2K7 END YEAR’S NOTE: TAHU GEJROT & 50th BIRTHDAY MEMORY…

Uncategorized 4 Comments »

2K7 END YEAR’S NOTE: TAHU GEJROT & 50th BIRTHDAY MEMORY…

28 Juni 2007! Alhamdulillah! Setelah menjalani hari2 perjuangan, keluar masuk rumah sakit, antar jemput, bahkan menginap n berangkat pulang pergi ke kantor dari rumah sakit, menjadi ritual yang tetap kami jalani dengan senyum, semangat n senang hati. Setidaknya itulah yang kami tampakkan di hadapan Mama agar Mama tetap ceria, terus bersemangat dan tidak putus asa menyerah pada keadaan! Walau kepalanya sudah gundul, dan sebagiannya gosong terkena radiasi kemoterapi maupun terbakar sinar radiasi, meski sekujur tubuhnya dari tangan hingga kaki telah membiru karena terlalu sering disuntik untuk diambil darah dan jalan infus, tak terhitung berkantong2 darah transfusi yang telah mengalir menyambung nyawa Mamaku, terima kasih kepada para donor tak bernama, hanya Allah jua yang bisa membalas niat baik dan keikhlasan semua, benar2 kurasakan betapa besar artinya, hal2 yang terkadang kita anggap remeh ternyata tidak ternilai. Apapun keadaannya, Mama tetaplah Mama yang kami cintai, yang begitu kami dan mungkin siapapun yang mengenalnya sangat kagumi, adalah semangatnya yang begitu luar biasa untuk tetap hidup dan selalu tegar dalam senyum! SUBHANALLAH! Mama adalah sepenggal kesan yang akan selalu terpatri sepeninggalannya dalam benak siapapun yang pernah mengenalnya! Begitu kuat impresi yang dilekatkannya, sedalam itulah arti hidupnya, semoga…

Maka, hari itu mungkin adalah hari paling berbahagia bagi Mama, setelah setengah tahun menjalani perjuangan dengan sabar dan tawakal, serta selalu mensyukuri hikmah-Nya, walau sesekali tetap harus dibimbing dan diingatkan, kami semangati, namun sebenarnya manusiawi, siapapun yang ada dalam posisinya pasti akan mengalami fase2 jenuh, letih, down, stress, sedih, namun Mamaku adalah orang yang kuat dan tegar! Bukan saja saat mudanya ia begitu energik dan bersemangat, bahkan pernah jadi atlet PON Volley waktu SMA mewakili Jawa Timur! Hingga sudah ibu2 pun hobi volley-nya masih belum luntur. Namun bukan itu saja. Bahkan seminggu setelah masuk R.S. 6 bulan sebelumnya, Mama sempat kepergok mencuri kesempatan kabur dari R.S!! Karena hari Minggu itu ada ujian U.T! Yep, Mamaku kuliah di Universitas Terbuka! Dan walau tangan masih tersuntik infus, Mama tetap bertekad ingin mengikuti ujian, lalu kembali lagi ke R.S setelah ujian! Subhanallah! Semangatnya yang luar biasa ini adalah warisan yang ditinggalkannya! Ya, di usianya yang hampir kepala 5, 49 tahun ketika sakit, Mama sejak 2 tahun terakhir sebenarnya melanjutkan kuliah lagi! Sesuatu yang sempat terputus setelah menjadi ibu rumah tangga karena konsentrasi membesarkan dan mendidik aku dan adikku hingga dewasa. Kuliahnya kembali pun dilakukan untuk memberikan dorongan semangat kepada kami berdua, bahwa ibunya masih begitu semangat belajar, anaknya harus lebih giat, berhasil, berprestasi, membanggakan! Papanya aja S2! Mama gak ingin jauh tertinggal, minimal S1! Namun anaknya harus bisa lebih tinggi dari orang tuanya! Well, that’s my Mom!! ^^; Padahal tinggal 1 semester lagi lalu menyusun tugas akhir dan akhirnya tercapai cita2nya untuk jadi Sarjana Ekonomi… Namun Tuhan berkehendak menuliskan jalan cerita yang lain untuk Mama. It’s alrite Mom! Not the degree, since we were born, U had always made us so proud and feel so blessed, to have U S our loving Mom! U R d’Best Mom in d’World! We Love U Mom! N We’re So Proud of U! ;)

Maka di hari itu, 28 Juni 2007, kami dapat melihat binar kebahagiaan di mata Mama, seiring lantun puji syukur yang amat dalam menerus terucap dari bibirnya yang basah, dzikrullah tidak terputus, sujud syukur di atas tempat tidur rumah sakit, saat Prof. Faisal membacakan hasil evaluasi tindakan kemoterapi dan radioterapi yang selama ini telah Mama jalani.

Brain CT Scan, kesan: Tidak tampak kelainan, NYATA perbaikan! SUBHANALLAH! WALHAMDULILLAH! WA LAA ILAAHA ILLALLAH! WALLAHU AKBAR! =) Bagai mukjizat, suatu anugerah tidak terkira, hadiah yang tak ternilai harganya, karunia dari Allah SWT! Kami semua bahagia dan saling berpelukan dalam tangis berangkulan. Saking bangganya, Prof. Faisal hingga meminta izin kepada kami untuk meminjam foto2 rontgen dan hasil radioterapi progress Mama untuk digunakan dalam seminar kanker paru2 di luar negeri! Ya, sebab perkembangan Mama benar2 bagus untuk kanker yang di otaknya, memang nyata sekali perbedaannya, saat itu dinyatakan bersih total dari kanker! ALLAHU AKBAR! Sungguh jika Tuhan berkehendak, segalanya pun mudah! Kami pun sangat bersyukur, aku masih ingat menangis tersungkur saat shalat Maghrib, hatiku terasa lapang, betapa kami sangat bersyukur, Engkaulah Yang Maha Tahu!

