2K7 END YEAR’S NOTE: A PROLOGUE OF N EPILOGUE…
Uncategorized January 6th, 20082K7 END YEAR’S NOTE: A PROLOGUE OF N EPILOGUE…
Bagai sebuah kisah panjang, akhir tahun ini pun perlu ditutup dengan sebuah epilog yang merangkum serakan2 catatan perjalanan hidup yang tersebar di sepanjang tahun yang sungguh, begitu berwarna dan sarat pengalaman suka duka, jatuh bangun, asam manis, pahit getir, yang menyayat memilukan, menyedihkan namun juga manis, menggetarkan namun pula indah, pedih namun sekaligus menguatkan, sebagaimana cinta yang bisa menyakitkan tapi sekaligus memiliki kekuatan menyembuhkan, betapapun langkah ini masih tetap harus terus terayun, meski hati hancur, jiwa luluh lantak, lunglai setengah mati, namun pijar itu masih menyala, asa pengharapan masih belum padam, bagai cercah pelita di kegelapan, setitik di kejauhan, walau harus merangkak menghampirinya, aku harus berusaha untuk bangkit menggapainya, meski tubuh lumpuh sekalipun tetap suatu keniscayaan bagiku bak siput beringsut untuk bergerak maju! Karena titik akhirku bukan di sini. Aku tak boleh berhenti di sini. Aku yakin suatu saat aku akan berhasil mencapai titik ujung perjalananku! Dengan kegemilangan buah perjuangan yang panjang! Dan perjalanan ribuan kilometer pun selalu dimulai dari langkah pertama! Maka inilah saat yang paling tepat untuk kembali memulai langkahku. Semoga renungan di penghujung tahun menjadi pelecut semangat dan pemicu pelatuk untukku kembali meretas jalan masa depan yang membentang di hadapanku, seiring merebak fajar tahun baru… =)
Berapa lama blog ini mati suri? Pertanyaan itulah yang tersirat selama ini acapkali aku membukanya. Bukan ku tak tergelitik untuk menulis, tapi ada alasan yang membuatku tak jua kunjung jadi mengetik huruf demi huruf menjadi rangkaian kata. Walau sesekali aku masih menyiratkan kegalauan dan letupan perasaan melalui bulletin board yang kemudian kukumpulkan terangkum di blog ini, namun itu tidak sama dengan luapan emosi yang tertumpah dalam wadah seluas blog menjadi lautan tulisan bergolak seperti yang kutuliskan saat ini. Ya, tulisan ”serius”-ku di blog seingatku terakhir terukir adalah guratanku di penghujung tahun lalu, Desember 2006, detik-detik seperti sekarang ini, saat kutuliskan rangkuman perjalanan kisah hidupku selama setahun yang indah, kenangan dengan sahabat2 dan keluarga besar di Bagian Kepegawaian Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, yang di tahun ini akhirnya kami semua harus berpisah jua, tersebar kena gelombang mutasi pegawai besar2an. Juga sahabat2 sejatiku dari FORTE (Forum-QT) X-D1-Tax-’97/98 STAN-Prodip Departemen Keuangan, dan rencana reuni akbar 10 tahun angkatan kami yang semestinya akan diselenggarakan tahun 2008 menjelang. Gimana Guyz?
