34-35)

Lho? Katanya Surat Al-An’aam? Tapi koq yang berbicara tentang binatang ternak malah tersebar pada banyak surat2 yang lain? Rupanya ada juga yang cermat memperhatikan! ;) Bagus! Juga betul sekali! Ini juga keunikan Al-Qur’an dibanding kitab terdahulu, baik Injil Nabi Isa, Taurat Nabi Musa, maupun Zabur Nabi Daud. Penamaan surat2 di dalam kitab Al-Qur’an yang tak mengikuti kaidah tertentu, sepintas terkesan asal comot, kabur tak bermakna, nggak nyambung. Bahkan isi

surat

bisa beragam dari perintah, larangan, kisah, kabar gembira atau peringatan, bahkan catatan sejarah, yang tak mesti berkaitan dengan judul

surat

! Namun justru itulah kelebihan Al-Qur’an! =) Semestinya hal demikian menggelitik QT untuk menyimak n membaca untuk mengkaji isinya, ada apa ini? Kenapa begini? Apa maksud Allah membuat QT mengerut kening, walaupun hanya sesaat? Hendaknya QT merenung untuk mencari jawabnya! ;)

Mengapa “binatang ternak”, n bukan hewan yang lain, yang spesifik dipilih-Nya sebagai perlambang sesat? Karena tanpa ada gembala yang menuntun mereka, binatang ternak akan mudah bingung, hilang arah n tersesat! Akhirnya terpisah dari kawanan, masuk hutan jadi mangsa binatang buas. Binatang ternak diumpamakan hewan yang tak punya pendirian. Hanya mengikuti kata pimpinannya. Jika tak ada penuntun, mereka limbung tidak punya pegangan. Mereka itu bodoh, seperti kerbau yang dicucuk hidung. Jika kerbau sedikit lebih pintar, tentu tak akan mau dibodohi manusia untuk membajak sawah, besar badan tak menjamin isi kepala! ^^; Begitu juga domba n biri2, dijadikan Allah berakal terbatas hanya sebatas naluri alamiah. Patuh dituntun oleh penggembalanya, tanpa menyadari nasib yang menanti, digiring ke tukang jagal untuk disembelih lehernya, tubuh dipotong2, lalu dikuliti! Begitulah Allah menjadikan binatang ternak, ditundukkan-Nya untuk kepentingan umat manusia! Adakah QT bersyukur?

Berbeda dari binatang buas, yang walau sama2 hewan diberi nalar yang terbatas (n bukan akal seperti manusia), naluri binatang buas diciptakan lebih tajam sehingga lebih dapat bertahan hidup di alam bebas mandiri cari makan. Salah satu hikmah-Nya juga bahwa binatang buas tidak diberi-Nya akal, sebagai gantinya mereka diberi senjata berupa cakar atau taring yang tajam untuk merobek mangsa maupun mempertahankan diri. Apakah jadinya jika harimau, singa, ular, buaya, juga diberi kecerdasan seperti spesies manusia? Tentu spesies QT umurnya tidak akan lama, tak bisa sampai beribu tahun bertahan hidup, segera punah, musnah, diburu, dibunuh! Subhanallah! Atas hikmah-Nya juga hewan predator selalu melahirkan dalam jumlah sedikit dibandingkan dengan hewan yang ada di mata rantai lebih rendah jadi makanannya! Sungguh Allah telah menciptakan segala sesuatunya dengan perhitungan yang cermat lagi teliti. QT memang tak memiliki senjata alamiah seperti cakar n taring, namun sebagai gantinya Allah membekali manusia dengan senjata yang jauh lebih dahsyat jika QT mampu untuk mengoptimalkannya, yakni AKAL! =)

Namun seperti pisau bermata dua, AKAL jika digunakan untuk kebaikan n kemaslahatan bagi umat, dapat menghasilkan potensi optimal. Adapun jika dimanfaatkan untuk tujuan2 buruk, ia juga bisa menjadi senjata mematikan yang bukan hanya membahayakan satu dua jiwa, namun bisa merusak bahkan menghancurkan dunia hanya dengan satu sentuhan tombol peluncur hulu ledak nuklir! Maka inilah yang dulu amat dikhawatirkan malaikat! Dengan potensi luar biasa berupa AKAL serta HAWA NAFSU, manusia berpeluang menjadi khalifah yang adil n memakmurkan bumi, atau menjadi sang penghancur peradaban dunianya sendiri, sebagai makhluk yang gemar melakukan kerusakan serta pertumpahan darah, layaknya golongan jin yang terdahulu! Jika demikian, kemuliaan manusia yang dilebihkan atas golongan yang lain, jadi turun derajatnya serta jatuh nilainya di mata Allah! Bukan hanya QT tak dapat mencapai derajat kepatuhan malaikat-Nya, QT anjlok mengikuti pembangkangan Iblis dari golongan jin, sesat seperti binatang ternak, bahkan jauh lebih sesat lagi! Karena mereka tidak diberi akal n hati, sedang manusia dilengkapi dengan keduanya, namun tak dipergunakan untuk memahami ayat2 Allah, maka jadilah QT disebutkan jauh lebih sesat dari binatang ternak, artinya derajat QT lebih rendah dari hewan! Na’udzubillahi min dzalik!!