Meskipun hasil di paru2 tak seimpresif perkembangan kanker di otak, namun progressnya pun cukup memberi cercah harapan. Kanker di paru menyusut hingga lebih dari 50%! SUBHANALLAH! Setelah di scan dan dilakukan Photo Thorax pada 23 Juli 2007, inilah hasilnya. Kesan: Lesi fibrokonsolidasi & Platelike atelectasis parakardial/ basal paru kiri. Rx. Pleuar & tenting diafragma kiri. Wahh, untuk penjelasannya harus tanya adikku dulu dech, hehe, tapi masih jaga malem sekarang! Bis bantu kelahiran n operasi Caesar dari kemarin, hufff… The Romance of Struggle Being Great Doctor! ;) Tapi setidaknya kami merasa Tuhan bagaimanapun tak menyia2kan perjuangan hamba-Nya yang selalu yakin dan pasrah pada-Nya! Insya Allah… Kami tak putus harapan, akan terus berusaha yang terbaik untuk kesembuhan Mama! Kami menganggap hasil ini bagai sebuah reward sementara, buah kesabaran Mama terutama, sebelum Allah memberikan Grand Prize kabar membahagiakan yang menanti pada akhirnya! ^^;v Maka Insya Allah kami akan tetap bersabar dan terus berusaha sembari menanti dalam debar penuh harap hingga saat yang menggembirakan itu tiba! Kami berpegang untuk tetap percaya! Kun Fayakun! Tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak, khan? ;)

1 Juli 2007, 8 bulan sejak Mama pertama kali dinyatakan positif kanker ganas. Oya, sekedar meluruskan sebenarnya semua kanker ganas. Semua kanker pada dasarnya tumor, berupa benjolan. Hanya jika masih jinak, disebut tumor, jika berubah sifat jadi agresif dan ganas mulai menggerogoti sel dalam tubuh yang lain, saat itulah ia disebut kanker. Namun kanker sendiri banyak jenisnya. Dan Kanker Adeno yang diderita Mama termasuk yang terganas, apalagi menyerang paru-paru, menurut statistik yang berhasil survive lewat setahun hanya 2% saja! Ya Allah, betapa kami senantiasa memohon dan berharap Mama termasuk 1 dari yang 2% itu! Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan Do’a!

Prof. Faisal memutuskan untuk mengevaluasi perkembangan dan memberi Mama jeda istirahat setelah berbulan2 menjalani kemoterapi dan radioterapi. Kesempatan itu kami syukuri dengan mengajak Mama refreshing dan berjalan2 ke luar kota! Maka untuk pertama kalinya sejak sakit, Mama terlihat begitu senang! Dan untuk berganti suasana menjauh dari kepenatan di ibukota, sekaligus untuk beberapa jenak melupakan sakit yang Mama derita, kami pun sekeluarga, waktu itu ditemani Bude Min, kakak tertua Mama, berlima tamasya menyusuri jalan tol Jagorawi dan berhenti di tempat pemberhentian favorit Mama dan kami semua, yakni Sentul Rest Area! Ya, sebelum Mama sakit kami berkali2 mengunjunginya, sebenarnya sama seperti Rest Area di pinggir tol lainnya, hanya tempatnya sedikit lebih besar, dengan rimbun banyak pepohonan rindang, dan semilir angin yang membelai mesra, ditambah tahu gejrot yang selalu membuat kangen, alasan kami ke sana! =) Maka itulah liburan pertama Mama pergi ke luar kota, setelah makan tahu gejrot dan berfoto bersama, yang kelak menjadi foto favorit Mama hingga akhir hidupnya, dibingkai dalam pigura dan dipajang dalam ruang keluarga, kami melanjutkan perjalanan ke Bogor, window shopping di Tajur, belanja juga sich dikit! ^^; Lalu pulangnya memutar mampir Factory Outlet yang berjajar di sepanjang Baranangsiang, lalu pulang saat hari mulai sore dan hujan mulai mengguyur Kota Hujan, namun seperti biasa, kami tidak langsung pulang, karena ada 1 lagi spot favorit, persis di seberang Sentul Rest Area, Sentul Rest Area juga namanya! ^^; Tapi yang ini malah lebih besar dari yang pertama, dan lebih banyak pilihan makanan, favorit kami adalah Tauge Goreng. Maka setelah Shalat Dzuhur, menyantap makan siang menjelang sore, sekalian dirikan shalat Ashar, akhirnya kami kembali ke Jakarta…

Tahu Gejrot Memory, sungguh mengesankan dan tidak terlupakan… =)

Karena itulah tamasya luar kota Mama yang pertama kali setelah 8 bulan sakit, juga tamasya luar kota kami yang terakhir bersama Mama…

349366693l453552336l336847791l.

.

.

.

.

.

24 Agustus 2007, muncul benjolan di perut kanan bawah Mama. Hasil USG di R.S. Persahabatan menunjukkan kesan: DD/ Kista Sublcutan, susp. Lipoma. Theraphy: Buscopan, tidak ada tindakan karena dianggap tidak membahayakan.

04 September 2007, mulai terasa nyeri tulang belakang. Dilakukan Bone Scan di RSPP, kesan: Gambaran proses metastase multiple pada tulang. Tampak penangkapan radioaktivitas meningkat pada Os vert. C.VI, L.III, costovertebral junction VII dextra, sacroiliaca joint sinistra & SIAS sinistra. Theraphy: Radiotherapy untuk tulang belakang, 10x dijadwalkan selesai 21 September 2007.