Disamping momen2 bahagia bersama keluarga yang kini akhirnya kusadari menjadi kenangan terindah yang terakhir terabadikan bak jepretan foto2 bisu memajang berjuta ekspresi tak terkatakan, selagi berempat utuh, Mama, Papa, Adikku dan Aku…
Meski takdir terkadang begitu pedih dihadapi, kecap pahit getirnya tetap harus direguk diterima dengan ikhlas untuk kelak QT pahami betapa manis terasa hikmahnya pada kemudian hari. Waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka yang menghunjam mendalam di hati, juga jiwa. Dan obat yang mujarab biasanya rasanya pahit, namun akhirnya QT bisa kembali tersenyum saat sembuh serta mensyukuri khasiat manfaatnya. Manusia telah berusaha terbaik yang bisa mereka lakukan, namun tetap takdir akhirnya Tuhan yang menentukan. Dan ketika saat yang dijanjikan itupun datang, tak ada sikap terbaik yang bisa QT berikan melainkan keikhlasan saat akhirnya harus menerima apapun keputusan-Nya yang menjadi dasar ujian paling berat yang kami hadapi pada tahun ini. Dan inilah pilihan jalan terbaik, pilihan-Nya. Saat Mama akhirnya dipanggil mendahului kami semua berpulang ke haribaan naungan rahmat-Nya, Insya Allah. Alhamdulillah, ujian hidup di dunia hanyalah sebentar, dan kehidupan yang kekal abadi adalah kelak di Akhirat, saat QT semua akan berkumpul bersama kembali dengan orang2 yang QT cintai, Amiin Allahumma Amiin… Maka istirahatlah dengan tenang, Ma. Betapapun kau selalu menjadi jantung hati di keluarga ini, kami sungguh cinta n merindukanmu. Berbahagialah di sana, hingga saat kita kelak dikumpulkan bersama2 lagi, Insya Allah… Mas, D’Na, Papa, masih harus melanjutkan langkah menapaki liku hidup sedikit lebih lama, semoga titian yang kami lalui pun meski terjal berbatu, licin berbahaya, padas kerontang atau becek berlumpur, berkelok penuh semak n onak duri, namun hakikatnya lurus di jalan yang diridhoi-Nya, menuju kepada kecintaan-Nya, seperti yang telah kau rintis tunjukkan buka jalan, jejak untuk kami ikuti, jalan kembali untuk dilalui, Insya Allah, sampai bertemu kembali…
Sungguh… Ingin aku menuliskan tiap2 detik penuh perjuangan, tak ingin terlewatkan satu pun peluh menetes dan air mata yang meleleh. Satu tahun yang tak ada hari tanpa derai terpaan dan tempaan ujian. Namun sungguh ku tak mampu, bahkan untuk menggenggam pena gemetar, bukan hanya tak sampai hati, tapi juga tak berdaya, jemari ini luluh begitu lemas melunglai. Ada saat-saat dikala gelora ini begitu menggebu, namun saat itu juga aku menahan gemuruh di dadaku, karena di saat yang sama pada sisi yang lain ada harapan di balik keinginan menahan diri untuk tidak menulis, yang nanti akan aku jelaskan. Maka kini, setelah amuk badai yang memorak-porandakan itu berlalu, dan debur gemuruh berangsur mereda, saat fajar merekah dan laut kembali tenang, angin semilir berhembus menyapa membelai lembut wajah yang beku semalam, yang berasa seperti sepanjang tahun di dalam gelap, barulah aku bisa membuka mata yang terpejam karena terlalu berat dan lelah menangis, tubuh yang penat remuk redam, kini seolah mendapat suntik tenaga baru, meski masih belum memadai, namun begitu jemari bisa digerakkan lagi, itulah saat aku harus memulai menulis lagi. Aku yakin lambat laun energiku akan kembali pulih hingga terisi seperti sedia kala, dan aku akan kembali mengalir sepenuh hasrat seperti air yang selalu bergerak mengalir menuju laut, aku pun ingin melanjutkan langkahku serta mengayuh sampanku hingga tiba di samudera impianku sendiri…
Saat ini, yang harus kulakukan hanya memulai menulis…
Maka inilah tulisan terakhirku tahun 2007, sekaligus awal baru menyongsong fajar 2008 yang semoga akan menggoreskan lebih banyak kenangan manis dan indah yang tertuang di bingkai perjalanan hidupku ke depan…
Bismillahirrahmaanirrahiim… =)
—
A Prologue of N Epilogue…
Seperti baru kemarin. Tapi kemarin2 sungguh aku tak sanggup menuliskannya. Baru hari ini setelah mengumpulkan segenap kekuatan dan tekad, akhirnya kutuliskan juga. Jurnal di bawah ini berdasar pada catatan rekam medis yang dengan tekun dan teliti telah dibuat oleh adikku sendiri, Krishna Maharany, S.Ked., saat ini sedang co-ass di RS TNI AL Mintohardjo menjalani siklus Obstetri dan Gineakologi (Kebidanan dan Kandungan) menjelang fase akhir sebelum diwisuda menjadi dokter penuh, Insya Allah pertengahan tahun depan, Amiin! =) Proud of U, Cs! Me, Daddy, n I know Mom up in Heaven’s so proud of U 2!
