Menari dalam Hujan…
Uncategorized January 13th, 2009Ternyata reda hanya sehembus jeda…
Belum sampai 15 menit usai kugurat baris terakhir dan kukatup bibir menutup kalimat senja kemarin, ternyata hujan kembali deras mengguyur bumi, seakan belum puas memandikan bocah-bocah telanjang dada yang lugu riang gembira canda tertawa menari berlonjak girang kesana kemari, bak berminggu lamanya sudah tak mandi.
Pancuran langit mengucur tanpa henti…
Bahkan hingga pagi ini! Cerita yang sama, terhambat genangan dengan tinggi yang bervariasi, kepala pundak lutut dan kaki, kemacetan yang mengular naga panjangnya bukan kepalang, karena padat volume kendaraan di Jakarta yang melebihi jumlah sensus warga ikan di sungai yang meluap tak sanggup menahan banjir kiriman bertubi-tubi, kata Kota Hujan, jangan salahkan kami!
Cerita lama ritual tahunan yang kini kembali terjadi, sama seperti kemarin, belum jam 6 berangkat dari rumah, jam 9 akhirnya setelah dengan susah payah tiba juga ku di kantor, potong gaji sudah pasti, datang telat, lagi-lagi… T__T
Tapi setidaknya aku berusaha menepati. Setelah 2 hari lahap membaca dalam hujan tanpa henti, hari ini giliran jemari gemulai menari, lincah di atas tuts keyboard tanpa nada atau bunyi, hanya ketukan acak tanpa sentuh ritmis apalagi simponi, namun alunannya tetap bisa dihayati untuk dinikmati, sebab makna lebih dalam berbicara dari baris kata meski dalam sunyi, kuyakin pesannya tetap bisa dicerna dan mudah dipahami.
Tarian bisu jemari yang bebas liar bergerak dan merancak melenggok sesuka hati, larut dalam buai irama yang dicipta semaunya sendiri, deras mengalir tak terbendung seperti hujan yang sudah 3 hari tidak kunjung berhenti…
Ini baru pemanasan.
Bukan pemanasan global. Karena siapa yang bisa percaya, bumi sedang gerah keringat bersimbah, jika cuaca terus lembab dan basah?
Jangan dulu pergi, sebab lembar baru cerita segera akan dimulai! Duduklah dengan takzim dan bersiap untuk menyimak, seperti ketika kecil dulu tepekur belajar di surau hendak mengaji…
Kini saatnya menari! ^^;v
Meski langit belum cerah, tak apalah! Bahkan dalam hujan pun kita masih bisa menari! Nikmatilah! Berdansalah! Seolah ini tarian perpisahan yang tak ingin kau akhiri! Gembiralah! Karena apa yang harus diakhiri jika sesungguhnya kita baru saja memulai?!
—
Pemanasan itu perlu, peregangan otot-otot tubuh yang telah lama tak digunakan, pelemasan sendi-sendi yang kaku sebelum mulai sering digerakkan lagi. Beri pelumas, isilah bahan bakar! Bahkan dalam hujan, kita masih bisa tetap berolahraga khan? ;p~
Setidaknya olah jempol bersamaan tekan spasi, dan biarkan jari-jemari yang lain melompat dari satu huruf ke huruf lainnya dalam derap pacu irama kompak pasukan sebelas jari! =D~
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10…
Dimana yang ke-sebelas? =O
Tapi apalah peduli, yang penting semua bebas menari! Wiiiiiyyyyy!!! ^^;v
Buang sedih, cukup langit yang menangis menumpahkan kekesalan pada ulah buah tangan manusia-manusia durjana yang kerap lalai atau pura-pura lupa, binatang-binatang yang menyamar dalam raga manusia namun bergerak atas insting liar naluri hewaniah yang selalu lapar tak kunjung terpuaskan hasrat buas hendak mengoyak dan menelan bulat-bulat mangsa yang semuanya sama dipandang mata, hanya sekedar makanan yang lezat dan menggiurkan!!
Ahhhss, liur ini menetes tak tertahan! ;p~
Sluurpps!! Waktu untuk nyam-nyam-nyam!! =D~
BERHENTI KAU! JANGAN LARI!!
Terima saja takdirmu! Karena aku adalah serigala yang bersembunyi di balik kulit domba, domba malang yang di balik rerimbunan telah habis kukuliti dan kini menjadi penghuni isi perut karungku yang tak pernah kenyang dan selalu ingin minta tambah! Hahahahah!! =D~
EITTT!! MAU LARI KEMANA?!
Sudahlah! Terima nasib! Selamanya kau tak lebih dari pecundang! Tertipu mentah-mentah! Tapi jangan khawatir, setidaknya untuk kali ini aku berbaik hati, kau tak akan aku santap mentah-mentah, kumasak dalam kuali yang bertabur rempah-rempah! =D~
WUAHAHAHAHAH!!! =D~
KIDO KAMEN =)