06 September 2007, hari membahagikan yang lain untuk Mama! Happy 50th Birthday Mom!! ^______^;v Ya, hari ini Mama genap berusia 50 tahun! Subhanallah! Sebuah pencapaian dan kebahagiaan tersendiri untuknya, terlebih kami sengaja mengadakan pesta kejutan untuk ulang tahunnya! Ya, sepupuku dan putri tunggal Bude Min, Mbak Euis dan suaminya Mas Bambang datang bersama 2 orang keponakanku tersayang, Dika dan Dinda, membawa kue ulang tahun, saat Mama sedang tidur2an di sofa jam 7 malam, tiba2 lampu dimatikan semua, lalu dari pintu samping rombongan kecil datang dengan kue dan lilin yang menyala, sementara aku yang bersembunyi di kamar adikku, keluar dari ruang tengah dan merekam momen mengharukan itu dengan camera digital, Mama menangis sambil tertawa sesunggukan haru, Papa yang mencium Mama penuh cinta, lalu lilin ditiup dan lampu dinyalakan, kami semua bertepuk tangan! Satu pesta sederhana, lebih berupa wujud rasa syukur kami Mama masih diberi panjang umur hingga mencapai usia 50 tahun, hingga entah sampai kapan, tapi pada saat itu do’a kami semua adalah untuk kesembuhannya serta umur yang panjang! Tentu saja yang mengetahui batas umur seseorang hanya Allah SWT. Tapi kami bersyukur, sebelum meninggal kami sempat memberikan Mama keping2 kebahagiaan yang semoga dapat menghangatkan hatinya dalam duka yang berkepanjangan. We Love U Mom! Happy Birthday… ;)

10 September 2007, gantian Mama, aku dan adikku memberi kejutan kepada Papa yang hari itu berulang tahun! Kue yang lebih kecil, dan hanya ada kami saja, bersama 2 orang teman kuliah kedokteran adikku yang kebetulan menginap, Rita dan Lita, yang lalu mengambil foto dan video untuk mengabadikannya. Terima kasih, sungguh 2 momen amat berkesan. Mama memotongkan kue untuk Papa, yang lalu diberikan kembali ke Mama diiringi kecupan dan do’a semoga cepat sembuh serta panjang umur. Saat itu juga Papa memberi kado kabar gembira yang tak kalah mengejutkan untuk keluarga, bahwa ia termasuk salah satu dari yang sedikit terpanggil di kantornya, untuk mengikuti seleksi beasiswa S3 Dalam Negeri! Subhanallah! Betapa kami bersyukur! Mama terlihat begitu bangga pada Papa, tak henti bersyukur! Lagi2 Allah memberi hadiah2 kecil, sebagai penyemangat, seolah menuntun kami untuk tetap yakin dan percaya bahwa pertolongan-Nya sesungguhnya amat dekat, kami hanya diharuskan terus berusaha serta tidak berhenti berharap! Insya Allah… =)

100_0332s100_0333s_1

100_0372s100_0373s

.

.

.

.

.

.

21 September 2007, muncul benjolan di sisi daun telinga kanan dan benjolan kecil-kecil multiple di belakang kepala.

01 Oktober 2007, Photo Thorax di RSPP, kesan: Cor & Pulmo dbn.

04 Oktober 2007, Brain CT Scan, kesan: dbn.

08 Oktober 2007, Radiotheraphy untuk benjolan di sisi daun telinga kanan dan benjolan2 multiple di kepala, 10x, baru dijalani 5x, kondisi Mama langsung drop! 15 Oktober cek darah, Hb=11 g/dl, L=2,7rb sel/mm, Ht=32,1%, Tr=82rb sel/mm. Keputusan: Radioterapi dihentikan untuk sementara hingga kondisi Mama membaik.

13 Oktober 2007, muncul banyak keluhan baru:

- Tulang iga kanan-kiri nyeri seperti ditusuk2, frekuensi semakin lama semakin sering.

- Perut kembung, ulu hati sakit, sering sendawa, mual, muntah tiap kali diisi makanan.

- Keringat dingin.

- Susah BAB sudah 7 hari.

- Batuk.

Obat2an yang dikonsumsi:

-         Ketoprofen supp (Profenid supp/ Kaltrofen supp) 2×1

-         Socid 1×1 a.c. (pagi)

-         Ranitidin 2×1

-         Laxadine 3×1 cth.

-         Dulcolax supp (baru 1x pakai)

-         OBH generik 3×1c

-         Glucosamin Plus (produksi Sea Quill) 2×1

-         Megaplex 3×1

-         Imboost 3×1

-         Enervon C 1×1

20 Oktober 2007, R.S. Bhakti Asih Ciledug, Internist dr. Indra D., Sp.PD. Saran:

-         Ketoprofen supp, distop, ganti Tramal 3×1 tab.

-         Ranitidin, stop

-         Socid 2×1

-         Narfoz 3×1

-         Mucosta 3×1

-         Laxadine + Dulcolax supp 2×1

-         Glucosamin Plus, Megaplex dan Imboost boleh diteruskan

-         Enervon C, stop

-         OBH generik teruskan

Saat itu adalah momen krusial. Dokter Indra mencoba menjelaskan dengan sangat berhati2. Ia hanya mengatakan bahwa meski tampak luar kondisi Mama terlihat cukup sehat, namun sebenarnya di dalam kankernya tidak berhenti terus menggerogoti. Yang ia katakan hanyalah bahwa secara medis ilmu pengobatan barat, memang penanganan untuk kondisi seperti Mama yang terbaik dan dicapai saat ini hanya sebatas yang sejauh ini kami lakukan, dengan kemoterapi dan radioterapi. Seperti berpacu dengan setan, terus berkejar2an, antara penyembuhan dan penyebaran. Saat itu Dokter Indra belum berani mengatakan langsung kondisi Mama sebenarnya. Dia hanya menyarankan, bahwa Tuhan Maha Adil, Dia mengajarkan ilmu pengetahuan tidak melulu kepada dunia Barat, tapi juga Timur dengan pengetahuan tradisional. Selain itu, bahwa Mama juga disarankan untuk mulai pendekatan secara spiritual, untuk lebih mempersiapkan kondisi kejiwaan Mama untuk menghadapi apapun keputusan Tuhan, cara halus untuk mengatakan bahwa sebenarnya kondisi Mama hampir tak memungkinkan untuk sembuh. Hampir. Hingga saat itu pun kami masih berupaya mencari dalam gelap, dimana titik hampir itu berada. Saat Dokter Indra mengatakan kiasan di atas, sejatinya hatiku langsung tercenung, dan bayangan di otakku seketika gelap, segalanya hampa, kosong, pekat! Aku tak bisa berpikir, bagai tersedot ke dalam lubang hitam. Dan dalam keterputusasaan kelam yang sempurna, aku masih mencoba mencari setitik pelita harapan di kejauhan, berharap dokter mengatakan sesuatu yang memberikan sinar, namun hanya itu yang ia katakan…

