Huaaaahhh!! =D~

Gerojokan tumpah air terjun bebas dari langit hampir tanpa putus mengguyur Jakarta dalam 2 hari ini. Sejak dini hari kemarin berlanjut pagi-siang-sore-malam tanpa henti hingga hari bergulir berganti pagi-siang ini dan baru berhenti sore baru saja.

Tetes-tetes terakhir dari gumpalan awan yang semula hitam gelap berarak merata sendu memayungi bumi dalam 2 hari kini tidak lagi suram pekat menggelayut, langit berangsur terang, seiring mentari mulai menyeka wajah yang basah dan berani mengangkat muka tengadah, menatap dengan sorot lembut namun hangat cemerlang, menyibak membelah pudar kegelapan, berganti rengkuh cahaya sore nyaman.

Hanya bersisa satu-satu isak sesunggukan tangis gemuruh di angkasa ditingkahi getir petir menggelegar sesekali memecahkan hening sunyi, sedu sedan sesak itu hampir usai, pecah sudah tanggul kesumat di dada kini terbuka melega.

Bersamaan dengan saat akhirnya aku menyelesaikan membaca novel pertama karangan E.S. ITO yang justru baru kutemukan semalam setelah kemarin usai membaca novel kedua, Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC…

NEGARA KELIMA, yang akhirnya semalam berhasil kudapatkan setelah bergerilya menyusuri toko kelontong sepanjang deretan serpih kenangan napak tilas di Jalan Syahdan dekat kampus almamater yang telah lama tersimpan di sudut ruang memori terpendam rindu tak kunjung kukunjungi, Universitas Bina Nusantara dengan sejumput indah rasa dan aroma nostalgia.

Buku itu kutemukan juga dan kubeli dengan harga miring, harga mahasiswa pelanggan setia, Rp59.900 ditebus cukup hanya dengan Rp48.000, lumayan menghemat kocek untuk menambah anggaran beli buku selanjutnya! ^^;

Maka di sinilah aku, masih terpaku di atas kursi kerja, di depan komputer, di dalam kantor kecil yang menyisakan sudut privasi yang melenakan. Setelah datang terlambat tiba di kantor jam 9 pagi beranjak siang, karena hujan yang belum juga putus sejak malam dan kemacetan mengular di sepanjang perjalanan melelahkan, setelah lari-lari kecil berjibaku dengan miris gerimis, akhirnya aku bisa mengkondisikan situasi dan posisi yang nyaman tanpa gangguan untuk menuntaskan misi hari ini:

465 halaman selesai dibaca dalam 7 jam!! =D~

Ada hasrat menggelegak, ada gairah yang dulu nyaris padam kini kembali meletup dan pijar tipis pun mulai menari. Seiring hujan yang akhirnya berhenti, tirai langit pun tersibak. Selalu ada hari cerah setelah hari hujan. Meski hari kian bergulir mendekat pada senja, tapi pesona saput jingga kemerahan merona di angkasa menjelang petang temaram kala surya merebah di peraduan sungguh elok indahnya tak terlukiskan, sayang untuk dilewatkan…

Masih ada waktu, selalu ada waktu untuk memulai kembali atau mengawal sesuatu yang baru. Dua novel kebut diselesaikan dibaca dalam dua hari. Bukan tanpa alasan. Keduanya aku butuhkan, sebagai pemantik jiwa yang telah lama terlena, tertidur lelap dalam dekap cuaca dingin malam-malam yang bermantel hujan. Aku butuh perapian, api unggun yang sanggup untuk menghangatkan tubuhku yang menggigil, jiwaku yang hampir mati kedinginan.

Bagi seorang penulis, berhenti menulis sama dengan mati. Sesungguhnya aku telah pernah mati. Tapi jiwa sejati tak pernah mati. Pelita tetap abadi. Mungkin aku hanya mati suri. Cuma hibernasi. Yang kubutuhkan untuk melalui musim dingin yang panjang bak tak berkesudahan ini hanya seonggok kayu bakar, pemantik api yang sanggup menyulut kembali gejolak redup di jiwa yang kering dan hampa, membakar kerontang ranting kayu bakar, menghembus di perapian, menggeliatkan tarian, mengajak menari jiwa, kembali berdenyut, bersemburat, bersemu rona memerah, kembali bernyawa…

Setelah api unggun menyala, maka saatnya memulai tarian semangat untuk membangkitkan jiwa! Bara gairah meliuk bergelora! Percik dan asap membumbung ke angkasa! Seperti ide-ide yang beterbangan di kepala! Tangkap!! Tunggu apalagi? Pena sudah di genggaman! Tiba saatnya untuk mulai menulis!

Hmmm, mau nulis apa yaa?! ^^;

KIDO KAMEN =)