Tirai tersibak dan layar pun terkembang…
6 November 2006, seminggu setelah lebaran Idul Fitri 1427 H. Itulah titik awal dari akhir kisah yang telah ditentukan. Setelah seminggu sebelumnya Mama selalu diterpa sakit kepala misterius yang amat sangat, begitu menyakitkannya hingga ada kalanya ingin dibenturkan ke dinding karena tak tertahannya. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan membawa ke dokter di R.S. M.H. Thamrin Salemba untuk jalani General Check Up. Hasil: Massa Tumor pada Lobus Inferior paru kiri dan Pleural Effusion.
10 November 2006, R.S. Bhakti Asih Ciledug, dr. Sri P., sp.S., penanganan nyeri hebat di kepala + lemah tangan kanan. Dokter menyarankan untuk dilakukan CT Scan Thorax + Brain CT Scan, kami pun meluncur ke R.S. Siloam Kebon Jeruk menggunakan ambulans, Papa menemani Mama, aku dan adikku menyusul dengan Jazz. Usai menjalani scan, Mama langsung kembali ke Bhakti Asih, sementara aku dan adikku menunggui hasil scan 1 jam kemudian… Saat itu aku baru keluar dari rest room, saat adikku ternyata telah menggenggam hasil scan, masih lagi di dalam amplop yang kulihat telah terbuka, ia hanya berdiri di sana, di sudut ruang tunggu, aku menghampiri, air matanya merebak, dan entah bagaimana aku merasa aku sudah tahu, tak perlu kata terucap, maka dalam bisu kuhanya raih tubuh ringkihnya dan mendekap dalam pelukanku, tangisnya pun pecah. Aku hanya bisa diam menerawang menembus langit2 sambil membelai kepalanya yang bergetar sesunggukan. Aku tak sedikitpun mempertanyakan Tuhan, bagaimanapun hal ini sudah digariskan. Yang kuingat saat itu aku hanya mencoba tetap tegar, karena aku harus tegar! Saat itu adikku membutuhkan untuk bersandar. I mean, sumbody’s gotta B strong n lend his shoulder 4 R 2 cry on, khan? Sebelum kami b2 siap menyampaikan apapun hasilnya kepada Papa, dan mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan faktanya ke Mama. Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk menghadapi dan menjalani hari ke depan. Hasil: Massa Tumor di Paru Kiri dan Otak Kanan.
12 November 2006, atas saran dokter Sri mengingat keterbatasan sarana dan prasarana penanganan di R.S. Bhakti Asih, kami memboyong Mama pindah ke R.S. M.H. Thamrin di Salemba. Mama ditangani oleh Prof. Faisal Yunus, yang kelak menjadi pendamping dan penasihat kami sepanjang tahun yang berat. Untuk lebih memastikan akurasi, Prof. Faisal menyarankan Mama untuk lakukan Biopsi, saat itu yang memiliki alat terbaik di Indonesia adalah di R.S. Internasional Abdi Waluyo, Menteng. Maka sore itu juga dengan ambulans Mama diboyong dari Thamrin ke Abdi Waluyo untuk jalani biopsi. Adikku sendiri turut menyaksikan dari dalam kamar operasi bersama dokter yang mengizinkan setelah diberi tahu bahwa ia sedang co-ass, dengan senang hati dokter itu membolehkannya untuk membantu, selain untuk membuat Mama lebih tenteram dan nyaman. Hasil baru bisa diketahui keesokan harinya, walau dari air muka dokter sedikit banyak kami bisa mereka dan membaca hasilnya. Dokter itu begitu terkesan dengan ketegaran adikku dan menyarankan untuk menghubunginya setelah lulus dokter jika adikku ingin mengambil spesialisasi paru2! Alhamdulillah, satu jalan terbuka, setidaknya untuk masa depan adikku pascawisuda kelak. Kembali ke R.S. Thamrin, setelah panjang berkonsultasi, termasuk masalah biaya n sebagainya, Prof. Faisal menyarankan kami untuk pindah ke R.S. Persahabatan, Rawamangun. Karena sehari2 Prof. Faisal lebih banyak berdinas di sana, supaya Mama bisa lebih terpantau, maka keesokan harinya 13 November, kami pun membawa Mama pindah ke Persahabatan.