Namun sebelum pergi, dokter Indra memberikan secarik kertas, dengan mengatakan bahwa bagi Tuhan segala hal mungkin saja, sesuatu yang semestinya tak mungkin bisa dimungkinkan dengan mukjizat, keajaiban, atau apapun namanya, kalimat-Nya yang menunjukkan betapa Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu! Maka yang tersisa dari kami adalah harapan adanya keajaiban! Sebagai manusia, dokter telah mengupayakan yang terbaik, namun kini adalah saatnya bagi kami terutama Mama lebih mendekatkan diri pada Tuhan, dalam arti menyadari realitas yang kami hadapi, bahwa tujuan pengupayaan yang kami lakukan tidak lagi untuk kesembuhan, tapi sekedar menjaga dan meningkatkan kualitas hidup Mama, hingga waktu yang hanya Tuhan mengetahuinya sampai kapan…

Secarik kertas itu berisi artikel tentang Metode Pengobatan Holistik di Purwakarta, suatu metode yang menggabungkan pengetahuan medis dari Barat dengan kearifan tradisional dunia Timur dan pendekatan spiritual Islami, yang selama ini dengan izin Allah telah berhasil menolong banyak pasien dalam kondisi kritis seperti yang dialami Mama dengan metodenya yang berbeda dari lainnya. Jika metode pengobatan barat adalah berupaya untuk menyembuhkan antara lain dengan melemahkan sel kanker melalui kemoterapi dan menembaki dengan radioterapi, maka metode Holistik lebih menekankan membangkitkan kemampuan daya tahan tubuh atau imun untuk digunakan memerangi sel2 asing di dalam dirinya, dengan menjadikan nutrisi makanan dan perubahan pola makan berikut gaya hidup jadi senjata utama. Kendalanya hanyalah lokasinya yang jauh hampir tidak memungkinkan untuk membawa Mama ke sana. Karena saat itu, bulan Oktober, kondisi Mama sebenarnya adalah kanker yang telah menyebar menyerang tulang belakang, antara lain ditandai dengan mulai melemahnya fungsi koordinasi syaraf, ketidakmampuan lutut untuk menopang beban tubuh, mulai gemetar, hingga akhirnya 1 bulan terakhir Mama benar2 lumpuh tak bisa berdiri hanya berbaring di tempat tidur, kursi roda yang kami pinjam dari salah seorang sahabat Mama pun hanya dipakai 2 minggu, karena tulang belakangnya sudah kena digerogoti kanker, sekarang bahkan duduk pun sudah tak mampu menyangga punggungnya, harus berbaring. Efek lain, sumsum tulang belakang yang terkena sudah tak bisa memproduksi darah lagi. Sejak itu harus selalu dibantu transfusi darah dari luar, tak terhitung bilangan kantung darah yang menyambung nyawa Mama, tapi betapapun Mama tetap tegar dan selalu yakin akan datang pertolongan serta mukjizat-Nya. Mama masih tetap semangat, ceria, meski kami tahu itu hanyalah dibuat2, di balik kami Mama bergulat sendirian menahan sakitnya, saat-saat kambuh tusukan2 nyeri di pinggang kemudian menjalar di sekujur tubuh membuatnya tak sanggup bertahan, berguling2 kesakitan, menjerit, menangis, menggapai2 meminta pertolongan agar kami melakukan sesuatu, apa saja, untuk redakan nyerinya, sungguh meninggalkan luka menganga di hati kami yang hanya bisa menyaksikan begitu iba tanpa sanggup berbuat apa-apa karena tak ada yang bisa kami lakukan hingga sakit itu mereda atau obatnya bekerja. Ya, bahkan Mama akhirnya dengan sangat terpaksa harus disuntikkan morfin untuk menenangkan syarafnya karena Tramal dosis tinggi pun sudah tidak mempan, nyeri yang diderita sungguh membuat Mama depresi dan tak sanggup bertahan. Ya Allah, kasihanilah Mama kami! Ampuni dosanya, maafkan kesalahannya, hilangkan rasa sakitnya dan sembuhkan penyakitnya! Jikalau mungkin, ingin rasanya rasa sakit itu ditimpakan pada hamba saja, karena hamba lebih sanggup untuk menanggungnya, betapapun sakitnya, dengan izin-Mu Engkau lebih tahu hamba lebih sanggup menahannya, asal jangan membuat Mama begitu menderita. T_T Ya Allah, kasihanilah… Berkali2 do’a terpanjat semenetes air mata melelehi pipi dalam tiap shalat dan munajat. Namun kondisi Mama dari hari ke hari semakin memburuk.