Maka salah satu hikmah lain dari diwajibkan berpuasa, adalah agar manusia belajar mengendalikan dirinya, menekan n mengekang hawa nafsu, meluruskan pemikirannya, membersihkan pikiran2 kotor, seiring dengan mensucikan HATI-nya! Supaya akalnya yang dahsyat dapat diarahkan, dikendalikan, difungsikan optimal untuk tujuan kebaikan dengan berlandaskan bisikan nuraninya yang jernih. Pada akhirnya permasalahan kembali kepada HATI manusia sebagai indikator, bisikan nurani manusia yang lembut sebagai pengingat, agar manusia mengendalikan hawa nafsunya! Hawa nafsu tak bisa dibunuh, tetapi bisa dikendalikan. Dan puasa mengajarkan QT menundukkan hawa nafsu agar dapat patuh dikendarai menuju tempat yang QT inginkan. Supaya tidak menjadi makhluk yang hina n dihinakan Allah kelak di Akhirat di siksa di dalam Neraka-Nya, lantaran QT selama hidup tidak mengindahkan seruan-Nya, melemparkan ke belakang ajaran-Nya, sombong, ingkar, berpaling dari petunjuk2-Nya! Lalai n sesat seperti binatang ternak. Akhirnya digiring n diseret masuk Neraka! Na’udzubillahi min dzalik! Maka nantikanlah adzab dari Tuhan, kelak pasti QT akan merasakan!

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ’Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrahiim: 7)

”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al Hajj: 46)

Rasulullah SAW pernah bersabda:

”Ketahuilah di dalam jasad ada segumpal daging (mudghah), bila ia sehat maka sehatlah seluruhnya, dan bila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Dalam tubuh manusia, ada segumpal daging yang menentukan keseluruhan baik maupun buruk dirinya. Jika hatinya bersih, keselamatan menantinya. Jika hatinya kotor, busuk, n rusak, kebinasaan yang telah menunggunya. Itulah HATI manusia yang menjadi satu2nya indikator penilaian Allah atas diri manusia yang akan terus diuji, yakni berdasarkan tingkat ketakwaan kepada-Nya. HATI-lah yang membedakan serta dapat meninggikan derajat manusia di mata Tuhan, HATI pula yang dapat tergelincir menghempaskannya ke jurang terdalam siksaan abadi di Neraka! Maka jagalah hatimu n bersihkanlah selalu…

Semoga dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan, hati QT yang semula selama 11 bulan sebelumnya telah terkotori, terkontaminasi, tertutup n terselimut oleh sekat2 noda2, noktah2 nista, terlumur gelimang dosa, yang telah dengan atau tanpa QT sadari membaluti tubuh ini, dengan di-BAKAR dalam tungku Ramadhan (baca postingan kemarin ^^;) selama sebulan penuh, Insya Allah kerak2 yang mengeras itu dapat secuil demi secuil berangsur luruh akhirnya rontok, sehingga cahaya hati yang memancarkan kebenaran Ilahi dapat menembus keluar dengan jelas n terang-benderang cahayanya, sebagaimana juga cahaya petunjuk yang datang dari luar dapat dengan mudah diterima masuk dalam hati untuk direnungi, dibenarkan, lalu diamalkan dalam kehidupan sehari2, menjadi maslahat mendatangkan manfaat, baik bagi dirinya sendiri, juga orang lain, berguna bagi sesama. Itulah sebaik2 manusia, seperti sabda Rasulullah, sebaik2 manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesamanya. Semoga dengan latihan ketahanan, kesabaran, keikhlasan, digembleng dalam Ramadhan, QT dapat keluar dari tungku n dibersihkan, menjadi pribadi2 berkualitas mumpuni, yang bersinar lagi dicintai n diridhoi-Nya! Beroleh sertifikat jaminan Surga, dapat predikat Muttaqiin! Insya Allah…

Dalam asahan Ramadhan, selamat berjuang membersihkan hati… ;)

Kido Kamen =)