13 November 2006, pagi hari aku langsung mengambil keputusan untuk cuti. Saat itu juga aku untuk pertama kalinya mengabarkan kepada sahabat2 terdekat tentang sakit Mama n memohon do’a melalui SMS, ya sahabat2 terdekatku dari KPGWN n FORTE. Kemarin buka2 sent items folder di HP, ternyata masih kutemukan SMS2 yang aku kirimkan tahun lalu! ^^;
2 Aprihamasaki (My Twin Brother in KPGWN): ”Mohon doamu Wuk, ibu masuk RS wit jumat sore, aku koyone cuti sik, nek ora ngrepoti tolong gawekno cuti tapi jo kondo sopo2 yo mengko ndadak heboh, cukup doamu wae ibu keno tumor mugo2 dudu kanker, di otak n paru2, pangestu lan sepurane matur nuwun sanget brodaa slm nggo dona tnx”. Sent: 07:05:34, 13-11-2006.
Apriyanto Wahyu Handoko, sudah seperti adik dan saudara sendiri bagiku. Dona adalah istrinya. Hamasaki dari Ayumi Hamasaki, penyanyi favoritnya. Apry is my partner in crime, ZEI WAITTO of Tax Special Tax Force, Sozei Sentai ZEI RENJAA, hehehe =D Setelah itu ada Taufik Jatmiko, ZEI BURAKKU! Saat itu dari KPGWN Family hanya mereka saja yang tahu, karena aku tak ingin membuat kehebohan sebelum bisa dipastikan hasil sebenarnya. Namun aku juga merasa berat untuk menghadapi sendiri, agaknya dalam hati kecilku aku butuh dukungan sahabat terdekatku. Thank U Guyz 4 Bn dR 4 me! U’re all my Best Friends!
Siang itu juga, Apry n Tovic jam istirahat makan siang pulang dari Departemen datang ke Kamar 512 di R.S. M.H. Thamrin dengan membawa buket buah2an! Kyaaa, terharu! ^^; Matur nuwun Wuk, tengkyu Vic! Bahkan Mama yang tadinya sempat kehilangan nafsu makan, begitu dijenguk mereka semangat, apalagi lihat jambu merah segar yang dibawa mereka jadi kepingin mencicipi, eh keterusan, abis dech! ^^; Ajaib! Padahal sejak pagi Mama terkulai tak sadarkan diri, bahkan saat dijenguk teman2 kantor Papa, kondisinya sempat kritis, mungkin juga karena down. Tapi saat Apry n Tovic datang, Mama tersadar bahkan bisa duduk, bicara, bercanda! Dukungan keduanya sungguh berarti. Sepulangnya mereka b2 tak lupa kuucapkan terima kasihku lewat SMS…
”Matur nuwun, akhirnya ibu mau mkn lho bgtu liat jambunya! J Skrg ngidam bubur sumsum lg cari k kramat hontouni arigatou wuk, slm dona n tovic stay in gdhealth”
Begitu pula ke Tovic…
”Matur nuwun, akhirnya ibu mau mkn lho bgtu liat jambunya! J Skrg ngidam bubur sumsum lg cari k kramat hontouni arigatou vic, slm apry n dona stay in gdhealth”
Hehe, pesan yang sama, cuma dibolak-balik namanya aja sich! ^^;
Aku juga mengirim SMS kepada sahabat2 seperjuanganku di FORTE, mereka yang sejak awal menjalani perjuangan di STAN-Prodip dan bertahan berjuang bersama2 hingga kini. Sahabat sehidup sematiku, Jatmiko Satriyandito, sehidup semati karena kami pernah menjalani hari bak neraka saat hanya berjalan kaki berdua menyusuri kampus lewat Cipadu hingga Kreo mencari jalan selamat saat tak bisa pulang, 13 Mei 1998, saat pecah kerusuhan besar2an melumpuhkan Jakarta hari itu dan keesokan harinya! Menembus kerumunan orang2 