Pada satu kesempatan, Papa dan adikku akhirnya berhasil mengunjungi International Holistic Tourist Hospital di Purwakarta, berkonsultasi langsung dengan pendirinya Dr. Husen A. Bajry M.D., Ph.D yang sangat simpatik serta memahami sakit yang Mama derita, berkonsultasi cukup lama dan menuliskan resep dengan harapan Mama juga bisa dibawa untuk dirawat inap di sana. Namun Allah lagi2 berkehendak lain. November 2007 kondisi Mama semakin menurun. Setelah sempat dirawat di R.S. Husada Insani Tangerang atas rujukan Dokter Indra di R.S. Bhakti Asih, karena di sana terdapat dokter spesialis kanker yang ahli yaitu Dr. Noor Waty, akhirnya dengan alasan dekat rumah dan sarana prasarana yang lebih memadai, Mama dipindahkan ke R.S. Sari Asih di Ciledug. Menempati kamar 508, sejak itu setiap hari selama 3 minggu kami menjalani hari2 pulang pergi beraktivitas dari dan ke rumah sakit, bergantian menemani Mama, diselingi Bude Min, mbak Euis, mas Bambang, Dika, Dinda, saudara2 dari Jonggol dan Jawa yang silih bergantian menjenguknya, juga Maryam pembantu kami yang Alhamdulillah sangat cekatan dan perhatian penuh pada Mama. Pulang ke rumah hanya sesekali untuk mencuci pakaian dan ganti baju, kembali ke R.S. lagi. Begitulah hari2 kami jalani dengan cahaya pelita yang semakin meredup. Di siang hari kami menjalani aktivitas seperti biasa, Papa dan aku ke kantor, sibuk dengan pekerjaan seolah tak ada hal yang luar biasa yang kami hadapi, sementara adikku berkutat dengan tugas co-ass kedokteran yang menyita dan menuntut konsentrasi penuh dan tingkat tinggi. Malam harinya adalah momen2 bahagia Mama karena ditunggui oleh kami bertiga, belahan jiwa kasihnya. Namun pagi begitu cepat datang, dan kami harus pergi lagi, entah seperti apa kesepian yang dirasakan Mama saat kami tak ada, betapapun ia tetap menjalani hari2 akhirnya dengan semangat yang bak tak pernah padam, keyakinan yang mendalam datangnya keajaiban, meski dirinya sendiri mulai sangsi menyaksikan kondisinya, namun ia memilih tetap percaya. Saat2 menyenangkan yang dinantikan Mama di siang hari saat kami tidak ada hanyalah saat harus jalani Fisioterapi, melatih refleks kaki dan tangannya, yang sebenarnya saat itu dari pinggang ke bawah bisa dikatakan sudah tidak berfungsi! T__T Ya, Mamaku sudah lumpuh! Namun semangatnya masih belum mati! Meskipun aku yakin Mama sendiri tahu pasti kondisinya lebih dari orang lain, ia tetap ceria dan bersemangat menghitung 1! 2! 3! 4! ^^;v Tiap kali perawat menggerakkan kakinya yang sudah bengkak di bawah perutnya yang kembung, sepasang kaki yang tidak lagi sanggup ia rasakan adanya! Betapapun sebenarnya fisioterapi itu hanyalah hal sia2, namun tim dokter pun tetap memutuskan dilakukan, karena hanya itulah hiburan yang bisa membuat semangat Mamaku tetap menyala! Karena tak ada lagi yang lain yang bisa mereka lakukan, karena mereka tak sampai hati memupus serta memadamkan cahaya pengharapan dalam hatinya… T__T

Forgive me, I need a minute 2 wipe these tears… I thought I’m strong enough to write this whole thing now, but still… I can’t cry hard enough… T__T

Please forgive me…

(2 B Kontinyut…)

2K7 END YEAR’S NOTE: A PROLOGUE OF N EPILOGUE…

Uncategorized No Comments »

2K7 END YEAR’S NOTE: A PROLOGUE OF N EPILOGUE…

Bagai sebuah kisah panjang, akhir tahun ini pun perlu ditutup dengan sebuah epilog yang merangkum serakan2 catatan perjalanan hidup yang tersebar di sepanjang tahun yang sungguh, begitu berwarna dan sarat pengalaman suka duka, jatuh bangun, asam manis, pahit getir, yang menyayat memilukan, menyedihkan namun juga manis, menggetarkan namun pula indah, pedih namun sekaligus menguatkan, sebagaimana cinta yang bisa menyakitkan tapi sekaligus memiliki kekuatan menyembuhkan, betapapun langkah ini masih tetap harus terus terayun, meski hati hancur, jiwa luluh lantak, lunglai setengah mati, namun pijar itu masih menyala, asa pengharapan masih belum padam, bagai cercah pelita di kegelapan, setitik di kejauhan, walau harus merangkak menghampirinya, aku harus berusaha untuk bangkit menggapainya, meski tubuh lumpuh sekalipun tetap suatu keniscayaan bagiku bak siput beringsut untuk bergerak maju! Karena titik akhirku bukan di sini. Aku tak boleh berhenti di sini. Aku yakin suatu saat aku akan berhasil mencapai titik ujung perjalananku! Dengan kegemilangan buah perjuangan yang panjang! Dan perjalanan ribuan kilometer pun selalu dimulai dari langkah pertama! Maka inilah saat yang paling tepat untuk kembali memulai langkahku. Semoga renungan di penghujung tahun menjadi pelecut semangat dan pemicu pelatuk untukku kembali meretas jalan masa depan yang membentang di hadapanku, seiring merebak fajar tahun baru… =)

Berapa lama blog ini mati suri? Pertanyaan itulah yang tersirat selama ini acapkali aku membukanya. Bukan ku tak tergelitik untuk menulis, tapi ada alasan yang membuatku tak jua kunjung jadi mengetik huruf demi huruf menjadi rangkaian kata. Walau sesekali aku masih menyiratkan kegalauan dan letupan perasaan melalui bulletin board yang kemudian kukumpulkan terangkum di blog ini, namun itu tidak sama dengan luapan emosi yang tertumpah dalam wadah seluas blog menjadi lautan tulisan bergolak seperti yang kutuliskan saat ini. Ya, tulisan ”serius”-ku di blog seingatku terakhir terukir adalah guratanku di penghujung tahun lalu, Desember 2006, detik-detik seperti sekarang ini, saat kutuliskan rangkuman perjalanan kisah hidupku selama setahun yang indah, kenangan dengan sahabat2 dan keluarga besar di Bagian Kepegawaian Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, yang di tahun ini akhirnya kami semua harus berpisah jua, tersebar kena gelombang mutasi pegawai besar2an. Juga sahabat2 sejatiku dari FORTE (Forum-QT) X-D1-Tax-’97/98 STAN-Prodip Departemen Keuangan, dan rencana reuni akbar 10 tahun angkatan kami yang semestinya akan diselenggarakan tahun 2008 menjelang. Gimana Guyz? ;) Disamping momen2 bahagia bersama keluarga yang kini akhirnya kusadari menjadi kenangan terindah yang terakhir terabadikan bak jepretan foto2 bisu memajang berjuta ekspresi tak terkatakan, selagi berempat utuh, Mama, Papa, Adikku dan Aku…

Meski takdir terkadang begitu pedih dihadapi, kecap pahit getirnya tetap harus direguk diterima dengan ikhlas untuk kelak QT pahami betapa manis terasa hikmahnya pada kemudian hari. Waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka yang menghunjam mendalam di hati, juga jiwa. Dan obat yang mujarab biasanya rasanya pahit, namun akhirnya QT bisa kembali tersenyum saat sembuh serta mensyukuri khasiat manfaatnya. Manusia telah berusaha terbaik yang bisa mereka lakukan, namun tetap takdir akhirnya Tuhan yang menentukan. Dan ketika saat yang dijanjikan itupun datang, tak ada sikap terbaik yang bisa QT berikan melainkan keikhlasan saat akhirnya harus menerima apapun keputusan-Nya yang menjadi dasar ujian paling berat yang kami hadapi pada tahun ini. Dan inilah pilihan jalan terbaik, pilihan-Nya. Saat Mama akhirnya dipanggil mendahului kami semua berpulang ke haribaan naungan rahmat-Nya, Insya Allah. Alhamdulillah, ujian hidup di dunia hanyalah sebentar, dan kehidupan yang kekal abadi adalah kelak di Akhirat, saat QT semua akan berkumpul bersama kembali dengan orang2 yang QT cintai, Amiin Allahumma Amiin… Maka istirahatlah dengan tenang, Ma. Betapapun kau selalu menjadi jantung hati di keluarga ini, kami sungguh cinta n merindukanmu. Berbahagialah di sana, hingga saat kita kelak dikumpulkan bersama2 lagi, Insya Allah… Mas, D’Na, Papa, masih harus melanjutkan langkah menapaki liku hidup sedikit lebih lama, semoga titian yang kami lalui pun meski terjal berbatu, licin berbahaya, padas kerontang atau becek berlumpur, berkelok penuh semak n onak duri, namun hakikatnya lurus di jalan yang diridhoi-Nya, menuju kepada kecintaan-Nya, seperti yang telah kau rintis tunjukkan buka jalan, jejak untuk kami ikuti, jalan kembali untuk dilalui, Insya Allah, sampai bertemu kembali…

Sungguh… Ingin aku menuliskan tiap2 detik penuh perjuangan, tak ingin terlewatkan satu pun peluh menetes dan air mata yang meleleh. Satu tahun yang tak ada hari tanpa derai terpaan dan tempaan ujian. Namun sungguh ku tak mampu, bahkan untuk menggenggam pena gemetar, bukan hanya tak sampai hati, tapi juga tak berdaya, jemari ini luluh begitu lemas melunglai. Ada saat-saat dikala gelora ini begitu menggebu, namun saat itu juga aku menahan gemuruh di dadaku, karena di saat yang sama pada sisi yang lain ada harapan di balik keinginan menahan diri untuk tidak menulis, yang nanti akan aku jelaskan. Maka kini, setelah amuk badai yang memorak-porandakan itu berlalu, dan debur gemuruh berangsur mereda, saat fajar merekah dan laut kembali tenang, angin semilir berhembus menyapa membelai lembut wajah yang beku semalam, yang berasa seperti sepanjang tahun di dalam gelap, barulah aku bisa membuka mata yang terpejam karena terlalu berat dan lelah menangis, tubuh yang penat remuk redam, kini seolah mendapat suntik tenaga baru, meski masih belum memadai, namun begitu jemari bisa digerakkan lagi, itulah saat aku harus memulai menulis lagi. Aku yakin lambat laun energiku akan kembali pulih hingga terisi seperti sedia kala, dan aku akan kembali mengalir sepenuh hasrat seperti air yang selalu bergerak mengalir menuju laut, aku pun ingin melanjutkan langkahku serta mengayuh sampanku hingga tiba di samudera impianku sendiri…

Saat ini, yang harus kulakukan hanya memulai menulis…

Maka inilah tulisan terakhirku tahun 2007, sekaligus awal baru menyongsong fajar 2008 yang semoga akan menggoreskan lebih banyak kenangan manis dan indah yang tertuang di bingkai perjalanan hidupku ke depan…

Bismillahirrahmaanirrahiim… =)

A Prologue of N Epilogue…

Seperti baru kemarin. Tapi kemarin2 sungguh aku tak sanggup menuliskannya. Baru hari ini setelah mengumpulkan segenap kekuatan dan tekad, akhirnya kutuliskan juga. Jurnal di bawah ini berdasar pada catatan rekam medis yang dengan tekun dan teliti telah dibuat oleh adikku sendiri, Krishna Maharany, S.Ked., saat ini sedang co-ass di RS TNI AL Mintohardjo menjalani siklus Obstetri dan Gineakologi (Kebidanan dan Kandungan) menjelang fase akhir sebelum diwisuda menjadi dokter penuh, Insya Allah pertengahan tahun depan, Amiin! =) Proud of U, Cs! Me, Daddy, n I know Mom up in Heaven’s so proud of U 2! ;)

Tirai tersibak dan layar pun terkembang…

6 November 2006, seminggu setelah lebaran Idul Fitri 1427 H. Itulah titik awal dari akhir kisah yang telah ditentukan. Setelah seminggu sebelumnya Mama selalu diterpa sakit kepala misterius yang amat sangat, begitu menyakitkannya hingga ada kalanya ingin dibenturkan ke dinding karena tak tertahannya. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan membawa ke dokter di R.S. M.H. Thamrin Salemba untuk jalani General Check Up. Hasil: Massa Tumor pada Lobus Inferior paru kiri dan Pleural Effusion.