gila, massa liar kehilangan akal sehatnya, menjarah dan merusak di mana2, membakar kendaraan dan bangunan, bahkan ratusan orang2 yang terbakar hidup2 di Ramayana Ciledug mencapai angka 300-an yang menjadi korban! Subhanallah! Saat2 seperti itu, aku hanya berdua bersama Jatmiko terus saja berjalan, sampai akhirnya kami malamnya berlabuh di rumah saudaranya di dekat Kreo, menginap sambil meronda dan waspada, baru keesokan paginya kembali berjalan kaki ke kampus, dan dengan berat hati berpisah untuk mencari jalan pulang masing2! Alhamdulillah! Selain Jatmiko, juga ada sahabat2ku seperti Hengky, Handri, Tedy, Winardi, Endi, Yuda, Amir, Taufik, Alboin, Sukotim, juga Ade dan Ricky. Mereka adalah sahabat2 sejatiku! Maka dengan pesan yang sama, kukirimi permohonan do’a pada masing2 mereka…
”Mhn doa ya Jat, ibu lg di RS dr jum’at, kna tumor otak n paru2, doakan cpt smbh, sbntr lg i.a. dioperasi, mksh bgt ya.” Sent: 11:21:15, 14-11-2006
Hingga detik2 akhir pada sore hari, menjelang keputusan apakah ibu perlu dioperasi atau tidak, semua tergantung pada hasil biopsi. Dukungan balasan SMS dan telepon dari mereka sungguh sangat berarti mampu menguatkanku. Kumenanti kepastian dengan hati lebih tenang.
13 November 2006, R.S. Persahabatan. PA Hasil Biopsi, kesan: AdenoCa Paru.
D/: Ca Paru Stadium IV, metastasis ke otak
Th/: Radiotheraphy untuk otak, Kemotheraphy + Radiotheraphy untuk paru2.
Statusnya inoperable alias sudah tidak bisa lagi dioperasi, karena ternyata Mama kena kanker Adeno yang tergolong ganas, induknya bersarang di paru2 sudah sebesar 5×8cm, dengan penyebaran ke otak, dimana kanker di otak itulah yang membuat kepala Mama kemarin2 begitu nyeri menyakitkan, tapi justru karena itulah akhirnya diketahui induknya ada di paru2, ternyata sudah masuk stadium IV, dimana operasi menjadi sangat beresiko. Satu2nya jalan untuk melemahkan hanya dengan penyinaran di otaknya, dan sinar serta kemoterapi berkelanjutan untuk paru2 sambil terus dipantau perkembangannya. Allahu Akbar! Ya Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dari-Mu! Berilah kami dan khususnya Mama kekuatan untuk menghadapi kenyataan dari-Mu! T__T
Maka keesokan harinya, 14 November 2006, Prof. Faisal setelah berembug dengan tim dokter yang menangani Mama memutuskan untuk segera memulai radioterapi untuk otak terlebih dahulu, dimana tempat terbaik saat itu adalah di RS Pusat Pertamina, Blok M. Dijadwalkan dilakukan penyinaran 20 kali setiap hari kerja Senin sampai Jum’at, selesai tanggal 26 Desember 2006. Adapun kemoterapi untuk paru2 dijadwalkan dilakukan 6 seri, menggunakan obat Gemsar dan Carboplatin, 1 seri dilakukan 2 kali, diselang 8 hari, jadi semuanya 12 kali dikemoterapi, selesai 1 Mei 2007. Setelah dilemahkan dengan kemoterapi, baru kanker di paru2nya dilakukan penyinaran ditembaki dengan radioterapi, dijadwalkan 30x, selesai 25 Juni 2007…
Maka inilah prolog dari epilog sebuah epos keluarga kecil yang bahagia… T__T
—