10 November 2006, R.S. Bhakti Asih Ciledug, dr. Sri P., sp.S., penanganan nyeri hebat di kepala + lemah tangan kanan. Dokter menyarankan untuk dilakukan CT Scan Thorax + Brain CT Scan, kami pun meluncur ke R.S. Siloam Kebon Jeruk menggunakan ambulans, Papa menemani Mama, aku dan adikku menyusul dengan Jazz. Usai menjalani scan, Mama langsung kembali ke Bhakti Asih, sementara aku dan adikku menunggui hasil scan 1 jam kemudian… Saat itu aku baru keluar dari rest room, saat adikku ternyata telah menggenggam hasil scan, masih lagi di dalam amplop yang kulihat telah terbuka, ia hanya berdiri di sana, di sudut ruang tunggu, aku menghampiri, air matanya merebak, dan entah bagaimana aku merasa aku sudah tahu, tak perlu kata terucap, maka dalam bisu kuhanya raih tubuh ringkihnya dan mendekap dalam pelukanku, tangisnya pun pecah. Aku hanya bisa diam menerawang menembus langit2 sambil membelai kepalanya yang bergetar sesunggukan. Aku tak sedikitpun mempertanyakan Tuhan, bagaimanapun hal ini sudah digariskan. Yang kuingat saat itu aku hanya mencoba tetap tegar, karena aku harus tegar! Saat itu adikku membutuhkan untuk bersandar. I mean, sumbody’s gotta B strong n lend his shoulder 4 R 2 cry on, khan? Sebelum kami b2 siap menyampaikan apapun hasilnya kepada Papa, dan mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan faktanya ke Mama. Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menghadapi dan menjalani hari ke depan. Hasil: Massa Tumor di Paru Kiri dan Otak Kanan.

12 November 2006, atas saran dokter Sri mengingat keterbatasan sarana dan prasarana penanganan di R.S. Bhakti Asih, kami memboyong Mama pindah ke R.S. M.H. Thamrin di Salemba. Mama ditangani oleh Prof. Faisal Yunus, yang kelak menjadi pendamping dan penasihat kami sepanjang tahun yang berat. Untuk lebih memastikan akurasi, Prof. Faisal menyarankan Mama untuk lakukan Biopsi, saat itu yang memiliki alat terbaik di Indonesia adalah di R.S. Internasional Abdi Waluyo, Menteng. Maka sore itu juga dengan ambulans Mama diboyong dari Thamrin ke Abdi Waluyo untuk jalani biopsi. Adikku sendiri turut menyaksikan dari dalam kamar operasi bersama dokter yang mengizinkan setelah diberi tahu bahwa ia sedang co-ass, dengan senang hati dokter itu membolehkannya untuk membantu, selain untuk membuat Mama lebih tenteram dan nyaman. Hasil baru bisa diketahui keesokan harinya, walau dari air muka dokter sedikit banyak kami bisa mereka dan membaca hasilnya. Dokter itu begitu terkesan dengan ketegaran adikku dan menyarankan untuk menghubunginya setelah lulus dokter jika adikku ingin mengambil spesialisasi paru2! Alhamdulillah, satu jalan terbuka, setidaknya untuk masa depan adikku pascawisuda kelak. Kembali ke R.S. Thamrin, setelah panjang berkonsultasi, termasuk masalah biaya n sebagainya, Prof. Faisal menyarankan kami untuk pindah ke R.S. Persahabatan, Rawamangun. Karena sehari2 Prof. Faisal lebih banyak berdinas di sana, supaya Mama bisa lebih terpantau, maka keesokan harinya 13 November, kami pun membawa Mama pindah ke Persahabatan.

13 November 2006, pagi hari aku langsung mengambil keputusan untuk cuti. Saat itu juga aku untuk pertama kalinya mengabarkan kepada sahabat2 terdekat tentang sakit Mama n memohon do’a melalui SMS, ya sahabat2 terdekatku dari KPGWN n FORTE. Kemarin buka2 sent items folder di HP, ternyata masih kutemukan SMS2 yang aku kirimkan tahun lalu! ^^;

2 Aprihamasaki (My Twin Brother in KPGWN): ”Mohon doamu Wuk, ibu masuk RS wit jumat sore, aku koyone cuti sik, nek ora ngrepoti tolong gawekno cuti tapi jo kondo sopo2 yo mengko ndadak heboh, cukup doamu wae ibu keno tumor mugo2 dudu kanker, di otak n paru2, pangestu lan sepurane matur nuwun sanget brodaa slm nggo dona tnx”. Sent: 07:05:34, 13-11-2006.

Apriyanto Wahyu Handoko, sudah seperti adik dan saudara sendiri bagiku. Dona adalah istrinya. Hamasaki dari Ayumi Hamasaki, penyanyi favoritnya. Apry is my partner in crime, ZEI WAITTO of Tax Special Tax Force, Sozei Sentai ZEI RENJAA, hehehe =D Setelah itu ada Taufik Jatmiko, ZEI BURAKKU! Saat itu dari KPGWN Family hanya mereka saja yang tahu, karena aku tak ingin membuat kehebohan sebelum bisa dipastikan hasil sebenarnya. Namun aku juga merasa berat untuk menghadapi sendiri, agaknya dalam hati kecilku aku butuh dukungan sahabat terdekatku. Thank U Guyz 4 Bn dR 4 me! U’re all my Best Friends!

Siang itu juga, Apry n Tovic jam istirahat makan siang pulang dari Departemen datang ke Kamar 512 di R.S. M.H. Thamrin dengan membawa buket buah2an! Kyaaa, terharu! ^^; Matur nuwun Wuk, tengkyu Vic! Bahkan Mama yang tadinya sempat kehilangan nafsu makan, begitu dijenguk mereka semangat, apalagi lihat jambu merah segar yang dibawa mereka jadi kepingin mencicipi, eh keterusan, abis dech! ^^; Ajaib! Padahal sejak pagi Mama terkulai tak sadarkan diri, bahkan saat dijenguk teman2 kantor Papa, kondisinya sempat kritis, mungkin juga karena down. Tapi saat Apry n Tovic datang, Mama tersadar bahkan bisa duduk, bicara, bercanda! Dukungan keduanya sungguh berarti. Sepulangnya mereka b2 tak lupa kuucapkan terima kasihku lewat SMS…

”Matur nuwun, akhirnya ibu mau mkn lho bgtu liat jambunya! J Skrg ngidam bubur sumsum lg cari k kramat hontouni arigatou wuk, slm dona n tovic stay in gdhealth”

Begitu pula ke Tovic…

”Matur nuwun, akhirnya ibu mau mkn lho bgtu liat jambunya! J Skrg ngidam bubur sumsum lg cari k kramat hontouni arigatou vic, slm apry n dona stay in gdhealth”

Hehe, pesan yang sama, cuma dibolak-balik namanya aja sich! ^^;

Aku juga mengirim SMS kepada sahabat2 seperjuanganku di FORTE, mereka yang sejak awal menjalani perjuangan di STAN-Prodip dan bertahan berjuang bersama2 hingga kini. Sahabat sehidup sematiku, Jatmiko Satriyandito, sehidup semati karena kami pernah menjalani hari bak neraka saat hanya berjalan kaki berdua menyusuri kampus lewat Cipadu hingga Kreo mencari jalan selamat saat tak bisa pulang, 13 Mei 1998, saat pecah kerusuhan besar2an melumpuhkan Jakarta hari itu dan keesokan harinya! Menembus kerumunan orang2 gila, massa liar kehilangan akal sehatnya, menjarah dan merusak di mana2, membakar kendaraan dan bangunan, bahkan ratusan orang2 yang terbakar hidup2 di Ramayana Ciledug mencapai angka 300-an yang menjadi korban! Subhanallah! Saat2 seperti itu, aku hanya berdua bersama Jatmiko terus saja berjalan, sampai akhirnya kami malamnya berlabuh di rumah saudaranya di dekat Kreo, menginap sambil meronda dan waspada, baru keesokan paginya kembali berjalan kaki ke kampus, dan dengan berat hati berpisah untuk mencari jalan pulang masing2! Alhamdulillah! Selain Jatmiko, juga ada sahabat2ku seperti Hengky, Handri, Tedy, Winardi, Endi, Yuda, Amir, Taufik, Alboin, Sukotim, juga Ade dan Ricky. Mereka adalah sahabat2 sejatiku! Maka dengan pesan yang sama, kukirimi permohonan do’a pada masing2 mereka…

”Mhn doa ya Jat, ibu lg di RS dr jum’at, kna tumor otak n paru2, doakan cpt smbh, sbntr lg i.a. dioperasi, mksh bgt ya.” Sent: 11:21:15, 14-11-2006

Hingga detik2 akhir pada sore hari, menjelang keputusan apakah ibu perlu dioperasi atau tidak, semua tergantung pada hasil biopsi. Dukungan balasan SMS dan telepon dari mereka sungguh sangat berarti mampu menguatkanku. Kumenanti kepastian dengan hati lebih tenang.

13 November 2006, R.S. Persahabatan. PA Hasil Biopsi, kesan: AdenoCa Paru.

D/: Ca Paru Stadium IV, metastasis ke otak

Th/: Radiotheraphy untuk otak, Kemotheraphy + Radiotheraphy untuk paru2.

Statusnya inoperable alias sudah tidak bisa lagi dioperasi, karena ternyata Mama kena kanker Adeno yang tergolong ganas, induknya bersarang di paru2 sudah sebesar 5×8cm, dengan penyebaran ke otak, dimana kanker di otak itulah yang membuat kepala Mama kemarin2 begitu nyeri menyakitkan, tapi justru karena itulah akhirnya diketahui induknya ada di paru2, ternyata sudah masuk stadium IV, dimana operasi menjadi sangat beresiko. Satu2nya jalan untuk melemahkan hanya dengan penyinaran di otaknya, dan sinar serta kemoterapi berkelanjutan untuk paru2 sambil terus dipantau perkembangannya. Allahu Akbar! Ya Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dari-Mu! Berilah kami dan khususnya Mama kekuatan untuk menghadapi kenyataan dari-Mu! T__T

Maka keesokan harinya, 14 November 2006, Prof. Faisal setelah berembug dengan tim dokter yang menangani Mama memutuskan untuk segera memulai radioterapi untuk otak terlebih dahulu, dimana tempat terbaik saat itu adalah di RS Pusat Pertamina, Blok M. Dijadwalkan dilakukan penyinaran 20 kali setiap hari kerja Senin sampai Jum’at, selesai tanggal 26 Desember 2006. Adapun kemoterapi untuk paru2 dijadwalkan dilakukan 6 seri, menggunakan obat Gemsar dan Carboplatin, 1 seri dilakukan 2 kali, diselang 8 hari, jadi semuanya 12 kali dikemoterapi, selesai 1 Mei 2007. Setelah dilemahkan dengan kemoterapi, baru kanker di paru2nya dilakukan penyinaran ditembaki dengan radioterapi, dijadwalkan 30x, selesai 25 Juni 2007…

Maka inilah prolog dari epilog sebuah epos keluarga kecil yang bahagia… T__T

12736498841756l12232607424297l1438694493840l19084413625319l 


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in